Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
uji saja perasaannya


__ADS_3

.


.


.


"Nenek?" An kaget melihat kedatangan Ratu bersama Ana dan Alena.


An berlari ke arah Ratu lalu menuntun Ratu duduk di sofanya, "Nenek kenapa kesini? masih kuat?" tanya An.


Ratu memukul lengan An, "kamu pikir Nenek sudah setua apa hmm? memukul kepala Orang Nenek masih sanggup."


An tersenyum tipis lalu meminta Ana dan Alena mengambil minuman di Kulkasnya untuk Ratu juga mereka berdua.


"Nenek sudah melihat gadis itu nak..! bagaimana kamu jatuh cinta padanya kalau bukan karna kecantikannya hmm? Nenek pertama kali melihatnya saja sudah jatuh cinta." tanya Ratu.


An tersenyum lagi, "An tidak seburuk itu Nek..! An benar-benar tidak menyukainya hanya karna wajahnya, hanya saja hatinya itu...?"


"tulus...!" sambung Ana dan Alena tiba-tiba sudah duduk disisi kiri-kanan Ratu sambil meletakkan minuman untuk Ratu.


"kalian sejak kapan dekat dengannya?" tanya An memicingkan matanya curiga ke Ana dan Alena.


"sejak abang pergi ke Jerman." jawab Alena.


"kalian pasti memainkan trik padanya kan?" An sangat tau kedua saudaranya itu Ratu Drama.


Ana mengangkat bahunya tidak peduli dan Alena tersenyum cerah saja tidak merasa berdosa sama sekali ketika menipu Carrina saat itu, siapa suruh Carrina begitu baik tentu saja tertipu dengan wajah penipu seperti mereka berdua (Ana dan Alena).


"sudah--sudah..! Nenek tau kalau dia gadis yang baik, wajahnya sudah memberi tau semua tentang gambaran hatinya." kata Ratu.


An mendekati Ratu dan memegang tangan Ratu, "menurut Nenek apa aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku Nek?" tanya An.


Ratu terkekeh, "apa kamu mulai meragukan kemampuanmu dalam membuat tunduk semua wanita hmm?"


Ana dan Alena seketika tertawa lepas sehingga An menatap tajam kedua Saudaranya itu yang segera berpura-pura mengoceh seperti sedang bergosip saja padahal mereka menertawai An.


"Nenek merasa kalau dia juga menyukaimu bahkan mencintaimu." ujar Ratu serius.


An menatap Ratu tidak percaya, "benarkah Nek?"


Ratu mengangguk, "percayalah dengan mata Tua Nenek ini..!"

__ADS_1


An tampak berpikir, "tapi dia kelihatan tidak menyukaiku nek."


"itu karna Kak Carrina merasa tidak mungkin Abang menyukainya." sahut Alena tiba-tiba.


"ha?" An tidak paham maksud mereka semua padahal Ia sedang berpikir keras dari mana Carrina bisa menyukainya sementara An malah berpikir Carrina hanya menghormatinya seperti pahlawan Carrina saja tidak lebih dari itu.


"coba saja kamu cium Carrina." ide gila Ana.


"apaa?" An malah tidak suka ide Ana.


"kenapa? kamu tidak berani?" ledek Ana.


"apa abang memang pemalu? setauku Abang bukan tipe Pria pemalu untuk menyatakan perasaan, hanya bilang Aku Suka Kamu..! nah..! apa masalahnya? selesai kan?" Alena.


An memutar kedua bola matanya dengan malas, "ide kalian terlalu bar-bar bagaimana jika dia lari?"


"siapa lari?" tanya Ana.


"apa kalian akan langsung menerima Pria yang dekat dengan kalian menyatakan perasaan pada kalian ha? kalian mau di cium tiba-tiba?" pertanyaan An membuat Ana berdehem dan Alena membuang muka.


"ayo jawab..! kalau ada Pria yang tiba-tiba mencium mu apa yang kamu lakukan Ana?" tanya An ke Ana.


An beralih ke Alena lalu Alena menjawab dengan serius pula, "tentu saja Alena akan tendang kemal*annya."


"kalian yang bar-bar saja seperti itu..! lalu kenapa kalian memberi ide yang gila? kalian pikir aku ini bodoh menerima masukan aneh kalian itu ha?" Kata An dengan datar.


"Kak Carrina berbeda." bela Alena.


"justru karna dia berbeda, aku yakin dia pasti tidak akan menendang atau meninjuku tapi dia akan lari atau kedepannya tidak nyaman lagi bertemu denganku..!" jelas An lagi.


Ana dan Alena diam saja memikirkan perkataan An, niat mereka ingin membantu An malah mereka berdua yang tersudutkan oleh An.


Ratu sejak tadi mendengarkan perdebatan mereka terkekeh lebar lalu mengelus rahang An.


"Nenek?? mereka bukan ahlinya tapi sok mengajariku." kata An dengan jengah ke Saudara-saudara nya itu.


"kalau begitu kamu uji saja perasaan gadis itu nak..! Nenek yakin kalau dia memang mencintaimu tapi jika kamu ragu kamu bisa menguji hatinya." kata Ratu.


"bagaimana caranya nek?" tanya An yang memang tidak berpengalaman dalam hal Cinta.


An baru pertama kali merasa jatuh Cinta tentu saja IQ nya yang setinggi langit itu akan jatuh ke Bumi kalau membahas tentang Perasaan, terlebih lagi An takut Cintanya di tolak padahal Ia adalah Pria yang sangat menjaga harga dirinya itu, An tidak terima penolakan tapi juga tidak sanggup memaksa Carrina harus menerimanya kalau tidak ada rasa suka dalam diri Carrina.

__ADS_1


"ajak dia ke Acara Pesta lalu kamu dekat dengan perempuan lain, kalau dia tidak suka artinya dia memang menyukaimu." ide Ratu.


"tidak ada cara lain Nek? aku tidak mau dekat dengan perempuan manapun kecuali dia saja." tanya An yang sepertinya berat mengikuti cara pertama Ratu.


"ada cara lain...!" kata Alena serius membuat An, Ana dan Ratu menoleh ke Alena.


"sama seperti Mommy yang mencintai Abang kalau Abang terluka Mommy akan marah besar dan sedih kalau Kak Carrina marah dan sedih seperti Mommy artinya dia mencintai Abang, dia tidak mau abang terluka atau sakit." jelas Alena.


"benar juga..! Cinta yang besar itu tidak akan sanggup melihat Orang yang kita Cintai terluka, iya kan? Mommy kan pernah bilang begitu." kata Ana.


"Papa juga..! Papa sering nangis dan sedih kalau Mommy demam, padahal Papa bukan Pria yang Cengeng." sahut Alena lagi.


An diam memikirkan ide Alena yang memang bisa Ia coba lalu Ratu meminta An untuk berhati-hati jangan sampai terluka begitu serius walau sedikit ekstrim tapi seorang An lebih menyukai melukai dirinya sendiri dari pada dekat dengan Perempuan lain.


.


malam harinya,


An memegang pisau dapur di Kamar Pribadinya, "boleh juga ide Alena..!" gumam An mengangguk pelan.


An teringat bagaimana sedih dan terluka nya Rovert ketika Xabara sakit (demam), Rovert tidak berhenti menangis seperti anak-anak bahkan begitu ketar-ketir mencari dokter untuk menyembuhkan Istrinya, walau Xabara seorang Ratu Higanbana tapi Xabara tetaplah manusia biasa yang pasti mengalami demam.


An tidak berpikir hal lain lagi dengan santainya Ia mengiris kulit jari telunjuk kanannya sehingga jarinya mulai mengeluarkan darah.


"aku ingin tau apa dia juga menyukaiku." gumam An tersenyum tipis melihat tetesan darah mulai berjatuhan ke lantai nya.


An mencari kotak Obat lalu sengaja Ia berantakin sehingga semua jadi tercecer.


"lumayan..!" senyum tipis An yang memang punya bakat seorang aktor.


An keluar dari Ruangannya dan mengetuk Ruangan Carrina yang belum ada sahutan, An pun masuk ke Ruangan Carrina yang tidak di kunci.


"apa dia keluar?" gumam An berjalan menuju Ruangan Pribadi Carrina.


An tidak sadar tangannya terus saja mengeluarkan darah, benar-benar pria yang gila rela melukai dirinya sendiri hanya ingin memastikan lagi Perasaan Carrina terhadapnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2