
.
.
.
Sean melihat Sophia yang disumpal sayur membuatnya terkekeh menatap Ana, "apa kamu yang membuatnya seperti itu?"
Ana melirik Sophia yang terlihat tidak berdaya, "dia sangat cerewet."
Sean melihat Ana memasak sambil meledek Ana yang apakah bisa memasak sebab setau Sean Kan Ana itu seorang Putri Penguasa jelas akan dimanja oleh Rovert dan Xabara dilihat dari cara Rovert begitu menyayangi Ana.
Ana memukul kepala Sean dengan sendok yang Ia pegang, Ana tidak punya aturan sama sekali malah begitu entengnya memukul kepala seorang Pangeran.
Ana menoleh kebelakang melihat para Pelayan sangat pucat seperti melihat hantu, "apa kalian lihat-lihat? sana putar badan..!"
para Pelayan pun putar badan termasuk Sophia lalu Ana melihat ke Sean yang tertawa mengusap-ngusap kepalanya sendiri.
alhasil Sean dan Ana memasak sesekali Ana menyuapi Sean yang penasaran dengan rasa masakan Ana, Sean berdecak kagum dengan Cita rasa masakan buatan Ana.
"enak kan?" tanya Ana tersenyum tipis dan Sean mengangguk-ngangguk semangat mengambil sendok yang Ana pegang serta menyalinnya ke Sebuah mangkuk ukuran besar.
"heii??? yang lapar siapa?? kenapa jadi kau yang memakan masakanku?" omel Ana berusaha merebut makanannya itu.
"kasihani aku Ana!! aku tidak pernah dimasakkan oleh Ibuku, kamu tau sendiri kan? aku tidak punya ibu?" memelas Sean.
"sejak kapan aku jadi Ibumu?" tanya Ana dengan datar.
"kamu istriku." jawab Sean meradukan keningnya dengan kening Ana lalu melarikan diri membawa mangkuk berisi semua masakan Ana.
Ana mendengus kesal, Ia tidak terbawa perasaan sama sekali tapi terpaksalah Ana masak lagi namun kali ini versi cepat.
beberapa saat kemudian,
"mau apa lagi?" tanya Ana curiga melihat Sean tengah menatap piring masakannya.
"itu??" tanya Sean.
Ana membalik tubuhnya dan memakannya seorang diri karna sudah 3 kali Sean merebut semua masakannya, Sean mengintip dibahu Ana sesekali tangannya ingin menggapai sendok makan Ana tapi di tepis dengan santai oleh Ana.
perdebatan mereka itu seperti anak-anak sungguh menggemaskan bahkan Para Pelayan pun kini semakin senang melihat Sean seperti manusia Normal pada umumnya, pantas saja Sean tidak mau pulang selama ini ternyata betah bersama Ana yang hidup bebas dari aturan.
"sedang apa kalian?" tanya Rebby ternyata sudah lama memperhatikan pasangan itu.
__ADS_1
Sean menoleh sementara Ana masih asik dengan makannya, Ana kelihatan lapar sekali saat ini.
"sedang apa yang mulia kesini?" tanya Sean dengan aura yang berbeda tidak sama lagi ketika berbicara dengan Ana.
"ini dapur istana kan? semua Orang wajar saja bisa kesini." jawab Rebby dengan nada sarkas.
Sean mengusap kepala Ana didepan Rebby.
"hhmmm??" Ana mendengus sebal seolah mengatakan kalau Sean mau pergi ya pergi saja tidak usah perpamitan padanya.
"kita bicara diluar...!" titah Sean.
Sean pun pergi dari Ana melirik Sophia yang seolah langsung menunduk hormat karna sudah tau arti tatapan Sean itu untuk menjaga Ana.
Rebby melihat punggung Ana yang makan tidak seperti Putri Bangsawan tapi bisa dikatakan sangat menarik juga dimatanya.
Sophia mendekati Ana lalu menunjuk sayuran di mulutnya dengan santainya Ana mengangguk, Sophia pun bisa melepaskan sayuran dimulutnya membuat mulut Sophia sedikit otot rahangnya sangat tegang.
"coba?" Ana menyuapi Sophia yang kebetulan sedang memijit rahangnya sendiri.
Sophia pun menurut, sungguh enak sekali masakan Ana pantas saja baunya bisa seharum itu.
.
.
"kenapa dress ini?hari ini aku ingin memakai celana." bantah Ana.
Sophia tersenyum manis kalau Ana tidak diizinkan memakai Celana didalam lingkungan istana, sebab seorang Pelayan saja memakai rok dan celana hanya untuk kaum lelaki.
"ya Tuhan...!" Ana memijit pelipisnya mendengar peraturan Istana.
"aku mau pakai celana..!" titah Ana dengan tegas.
Sophia tidak mau Ana dijadikan bahan pembicaraan pun bersikeras meminta Ana mau mendengarkannya karna saat ini Ana sudah dianggap sebagai Tunangan Sean.
"sejak kapan aku bertunangan dengannya? kami belum mengumumkan apapun." tanya Ana.
"apa Nona tidak tau kalau Nona yang tinggal di Kamar yang mulia adalah bukti bahwa Nona adalah miliknya Yang mulia Pangeran kedua."
Ana terhenyak, "benar-benar Pangeran gila..! dia tau aku tidak tau aturan tapi malah membuatku terjebak dengan aturan Negaranya sendiri." gerutu Ana sambil bergumam-gumam geram ingin memukul kepala Sean dengan balok saking kesalnya.
Sophia tidak mengerti bahasa Ana hanya tersenyum saja lalu mendekat membantu Ana memakai Dres yang warnanya lumayan mencolok, Ana yang sudah terjebak berjanji akan memberi pelajaran pada Sean.
__ADS_1
"mau apa lagi nih?" protes Ana dibawa Sophia duduk didepan cermin.
"rambut Nona harus di hias dengan itu..!" kata Sophia melihat segala jenis perhiasan kepala didepan Ana.
Ana mengernyit tidak suka, "heii... aku bukan Tuan Putri."
Sophia dengan sabarnya menghadapi penolakan Ana hingga hanya ada 1 hiasan saja dikepala Ana bahkan ada mahkota mungil di kepala Ana, Ana tertawa hambar ingin mencekik Sean sampai mampus detik ini karna membuatnya seperti badut yang harus mengikuti aturan.
"aku tidak mau memakai ini..!" Ana hendak mencabut mahkota kecilnya.
Sophia dengan senyuman menahan tangan Ana lalu mengatakan kalau mahkota ini sangat berarti bagi Wanita di Negara ini, Mahkota itu khusus diberikan pada wanita milik Sean.
Ana bukannya terpesona malah semakin tidak mau memakai mahkota itu hingga Ia berhasil melepaskan mahkota itu lalu lari membuat seisi Kamar Sean kalang kabut, Ana dikejar-kejar oleh Pelayan yang jumlahnya tidak sedikit.
"sana pergi...!" usir Ana.
"Nona jangan berlari..?" teriak Sophia.
Ana terus berlari mengelilingi lantai itu-itu saja tapi mereka semua yang kelelahan tetap juga mengejar Ana hingga Ana mulai lelah dan Ia tidak menyangka kebugarannya yang selama ini dianggap sangat baik tidak ada apa-apanya dibanding para Pelayan yang sudah biasa bekerja keras itu karna jika tidak dipaksakan mereka bisa dihukum berat.
bagi setiap manusia naluri takut itu bisa mengalahkan kekuatan apapun didunia ini.
Sophia berhasil meletakkan mahkota kecil itu lagi dikepala Ana, "No--Nona ja--jangan lari lagi ya?? Sophia le--lah."
Ana mendengus, "kalau tau Lelah kenapa mengejarku juga?"
Ana benar-benar kesal lalu menanggalkan heelsnya dan berjalan tanpa alas kaki, Sophia dan yang lainnya memekik mengejar Ana yang jalan tanpa alas kaki.
Ana menutupi kedua telinganya, "diam...! atau aku tanggalkan juga pakaian ini..!"
"Nona..?" rengek Sophia.
Ana mendumel kesal hingga tiba-tiba Ia bertemu dengan Sean yang memakai baju Khas seorang Pangeran.
"Sean? akhirnya kau muncul juga." kata Ana dengan wajah memerah penuh amarah.
Sean yang awalnya terpana dengan kecantikan Ana tersadar lalu segera berlari dan Ia malah dikejar-kejar oleh Ana yang kepalanya sungguh penuh dengan asap, para Pelayan saja hampir saja pingsan melihat tingkah Ana yang seperti itu tapi bisa membuat Sean bertingkah konyol seperti anak kecil bukan wibawa seorang Pangeran lagi.
.
.
.
__ADS_1