
.
.
.
Ana mendengus, "lalu kamu melakukan hal yang tidak pantas?"
"tidak sayang..! aku hanya mencium lehermu saja tidak lebih." jawab Sean meyakinkan.
Ana memicingkan matanya lalu Sean mengangguk-ngangguk meyakinkan dirinya tidak seburuk yang Ana pikirkan.
"kalau aku memang buruk pasti aku sudah menidur*mu jauh-jauh hari sebelum ini." kata Sean lagi.
Ana berdecak, "bicara seolah-olah kamu tau hubungan seperti itu."
"sudah aku bilang kan kalau aku tidak melakukannya bukan berarti aku tidak mengerti." ujar Sean tersenyum miring.
Ana berdehem, "kamu membuatku malu Sean..! mereka semua menertawaiku karna perbuatanmu ini." alih Ana menunjuk-nunjuk leher nya yang ada tanda di gigit nyamuk besar ditutupi dengan rambutnya.
"maaf sayang..! habisnya kamu terlalu menggemaskan." cengir Sean mengusap-ngusap tengkuknya yang tidak gatal.
Ana melangkah pergi hendak melewati Sean tapi ditahan oleh Sean dengan cara merangkul pinggangnya.
"marah?" tanya Sean dengan memelas.
Ana menggeleng kepalanya, "aku yang salah meminumnya, aku tidak suka kamu melakukan hal seperti saat aku tidak sadar Sean..!? aku terlihat begitu bodoh saat bangun tidak tau apa-apa."
Sean mengulum senyumnya, "berarti aku boleh melakukannya saat kamu sadar?"
wajah Ana memerah seketika lalu Sean semakin menggodanya, "bo--boleh."
Sean semakin bahagia mendengarnya lalu mengecup lama kening Ana, "maafkan aku karna memciummu saat kamu tidak sadar, kamu sangat menggemaskan sayang ketika mabuk!? jadi itu alasan kamu tidak mau minum ya?"
Ana diam saja sambil membuang muka dengan wajahnya yang memerah itu.
"lain kali jangan pernah minum seperti itu jika tidak bersamaku!?" pinta Sean dengan gemas.
Ana mengangguk pelan, "lepaskan aku Sean..!" Ana mendorong tubuh Sean lalu Ia segera melarikan diri membuat tawa Sean pecah seketika.
Sean tidak pernah segila ini mencintai seseorang tapi kelakuan serta tingkah Ana itu sangat menggemaskan, bagaimana Sean tidak semakin mencintainya? Ana terlalu menawan ketika dikenal lebih dekat lagi.
__ADS_1
Ana si Dewi Beracun yang sangat kejam bagi yang tidak mengenalnya tapi sebenarnya tingkahnya sangat menggemaskan jika dikenal lebih dekat dan orang yang mengenalnya akan semakin menyayangi Ana.
Ana terus berlari di ikuti para Pelayannya yang sudah menjadi rutinitas mereka sebagai Pelayan Ana suka berlari, Ana adalah Ratu Bar-bar sepanjang masa tapi sangat dicintai oleh orang yang bekerja padanya.
"kenapa kalian mengejarku?" tanya Ana dengan nafas terengah-engah.
"ka--kami tidak mungkin meninggalkan yang mulia." jawab mereka semua terbata-bata karna terengah-engah juga.
Ana mendengus, "kalian sudah aku bebaskan kenapa tidak mau juga libur heh? aku memberi kalian waktu libur biar tidak stres disini tapi kalian tetap mengikutiku seperti anak ayam..! memang aku induk kalian apa?" omel Ana sambil berkacak pinggang.
Para Pelayan tersenyum lebar memandang Ana yang malah mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
"kenapa kalian menatapku? apa liburnya kurang?" tanya Ana.
"bersama yang mulia lebih menyenangkan bagi kami yang mulia." jawab Sophia disetujui oleh Pelayan lainnya.
Ana mendengus, "kalian menertawaiku." kesal Ana dengan bibir mengerucut karna tampak bodoh tidak tau banyak jejak di lehernya akibat perbuatan Sean.
"ampuni kami yang mulia." ucap para Pelayan membungkukkan setengah badan mereka padahal dalam hati mereka sedang menahan tawa melihat raut wajah lucu Ana yang sedang ngambek.
"iya.. iya." jawab Ana lalu Ia pun berjalan menuju gerbang menunggu kepulangan Baboly dan Etopy.
Ana terkejut mendengar kata Pengawal kalau mertuanya itu ingin pulang karna ingin memakan masakan Ana, tentu dengan senang hati Ana memasak untuk mereka malah sangat spesial.
Ana diam saja sambil menyibukkan diri.
"aku boleh makan?" tanya Sean.
"tidak boleh Sean..! kita harus menunggu Ayah dan Ibumu kembali, mereka ingin makan masakanku." jawab Ana tanpa melihat ke Sean.
"tapi kamu masak banyak kan sayang?" tanya Sean memelas seperti bocah yang takut tidak kebagian makanan.
Ana menahan senyum dan mengangguk pelan membuat Sean sangat senang kembali memeluk Ana lebih erat lagi.
Ana mulai menepis Sean yang suka membuatnya malu didepan bawahannya sendiri, Sean yang tidak malu sudah sangat nyaman dengan tindakannya itu.
"besok aku libur sayang..!? kamu mau aku ajak makan diluar??" tanya Sean dengan lembut.
gerakan Ana tiba-tiba terhenti lalu terbitlah senyum termanisnya, "boleh Sean..! aku memang ingin melihat Negaramu dengan bebas tapi kamu harus mau menyamar."
Sean mengangguk mengecup pelipis Ana yang berubah datar memandangnya malah membuat Sean tertawa lebar, Sean sangat tampan tapi menurut Ana suaminya itu cukup gila dan tidak tau malu.
__ADS_1
tak lama kemudian Baboly dan Etopy datang sambil berpegangan tangan berlari ke Ana dan mencari tempat duduk yang paling nyaman disana.
"halo Ayah? Ibu?" sapa Ana.
"iya menantu, ayo duduk..!" ajak Baboly dan Etopy kompak seolah jiwa memerintah itu masih ada dalam diri mereka berdua.
Sean mendengus terpaksa Ia duduk disamping Ana yang sudah duduk manis menuruti perintah kedua Orangtuanya.
"sepertinya Aku akan olahraga lagi, Aku sudah kesulitan membentuk perutku tapi melihat makananmu perut ini langsung goyah malah mendesak cepat diisi banyak-banyak." kata Baboly.
Ana tertawa melihat mertuanya suka dengan hasil masakannya, pantas saja Xabara melatih mereka pandai memasak untuk kebaikan diri sendiri sehingga bisa membuat siapapun menganggap Ana bukan gadis manja walau lahir dengan sendok emas.
Mereka semua makan dengan nikmat, Sean dan Ana berbicara berdua dengan bahasa Indonesia saat makan mengenai Frans yang telah meninggal sehingga tahta kosong. sementara Etopy dan Baboly malah fokus makan karna terlalu enak masakan Ana tidak mengerti pembicaraan Ana dan Sean.
"memang mereka tidak punya kerabat?" tanya Ana penasaran.
"tidak sayang..!? mereka terlalu serakah demi tahta jadi menghabisi kerabat sendiri, walau tidak ada bukti tapi kematian anggota kerajaan disana sangat tidak logis." jelas Sean.
"pantas saja anak mereka seperti itu dibiarkan saja." sinis Ana.
Sean mengangguk, "urusan mereka biarkan saja bagaimana dengan urusan kita Sayang? kapan kamu mau mengujiku impoten atau tidak?" tanya Sean menghiba.
Ana menjatuhkan rahangnya, "ka--kapan aku bilang akan mengujimu?"
"bukankah kamu ragu akan hal itu?" gemas Sean.
Ana menggeleng kepalanya, "a--aku percaya kok."
"benarkah? tidak pakai uji coba?" tanya Sean menggoda.
Ana berdehem menahan rasa malu karna termakan gosip yang beredar, seharusnya Ana tidak mempercayai hal itu sehingga Ia tidak akan tersudut seperti saat ini.
"sudah Sean..! aku percaya." jawab Ana dengan kikuk.
"sayang? kenapa tidak mengujiku? aku dengan senang hati di uji coba olehmu biar kamu cepat hamil dan kita punya keturunan." goda Sean.
wajah Ana semakin merah, "urus saja masalahmu Sean..! perbaiki rumor itu itu sendiri tidak usah urus masalahku." gerutu Ana.
"justru masalahmu yang paling penting bagiku sayang, yang lainnya tidak penting bagiku." jelas Sean.
.
__ADS_1
.
.