
.
.
.
Carrina melalui hari-harinya dengan semangat lalu tiba-tiba terlintas dalam pikirannya tentang gelangnya yang pernah Ia titipkan pada An.
"aku bisa memintanya kan? ta-tapi bagaimana jika dia membuangnya? aku terlambat mengambilnya." gumam Carrina sangat pelan dan mengigit bibir bawahnya dibalik maskernya.
Carrina mengambil berkas penting dimeja nya lalu mendatangi Ruangan An yang mengizinkan Carrina masuk.
"Tuan Muda ini berkas yang anda mintai untuk saya Translete kan, Tuan Wel sudah menandatangani berkas ini." kata Carrina sambil meletakkan berkas yang Ia pegang di meja An.
An mengambil berkas itu lalu membukanya dan mengangguk pelan, An melihat Carrina yang tampak gelisah seolah ingin mengatakan sesuatu.
"katakan..!" kata An menutup berkas nya lalu bersidakap dada bersandar di Kursinya.
Carrina melihat tatapan datar serta wajah dingin An itu membuat Carrina ragu menanyakan hal itu, "ti-tidak jadi Tuan Muda permisi..!" kata Carrina menundukkan kepalanya lalu berlari keluar dari Ruangan An.
An menaikkan sebelah alisnya ketika Carrina sudah masuk ke Ruangannya dan duduk dikursinya Teleponnya berbunyi.
Carrina menarik nafas panjang lalu tersenyum manis dan mengangkat panggilan telponnya, "haloo?? dengan Asisten Tuan Muda An, selamat datang di Perusahaan BlackMalv. ada yang bisa saya bantu? dengan siapa saya berbicara?"
hening..?
"Hal..?"
"datang ke Ruanganku..!" titah An lalu menutup panggilan teleponnya.
"Ehh?" Carrina melihat gagang teleponnya lalu melihat ke arah Pintu Ruangannya.
"aduuh..! pasti menanyakan hal tadi." gumam Carrina meraup wajahnya sendiri lalu Ia bangkit sambil membenarkan maskernya dan datang ke Ruangan An.
Carrina melihat An duduk di atas meja kerja An sendiri sambil bersidakap dada dan jangan lupa sorot mata tajamnya memandang Carrina, sungguh Carrina merasa takut jika dipandang An seperti itu.
"katakan..!" titah An.
Carrina menundukkan kepalanya sambil memilin jemari tangannya sendiri, "cu-cuma masalah Pribadi Tuan Muda."
"hmm...!" jawab An dengan tenang.
"it-itu..? Hmm..? gel-gelang sa-saya...? hmm?" Carrina berbicara terputus-putus dan ragu-ragu.
An tersentak mendengar pertanyaan Carrina, "gelangnya? aku sudah membuangnya." batin An dengan wajah datarnya.
"tidak apa-apa jika Tuan sudah membuangnya, sa-salah saya juga yang tidak bisa menjemputnya tepat waktu." kata Carrina dengan kikuk dan malu sendiri lalu segera berbalik.
__ADS_1
"aku lupa meletaknya akan aku carikan." perkataan An membuat langkah kaki Carrina terhenti dan berbalik badan menatap An dengan berbinar.
"be-berarti Tuan tidak membuangnya kan?" tanya Carrina semangat.
An mengangguk lalu mata Carrina menyipit seolah sedang tersenyum begitu senang dibalik maskernya itu lalu pamit pergi.
An memijit pangkal hidungnya, "semoga saja Ana dan Alena tidak membuang gelang itu." gumam An merasa tidak enak hati sudah menggantung Carrina yang berharap An tidak membuang gelang itu.
.
di Mansion Maldev.
An mengetuk pintu kamar Ana.
ceklek...!
Ana membuka pintu kamarnya dan menyembulkan kepalanya, "An?"
"hmm..!" jawab An mendorong Pintu Kamar Ana dan memasuki Kamar Saudara kembarnya itu seperti Kamarnya sendiri.
Ana menaikkan sebelah alisnya lalu mengekori An sambil menatap curiga An yang pasti ingin membicarakan hal penting sehingga memasuki kamarnya, An jarang menemui Ana didalam kamar kalau bukan karna hal yang sangat penting.
"ada apa?" tanya Ana bersidakap dada dengan raut mata memicing curiga akan sesuatu.
"Ekhemm...!" An berdehem membuat Ana semakin curiga dan Ana duduk dengan benar.
Ana melebarkan matanya, "haaahhh?? apa pemilik gelangnya sudah datang dan minta samamu?"
"pelankan suaramu..!" desis An menatap tajam Ana.
Ana membekap mulutnya lalu menyemburkan tawa lepasnya seketika padahal Kamarnya kedap suara tapi kepanikan An membuatnya merasa lucu.
"Anaaa...? jangan sampai Mommy tau nanti Mommy bisa salah paham kalau aku punya hubungan dengan Orang yang menitipkan gelang itu." kata An dengan sorot mata mengancam.
"sayangnya gelang itu Mommy yang simpan." jawab Ana lalu tertawa terbahak-bahak melihat An yang seketika merasa pusing mendengar perkataannya.
"serius?" tanya An dengan mata terpejam.
"yes..!" jawab Ana terkikik.
"kenapa kalian memberikannya sama Mommy?" desis An dengan tatapan tajam.
Ana tertawa lebar, "sepertinya Gadis itu spesial ya?"
"jangan mengada-ngada...! aku hanya tidak mau dikatakan ingkar janji." ketus An dengan sorot mata tajamnya menusuk hati siapapun tapi tidak bagi Ana malah hati Ana sudah kebal melihat sorot mata mematikan Saudara kembarnya itu.
"aku akan tanyakan sama Mommy tentang gelang itu." ujar Ana dengan senyuman.
__ADS_1
"apa maumu?" tanya An dengan mata memicing curiga ke Ana yang jelas ada maunya.
"beritau aku pemiliknya." jawab Ana menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum lebar.
An menatap datar Ana, "sudah aku bilang tidak ada hubungan apapun diantara kami."
"kalau begitu kamu minta sendiri sama Mommy." ketus Ana membuat An merasa geram lalu menerima tawaran Ana yang langsung tersenyum lebar.
"sepakat..!" Ana menunjukkan Ibu Jarinya.
"hmm..! sepakat." jawab An menunjukkan Ibu jarinya dan mereka saling menempelkan Ibu jari masing-masing sebagai bukti kesepakatan mereka.
"aku akan minta sekarang." kata Ana semangat lalu berlari keluar dari Kamarnya.
An menarik nafas dalam-dalam, "kenapa aku harus takut mengenalkan dia pada Ana? lagian kami tidak punya hubungan apapun."
Ana menemui Xabara di dapur dan merengek manja meminta gelang yang pernah Xabara ambil dari Alena, Xabara merasa curiga karna Ia seorang Ketua Mafia Higanbana yang sudah sangat profesional segala tipu muslihat setiap Orang terutama Putra-Putrinya.
"bisa jelaskan sama Mommy untuk apa?" tanya Xabara dengan senyuman manisnya.
Ana sadar kalau Mommynya tidak mudah di tipu lalu Ana berbisik memberitau kebenarannya sehingga Xabara tersenyum sampai memperlihatkan giginya dan langsung setuju dengan rencana Ana.
"tapi kamu harus beritau Mommy jika hal itu memang benar." pinta Xabara dengan serius.
"janji...!" Ana tersenyum manis merentangkan tangannya ke Xabara yang memeluk Putri sulungnya dengan gemas.
Ana pun mendapatkan gelang yang disimpan Xabara dengan membuat kesepakatan yang adil yaitu memberitau Xabara siapa gadis itu nanti, memang tidak ada hubungan apapun antara An dengan gadis itu tapi bisa saja celah akan memiliki hubungan itu pasti ada.
Ana memasuki Kamar An yang sedang memainkan Ipednya dan melihat Ana memasuki Kamarnya pun meletakkan Ipednya.
"berhasil?" tanya An.
"lihat..?" Ana menunjukkan gelang yang Ia dapatkan dari Mommynya.
An menautkan kedua alisnya, "semudah itu?"
An yakin tidak mudah mendapatkan gelang itu dari tangan Mommynya apalagi Xabara bukan tipe Wanita yang mudah tertipu oleh segala rayuan anak-anaknya termasuk Alena yang sangat pintar menipu sejak bayi itu apalagi hanya Ana, tapi sekarang Ana berhasil mendapatkan gelang yang disimpan Xabara tanpa dipersulit jelas ada yang salah disini.
"hehe..! aku minta bantuan Papa." bisik Ana dengan senyuman manisnya.
An pun langsung percaya karna memang hanya Rovert yang punya akses bebas memasuki Kamar Xabara dan Ana maupun Alena adalah Harta Karun berharga Rovert yang jelas sangat rela melakukan apa saja demi menuruti permintaan 2 Putri kesayangannya itu.
.
.
.
__ADS_1