
.
.
.
"baiklah..!" jawab An menciumi leher Carrina.
Carrina memejamkan matanya sambil tersenyum manis diperlakukan seperti itu oleh An, tiba-tiba Carrina membuka matanya mendengar An tertawa membuat Carrina balik badan menghadap An sambil mendongakkan wajahnya.
"kenapa kamu tertawa An?" tanya Carrina penasaran.
"aku tidak menyangka akan mencintaimu sedalam ini Carrin." ucap An dengan serius sambil menertawai dirinya sendiri.
Carrina merona mendengarnya, "tidak usah malu An..! perasaanku jauh lebih besar dari Perasaanmu padaku."
An mengulum senyum tampannya, "mungkin besar Cinta kita sudah setara."
Carrina menggeleng kepalanya, "Cintaku jauh lebih besar."
An mengangguk-ngangguk mengiyakan kata-kata Carrina lalu Ia memeluk Carrina dengan erat.
"sepertinya Papa sedang sibuk mengadakan pesta pernikahan untuk kita." kata An.
Carrina mengangguk, "aku sudah diberitau oleh Mommy kalau mereka sibuk mengadakan Pesta pernikahan untuk Kita."
"apa tidak masalah dengan kecemasanmu Carrin? aku rasa tamu undangan kita nanti tidak sedikit." tanya An.
Carrina tersenyum begitu lebar sambil melepaskan pelukannya dari An, "aku merasa sudah sembuh An..! lagian aku ingin memakai Gaun Pernikahan yang kamu hadiahku untukku dihari kamu melamarku."
An tergelak mendengarnya, "baiklah..!" jawab An.
Carrina dan An saling berpandangan mesra ketika An ingin mencium Carrina tiba-tiba An merasa mual membuat Carrina khawatir.
"kenapa An?" tanya Carrina cemas.
"tidak tau Sayang..! kepalaku terasa pusing dan perutku tiba-tiba merasa mual." jawab An sambil memijit pelipisnya.
Carrina begitu cemas, "kalau begitu kita ke dokter ya?" bujuk Carrina.
"tidak apa Carrin.. ak-akuu..? hmmm.. Huekkk...?" An berlari meninggalkan Carrina menuju kamar mandi dan muntah di westafel tapi hanya air saja.
"An?" Carrina begitu khawatir mengelus-ngelus punggung An namun tangan lainnya sibuk mencari nomor dokter Amalia.
"Dok..? saya akan searlock lokasi kami tolong datang kesini...!" pinta Carrina dengan nada gemetar membuat siapapun iba mendengarnya.
Dokter Amalia teringat nada bicara Carrina hampir sama seperti Carrina datang ke Rumah Sakit mencari bantuan, Dr. Amalia langsung paham kalau yang sakit ini adalah An.
__ADS_1
panggilan pun terputus.
"sabar An...! aku akan ambilkan air putih untukmu." kata Carrina berlari meninggalkan An.
"sayang?" panggil An tapi Carrina sudah terlanjur pergi darinya mencari air untuk An.
An tau kalau Carrina adalah wanita yang sangat tulus mencintainya juga perhatian Carrina tidak perlu diragukan lagi.
.
.
Aya dan Barrest bersidakap dada melihat An yang sedang diperiksa oleh Dr. Amalia sementara Carrina duduk di atas ranjang memegang tangan An seolah An sedang sakit parah saja.
Dr. Amalia memeriksa keadaan An baik-baik saja membuat keningnya mengkerut dalam.
"bagaimana dok?" tanya Carrina begitu khawatir.
An malah asik memijit pelipisnya, "sayang? aku baik-baik saja..! mungkin karna makananku tadi."
"enak aja..! makanan yang dibuat Mamamu itu sangat sehat." bantah Barrest.
Aya memegang tangan Barrest yang berusaha membelanya, "Dok..? kalau tidak bisa menemukan penyebabnya bagaimana jika periksa Istrinya saja?"
dr. Amalia dan Carrina menoleh ke Aya.
"iya..! bisa saja kamu lagi berbadan 2 dan yang merasakan ngidamnya suamimu." jawab Aya.
An seketika tersentak begitu juga Carrina.
"aakhh..! iya juga." Dr. Amalia sampai lupa gejala yang An alami ini bisa saja efek kehamilan Istrinya.
"ke--kenapa An yang seperti ini Ma? kenapa tidak Carrina saja? kasihan An harus menderita seperti ini, Ak--aku tidak sanggup melihat An seperti tadi Ma." Carrina mengusap air matanya yang jatuh tanpa permisi.
Aya tertegun melihat Carrina, "jadi ini penyebabnya An mencintai Carrina?" batin Aya akhirnya mengerti mengapa An bisa mencintai Carrina dan yakin menjadikan Carrina sebagai Permaisuri tunggal dalam hidupnya.
"itu bukan penderitaan Carrina, sebenarnya hubungan kalian sangat erat sehingga ikatan seperti ini ada..? seharusnya kamu bangga artinya kalian 1 hati dan 1 jiwa saat mengandung Suamimu merasakannya." jelas Barrest.
Carrina yang tadinya sedih melebarkan matanya, "1 hati 1 jiwa?" beo Carrina.
Dr. Amalia menjelaskan kondisi unik yang An alami sehingga wajah sedih Carrina berubah sumringah, An mengecup punggung tangan Carrina yang tidak lagi sedih padahal An tidak keberatan sama sekali jika masa-masa ngidam Carrina dirasakan oleh An.
Carrina diperiksa oleh dr. Amalia ternyata Carrina memang sedang hamil namun berapa usia kandungan Carrina tidak bisa ditebak oleh Amalia karna tidak ada fasilitas teknologi untuk memeriksanya.
"lebih baik Nona besok diperiksa di Rumah Sakit supaya Usia kehamilan Nona bisa diketahui." pinta Amalia.
"baik dok..!" ucap Carrina tersenyum manis dan menoleh ke An yang tersenyum lembut ke arahnya.
__ADS_1
.
ke esokan harinya,
An bekerja seperti biasa walau mengalami gejala istimewa dari efek kehamilan Carrina tapi An yang bekerja tidak bisa dibantah begitu juga Carrina yang begitu keras kepala akan membantu An tapi tidak akan bekerja berlebihan.
An menatap dingin Potret seorang Pria yang menjadi dalang peneror Carrina, Paketan yang dikirimkan oleh Orang itu kini dikirim balik langsung oleh An ke alamat Pria itu.
"Vero?" gumam An merasa penasaran motif Pria bernama Veroboy itu mencoba menyinggungnya dengan cara pengecut.
tok.. tok.. tok..
An melihat ke arah Pintu Ruangannya lalu tak berapa lama Agus datang membawa berkas berisi tentang asal-muasal Pria bernama VeroBoy itu. An memberi akses khusus pada Agus sehingga Agus sangat mudah mencari Informasi terlindungi sekalipun.
An melihat isi berkas itu lalu menaikkan sebelah alisnya.
"dia anaknya Pria tua itu?" gumam An tampak mengingat sosok Pria tua yang begitu sombong dan angkuh tidak bisa dikalahkan oleh An yang sejak umur 17 tahun disebut Master dari segala Master saking hebatnya.
"VeroBoy ini anak dari hasil perselingkuhannya dengan wanita malam dari Negaranya, tapi bisa dikatakan Wanita itu diberi kemewahan karna mengandung anak Pria bernama Kiko ini Tuan." jelas Agus.
"aku mengerti..! kau sudah mengerjakannya dengan baik Agus." An mengangguk ke Agus menandakan Ia puas dengan hasil kerja Agus.
Agus tersenyum lega karna merasa informasinya tidak banyak namun An sudah senang sebab mendapatkan intinya.
"apa Tuan baik-baik saja?" tanya Agus serius.
An mengangguk, "aku baik-baik saja..! kembalilah ke Ruanganmu, aku hanya mengalami efek kehamilan Istriku."
Agus pun menunduk sopan lalu pergi dari Ruangan An.
"aku tidak akan mengampuni nyawamu..!" seringai An akhirnya menemukan semua yang membuatnya penasaran.
An mengetik nomor ponsel VeroBoy yang ditemukan dengan kemampuan teknologi Perusahaan X Company Group.
"bagaimana? apa hadiah pemberianku sudah sampai ke tempat persembunyianmu?" seringai An.
hening sesaat.
"hebat juga kau menemukanku." suara Vero akhirnya keluar juga.
"tentu saja..? tidak ada musuh yang bisa bersembunyi dariku." seringai An.
.
.
.
__ADS_1