Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
jinakkan


__ADS_3

.


.


.


"tidak akan aku izinkan adikku bertarung dengan wanita yang suka sesama jenis itu." kata Ana begitu lantang.


Alena mendengarnya pun terkejut, "maksudnya apa kak?" bisik Alena.


"diam saja Alena." pinta Ana dengan serius.


Pria tadi yang berada dipanggung pertarungan melangkah ke arah Ana, Ana maju satu langkah lalu mengeluarkan belati dari lengan bajunya.


"woo..!! ternyata bawa belati ya?" ejek Pria didepan Ana.


Ana tersenyum miring, "aku Ana Si Dewi Beracun tidak akan kalah dengan badan besarmu itu."


seketika Pria yang berpakaian tertutup serba hijau itu terbelalak mendengar perkataan Ana, Ia memperhatikan Ana dengan serius.


"Ka--Kau?"


Ana memutar badannya dan melayangkan belatinya ke Pria itu yang lengannya tergores belati yang sudah dilumuri racun oleh Ana lalu belati itu kembali lagi ke Ana, Ana sangat hebat dengan Belatinya itu yang sudah berlatih dari kecil bahkan belum bisa berbicara dengan lancar saja Ana sudah suka dengan senjata tajam.


"bagaimana? itu baru pemanasan." kata Ana.


"serang diaaa!!" teriak Pria yang terluka oleh Ana dengan suara lantang.


semua rekan Pria itu menoleh ke Rekannya yang tiba-tiba memerintah mereka untuk menyerang Ana padahal rencana mereka bukan seperti itu.


"kenapa kalian memandangku ha? dia si Dewi Beracun yang terkenal itu." teriak Pria itu seketika membuat semua yang menawan Orang-orang yang menonton acara itu waspada ke Ana.


Ana tidak takut jika harus melawan mereka semua, Alena yang tidak mau membuat kakaknya bertarung seorang diri pun mengeluarkan belati cantiknya juga.


disaat semua Orang hendak menyerang Ana dan Alena tiba-tiba saja lampu mati sehingga Orang-orang yang ditawan menjerit dan bisa melarikan diri dari Ruangan itu walau harus tersungkur, bertabrakan dengan Manusia dan kursi tapi rasa takut mereka semua lebih besar dibanding rasa sakit mereka masing-masing sehingga pemikiran mereka semua hanya ingin lari saja.


"ada apa inii?" heboh Orang berpakaian serba Hijau dengan kebingungan.


"apa mereka yang berjaga ketiduran?" teriak DJ tiba-tiba akhirnya mengeluarkan suara ditengah gelapnya suasana.


"ayo ikut kakak!" ajak Ana menarik lengan Alena untuk menjauh hingga mereka merasa aman di sudut Ruangan.


lampu yang tadi mati tiba-tiba menyala lagi sehingga Orang-orang yang berada di dalamnya linglung serta kebingungan.


Xabara dan Rovert bersama An datang menyeret 5 Pelaku yang berjaga di Area CCTV, Listrik dan pintu depan.


"bagaimana hadiah kami?" tanya Rovert menyeringai menendang rekan-rekan mereka yang sudah tidak bernyawa lagi karna Ulah mereka bertiga.


"apa-apaan kalian ini?" teriak DJ.

__ADS_1


Ana dan Alena saling pandang lalu mengangguk satu sama lain.


"hiyaaaaa...!" Alena menyerang ke arah Orang yang menghalangi jalannya.


Ana juga menggunakan belatinya menghabisi rekan DJ yang masih linglung dengan suasana itu sampai Ana dan Alena tiba didekat Keluarganya sehingga mereka berkumpul bersama.


"sialan kalian...!" teriak DJ segera melompat dan berlari ke arah Rovert tapi An yang melangkah tenang ke DJ.


"hanya tikus besar berani sekali memperlihatkan taring kecilmu pada kami." seringai An.


DJ menendang An tapi dengan mudah An mengelak lalu memukul punggung DJ yang juga berputar serta berhasil lolos dari pukulan An, DJ bisa menjadi lawan An tapi kekuatan An Master diatas segala Master sehingga mudah sekali baginya menjatuhkan DJ yang pada dasarnya seorang perempuan tapi penyuka sesama jenis.


Xabara dan yang lainnya juga berkelahi dengan manusia komplotan berpakaian hijau itu.


buughhh!!


DJ terlempar mengenai bangku-bangku penonton dan kepalanya terbentur pembatas penonton dari tembok jelas DJ langsung tidak sadarkan diri entah masih hidup atau sudah tidak ada. An berjalan ke arah DJ tiba-tiba Ia mengelak ketika ada sebuah senjata tajam yang melayang ke arahnya dan pisau itu patah mengenai dinding (pisau murahan).


"dasar pengecut..! kau Pria kenapa menyerang wanita ha?" teriak Pria yang menjadi rekan DJ.


An tersenyum miring, "siapapun yang menyerang keluargaku tidak peduli jenis kelaminnya sama saja dimataku..! matii !?" kata An dengan dingin.


Pria yang berpakaian serba hijau itu melepas paksa penutup wajahnya lalu berlari menyerang An yang memang memiliki ilmu yang sangat tinggi, An sulit sekali dikalahkan.


kretaakkk!!


dalam hitungan menit Ruangan itu sudah penuh dengan dar*h, Rovert berlari kembali ke Ana dan Alena dengan cemas padahal kedua anak perempuan Xabara itu tidak selemah itu tapi karna Rovert seorang Ayah tentu sangat cemas setelah memastikan anak perempuannya baik-baik saja tentu saja Rovert mencari Xabara.


"sayang?" Rovert berlari ke Xabara yang menginjak kejam kepala salah satu komplotan berpakaian serba hijau itu.


"kenapa kesini? jaga Ana dan Alena saja." titah Xabara.


"mereka baik-baik saja, sudah sayang..? dia sudah mati." Rovert menarik kaki Xabara yang memang sangat kejam itu jika ada seseorang yang mencoba melukai anak-anaknya.


Xabara seperti Singa Liar yang kesurupan jika anaknya dijebak.


Alena menarik nafas kesal dan Ana menatap Alena dengan cemas.


"kenapa Alena? apa ada yang luka?" tanya Ana.


Alena menggeleng dan menjawab Ia kesal karna semua pertarungannya gagal karna DJ yang tidak bisa bertindak dengan jujur malah menggunakan cara Ilegal mengepung semua Orang serta menawan para tamu yang menonton sehingga semua jadi bubar serta kacau.


"Alena?" Ana tidak tau harus bersikap bagaimana lagi pada adik kesayangannya itu yang masih memikirkan pertarungannya padahal sudah jelas semua itu jebakan saja.


semua keluarga Xabara telah berkumpul hingga tiba-tiba seorang Pria bangkit dengan bersusah payah lalu berkata dengan lantang.


"jika rekan-rekanku mati karna Kalian maka Kalian semua harus mati bersama kami..! Ahahaha!! uhuk--uhukk!!"


An memicingkan matanya melihat Pria itu memuntahkan dar*h sepertinya juga terkena goresan kecil belati beracun Ana.

__ADS_1


"Abang dia pegang remot Bom..!" kata Alena.


"An? dia sudah menekan Remot Bomnya sejak tadi." pekik Ana.


"lebih baik kita kabur..!" teriak Alena begitu panik.


"Mom dimana?" tanya Xabara.


"kenapa pada panik sih? bukankah An bisa jinakkan Bom?" kesal Ana walau cemas dengan waktu yang tersisa tapi Ana masih bisa berpikir jernih.


seketika mereka semua tersadar lalu melihat ke arah An yang mengeluarkan sebuah alat pendeteksi Bom dan mereka semua mengikuti An yang terus melangkah menuju sebuah Ruangan kecil.


"dapat..? itu dia." kata Alena.


An memutar kepalanya ke arah Keluarganya, "ini Bom aktif kenapa kalian kesini? Bahaya..!"


"kami akan bersamamu Son..!" kata Rovert.


"lebih baik Abang jinakkan saja Bom itu kami tidak akan berisik." kata Ana dengan senyuman.


"tenanglah sayang!" pinta Xabara ke An yang sepertinya mencemaskan mereka semua.


"waktunya 20 menit lagi..! ku mohon jangan ganggu konsentrasiku." pinta An.


semua orang mengangguk patuh lalu diam-diam Ana merekam aksi An sedangkan Alena mengintip di Ponsel Ana juga sesekali melihat kegiatan An yang begitu tenang memisahkan kabel-kabel Bom waktu yang terus mengeluarkan suara.


An ternyata selalu membawa alat pemutus kabel di kantong jaketnya dengan begitu tenang Ia memisahkan kabel yang sekiranya pemutus waktu yang berjalan.


taasshhh!!


tiba-tiba waktu di bom waktu itu berhenti tepat di angka 00.13 dan An menghela nafas lega.


Ana segera menyimpan Ponselnya sambil tersenyum lebar.


"sudah?" tanya Rovert.


An menoleh ke Rovert, Xabara, Ana dan Alena yang melihatnya.


"kalian membuat konsentrasiku goyah..! biasanya aku tidak pernah gagal menjinakkan Bom dalam waktu 10 menit tapi karna kalian semua aku butuh waktu belasan menit." kata An dengan datar.


Alena segera berjongkok lalu memeluk An dan memuji An sangat keren juga seksi saat melakukan aksi berbahaya itu, Rovert merangkul Xabara yang juga bangga pada An bisa menyelamatkan gedung ini dari kehancuran.


"andaikan Abang bukan Abang Kandungku aku mau menikah dengan Abang." kata Alena dengan riang membuat suasana menjadi lebih mencair karna candaan Alena itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2