
.
.
.
Sean diam memperhatikan raut wajah Ana yang tengah menyeringai.
"baiklah jika itu maumu sayang." jawab Sean.
"ayo kita cari kemana para pemimpin diatas mereka bersembunyi." ajak Ana.
Sean pun mengikuti Ana disusul oleh para pengawal mereka berdua tengah membawa berbagai senjata.
sepanjang perjalan Ana dan Sean mencari satu persatu pejabat Istana, Sean memberitau bahwa Negara ini sebenarnya sudah rusak karna Frans walau begitu para wanita tetap bisa bertahan hidup di Negara itu walau direndahkan oleh Pria.
Ana mengepalkan tangannya walau Ia tau Negara itu adalah Negara penganut budaya barat tapi Ia tetap tidak suka wanita direndahkan karna menurut Ana baik lelaki maupun wanita seharusnya setara supaya hidup ini seimbang, siapa yang mau terlahir menjadi perempuan di muka bumi ini? siapa juga yang mau dianggap hewan oleh manusia lain? dunia ini diciptakan Tuhan sebenarnya sudah sangat adil tapi perbuatan manusia yang mengacaukan keamanan dan ketentraman dunia.
"dasar manusia memang paling kejam dari hewan buas apapun di muka bumi ini." gumam Ana tidak suka.
Sean menghela nafas barat, "aku juga menganggapnya begitu sayang, mungkin ini penyebab dulu Ayah tidak bisa menghukum penjahat dengan kejam."
Ana berdecak, "Sean? yang bersalah harus dihukum dan hukuman itu juga harus adil sesuai dengan perbuatannya bukan untuk di lembutin, bagaimana nasib orang tidak punya kuasa apa-apa harus menjadi korban keserakahan manusia? mereka yang tidak punya kuasa terpaksa berbuat jahat demi mendapatkan uang kan?"
Sean dan Ana berbicara dengan serius seolah Ana banyak memberi pelajaran pada Sean tentang kehidupan, Sean selalu saja terkagum-kagum betapa bijaknya Ana.
"disini apa Sean?" tanya Ana melihat sebuah Rumah yang terlihat berpenghuni tapi tidak ada suara apapun.
"sepertinya ini kumpulan wanita penghibur." jawab Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ana mengangguk, "aku akan masuk..!"
Ana hendak memasuki Rumah itu namun dicegah oleh Sean, "aku mau lihat ke dalam Sean." pinta Ana.
"aku akan ikut denganmu." ujar Sean lalu Ana mengangguk saja sambil menepis pelan tangan Sean dan masuk ke Rumah itu.
ceklek...?
Ana membuka pintu dan meminta Para Pengawal untuk tidak melakukan apapun diluar selain berjaga jika ada bahaya maka mereka harus menebak, atau membela diri dengan cara apapun sementara Ana dan Sean akan melihat situasi di dalam itu.
Ana heran mengapa rumah kumpulan wanita penghibur terlihat sunyi, "apa kamu yakin Sean? kenapa sangat sunyi?" tanya Ana.
__ADS_1
"mungkin ke dalamnya lagi Ana..! ayo ikut aku..?" Sean menggenggam tangan Ana sambil melangkah mengikuti jalan Rumah itu.
sreaakk...!
Sean membuka sebuah pintu dan Ana memejamkan matanya seketika mendengar suara dentuman musik yang sangat keras.
"ternyata ada Ruangan khusus untuk berpesta ria." gumam Ana.
"apa kamu baik-baik saja sayang?" tanya Sean setengah berteriak ke Ana yang mengangguk-ngangguk.
Sean kembali menggenggam tangan Ana dan melangkah menuju Ruangan itu.
"siapa kalian??" teriak penjaga melihat ada Orang asing masuk ke wilayah mereka.
penjaga itu segera menyerang Ana dan Sean yang mengelak lalu dengan cepat Sean membanting tubuh penjaga itu dan Ana menancapkan sesuatu di kening Penjaga itu yang kejang-kejang ditempat.
"si Dewi beracun beraksi." gumam Ana pelan.
Sean kembali menggenggam tangan Ana mencari siapa saja Pejabat yang bisa ada di tempat ini, beberapa Penjaga sudah di habisi oleh Ana maupun Sean tanpa tersisa lalu beberapa saat kemudian tempat itu penuh dengan teriakan membahana wanita karna baru sadar banyak penjaga yang tergeletak tidak bernyawa.
"penyusup...! penyusup..??"
Ana dan Sean malah berlari dengan tangan berpautan lalu Sean membuka sebuah pintu mana saja yang terlihat olehnya dan membawa Ana masuk kesana bersama Sean untuk bersembunyi.
"sssttt...? pelan-pelan saja sayang..! kita berada di kandang musuh tidak ada salahnya kita harus berhati-hati." bisik Sean.
Ana diam sambil menghela nafas dan duduk manis ditempat persembunyiannya sedangkan Sean tengah mengintip melihat situasi diluar lumayan kacau.
Ana mengerutkan keningnya melihat isi Ruangan tempat mereka bersembunyi dengan tenang Ana berdiri lalu menyelusuri tempat itu hingga Ia mulai mendengar sesuatu yang menggelikan.
"ternyata ini kamar." batin Ana.
Ana mengintip asal suara itu membuat matanya melebar seketika ada 1 Pria yang wajahnya kelihatan aneh tidak mengenakan apapun dilayani oleh 2 wanita penghibur.
Ana pun langsung diam karna Ia penasaran yang namanya hubungan seperti itu jadi ingin melihat hal itu didepan mata.
"kecil...? aah..! tidak menantang sama sekali." batin Ana meremehkan.
glek...!
tiba-tiba Ana bergidik melihat salah satu wanita melakukan hal yang membuatnya jijik bukannya terangsang.
__ADS_1
"apa yang...? hhmm..!?" tanya Sean membuat Ana kaget langsung membekap bibir Sean dengan tangannya dan hidung Ana dengan hidung Sean menyatu.
"diam Sean." pinta Ana dengan sorot mata tajam ke Sean yang begitu dekat dengannya.
Sean pun mengangguk lalu tangan Ana perlahan lepas dari bibir Sean, Ana lega ternyata Orang yang tengah Ana intip begitu sibuk dengan dunia kenikmatan itu hingga tidak mendengar apapun.
Sean melihat pun kaget ternyata Ana melihat hubungan seperti itu, "kapan kita melakukan seperti itu?" bisik Sean.
Ana melebarkan matanya seketika bayangan pernah melihat inti Sean berdiri membuat wajahnya sangat merah tapi tidak pernah melihat nya tanpa pakaian, Sean mengelus pipi Ana.
"kamu dengar bagaimana suara des*h*n mereka kan??" bisik Sean menggoda.
Ana menepis pelan tangan Sean, "fokus Sean..! kita harus habisi musuh, aku rasa dia seorang pejabat." bisik Ana.
Sean mengangguk dengan senyuman lalu Ana menarik nafas pelan dan mengeluarkan sepasang belati kembar yang pernah Ana minta pada Sean, Ana melangkah ke arah ranjang.
saking menikmatinya mereka bertiga yang berada di ranjang tidak mendengar langkah Ana apalagi suara Ana.
sreekkk....! jlebb...!
Ana melukai tangan Pria itu lalu menusuk jantung Pria itu yang melototkan mata memegang dadanya.
"akhhhh!!!" jerit kedua wanita itu segera berdiri dengan tidak berpakaian.
"apa dia seorang pejabat?" tanya Ana dan kedua Wanita yang kelihatan ketakutan itu mengangguk-ngangguk.
Ana berbalik dan meninggalkan targetnya yang kejang-kejang dengan mata melotot lalu Sean pun mengekori Ana tanpa mau mendekati para wanita itu karna perasaan jijik dalam dirinya.
Ana membasmi para lelaki hidung belang disetiap kamar tempat itu sampai tuntas lalu keluar mengabaikan kekacauan didalam sana.
"kemana lagi kira-kira Sean?" tanya Ana.
"Istana ..! pasti para Pelayan wanita di Istana sedang diperlakukan seperti itu oleh pejabat disana." jawab Sean.
"bagus..! jika mereka lengah jelas membasmi serangga sangat mudah." seringai Ana yang tidak menyangka Ia datang di waktu yang tepat sehingga rencana nya berjalan sangat mulus.
Pengawal Sean dan Ana hanya berdecak kagum mendengar pembicaraan mereka walau tidak tau apa yang terjadi tapi mereka merasakan kekejaman Ana terhadap orang jahat yang menggunakan kekuasaan ditangan mereka untuk kesenangan pribadi ketika keluar dari Rumah wanita penghibur tadi.
.
.
__ADS_1
.