
.
.
.
Alena menggeram dengan muka memerah lalu Saga menangkup pipi Alena begitu lembut,
"kamu terlalu tinggi untuk aku gapai Alena, jika bukan karnamu mungkin aku sudah mati belasan tahun yang lalu." kata Saga dengan pandangan serius.
Alena tersentak melihat air mata Saga yang jatuh didepan matanya namun Saga dengan cepat menghapus air matanya karna tidak mau Alena tau betapa berharganya hiburan Alena kecil yang ceria dulu terhadapnya.
Alena memicingkan matanya karna yang ditakutkan Saga sudah diketahui oleh Alena, Alena memang sedikit polos tapi sebenarnya Alena sangat cerdas dan bisa merasakan ketulusan Saga hanya saja Alena yang menjaga harga dirinya terlihat ketus dan kejam menolak Saga supaya tidak terlalu murah*n karna Alena Maldev memang sangat mahal.
"huhh...!" Alena menghela nafas panjang.
"sudah makan?" tanya Alena.
"hmm?" Saga menggosok telinganya seakan berusaha mencerna pendengarannya itu tidak salah.
"sudah makaaan??" teriak Alena tepat ditelinga Saga membuat Saga tertawa lebar mengelus telinganya yang terasa berdengung karna suara teriakan Alena.
"keningmu sudah tidak apa-apa Alena?" tanya Saga.
Alena bertanya tapi Saga malah bertanya hal lain sampai Alena bosan memilih pergi namun di ikuti oleh Saga.
"ikut denganku..!" Saga menggendong Alena ala brydal Style.
"aakkh?" Alena sampai syok akan perlakuan Saga dan melihat kebelakang dimana Dyrga membuang muka seolah berpura-pura tidak melihat mereka berdua.
Alena yang takut terjatuh terpaksa meremas bahu Saga dan melihat kedepan, Saga melirik ke Alena sesekali sambil menahan senyum.
.
di Ruangan Aula yang besar,
"kenapa kesini?" tanya Alena dengan heran.
Saga menjentikkan tangannya perlahan suara musik menggema di Ruangan itu, Alena terperangah melihat ke atas yang banyak lampu kerlap-kerlip penuh bintang.
__ADS_1
"romantisnya...!" batin Alena yang diam-diam tersentuh.
Alena bisa merasakan ketulusan Cinta Saga karna Indera ketujuh Alena memang tajam bukan terlalu percaya diri tapi memang Alena bisa menangkap sinyal Cinta Saga yang tulus itu.
tak berapa lama 5 Pelayan berpakaian sama berjalan dengan sejajar menata meja makan satu-satunya di Ruangan yang begitu luas itu.
"mana Mawar Putihku?" tanya Saga ke Pelayan itu.
"silahkan dibuka pintu sana Tuan Muda." jawab Para Pelayan menunjuk sopan ke arah depan sambil memberikan sebuah remot kecil.
Saga menekan remot itu dan mata Alena beralih ke pintu yang tiba-tiba terbuka itu, sontak saja kaki Alena melangkah menuju Pintu itu dan Ia menginjak eskalator menuju lantai atas.
"wahhh...!" Alena membekap mulutnya begitu terpana melihat banyaknya mawar putih disekelilingnya dan langit menunjukkan rembulan yang terang juga dihiasi penuh bintang.
Alena berlari kecil kearah meja yang berada di sudut Balkon dan banyak permen Caramel tersusun rapi disana.
"Caramel buatannya?" gumam Alena tersenyum lebar mengambil 1 permen Caramel dan memakannya lalu matanya fokus menatap sekelilingnya hingga melihat Saga telah berdiri didepan Pintu.
"aku tidak terpesona sama sekali hanya cukup takjub saja padamu yang rela membuang banyak uang untukku." kata Alena berpura-pura tidak tersentuh padahal kebalikannya.
Saga terkekeh, "baiklah..! tapi aku tidak mengeluarkan banyak uang seperti yang kamu maksud Alena..! gedung ini milikku, masakan itu buatanku dan Bunga Mawar Putih ini dari Taman Bungaku." jawab Saga.
Alena berdehem, "mana makanannya?" tanya Alena.
Alena makan masakan Saga ternyata sangat enak setelah itu diajak berkeliling Gedung dan terakhir banyak Taman Bunga Mawar Putih dibelakang gedung itu.
"wahhh...!" Alena tidak bisa menyembunyikan binar kekagumamnya melihat Kumpulan kebun mawar Putih didepan matanya.
"ahahaha..?" Alena melompat-lompat ditempat sambil menutupi bibirnya yang senang melihat semua itu.
Saga mengulum senyum, sebenarnya Saga cukup kesulitan menanam Bunga-bunga itu seorang diri padahal Saga sangat sibuk dengan pekerjaannya karna Ia tidak mau ada yang mau membantunya sebab ini adalah Cintanya Saga, hatinya Saga, belahan jiwa Saga, alasan Saga bertahan selama ini, alasan Saga ingin sukses.
"Saga..? ini kenapa bisa seluas ini?" tanya Alena ke Saga dengan ceria.
Saga tertegun melihat wajah Ceria Alena lalu Ia mendekati Alena yang semakin jelas Saga bisa menyaksikan betapa riangnya Alena sehingga Saga merasa berbunga-bunga karna jeri payah dan seluruh cucuran Keringatnya saat menanam Kebun itu begitu membuahkan hasil.
bayangkan saja tanah seluas 1 hektar isinya Bunga Mawar Putih Semua dan yang menanamnya hanya Saga seorang diri.
"aku menanamnya seorang diri Alena." jawab Saga malah lebih terpesona dengan wajah riang Alena.
__ADS_1
Alena mengerutkan keningnya, "seorang diri? mau membodohiku?"
"aku tidak berbohong." jawab Saga dengan senyuman.
Alena mencari kejujuran dimata Saga dan ternyata memang tidak berbohong, Alena yang merasa malu dipandang oleh Saga pun memilih berlari ke arah Taman Bunga itu.
"Ahahaha...!" Alena berputar-putar di tempat itu dengan gembira seperti bocah.
Saga terus saja tersenyum sepanjang hari bersama Alena, menurutnya malam ini adalah yang paling berharga baginya lebih dari malam manapun yang telah dilaluinya selama ini.
Drrrtt...
Saga berdecak malam-malam dapat panggilan masuk segera Ia mengangkatnya dan hendak marah-marah tapi mendengar laporan Dyrga terpaksa Ia berpikir dengan cara jitu supaya bisa mengatasi masalah itu tanpa kehadiran Saga.
.
Alena sampai ketiduran di Taman Mawar Putih,
"sayang?" panggil Saga yang bibirnya suka sekali memanggil Sayang ke Alena padahal bukan pacar juga bukan Istri.
...?
Saga yakin Alena belum keluar dari Taman itu karna Satu-satunya jalan keluar itu harus melewati Saga tapi Saga tidak melihat Alena melewatinya.
Saga cukup kerepotan mencari Alena karna taman itu sangat luas sehingga Saga menghubungi Alena dan nada dering Ponsel Alena terdengar oleh Saga, Alena memegang 1 tangkai Mawar Putih dan terlelap dengan bantalan lengannya.
"imutnya." gumam Saga mengambil tas Alena dan diletakkan di leher Saga lalu dengan sangat hati-hati Saga memegang leher belakang Alena.
Saga menggendong Alena yang menjatuhkan setangkai Mawar Putihnya tadi karna Ia sudah terlelap.
Saga membawa Alena ke sebuah kamar lalu meletakkan Tubuh Alena dengan sangat berhati-hati, Ia memandangi wajah Alena yang terlelap sambil menyelimuti Alena sampai ke batas leher.
Saga tersenyum tampan, "rasanya seperti bermimpi melihatmu secara langsung Alena..! maafkan aku yang terlalu tidak tau malu...! aku tidak bisa menahan Perasaanku ketika dekat denganmu Alena, Cinta yang kusembunyikan selama ini tidak bisa lagi tertutupi jika sudah berada didekatmu."
"tidurlah Permen Caramelku yang menggemaskan dan juga manis." bisik Saga mengecup lama kening Alena lalu Ia keluar dari Kamar itu tak lupa mematikan lampu.
Alena tidak dikhawatirkan Keluarganya karna tau Alena suka tidur di Perusahaannya, Apartemen, atau di Rumah Carrina yang paling utama Keluarga Alena sangat mempercayai Alena.
.
__ADS_1
.
.