
.
.
.
"sekarang kamu kembali ke Papamu ya?" pinta Jimmy sambil membersihkan mulut Rayden.
Rayden mengerjabkan matanya.
"begini rasanya punya Anak ya? haha..?? pantas saja di brengs*k itu pengen punya anak." batin Jimmy merasa jadi seorang Ibu saat ini walau tidak melahirkan.
Jimmy menoleh ke belakang dan tersenyum lebar melihat Alena.
"kenapa belum pulang? mau jam berapa lagi kamu tidur hmm?" tanya Alena.
"aku cutii !!" pekik Jimmy melompat manja memeluk Alena.
Alena terbatuk lalu memukul punggung Jimmy, "dasar..? kamu sengaja menipuku ya?" gerutu Alena.
"bukan Jimmy namanya kalau tidak menipu Alena." kata Jimmy dengan bangga.
Alena melihat Rayden yang tengah memperhatikannya tentu sadar arah tatapan Rayden itu, "apa dia anak angkatmu? kenapa tidak beritau aku?"
Jimmy melepaskan pelukannya dari Alena dan memutar kepala ke arah Rayden, "ooh..! ini anak siapa aku tidak tau, katanya anak Orang terkaya di Indonesia nomor 6."
Alena terkekeh, "Tuan Viken?" tebak Alena.
"Viken?" beo Jimmy.
Alena menyentil kening Jimmy yang mengerucutkan bibirnya, "apa kamu tidak sadar kalau 3 hari lagi kamu akan menemui Tuan Viken membahas Kontrak lama yang sudah habis hah?" omel Alena.
"mana aku tau." gerutu Jimmy sembari mengelus keningnya.
Rayden mendengar itu pun langsung berdiri dari duduknya, "aku pulang Tante...!" kata Rayden seolah merencanakan sesuatu langsung berlari meninggalkan Jimmy yang heran.
"kenapa?" tanya Alena terkekeh ke Jimmy.
"tadi aku suruh dia kembali ke Papanya bandel banget, sekarang kamu datang dia izin pulang." dumel Jimmy.
Alena tersenyum, "cepat bantu aku berganti Pakaian..!!?" titah Alena menarik lengan Jimmy.
__ADS_1
"iya--iya." jawab Jimmy mengikuti langkah Alena yang begitu santai mengangkat gaunnya dengan sebelah tangan saja.
Alena berganti gaun di malam hari menjadi lebih indah dan gemerlap penuh bintang, Jimmy yang selalu berada disisi Alena menjadi pusat perhatian teman-teman Alena dimasa Kuliah, mereka semua sangat yakin Alena dan Jimmy tidak seakrab itu sebab mereka berbeda.
Alena sangat memegang teguh budaya timur yang menganggap kehormatan adalah segalanya berbeda dengan Jimmy sangat bebas tidak terikat budaya Timur.
"apa ada yang kamu butuhkan lagi Alena?" tanya Jimmy.
"kamu harus berada cukup jauh dariku ya? nanti aku akan lempar Bunga ini, kalau kamu dapatin Bunga ini pasti kamu akan cepat menemukan jodohmu." kata Alena.
Jimmy terkekeh tapi mengiya-iyakan saja supaya masalahnya tidak panjang.
.
Alena tersenyum lebar saat acara pelemparan Bunga berlangsung, hanya Jomblo saja yang boleh ikut acara penangkapan Bunga dari Pengantin perempuan.
"hati-hati sayang..!? jangan sampai kamu terjatuh." pinta Saga memegang pinggang Alena.
"bantu gaunku saja Saga..!" pinta Alena sibuk menarik-narik Gaunnya tapi bibirnya masih bisa tersenyum lebar.
Saga pun melakukan apa yang Alena suruh ketika hitungan dimulai Saga sedikit menjauh dan Alena bersiap melempar Bunganya dengan otak jeniusnya menghitung jarak nya kini ke Jimmy yang berada di paling belakang sambil bersidakap dada seolah antara niat dan tidak niat mendapatkan Bunga Alena kini.
Para Gadis, Janda sudah sibuk berteriak melompat-lompat menangkap Bunga Alena hingga tiba-tiba mereka semua harus menyerah ketika Bunga Pengantin malah menjatuhkan diri ke tangan Jimmy malah terkejut menangkap Bunga itu.
"Ehh? So--Sorry...! Sorry...? ini ambillah..!" ucap Jimmy dengan kikuk hendak memberikan buket Bunga Alena.
"mana bisa lagi, Bunga itu sudah memilihmu." gerutu salah satu Janda dengan sebal.
Jimmy mengerjab melihat kekecewaan mereka semua, Ia menatap sebuket Bunga di tangannya.
Alena melihat ekspresi Jimmy hanya bisa menahan tawa sekuat tenaga, terkadang Jimmy yang sok imut itu memang benar Imut kalau tingkahnya tidak dibuat-buat (tindakan alami).
"selamat ya?" ucap beberapa Ibu-ibu berusaha mencari perhatian Jimmy saja yang dekat dengan Alena.
Jimmy menatap kesal ke Alena yang berpura-pura tidak tau, "pasti Alena yang sudah merencanakan ini." gumam Jimmy sudah tau akal licin sahabat baiknya itu.
.
"ayo kita dansa sayang..!" ajak Saga mengulurkan tangannya.
Alena menurunkan tangan Saga, "kaki aku pegal Saga." desis Alena.
__ADS_1
Saga menarik tangan Alena hingga Alena terkejut dan Ia hanya mendengus ketika Saga bergerak pelan ke kiri-kanan (dansa) padahal Alena sudah bilang lelah.
"pelan-pelan saja sayang." kata Saga.
Alena tidak mungkin juga mendorong Saga karna banyak yang merekam aksi mereka saat ini, Saga terkekeh seolah tau hati Alena tengah dongkol terhadapnya.
"masih mengoceh sayang?" tanya Saga dengan gemas.
Alena menginjak Kaki Saga tapi bibirnya tersenyum manis seolah tidak beban sama sekali, Saga malah tertawa pelan walau sakit tapi jujur saja Ia gemas dengan sifat bar-bar Alena itu.
acara pernikahan Saga dan Alena benar-benar meriah bahkan Alena sudah menggerutu pelan kapan waktunya akan berakhir sebab Kakinya sudah sakit mengenakan heels hampir 24 jam.
"coba aku lihat sayang..!" pinta Saga menarik kaki Alena dan diletakkan dipaha nya sambil mengangkat sedikit gaun Alena.
"kenapa ditahan hmm?" tanya Saga dengan cemas dan Alena membuang muka saja seolah tidak mau menjawab pertanyaan Saga.
Saga mengambil Ponselnya dan meminta Dyrga membeli Obat khusus ke Apotik serta beli sendal rumahan, Dyrga pada dasarnya memang Orang setia Saga tentu menurutinya padahal Ia belum makan tapi mau bagaimana lagi? Saga adalah Bosnya Dyrga.
beberapa menit kemudian Dyrga kembali membawa salep yang paling mujarab untuk menyembuhkan kaki Alena, ternyata di Lobi ada minimarket menjual apa saja jadi Dyrga tidak harus keluar Gedung Hotel membeli Obat.
"tahan ya sayang??!" pinta Saga serius.
Alena mengangguk lalu Saga mengobati Kaki Alena dan Alena memejamkan matanya meremas gaunnya tapi bibirnya tidak mengeluarkan suara, Saga melihat tangan Alena tentu tau Istrinya tengah menahan perih.
"maaf sayang..!" ucap Saga lalu meniup kaki Alena dan lebih lembut lagi mengobati kaki Alena.
semua Orang yang melihat kemesraan Alena dan Saga hanya bisa bersorak iri dalam hati, Rovert dan An yang melihat perlakuan Saga pun tersenyum tipis saja lalu kembali menyambut tamu dan menyapa tamu dari berbagai Negara.
diam-diam Alena memperhatikan ekspresi Saga, bulu mata Saga yang tebal serta lentik Juga alisnya yang ramai (tebal) sangat menarik, hidung Saga yang mancung belum lagi bibirnya yang seksi tengah meniup kaki Alena.
"apa yang aku pikirkan??" batin Alena melihat arah lain.
Alena tidak menyangka otak polosnya sudah tercemar, entah kenapa Ia malah berpikir ingin mencium bibir merah delima Saga itu.
"jangan pakai heels lagi sayang, pake sendal ini saja ya? lagian kamu sudah tinggi tidak butuh heels lagi." kata Saga dengan serius.
.
.
.
__ADS_1