Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
didikan


__ADS_3

.


.


.


ke esokan paginya,


Ana masuk ke Kamarnya seperti seorang pencuri yang takut ketahuan.


"dimana dia? apa dia pergi berkeliling?" batin Ana.


Ana mengedarkan pandangannya dan menghela nafas lega, "aku bebas." gumam Ana.


Ana melangkah menuju Kamar Mandinya dan terpekik seketika pintu Kamar Mandi terbuka tiba-tiba dan terlihat oleh Ana sosok Sean yang baru saja selesai mandi dengan memakai handuk menutupi bagian intinya.


glek...!


Ana melihat bentuk tubuh Sean menelan ludahnya dengan kasar, "Woow!!?" gumam Ana sungguh pelan.


Sean mendekati Ana lalu memegang dagu lancip Ana dan menghadapkan wajah Ana ke Wajah Sean.


"baru datang?" tanya Sean dan Ana mengangguk pelan.


"kamu sengaja melarikan diri?" seringai Sean.


Ana menepis pelan tangan Sean lalu kembali melihat perut Sean, ini ketiga kalinya Ana melihat tubuh roti sobek Sean yang baru (saat sudah jatuh Cinta) berhasil membuat Ana tidak bisa berpaling karna sekarang bentuk tubuh Sean jauh lebih kekar dan berisi dari saat pertama Kali Ana mengobati Sean.


Sean mengangkat dagu lancip Ana lagi dan Ana menatap mata Sean, "kenapa lari?"


"ak--aku sudah lama tidak tidur bersama mereka." cicit Ana.


Sean tersenyum begitu seksi dengan wajahnya yang masih basah juga rambutnya ada tetesan air.


"apa kamu tidak tau aku disini malah tidak bisa tidur?" tanya Sean dan Ana menggeleng malah jawab dengan jujur kalau Ana tidur dengan nyenyak.


Sean terkekeh pelan, "memang aku yang lebih mencintaimu sayang..!? aku sungguh tidak bisa tidur tanpamu." kata Sean menertawai perasaannya sendiri yang terlalu menempel pada Ana bahkan tidak ingin jauh dari Ana.


Sean tidak bisa tidur tanpa Ana sementara Ana bisa terlelap dengan nyaman tanpa gangguan namanya penyakit bucin cinta akut.


"bu--bukankah kita tidur diatap yang sama?" tanya Ana tergagap benar-benar seperti pencuri yang sudah tertangkap basah oleh tuan Rumah.

__ADS_1


Sean mengulum senyum, "sayangnya aku tidak bisa memikirkan itu, aku hanya butuh kamu menjadi bantal kesayanganku."


Ana menurunkan pandangannya melihat otot dada Sean, bagaimana pun Ana punya harga diri yang tinggi namun Ana tetaplah perempuan dewasa yang tertarik dengan hubungan suami-istri yang sesungguhnya.


Sean memegang tangan Ana lalu diletakkan di dada bidangnya, darah Ana mendesir seketika saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Sean.


"aku ganti baju dulu ya?" izin Sean mengecup punggung tangan Ana lalu pergi dari hadapan Ana tanpa mau berbalik.


"hmm?" Ana menggantung tangannya di Udara seolah ingin menahan Sean tapi bibirnya tidak bicara apapun sehingga Sean tidak berhenti.


Ana menelan salivanya bersusah payah dan memegang dadanya tepat di posisi jantungnya berada.


"ke--kenapa aku ingin sekali memeluknya?" gumam Ana penasaran dengan pikirannya namun masih bisa menjaga harga dirinya.


Ana menggeleng kepalanya sambil menangkup pipinya sendiri, "bodo amat masalahku sendiri..? aku ingin menyentuhnya." gerutu Ana sambil melangkah menuju Ruangan Ganti.


ceklek...!


Ana membuka pintu Ruangan gantinya ternyata Sean tidak mengunci pintunya seolah sudah tau saja kalau Ana akan menyusulnya.


Jujur saja Sean sudah lama membentuk tubuhnya itu supaya Ana semakin menyukainya dan ternyata perjuangan Sean tidak sia-sia melakukan hal itu demi Ana.


Sean menoleh ke Ana memakai pakaian dalam saja belum sempat memakai celana, mata Ana melebar melihatnya lalu Ia segera berbalik dengan wajah sangat merah.


"a--aku mau mencari sesuatu." jawab Ana yang malah berbohong.


"kenapa aku bicara lain? dasar aneh..!" rutuk Ana pada dirinya sendiri.


"oh..? iya." jawab Sean lalu keluar ternyata telah memakai celana panjangnya dan pergi sambil mengenakan baju kausnya.


Ana mengutuki dirinya sendiri sementara Sean sudah senyam-senyum seperti orang gila karna berhasil membalaskan dendamnya pada Ana namun bukannya senang sebab berhasil balas dendam malah tertawa membayangkan wajah menggemaskan permaisurinya.


"aku ingin sekali memakannya." gumam Sean begitu gemas dengan tingkah Ana.


"kalau begini aku tidak akan pernah bisa marah padanya dengan raut wajah menggemaskannya itu siapa yang akan tahan marah berlama-lama padanya?" gumam Sean ingin sekali cepat berlari kembali ke Ana dan melakukan hubungan itu tanpa harus bersabar lagi.


.


Ana keluar dari Ruangan ganti dengan canggung tapi ternyata Sean tidak ada di kamarnya sehingga Ana celingukan mencari sosok Sean.


"dimana dia?" gumam Ana penasaran.

__ADS_1


Ana mencari Sean sampai berkeliling Mansion Maldev dan Ana hanya menganga ketika dapat kabar dari Alena kalau Sean sedang keluar Mansion ingin membeli sesuatu dengan supir Mansion Maldev.


Ana mendengus kini berada dikamarnya, "apa maksudnya? apa maunya? sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya? apa dia memang mau balas dendam padaku?"


Ana menekuk wajah cantiknya selama beberapa jam tidak mau keluar dari kamar, ketika Sean masuk membawa banyak boneka tentu Ana berbalik badan dan melihat Sean pulang-pulang membawa banyak kumpulan boneka, "apa yang kamu lakukan?" tanya Ana.


Sean tersenyum lebar dan meletakkan seluruh hasil tangkapan pancingannya berupa boneka itu di atas Ranjang.


"aku butuh pelampiasan karna kamu meninggalkanku tadi malam." jawab Sean dengan senyuman.


"pelampiasan apa? kamu tidur dengan wanita lain?" tanya Ana memicing curiga.


"tidak sayang.! tidak !! aku mana mungkin mau tidur dengan Perempuan lain saat perempuan yang aku inginkan hanya kamu saja, aku punya Permaisuri yang begitu mahal kenapa aku harus mencari barang murahan diluar sana? sekalipun di obral aku tidak akan mau sayang." jelas Sean dengan lembut.


diam-diam Ana merasa senang tapi ekspresinya biasa saja.


Ana melihat segala boneka itu dan matanya seketika berbinar menemukan salah satu Boneka kelinci kesukaannya.


"sayang?" panggil Sean.


Ana mengambil boneka itu dan memainkan telinganya yang panjang juga gigi Kelincinya yang lucu, Sean langsung tau kalau Ana suka Boneka Kelinci.


"kamu suka kelinci?" tanya Sean memastikan.


"hewan lucu." jawab Ana sambil memainkan telinga boneka Kelincinya.


rasa kesal Ana telah hilang saat Sean membawakan satu boneka yang menarik matanya, memang tidak terlalu besar tapi bentuknya sangat Ana sukai.


.


.


Keluarga Ana pun makan bersama di Mansion lalu berjanji akan keluar nanti malam makan bersama-sama di Restaurant milik Barrest.


Sean menggenggam tangan Ana saat mereka menjadi sorotan memasuki sebuah Restaurant mewah milik Barrest karna Keluarga Maldev memang sangat hebat punya menantu sangat cantik seperti Carrina dan punya menantu seorang Raja dari Negara lain.


Ratu saja tidak menyangka kesuksesan cucu-cucunya itu mendapatkan pasangan berkat didikan keras Xabara yang memang memanjakan Putra-Putrinya tapi tidak sengaja membuatnya malas dalam bekerja.


biasanya Orangtua akan menuruti apapun permintaan Anaknya walau bermalas-malasan karna tanpa bekerja pun anak-anak Xabara tetap akan kaya -Raya namun Xabara tidak suka anaknya bergantung pada Orangtua malah ingin mandiri karna Xabara tau kelak Putra-Putrinya akan menikah dan punya kehidupannya sendiri.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2