
.
.
.
"iya." jawab Alena.
Saga memakaikan sendal cantik di kaki Alena.
"muah...!" Saga mengecup kaki Alena membuat Alena kaget segera celingukan dan Ia menutupi wajahnya yang memerah.
Saga menurunkan kaki Alena lalu menoleh ke Alena, "lohh? kenapa sayang?" tanya Saga khawatir.
"Saga kenapa mencium kakiku ha?" geram Alena masih menutupi wajahnya yang malu.
"memang kenapa?" tanya Saga melihat arah lain dan tersadar mengapa Alena bisa malu.
"apa kalian lihat-lihat??" sentak Saga membuat semua tamu yang hadir mulai menyibukkan diri dengan hal lain.
benar-benar acara yang sangat spesial ditambah lagi Saga yang seperti itu, Ana dan Carrina kembali ke Acara Pesta setelah memastikan Putra-Putri mereka tertidur pulas di kamar Hotel.
mereka tidak sengaja melihat hal itu pun hanya geleng-geleng kepala lalu kembali mencari tujuan masing-masing, Carrina mencari An sementara Ana malah cari makanan.
"sayang?" panggil Sean.
Ana memutar kepalanya melihat Sean nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala.
"kenapa?" tanya Ana mendekati Sean dengan jarak aman.
Sean meminta maaf karna tidak bisa membawa anaknya tidur sebab Tamu Undangan Keluarga Maldev menyapa Sean, Ana tersenyum saja mendengar rasa bersalah Sean.
"tidak apa Sean..! kamu sudah merawat anak-anak tadi kan? menidurkan mereka tidaklah sulit bagiku." jawab Ana.
Sean memegang tangan Ana dan mengecup punggung tangan Ana, "aku beruntung memilikimu permaisuriku."
Ana terkekeh, "apa kamu sudah makan Sean?" tanya Ana.
Sean menggeleng kepalanya seperti anak-anak yang minta diperhatikan.
"ayo kita makan..?" ajak Ana menarik lengan Sean yang sumringah dibawa oleh Ana.
Ana punya anak cuma 3 tapi rasanya Ana punya 4 anak, terkadang Sean bertingkah layaknya bayi padahal anak-anak mereka kian dewasa dengan cara tidak mau dilayani makan di tempat ramai walau masih punya rasa takut pada Ana.
Sean? tingkah Sean tidak tau tempat jika mode anak-anaknya muncul, terkadang Ana merasa lucu tapi seiring berjalannya waktu Ia sudah terbiasa menghadapi tingkah Sean itu.
__ADS_1
"mau makan apa?" tanya Ana.
Sean melihat makanan yang tertata rapi lalu minta sayuran saja, Ana pun melayani Rajanya itu dengan telaten sedangkan Sean senang sekali menatap Ana sesekali jemari tangannya menyibakkan anak rambut Ana kebalik daun telinganya.
Cinta Sean ke Ana tidak luntur oleh waktu malah semakin mencintai Ana ketika Permaisurinya itu juga membalas perasaannya, Sean merasa dirinya adalah Pria paling beruntung memiliki Ana.
.
Carrina melingkarkan tangannya di lengan An yang menoleh ke Carrina dan tersenyum tampan, Carrina menempelkan keningnya di bibir An sehingga An mengecup gemas kening Carrina.
"mereka sudah tidur?" tanya An dengan lembut.
Carrina mengangguk, "apa suamiku sudah makan?" tanya Carrina.
"aku menunggu Istriku kembali lalu makan bersama." jawab An.
Carrina tersenyum manis lalu mengajak An ke tempat makan, mereka terlalu sibuk dengan tamu sehingga tidak sempat makan padahal hari sudah larut malam.
pasangan-pasangan Maldev sibuk dengan dunia masing-masing sementara tamu undangan malah memiliki dunia mereka sendiri yaitu dunia gosip yang iri dengan keluarga Maldev punya kekayaan, suami sempurna, Keluarga Ideal, sangat dermawan dan bebas dari skandal menyimpang sehingga banyak yang mendukung mereka masuk ke dunia politik namun tidak ditanggapi serius oleh Keluarga hebat itu.
.
acara pun berakhir,
"Saga kau??" Alena.
"mau aku jatuhkan sayang?" seringai Saga dengan cepat Alena melingkarkan tangannya di leher Saga membuat Saga tertawa.
Alena menekuk kedua alisnya dengan kesal, "aku penasaran bagaimana kamu bisa menyembunyikan hawa keberadaanmu ketika bersamaku?"
Saga mengulum senyum sambil membawa Alena menuju Lift, "itu karna kamu tidak merasakan aku ini berbahaya sayang."
Alena diam saja karna jawaban Saga pun sama dengan jawaban Xabara ketika pertama kali Alena bertanya.
.
Alena menutupi tubuhnya dengan selimut yang ada diranjang hotelnya kini, Saga menautkan kedua alisnya melihat gerak-gerik waspada Alena itu.
"sebenarnya apa yang ada di otak kecilmu ini sayang? kenapa selalu berpikir negatif hmm?" gemas Saga.
Alena melebarkan matanya, "ak--aku hanya takut dengan Pria yang selama ini diam-diam mencintaiku bahkan mirip seperti Stalkerku selama ini, aku heran kenapa aku bisa menikah denganmu?" omel Alena.
Saga tersenyum lalu duduk dipinggir ranjang Alena.
"ingat kontrak Saga..! aku tidak suka Orang yang melanggar janji." peringatan Alena padahal jujur saja Ia gugup saat ini karna Alena merasa tidak punya tenaga lagi untuk menjatuhkan Saga saking lelahnya.
__ADS_1
"aku memang mencintaimu Alena, tapi Cintaku mengalahkan rasa Obsesiku menginginkanmu..! aku tidak sanggup membuatmu sedih, marah apalagi benci padaku..! percayalah padaku sayang..!? aku tidak akan melewati batas." ujar Saga dengan lembut dan tatapannya terlihat serius.
Alena pun merasa lega mendengarnya lalu melirik sekitar, Saga pun memberitau letak kamar mandinya seolah-olah Saga pernah menginap di kamar itu.
"apa kamu sering menginap disini?" tanya Alena memicing curiga.
"yah..! waktu kamu menemui Klient di Restaurant sebrang jalan, aku menginap seorang diri disini dan bisa melihatmu dengan bantuan alat khusus." jawab Saga menyeringai.
Alena menggeleng kepalanya karna tau benda yang Saga maksud adalah teropong, "kamu benar-benar serigala berbulu domba."
Saga terkekeh malah menganggap perkataan Alena itu berupa pujian untuknya.
.
Saga melihat sekitar ketika Keluar dari Kamar mandi dan terlihat Alena tengah tertidur dengan posisi menyamping membelakanginya, Saga mendekati Ranjang lalu memeluk Alena dari belakang.
Alena yang hendak tertidur pun tersadar, "Saga??" protes Alena hendak melepaskan belitan tangan Saga.
"aku lelah sayang..?" bisik Saga diatas kepala Alena mengecup lembut puncak kepala Alena.
Alena terdiam dengan kesal tapi memejamkan matanya juga karna Ia sama, sangat kelelahan. sebenarnya Alena bisa minta ramuan ke Ana atau Xabara tapi karna tau Orang tersayang Alena itu juga pasti lelah jadi hanya bisa menahan semua lelah itu sendiri.
.
pagi-pagi,
Saga tersenyum memperhatikan wajah cantik Alena yang polos dan natural.
"sangat menawan." gumam Saga ingin sekali melahap wajah Alena itu saking menggemaskannya.
Wajah Alena sangat mungil, Saga memperhatikan bibir Alena lalu Ia tersenyum.
"apa yang kau pikirkan Reyza?? jangan membuat Alena marah, waktu kalian masih panjang kan? jangan buat Alena marah." batin Saga mengomeli dirinya sendiri yang ingin sekali mencium bibir Alena.
Alena menggeliat lalu tanpa sadar wajahnya mencari posisi nyaman begitu menemukan dada bidang Saga tentu merapatkan tubuhnya ke Saga, tangan Alena melingkar di pinggang Saga membuat jantung Saga nyaris keluar dari tempatnya.
"sa--sayang?" bisik Saga.
Alena tidak mendengar bisikan Saga malah menarik nafas di pelukan Saga seolah-olah baru menemukan kenyamanan itu. Saga tidak berkutik selama beberapa menit hingga Ia mulai senang dan menikmati pelukan Alena itu.
.
.
.
__ADS_1