Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
menyelamatkan


__ADS_3

.


.


.


Lancord berlari ke arah An yang segera menekan nadi di leher Carrina.


takkk...!


Carrina terjatuh dibuat pingsan oleh An lalu An melempar belatinya ke arah Lancord yang segera mengelak, mata Lancord semakin menyala melihat Carrina tidak sadarkan diri dengan tangan terluka karna duri.


"kau membuat Carrina-ku ketakutan sampai meremas duri." geram Lancord.


An tersenyum miring saja, "aku tidak akan mengampunimu yang sudah berani menawan Orangku."


Lancord menyerang An dengan gerakan yang sangat cepat, An menendang tangan Lancord lalu berputar badan melakukan tendangan tipuan tetap tangannya juga melempar belatinya sehingga mengenai leher Lancord.


Lancord melangkah mundur sambil memegang lehernya yang terluka, "kau seorang pengecut yang memegang senjata saat musuhmu tidak memakai senjata."


An menyeringai, "apa peduliku? menghadapi pencundang sepertimu kenapa aku harus bertindak sebagai Pria Sejati hmm?"


Lancord berteriak marah lalu mengeluarkan alat suntiknya dan melayangkannya ke An yang menendang alat suntik itu namun sayangnya sudah menancap di kakinya.


An tersenyum miring lalu berpura-pura tidak bergerak sama sekali sampai Lancord berlari lebih dekat dengannya dan An langsung bergerak menusuk jantung Lancord yang melotot seketika akan tindakan An begitu tiba-tiba.


"aku tidak mempan dengan racun pelumpuh murahanmu itu." kata An dengan wajah datar dan senyum menakutkannya menarik paksa pisaunya sampai memuncratkan darah mengenai pakaian An.


An berdecak mengenai pakaiannya yang bau amis tanpa berpikir Ia membuka jasnya dan membuangnya ditempat begitu juga Kemeja nya beruntung An sedang mengenakan baju kaus putih sebagai dalaman bajunya.


An melangkahi may*t Lancord lalu mencari keberadaan Rop di bawah tanah tapi akses menuju kesana tidak bisa sementara para bawahan Lancord pada sibuk ke Toilet sehingga Mansion mewah Lancord seperti tidak berpenghuni.


"Egy?" panggil An yang melihat Egy berlari dengan nafas terengah-engah.


"Tu-Tuan? sa-saya tidak menemukan akses menuju Lantai Bawah Tanah itu, ba-bagaimana cara kita menuju kesana?" jawab Egy dengan nada terputus-putus karna kehabisan nafas berlarian mengelilingi Mansion luas Lancord.


disaat An dan Egy sibuk mencoba menemukan akses menuju Ruangan Bawah tanah tiba-tiba saja An dan Egy menoleh ke asal suara yang membuat perhatian mereka teralihkan.

__ADS_1


"ak-aku punya aksesnya." kata Carrina dengan wajah yang masih tertutup cadar.


An memicingkan matanya, "apa maumu?"


Carrina menggeleng kepalanya, "anggap saja ini sebagai ungkapan terimakasihku karna Tuan telah membebaskanku."


Egy melihat Carrina dan An bergantian pun hanya melangkah mundur tidak berani ikut campur, sebagai seorang lelaki yang begitu lemah pada Perempuan sudah jelas Egy tau kalau Carrina punya rasa kekaguman khusus pada An.


Carrina berjalan pelan dengan kaki yang sedikit pincang ke arah An lalu melewati An memasuki Lift lalu memerintahkan An dan Egy mengikutinya masuk Lift.


An dan Egy mengikuti Carrina yang memegang sebuah kartu Gold lalu Carrina menekan lantai 10 dan Lift meminta akses. Carrina meletakkan barcode Kartu yang Ia pegang sampai tiba-tiba Lift begitu goyang dan Carrina nyaris jatuh ketika Carrina sudah pasrah akan terjatuh lengannya ditahan oleh An yang merasakan Lift turun bukan naik padahal Carrina menekan lantai 10 tadi.


Carrina mendongak dan mata besarnya melihat mata tajam An yang menatap lurus kedepan seolah tidak peduli dengan Carrina tapi tangannya membantu Carrina.


DEG!!!


Jantung Carrina nyaris merasa melompat-lompat melihat tatapan keren An yang tidak menatapnya tapi tangannya masih berbaik hati membantunya supaya tidak terjatuh.


Carrina pun berdiri memegang pegangan Lift disampingnya lalu bersandar membelakangi An mengambil pasokan udara begitu rakus.


"dia masih sama..!" batin Carrina dengan memegang bagian dadanya yang terasa banyak kupu-kupu menghinggapi sebuah Bunga besar yang baru mekar didalam hatinya itu.


"ti-tidak apa-apa ha-hanya saja kakiku tergelincir karna dipukul oleh Tuanmu." jawab Carrina dengan jujur.


An seketika melihat ke kaki Carrina yang memar lalu menoleh ke Egy yang menatap tak percaya dirinya begitu kejam mematahkan kaki perempuan, An membuang nafas tanpa berkata-kata.


Carrina melirik ke arah An sekilas lalu pintu Lift terbuka dengan langkah tertatih-tatih Carrina terus melangkah di Ruangan gelap dengan lampu berwarna kuning itu.


"di-disana tempatnya..! lihatlah!! a-aku tidak bisa berjalan lebih lama." pinta Carrina menunjuk ke arah lorong sepi.


"bagaimana jika kau berbohong?" tanya An dengan sorot mata tajam.


Carrina dan An berpandangan lama tapi Carrina segera berpaling dengan memaksa kakinya terus berjalan melewati lorong sepi itu.


"kenapa Tuan memaksanya berjalan sudah tau kakinya seperti itu karna Tuan." bisik Egy.


"waspada lebih baik, bisa saja dia mengurung kita didalam tempat ini kemana jalan lain selain Lift itu?" kata An dengan tenang membuat Egy mengangguk setuju perkataan An yang bisa saja benar.

__ADS_1


Lorong Bawah Tanah itu memang jauh bagi kaki yang terluka seperti Carrina.


"ak-aku harus kuat supaya dia percaya padaku dan membawaku pergi dari sini mungkin dia mau menampungku." batin Carrina menahan rasa sakit di kakinya itu sambil tersenyum dibalik penutup wajahnya.


"ki-kita sudah sampai." kata Carrina sambil bersandar di jeruji besi bawah tanah milik Lancord.


An melihat ke arah Egy yang mengangguk mengerti langsung mencari keberadaan Rop sampai Egy melihat sosok yang penuh dengan dar*h dan wajahnya tidak dikenal saking merahnya serta banyak luka diwajahnya itu.


"Rop?" Egy memegang jeruji besi yang mengurung sosok itu.


"kenapa lama sekali?? kakiku sudah keram." kata Rop dengan lemas.


"Tuan Muda..?" panggil Egy.


An mendengarnya menoleh ke Carrina seakan tau Carrina mengangguk pelan lalu memberikan kartu Gold yang Ia pegang kepada An.


"ak-aku tau Tuan tidak percaya padaku..! pegang kuncinya, ak-aku tidak akan lari." kata Carrina dengan keringat membanjiri pelipisnya seperti memang menahan rasa sakit.


An menerima kartu itu, "kau percaya padaku?"


Carrina menganggukkan kepalanya, "gelangku bersamamu kan? Tu-Tuan masih menyimpan gelangku 10 tahun yang lalu kan?"


An terkesiap seketika memandang bola mata Carrina yang menanyakan gelang.


"Tuan? Rop sangat memprihatinkan." teriak Egy.


An berlari ke arah Egy lalu menarik Egy menjauh dengan cepat An menendang gembok ruko, hal itu terlihat oleh Carrina yang merosot lemah dan tersenyum dengan wajah pucat dibalik cadarnya yang sudah basah karna keringatnya sendiri.


"di-dia tetap sama." batin Carrina memegang kakinya yang terasa semakin sakit dipaksakan olehnya.


Egy pun cepat menolong Rop yang begitu lemas, mereka begitu khawatir pada Rop seperti saudara sendiri bahkan An pun meminta maaf pada Rop yang malah masih bisa tersenyum ditengah rasa sakitnya itu.


"aku maafkan karna psikopat itu belum sempat memotong jariku." canda Rop membuat Egy tersenyum mengusap air matanya dan An menarik lengan Rop untuk berdiri.


"letakkan dipunggung saya Tuan." pinta Egy segera berjongkok memunggungi An.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2