Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
hebat


__ADS_3

.


.


.


"Seannn?? kemari kau...!" teriak Ana seperti preman akan memberi pelajaran pada anak buahnya.


Sean terkekeh tidak ingin mendekati Ana karna sama saja menggali lubang kubur sendiri hingga matanya menangkap kaki Ana tanpa alas kaki membuatnya berhenti ditempat.


"mana sendalmu?" tanya Sean.


Ana menggunakan kesempatan itu berlari ke Sean lalu berhasil menangkap Sean dan memukulinya.


"kau ini kenapa begini Sean? aku tidak tahan dengan aturan Istanamu ini, cepat antar aku pulang..!" pekik Ana.


"tunggulah sebulan lagi..!" pinta Sean berjongkok dihadapan Ana lalu mengangkat kaki Ana sementara Ana masih asik memukuli kepala Sean seperti seorang Ibu memukul anaknya yang nakal.


"merah??" gumam Sean lalu mendongak menatap Ana, "apa sakit?" tanya Sean lembut.


"tidak..!" jawab Ana menjambak rambut Sean yang meringis saja.


Sophia sampai menjatuhkan rahangnya selebar-lebarnya dan juga matanya kian melotot, Para Pelayan lain sudah ada yang pingsan, lemas dan sebagainya dengan tindakan Ana yang terbilang kasar bagi perempuan bangsawan.


"mana sendalnya?" tanya Sean ke Sophia.


Sean membentak Sophia yang akhirnya tersadar lalu mengambilkan sendal Ana dipegang oleh Pelayan lain.


"kenapa kau memarahi pelayanku?" bentak Ana balik.


"baiklah..? maaf..! siapa suruh dia melamun." ucap Sean mengalah sambil memperhatikan sendal nya Ana.


"kenapa ngomong bahasa Indonesia padaku? bicara dengan bahasamu." gerutu Ana.


Sean diam pura-pura tidak dengar saja lalu mengerutkan keningnya melihat sendal Ana.


"kenapa setinggi ini? Ana-Ku tidak bisa mengenakan sendal setinggi ini." omel Sean dengan nada rendah ke Sophia bukan nada tinggi seperti sebelumnya.


Sean mana mau meminta maaf pada Pelayannya harga dirinya bisa tercoreng, lebih baik Sean meminta maaf dengan bahasa Indonesia saja sehingga Sophia tidak mengerti perkataannya.

__ADS_1


"ta--tapi ukuran nya sudah seperti itu Tuan, ada perayaan penyambutan yang mulia Pangeran kedua di Istana malam ini." kata Sophia.


Ana memutar kedua bola matanya dengan malas, "bisa tidak aku tidur?" tanya Ana.


Sean menoleh ke Ana lalu memasang sendal tinggi ukuran 7 Cm itu dikaki Ana, Ana diam saja tidak peduli betapa menakjubkannya tindakan Sean itu dimata Para Pelayan.


"jika pegal katakan saja padaku..! nanti mau tidur akan aku pijitkan." pinta Sean serius.


Ana mengangguk saja lalu melihat ke atas dan Sean berdiri dengan santainya membenarkan mahkota kecil di kepala Ana membuat gadis menawan itu melotot.


"Sean? apa tidak bisa aku tanggalkan saja Mahkotanya? kepalaku terasa panas ada benda itu." tanya Ana.


Sean menggeleng, "malam ini ada acara penting kamu harus memakai mahkota itu untuk menunjukkan kamu milikku."


Ana menghela nafas, "bisakah hanya bicara saja? apa harus memakai mahkota ini juga?"


Sean heran sebab Ia merasa mahkota itu kecil dan tidak terlalu berat namun jawaban Ana malah dengan santainya berkata kalau benda itu membuatnya risih atau tidak nyaman.


Para Pelayan termasuk Sophia hanya melongoh saja melihat Sean berbicara dengan bahasa yang tidak mereka mengerti pada Ana, tapi berdasarkan tebakan mereka semua jelas Sean berkata manis pada Ana apalagi ketika Sean memakaikan sendal yang ukurannya tidak normal dikaki Ana.


.


Ana terkejut memegang telinganya ketika bunyi terompet dan teriakan Penjaga Pintu bahwa Yang Mulia Pangeran kedua telah tiba.


"terkejut?" tanya Sean.


Ana menggeleng kepalanya, "aku bawa racun kok untuk membuatmu mati besok pagi."


Sean malah tertawa kecil tidak memasukkan hati kata-kata Ana malah membuatnya gemas, Ana berkata seakan Ana itu kejam dan tak punya hati tapi sebenarnya malah kebalikannya berbeda dengan watak wanita di Negara Sean saat ini berpura-pura anggun serta berkelas dan sok baik tapi sebenarnya adalah topeng saja untuk menutupi keburukan mereka yang haus tahta.


Pintu terbuka,


Ana melihat dari bawah lalu mengangkat pandangannya dan menatap lurus kedepan, betapa terkejutnya Ana ternyata banyak tamu undangan yang tiba dari berbagai negara Kerajaan tetangga untuk menjadi tamu di Acara Perayaan kepulangan Sean.


Sean dan Ana berpegangan tangan layaknya seorang Raja serta Ratu Muda, Ana sebenarnya malas memegang lengan Sean tapi memang Sean-lah yang memegang tangan Ana.


dilihat Orang Ana memang terlihat mesra dengan Sean tanpa diketahui bahwa Sean tengah menahan rasa sakit digenggam erat oleh Ana sebagai wujud hukuman dari Ana karna berani memegang tangan Ana padahal tidak ada peraturan seperti itu diawal kesepakatan mereka sebagai Tunangan Palsu.


Ana melihat kesekitar hingga matanya bertatapan dengan Sophia.

__ADS_1


"hati-hati Nona..!" pinta Sophia dengan gerakan bibir saja.


Ana diam saja sambil memperhatikan langkahnya hingga tiba didepan Raja Baboly dan Ratu Etopy, Ana melihat Sean memberi hormat lalu Ia memberi tanda penghormatan sebagai seorang Kesatria hebat membuat Baboly tersentak dari duduknya.


Baboly tentu tau tanda penghormatan itu hanya seorang Kesatria hebat saja yang tau caranya tapi Ana bisa tau jelas menunjukkan Ana bukan Perempuan biasa, sementara para tamu undangan berbisik-bisik menyindir Ana yang tidak tau etika seorang Putri.


"diam...?"


(bahasa asing ya?)


Baboly memerintahkan semua Orang diam lalu semua yang meribut tadi pun terdiam, Ana tidak peduli bisikan Orang baginya seorang Kesatria itu sudah penghormatan yang sangat agung ditujukan pada seorang Guru tapi Ana malah melakukannya ke Baboly.


"bagaimana kamu tau tanda penghormatan itu?" tanya Rebby (abangnya Sean Putra Pertama Baboly).


Rebby adalah Abang Sean tapi tidak ada yang tau kalau Rebby itu bukan Abang kandung Sean namun hanya anak angkat dari Raja-Ratu pertama yang meninggal kecelakaan sehingga Tahta kosong ditunjuk Baboly dan Ibu kandungnya Sean, sampai detik ini hanya Baboly saja yang tau siapa Rebby sementara Publik mengatakan keturunan Putra Raja-Ratu yang meninggal kecelakaan juga sudah tiada karna sakit-sakitan padahal anak itu adalah Rebby.


Ana diam saja tanpa membalas ucapan Rebby yang menurutnya tidak penting juga untuk dijawab, sebab jika Rebby pintar jelas saja jawabannya itu Ana adalah murid Kesatria hebat lalu dimana permasalahannya? begitulah seharusnya pemikiran Orang Jenius tapi sayangnya Rebby bodoh.


Baboly bertanya langsung ke Ana dengan santainya Ana mengatakan bahwa Ia adalah murid sekte Kesatria Hebat.


"lebih baik kita duduk..!" kata Ratu Etopy serius untuk melerai keasikan Baboly dan Ana yang berbincang tidak melihat situasi yang tercengang.


Sean tersenyum bangga telah menemukan Ana yang sehebat ini makin iri saja Rebby saat tau sosok Tunangannya Sean punya kehebatan seperti pejuang wanita yang belum ada sejarahnya di Negaranya.


Ana hampir tergelincir tapi dirangkul cepat oleh Sean, mereka bertatapan cukup dekat tidak melihat situasi yang gemas dengan pemandangan itu.


hap...!!


Sean menggendong Ana dengan ala brydal style, Ana melototkan matanya.


.


.


haihh?? kok bisa 4 Bab Nae ketagihan buat Partnya Sean sama Ana ya? haha...! tenang-tenang Novel ini masih panjang kok tidak perlu buru-buru ya? yang penting An dan Carrina sudah nampak bahagia tinggal masalah Veroboy aja nih.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2