
.
.
.
Alena tersenyum manis melihat betapa seriusnya Sean terhadap kakaknya, Alena juga yakin Sean pasti akan membahagiakan Ana dengan semua yang Sean miliki.
"aku sudah membawa banyak mahar untuk melamarmu." kata Sean dengan senyum lebarnya seperti bocah yang sedang dimabuk cinta padahal Ia seorang Raja.
Ana mengerjabkan matanya, "secepat itu?"
Sean mengangguk, "aku tidak mau menunggu terlalu lama." kata Sean serius.
Sean beralih ke Alena lalu meminta kepercayaannya yaitu X untuk membawakan hadiahnya dan diberikan ke Alena.
Alena membuka isinya dan terperangah ternyata sebuah kalung berlian, "Abang Sean? ini?"
"ambillah adik iparku." kata Sean dengan bangga.
Alena tertawa seketika lalu berterimakasih pada Sean sedangkan X diam-diam merasa takjub dengan bahasa yang dikuasai oleh Sean, bagaimana bisa Yang Mulia-nya pandai bahasa Indonesia malah X hampir mengira Sean seorang WNI.
Sean membawa Alena dan Ana masuk ke Mobilnya, Ana tercengang melihat banyaknya Bodyguard Sean berjejer rapi menjaga jalan yang dikerumuni banyak Orang bahkan ada wartawan di situ meliput berita Ana yang didatangi oleh Sean.
Ana mendelik kesal, "kamu datang dengan pasukanmu?"
Sean terkekeh, "maaf Ana..! aku yang sekarang bukan seorang Putra Mahkota lagi tapi sudah resmi menjadi Raja dan mereka tidak mau melepasku pergi sendiri."
"tapi kamu tidak lihat kedatanganmu menjadi kehebohan disini." kesal Ana.
Sean menggenggam tangan Ana yang berusaha di tepis oleh Ana tapi dengan entengnya Sean meminta Ana untuk berlatih didepan umum sebab Ana kelak akan menjadi Ratunya dan hidup di Negaranya sampai kakek-nenek kecuali kalau anak mereka nanti menjadi penerus tahta maka Sean dan Ana akan kembali ke Indonesia menghabiskan masa tua di Indonesia atau berkelana keliling dunia berdua saja.
Ana ternganga ternyata Sean sudah berpikir begitu matang sampai sudah berpikir sejauh itu tapi Ana tidak bicara apapun lalu mereka meninggalkan Cafe itu, Berita tentang Ana dan Sean sudah muncul dimana-mana malah digadang-gadangkan Ana akan menjadi Ratu di Negara Sean membuat gempar fans Indonesia sebab Ana memang sangat hebat namun tidak mengira kalau Pria yang mengejar Ana seorang Raja dari Negeri jauh.
Keluarga Rovert juga kaget dengan lamaran dadakan Sean, Seluruh Bodyguard Sean terperangah saat Sean menyalami keluarga Ana padahal Ia seorang Raja tapi disini malah seperti Manusia Normal.
"pakaian mu Sean?" Xabara dan Ratu menunjuk pakaian Sean.
Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menjelaskan alasan Ia tidak sempat berganti pakaian saking tergesa-gesanya Sean ingin cepat sampai di Indonesia bertemu dengan Ana.
__ADS_1
.
"masuklah ke dalam..!" ajak Ratu.
mereka semua pun masuk ke Mansion Maldev disertai membawa semua bingkisan berupa mahar untuk melamar Ana menjadi Permaisurinya, kedatangan Sean itu membuat Carrina mengabari suaminya tentu An langsung cepat pulang Kerja.
"Tuan Master?" sapa Sean dengan senang melihat An.
An melangkah ke arah Sean sedangkan Carrina tersenyum lebar berpelukan bersama Alena.
"apa ini?" tanya An dengan tenang.
"aku mau melamar adik Tuan Master sang dewi beracun kesayanganku." jawab Sean dengan senyuman.
"lalu kenapa bisa sebanyak ini? apa isinya?" tanya An.
Pelayan Maldev pun membuka semua bingkisan benar-benar barang langka, Sean menjawab dengan jujur betapa mengertinya Sean kalau Ana sangat berharga bagi Rovert dan Xabara bahkan Sean menyakini mereka selama ini Sean telah menuntaskan kejahatan di dalam Istana supaya Ana nanti aman.
"kami tidak mengkhawatirkan Ana karna dia bisa melawan siapapun tapi dia tidak tau aturan." kata Rovert.
"posisi Ratu setara dengan Raja Papa, apapun yang yang mulia Ratu inginkan itu adalah sebuah perintah dan aturan baru untuk negara." jawaban Sean membuat Xabara maupun yang lainnya merasa tenang.
Ana mengangguk, "Ana bisa beradaptasi dengan baik Mommy."
Sean semakin bahagia saja Ana tidak menolak lamarannya, ia tidak menyangka segala upaya yang Ia lakukan selama ini ternyata bisa menyentuh hati Ana walau hanya sedikit, bagi Sean itu lebih berharga dari harta karun.
"kalau begitu menginaplah Sehari Sean!" kata Carrina dianggukin setuju oleh Keluarganya.
tanpa berpikir Sean setuju karna pekerjaannya di Negaranya sudah selesai bahkan Sean nyaris tidak tidur demi cepat ingin bertemu dengan Ana, jika pikiran Sean kosong (istirahat) maka hanya Ana lah dalam benaknya.
Keluarga An menyiapkan makan malam porsi besar lalu makan bersama-sama di Carpet, mereka sangat ribut seperti pasar sedangkan para Bodyguard Sean malah ketagihan makan masakan Carrina, Xabara, Ratu, Ana dan Alena (para perempuan masak besar bersama).
tidak ada status diantara mereka semua hanya layaknya manusia normal tanpa kasta diantara mereka, inilah yang membuat Sean senang berada di lingkungan Keluarga Ana tapi Ia harus sadar ada tanggung jawab yang dipikulnya.
"berita kalian sudah sampai sabang ke merauke." ledek An.
Ana mendengus, "iri bilang bos." ledek Ana.
An berdecak, "kenapa aku harus iri?"
__ADS_1
"sudah-sudah..? kenapa kalian jadi berdebat sih?" Xabara menengahi.
"ingat istrimu An." peringatan Ratu.
An melingkarkan tangannya dibahu Carrina yang sibuk makan paha ayam popnya.
Rovert menanyakan apa saja kegiatan Sean selama 4 bulan terakhir dengan jujur Sean menjawabnya, Ana tersentak mendengar pengakuan Sean bahwa Ia tidak bisa tidur karna selalu memikirkan Ana jadi menyibukkan diri terus bekerja supaya cepat selesai lalu kembali ke Ana.
"aku takut Ana diambil Pria lain Papa." cengir Sean menahan malu seperti anak laki-laki yang takut ibunya diambil anak lain.
Rovert tersenyum tipis saja, "anakku bisa saja diambil oleh Pria lain kalau kamu tidak kembali."
Sean mengangguk maka nya Ia langsung melamar Ana tanpa embel-embel apapun, Sean ternyata sudah lama menyiapkan bingkisan yang dibawanya kini untuk Ana sejak Sean diresmikan menjadi penerus tahta.
"bagaimana keadaan Sophia?" tanya Ana penasaran.
Sean tersenyum kearah Ana, "dia selalu membersihkan kamarmu Ana, sejak kamu pernah tinggal dikamar itu aku tidak mau masuk kesana."
"kenapa?" tanya Ana.
"karna aku terlalu merindukanmu jadi tidak berani masuk ke Kamarku yang sudah dipenuhi aromamu." jawab Sean.
Ana memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Sophia selalu menceritakan pengalamannya disini pada teman-temannya, semua Pelayan disana tidak sabar menunggu peraturan disini juga diresmikan disana supaya hidup bahagia tanpa aturan." jelas Sean.
Ana mengangguk saja sebab Orang yang biasa terkekang dengan berbagai aturan akan bahagia ketika tidak diatur tapi jika Orang yang hidup tanpa aturan ketika dikekang dengan berbagai aturan malah tidak terima, itulah hukum alam yang sudah mutlak.
.
ke esokan harinya,
Sean dikawal oleh Rombongan BlackMalv dan Bodyguard Sean menuju Bandara begitu juga Keluarga Rovert.
Rovert memang menyayangi Putri Sulungnya tapi demi kebahagiaan Ana tentu Ia tidak akan mengekangnya, Ana sendiri yang mau menerima lamaran Sean dan mau diajak Sean ke Negara itu jadi sebagai Orangtua tentu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Putrinya itu.
.
.
__ADS_1
.