
.
.
.
Carrina seketika mematung melihat pertarungan Anggar didepan matanya, Alena benar-benar sangat keren dimata Carrina.
An melirik ke Carrina dan kembali menatap Carrina yang melihat Alena seperti seorang anak kecil melihat hal baru, An sampai heran apakah Carrina tidak pernah melihat permainan Anggar Alena.
"lawan Alena...?" teriak Ana tiba-tiba berdiri.
Xabara dan Rovert saling berpegangan tangan sambil melihat ke arah Alena berharap anak bungsu mereka tidak terluka, pemain Anggar sangat wajar jika mengalami patah tulang atau jenis lainnya namun sampai sekarang Alena belum pernah terluka ditahap parah.
"aku belum sanggup melihat Alena bertarung seperti itu, lawannya badan besar lagi." gerutu Ratu asik mengelap pelipisnya yang berkeringat dingin.
An melipat kakinya memandang Alena yang bisa menandingi kekuatan lawannya itu, Sean memperhatikan An sekilas sungguh tidak pernah Ia sangka hidupnya akan dipertemukan dengan sosok Master dari segala Master.
"dia terlihat berwibawa seperti seorang Penguasa, sorot matanya seperti pisau." batin Sean yang selama ini memang mengagumi sosok Pria yang berhasil membuat gurunya menjadi rendah hati sebelumnya sangat sombong dan merasa tidak terkalahkan tapi karna An malah berubah 360°.
An melirik kesamping dimana Ia tau ditatap oleh Sean yang melebarkan matanya lalu kembali melihat pertunjukan Alena, An menatap lurus ke depan sambil tersenyum tipis saja.
ctass... tas.... cetasss....!!
srriiingg....!
Alena berhasil mematahkan senjata Lawannya dan kemenangan pun didapatkan oleh Alena, Pria yang dikalahkan pun melepas atributnya lalu menyerang Alena dengan tangan kosong.
Alena dengan cepat bersalto membuat situasi yang tadinya heboh menjadi hening, An dan Rovert langsung berdiri lalu berlari menaiki ring pertarungan.
"bedeb*h...!" umpat Xabara dan Ana pun melompati kursi serta ikut menyusul An, Rovert.
Sean hendak menyusul tapi mendengar teriakan Ana memintanya menjaga Carrina dan Ratu pun mematung ditempat.
"Nenek?" Carrina dan Ratu berangkulan bersama.
Carrina cemas tapi berharap semua akan baik-baik saja karna kandungannya harus dijaga walau dalam keadaan panik Carrina tidak boleh bertindak ceroboh yang membahayakan janinnya, An maupun Carrina sangat mengharapkan calon bayinya itu.
"iya nak..? Mereka pasti bisa mengalahkan Pria Itu." kata Ratu memeluk Carrina dari samping.
__ADS_1
Sean mendekati Carrina dan Ratu, Ia berdiri disamping Ratu namun matanya lurus ke arah An dan Rovert yang bertarung membantu Alena, Sean tau dari gerakan Alena yang menghindar sudah membuat Sean percaya kalau Pria itu bukan tandingan Alena tapi yang membuat Sean kagum adalah Keluarga Alena yang langsung turun tangan ketika Alena diserang.
"F*ck...!" maki Rovert.
An menarik Alena lalu mendorong Alena ke arah Xabara dan Ana sehingga mereka berpelukan bertiga, MC sudah berusaha menghentikan amarah pihak lawan bahkan Managernya pun didorong kasar oleh Lawannya Alena itu seolah tidak terima kekalahan terlebih lagi tubuhnya Alena 3X lebih kecil dari ukuran tubuh Pria itu.
An membantu Rovert menyerang Pria itu hingga tersungkur dengan tubuh bergetar-getar dengan kerja sama Rovert berhasil mengikat tangan Pria itu kebelakang, An berjongkok mencengkram dagu Pria itu lalu mendongak ke arahnya.
"dia dalam pengaruh Nark*ba..! periksa dia Ke Pihak Berwajib." titah An dalam bahasa English.
Managernya sampai syok lalu mencari bantuan, Ana yang tidak terima menatap tajam Pria itu.
"Mommy..! aku akan meracuninya sampai mati." ucap Ana dengan serius.
"iya sayang..! lakukan saja, tapi berhati-hati ya? dia dijaga ketat." pinta Xabara yang memang ingin Pria itu mati.
dulu Xabara seperti itu juga benci dengan seseorang pasti main racun saja karna Ia tidak perlu mengeluarkan keringat setetespun namun lawannya akan mati.
"bagaimana dia bisa lolos pemeriksaan ya?" gumam Alena menggaruk-garuk kepalanya.
Ana melompat pergi dari Alena dan Xabara sementara Sean terkesiap melihat Ana pergi, Ia ingin menyusul tapi bagaimana dengan Carrina bersama Ratu.
An melihat ke arah Carrina yang dijaga oleh Sean lalu Ia melompat dan melangkah kembali ke Carrina.
"Tuan An? saya akan menyusul Nona Ana." izin Sean dan An mengangguk lalu Sean berlari seperti Orang kesetanan.
"An?" Carrina memegang lengan An dan memperhatikan tubuh An.
"aku baik-baik saja Carrin." jawab An.
"ke--kenapa situasinya bisa semenegangkan ini? apa pertarungan anggar selalu seperti ini? Alena bagaimana?" cecar Carrina.
"itulah masalahnya, Alena sangat gigih dengan hobinya ini." sahut Ratu memijit pelipisnya merasa heran dengan setiap cucunya yang jujur saja selalu membuatnya merasa pusing.
An diperhatikan oleh Carrina sementara Keluarga An mencemaskan Alena, Carrina juga cemas pada Alena tapi Ia merasa Alena sangat hebat apalagi dibela oleh Rovert, Xabara, Ana dan An sekaligus.
.
Sean mencari keberadaan Ana hingga tiba-tiba Ia melihat sosok gadis yang menyamar menjadi suster menyuntik sesuatu ke leher Pria yang tadi melawan Alena disaat semua Orang lengah dan sibuk dengan urusan masing-masing.
__ADS_1
Ana menyeringai dibalik maskernya lalu melompat turun dari jalan depan dengan santainya Ana terus melangkah hingga di tempat sepi tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang, Ana memutar Belati kecilnya dan hendak menusuknya ke leher pelaku tapi melihat pelakunya adalah Sean membuatnya terkejut dan belatinya tidak jadi menancap dileher Sean.
"bagaimana jika kamu ketahuan tadi?" tanya Sean dengan serius.
Ana mendengus lalu menyimpan belatinya dan melirik pinggangnya di rangkul oleh Sean.
"tanganmu..! mau aku racuni?" ancam Ana.
Sean menarik pinggang Ana lebih dekat lagi ke tubuhnya membuat mata Ana membelalak lebar.
"ka--kau..?" Ana menuding hidung Sean.
"coba saja..!" tantang Sean.
"kau menantangku ya?" tanya Ana memicingkan matanya.
Sean terkekeh, "dengan begitu aku akan menempelimu dan meminta tanggung jawabmu, jika aku tidak punya tangan sehingga tidak punya istri maka kamu yang akan menjadi Istriku."
Ana mendengus lalu merantukkan keningnya dengan dagu Sean yang meringis seketika sehingga rangkulannya dipinggang Ana terlepas, Ana berdecak kesal.
"dasar Pangeran manja." ketus Ana lalu berbalik pergi meninggalkan Sean.
"Ana?? tanggung jawab..!" panggil Sean setengah berbisik berlari menyusul Ana sambil mengelus dagunya yang sengaja dibentur Ana dengan kening Ana sendiri.
Ana cuek saja lalu melepas jaket putih, masker Putihnya dibuang ke pinggiran Bunga sampai tidak terlihat.
"benar-benar gadis cerdas yang tidak mematuhi aturan." kekeh Sean merasa gemas dengan sosok Ana yang suka-sukanya saja bertindak tanpa memikirkan konsekuensi yang akan menimpanya.
tiba-tiba Ana berhenti dan menoleh ke Sean, "kenapa kau tidak takut waktu Papaku akan mengancam memenggalmu?"
Sean tersenyum, "memiliki Putri sepertimu seorang Ayah mana yang akan rela membiarkan Putrinya pergi dibawa oleh lelaki asing, jika kita punya seorang Putri nanti aku mungkin akan berkata lebih kejam dari yang Ayahmu katakan."
"siapa juga yang mau mengandung Putrimu." kata Ana dengan datar lalu kembali melangkah.
Ana tidak terbawa perasaan sama sekali ketika digoda oleh seorang Penguasa Negara Asing itu.
.
.
__ADS_1
.