Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
tidak suka


__ADS_3

.


.


.


"aku sudah berjanji pada Papamu untuk menjagamu dengan sangat baik melebihi aku menjaga diriku sendiri." kata Sean dengan serius.


Ana melirik situasi, "tapi kau tidak lihat biji mata mereka mau keluar dari tempatnya melihatmu yang seperti ini."


Sean menggeleng kepalanya, "kepercayaan Papamu diatas harga diriku..! ku mohon bantu aku dengan cepat lalu aku bisa mengikutimu ke Indonesia."


Ana melingkarkan tangannya dileher Sean, "lalu Tahtamu ini bagaimana?" tanya Ana sambil melihat Istana disekitarnya kini.


Sean tersenyum tipis, "bersamamu jauh lebih berharga dibanding ini semua."


Ana memicingkan matanya, pembicaraan mereka itu hanya Ana dan Sean saja yang paham lebihnya tidak ada yang tau.


Sean mendudukkan Ana di Kursinya lalu Ia diambilkan kursi lain oleh Sophia dan duduk disamping Ana, seketika suasana menjadi hening karna tau arti kedudukan Ana dihati Sean sehingga memberikan Kursi Pangeran Kedua Kerajaan itu pada Ana sedang Sean malah duduk di Kursi biasa tapi kategori biasa sudah megah di Indonesia.


Ana malah sibuk dengan Dresnya juga mahkota kecil di kepalanya yang jujur saja membuat Ana risih tidak memperdulikan setiap wanita bangsawan di dalam Ruangan itu menatap tidak senang ke Ana yang bisa mendapatkan hati Sean yang digadang-gadangkan akan menjadi Penerus Tahta selanjutnya bukan Rebby.


Acara terus berlanjut karna semua ini diadakan untuk kepulangan Sean maka Sean Sanders memberi pidato singkat versinya sementara Ana menyanggah pipinya dengan kepalan tangannya, Sophia dengan cepat memegang punggung Ana yang tersadar menoleh kearah Sophia.


"apa bisa pergi?" tanya Ana yang ternyata sudah mengantuk dengan acara membosankan itu.


sejak tadi jenis hiburannya hanya menari gemulai dan pembicaraan membosankan, Ana memang tidak suka musik melow yang membuatnya mengantuk berat.


"belum Nona!" jawab Sophia menahan tawanya sekuat tenaga melihat wajah menggemaskan Sophia seperti anak kecil yang sudah mengantuk berat.


Ana menghela nafas berat hingga tiba-tiba Ia melirik ke arah seorang wanita bangsawan yang menantangnya menari serta bermain alat musik, semua Orang yang ada di Ruangan itu berbisik-bisik sebab wanita itu terkenal sebagai Ratunya menari dan Tuannya alat musik apapun saking hebatnya mendapatkan julukan itu.


"kenapa pembahasannya jadi seperti ini?" tanya Sean seolah protes namun didukung oleh Rebby yang ingin melihat kemampuan Ana.


Ana menutupi mulutnya yang menguap lebar, matanya memerah seperti menahan rasa kantuk.


"bolehkah aku pergi Sean? aku benar-benar mengantuk." pinta Ana dengan bahasa yang dimengerti oleh Ana dan Sean saja.


Sean mengangguk lalu segera turun dari acaranya dan menuntun Ana yang pura-pura pusing, Wanita tadi mengepalkan tangannya melihat Ana diperlakukan seperti itu oleh Sean.

__ADS_1


.


setibanya di Kamar,


Sophia hanya berdiri dibelakang Sean dengan jarak aman sampai Sean mengusirnya, Sophia bisa melihat betapa perhatiannya Sean terhadap Ana.


Ana dibaringkan ditempat tidur Sean yang empuk dengan ukuran besar lalu menanggalkan sendal Ana dan dengan cepat Sophia mengambil sendal Ana dari tangan Sean, setelah itu Sophia melangkah mundur.


"tidurlah..! besok pertarungan kita yang pertama benar-benar akan dimulai." ucap Sean dengan senyuman menyelimuti Ana yang memejamkan matanya.


Sean melirik Ponsel Ana yang bergetar lalu mengangkatnya setelah meletakkan sidik jari Ana di ponsel itu, ternyata panggilan Vidio dari Rovert dan yang lainnya berkumpul menanyakan keadaan Ana.


Sean memperlihatkan Ana yang terlelap seperti bayi membuat Keluarganya tertawa, An menggeleng-geleng kepalanya melihat tingkah saudara kembarnya itu malah dengan mudahnya tertidur didekat lelaki.


"tidak hanya aku sendiri Tuan Master..! lihat?? dia ini Pelayan yang menjaga Ana." kata Sean yang tidak ingin An salah paham padanya.


An mengangguk disebrang sana sambil merangkul Ratu dan Carrina disisi kiri-kanannya An.


Xabara tertawa melihat wajah serius Sean lalu Ia meminta Sean untuk istirahat, entah mengapa Xabara bisa melihat Sean juga kelelahan dengan pakaian dinasnya itu (Pakaian Khas Pangeran).


panggilan terputus lalu Sean meletakkan Ponsel Ana kembali ke tempatnya, Ia membenarkan lagi selimut Ana.


"Keluargamu sangat hebat Ana..!" kata Sean mengulum senyum lalu bangkit dari duduknya.


.


.


pagi-pagi,


Istana gempar karna menceritakan sosok Ana yang sangat dicintai oleh Sean bahkan saat Ana mengantuk dan kelelahan dibawa pergi oleh Sean padahal itu adalah acara formal walau setelah itu Sean kembali lagi ke Acara itu dengan jelas mengatakan kalau mereka baru datang dari Negara yang jauh dan Tunangannya sangat kelelahan namun demi menghargai acaranya tetap memaksakan diri untuk hadir.


sementara yang dijadikan topik terhangat penjuru Istana tengah meringkuk dibalik selimut seperti seekor kucing yang kedinginan.


Sophia mendekati Ana dan kebingungan bagaimana cara membangunkan Ana, "bagaimana cara membangunkan Nona?" gumam Sophia


(Translete bahasa asing saja ya?)


Ana menggeliat pelan lalu mengerjabkan matanya, ternyata Ia mendengar gumaman Sophia.

__ADS_1


"sudah jam berapa?" tanya Ana sambil duduk mengucek-ngucek matanya.


Sophia tersenyum lebar dan menjawabnya ternyata membangunkan Ana tidak sesulit yang dibayangkan, jika wanita bangsawan lain ada saja masalahnya apalagi jika mendapatkan gelar tunangan Sean, jelas masalahnya akan berbeda pasti akan lebih dramatis lagi.


.


"Nona?? sedang apa?" pekik Sophia melihat Ana tengah melakukan Yoga di Kamar dengan celana padahal aturannya di dalam Istana itu tidak boleh mengenakan celana.


Ana memutar kedua bola matanya dengan malas, "mana cemilanku?" tanya Ana.


Sophia memberikan cemilan yang Ana pesan lalu melangkah pergi mencari rok di lemari Ana.


"Nona pakai ini saja Nona..!" pinta Sophia.


Ana menggeleng kepalanya, "selama ini aku belum pernah melihat seorang wanita latihan yoga dengan rok."


"bisa Nona..!" jawab Sophia yakin.


Ana melototi Sophia dan mengancam akan menghukum Sophia, sudah syukur Ana tidak latihan Yoga di Lapangan Istana dan berlari mengelilingi Istana untuk melatih kebugarannya lagi karna menurut Ana masih kalah dengan Para Pelayan Istana.


.


siang harinya,


Ana merasa bosan di kamar Sean lalu Ia keluar dari Kamar Sean di ikuti belasan Pelayan.


"Nona Ana?" sapa Rebby dibelakang Ana.


Ana memutar kepalanya dan memandang Rebby dari ujung rambut sampai ujung kaki, Rebby merasa gugup dipandang seperti itu oleh Ana.


"sedang apa sendirian disini?" tanya Rebby penasaran.


Ana menoleh ke Pelayan yang mengikutinya, "sendiri? aku bersama mereka." jawab Ana menunjuk banyaknya prajurit mata-mata Sean mengekorinya hanya karna janji Sean pada Rovert.


Rebby terkekeh lalu mengatakan bahwa Pelayan bukan manusia, Ana mengernyit tidak senang sementara Sophia hanya menundukkan kepala saja karna sudah tau di Istana ini Seorang Pelayan memang dianggap binatang saja bukan dianggap manusia.


"sekejam inikah dunia Kerajaaan?" batin Ana yang sangat benci dengan diskriminasi rakyat kecil.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2