
.
.
.
Ana memberikan gelang itu ke An yang menerimanya.
"bisa Abang beritau bagaimana kalian bertemu setelah 10 tahun lamanya?" tanya Ana dengan mata berbinar penuh harap.
An menoleh ke Ana dengan wajah datarnya lalu menyimpan gelang itu dan berkata, "dia tawanan Lancord."
Ana melebarkan matanya, "apaaaa?"
"berisik..!" ketus An mengelus telinganya.
Ana segera bangkit dan berpindah tempat duduk disamping An merangkul lengan An dengan manja, An sudah tau kalau Ana mau merayunya.
"Abaangg?? pertemukan aku dengan gadis tawanan Lancord itu ya?" rayu Ana.
"kau tidak bisa melihat wajahnya, aku bahkan tidak tau jelas wajahnya." jawab An dengan santai.
"tidak apa..! pertemukan saja aku dengannya." senyum manis Ana.
An diam saja tanpa merespon kata-kata Ana.
"Kamu diam aku anggap setuju ya?" tanya Ana dengan manja.
An melirik Ana sekilas seketika membuat Ana bangkit dan memekik kegirangan.
"selamat malam Abang-ku yang sangat tampan." ucap Ana dengan genit lalu berlari keluar dari Kamar An yang menggeleng kepala dengan tingkah kembarannya itu.
"siapa Pria yang bisa jatuh Cinta padamu menurutku hanya Orang Gila." kata An seketika terkekeh membayangkan ada Pria gila yang jatuh cinta pada Saudara kembarnya.
.
ke esokan harinya,
di Meja Sarapan.
"tumben Abang nginap di Mansion, apa pekerjaan Abang udah mulai longgar di Perusahaan?" tanya Alena dengan semangat.
An menatap Ana, Xabara bergantian.
Alena menoleh ke Ana yang terkikik pelan seolah tau penyebab An pulang ke Mansion sebab semenjak punya Perusahaan sendiri An jarang Pulang.
"paling ada maksud." celutuk Rovert akhirnya mengeluarkan suara.
"maksud apa?" tanya Ratu pun penasaran.
__ADS_1
"tanya saja sama Cucu Mom sendiri." kekeh Rovert.
An menghela nafas panjang ketika tersudutkan, "tidak ada maksud apapun.! hanya kangen sama Mommy saja." elak An.
"ckk..! Mommymu itu Istri Papamu kamu cari saja perempuan lain untuk kamu kangenin Son..!" celutuk Rovert.
An diam saja sementara Ana kembali tertawa lebar membuat Alena semakin penasaran saja apa penyebab Ana bisa tertawa seperti itu.
"ada apa Kak?" tanya Alena berbisik di telinga Ana.
"nanti temani Kakak ya?" bujuk Ana dan Alena mengangguk-ngangguk.
An menatap tajam Ana yang mengajak Alena.
"apa mengajak adikku sendiri juga tidak boleh? katanya tidak ada apa-apa kenapa tingkahmu seperti ada apa-apa." perkataan Ana yang penuh makna.
Xabara menahan senyumnya saja sekuat tenaga, sungguh Ia sangat ahli menutupi ekspresi tapi kalau masalah Putrinya wajah kaku Xabara selalu mencair.
"ciih..!" An berdecih saja.
"kalian datang Siang saja sekalian antar makanan buatan Mommy padaku." ujar An dengan wajah datarnya.
"Ok !" jawab Ana semangat lalu Alena tersenyum lebar saja jelas Ia tau ada sesuatu yang akan Ana temui nanti dan beruntung Alena diajak.
Ana memang tidak punya teman dekat selain Alena saja, semasa gadis ada teman dari anak Aya dan Irene tapi semenjak sudah dewasa sudah sibuk dengan karir masing-masing.
.
An bekerja dengan serius, permintaan para Pejabat semakin meningkat saja. Perusahaan An dinobatkan sebagai pusat Bodyguard pilihan terbaik yang sangat bisa diandalkan membuat puas pelanggannya walau menyewa hanya beberapa jam saja.
Tok.. tok.. tok..!
An menekan remot pintu Ruangannya yang terbuka lalu masuklah Carrina membawa 5 Berkas penting dan dengan sopan menjelaskan pada An tentang semua isi berkasnya sehingga An hanya melihat Inti Berkas saja tidak perlu membaca banyak hal membuat sudut bibir An tertarik ke atas.
"lumayan." senyum tipis An yang suka dengan selembar rangkuman Carrina berupa inti setiap berkas sehingga An hanya membaca itu saja langsung bisa menandatangani tanpa harus membaca belasan lembar kertas.
"bagaimana kau bisa punya ide seperti ini?" tanya An penasaran pekerjaannya benar-benar menjadi lebih mudah dan tidak banyak membuang waktu An.
Carrina tersenyum dibalik maskernya, "Tuan Muda sangat mencintai waktu jadi saya berpikir cara menghemat waktu Tuan supaya Tuan bisa mengerjakan hal lain seperti melihat pelatihan para Bodyguard." jawab Carrina malu-malu.
An mengangguk pelan, "apa kau sudah membuat rekening baru?" tanya An.
"sudah Tuan Muda." jawab Carrina.
"kau sudah terima gaji pertamamu?" tanya An membuat Carrina kaget.
"ap-apa saya sudah gajian Tuan?" tanya Carrina.
An menautkan kedua alisnya, "apa kau tidak diberitau notifnya dari pihak bank?"
__ADS_1
Carrina tersenyum kikuk lalu menjelaskan Ia belum punya Ponsel membuat An menghela nafas panjang dan mengambil sesuatu dari laci meja nya berupa Kotak Ponsel baru yang belum pernah An pakai bahkan masih tersegel.
"ini Ponsel baru untukmu..!" kata An.
"ta-tapi saya akan beli nanti Tuan Muda." tolak halus Carrina.
"ini Ponsel pemberian seseorang dan aku belum pernah memakainya, untukmu saja lebih berguna atau kalau kau tidak mau tolong buangkan ke tong sampah." titah An.
Carrina segera mengambilnya dan memeluknya dengan erat, "sa-sayang sekali membuangnya Tuan Muda."
"hmm.." sahut An.
Carrina izin pergi lalu berbalik pergi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika An memanggilnya, Carrina putar badan sambil memeluk kotak Ponsel baru yang An berikan.
An berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah Carrina yang melebarkan matanya dengan gugup.
"ini gelangmu." kata An mengeluarkan gelang tangan Carrina dari saku celananya.
Carrina seketika berbinar melihat gelang itu, "Nenek?" senyum manis Carrina dibalik maskernya menerima gelang yang selama ini di titipkan ke An.
An tersenyum tipis melihat mata Carrina begitu menyipit bahkan nyaris menghilang padahal Carrina punya mata yang besar tapi ketika tersenyum begitu senang mata besarnya hilang entah kemana.
"terimakasih Tuan Muda..! saya akan traktir Tuan Muda makan enak." kata Carrina dengan senang seketika Ia tersadar dengan ucapannya.
"ma-maafkan saya Tuan Muda..! sa-saya terlalu senang dan lupa status." cicit Carrina segera menurunkan pandangannya dengan kikuk sendiri.
"tidak perlu...! pergilah, aku mau melihat pelatihan para saudaraku." kata An membuat Carrina menganggukkan kepala pelan.
tok.. tok.. tok...
An mengambil remot di meja nya dan menekannya pintu Ruangan terbuka.
"hahahah!!" Ana dan Alena memasuki Ruangan An seperti begitu asik saja cerita mereka.
"sayangg??" teriak Alena begitu riang membuat Carrina membelalak sambil melangkah mundur.
Ana terkikik mendengar godaan Alena lalu Alena berlari ke arah An dan melompat memeluk An, Alena melompat-lompat riang dalam pelukan An.
Carrina bisa melihat tangan An membalas pelukan sosok yang memanggilnya sayang itu, bahkan terlihat mesra sekali tangan lain An mengelus lembut Kepala sosok yang memanggil Sayang ke An itu.
"apa ini kekasihnya? ta-tapi kenapa para penggosip itu bilang Tuan An tidak punya Kekasih? apa mereka tidak tau kalau Tuan Muda sudah punya Kekasih?" batin Carrina merasa sakit melihat An dipeluk oleh wanita lain tapi Carrina bisa menutupinya dengan baik.
"aku membawamu banyak makanan enak." kata Ana dengan senyum lebarnya.
"siapa lagi ini? apa ini Kekasihnya juga? memang Orang kaya punya Pacar banyak tidak berantem ya??" batin Carrina merasa kakinya sangat berat untuk berjalan pergi.
.
.
__ADS_1
.