Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
menjaga


__ADS_3

.


.


.


di Kamar Hotel,


"Pa? bagaimana?" tanya Saga sambil merangkul pinggang Alena.


"Baby Natasha sudah tidur tapi Baby Nathan tidak mau tidur." jawab Agam.


"biar Alena beri asi Pa." kata Alena mendekati Agam dan mengambil alih Baby Nathan dari Agam.


"ya sudah..? Papa makan dulu, menjaga Cucu Papa harus sehat terus." kata Agam sambil beranjak pergi dari Kamar itu.


Saga tersenyum lebar ke Alena yang menurunkan resleting Gaunnya lalu memberi Asi Baby Nathan.


"mau makan apa sayang?" tanya Saga dengan lembut.


"apa ada Dapur disini Saga?" tanya Alena melihat sekitar.


Saga terkekeh lalu menjelaskan kamar itu sudah punya fasilitas lengkap, Alena pun tidak sungkan meminta buatkan makanan spesial dari Saga.


Saga benar-benar seperti Chef nya Alena, terkadang seperti Baby sisternya sikembar (begadang) walau pekerjaan Saga banyak tapi Ia tidak pernah mengeluh, Saga sangat menikmati semuanya terlebih Ia begitu menyayangi Buah hatinya dari rahim wanita yang dicintainya selama ini.


3 bulan berlalu,


hidup Alena benar-benar di jadikan Ratu di Keluarga Saga, Agam juga sering meminta Alena untuk kembali bekerja walau Alena tidak mau walau Agam meminta jam kerja Alena di kurangi sebab ada anak yang masih butuh kasih sayang Alena.


"kenapa sayang?" tanya Saga mengelus kepala Alena yang diam saja.


"aku akan bekerja di Rumah Saja..! aku ingin selalu bersama anakku." jawab Alena merasa yakin.


Agam tersenyum dan Saga tertawa seolah mereka sangat senang Sikembar punya Ibu seperti Alena yang lebih mengutamakan anak dari pada Karir padahal diluar sana lebih banyak wanita mengejar Karir.


ditengah kesibukan Saga dan Alena tetap mereka mengawasi anak-anaknya juga ditemani Agam, baik Saga maupun Agam sangat memanjakan Anak-anak Alena.


.


.


2 tahun usia Nathan dan Natasha,

__ADS_1


"Sayanggg?? Nathan?? Natasha??" panggil Saga berlarian membawa banyak mainan limited dari Luar Negeri untuk Putra-Putrinya.


"Papaa??" Nathan turun dari kuda-kudanya dan Natasha meninggalkan bonekanya berlari menyambut Saga.


(khas suara cadel anak 2 tahun lebih ya? belum terlalu fasih).


"pelan-pelan nak..! jangan berlari." teriak Agam juga ikut berlari mengejar Kedua Cucunya.


"Papaaaa!?" panggil Nathan dan Natasha begitu gembira langsung memeluk Saga yang bersimpuh.


Nathan dan Natasha begitu cerewet mengomeli Saga yang lama sekali pulangnya, Saga meminta maaf pada anaknya itu sebab Ia lama bukan karna disengaja tapi karna terlalu lama menunggu pesanan mainan anak-anaknya itu.


"mainan lagi?" tanya Alena bersidakap dada baru muncul dari dapur dengan wajah datarnya.


"Mom??" cengir Nathan bersembunyi dibelakang Saga dan Natasha berlari ke Agam yang langsung menggendong Cucunya memeluk Natasha seolah melindungi Natasha.


Alena menjatuhkan sendok yang pegang membuat siapapun terlonjak kaget, "Saga kamu tidak lihat Kamar mereka?? 2 Ruangan penuh dengan mainan mereka." marah-marah Alena ke Saga.


Saga menundukkan kepalanya seperti kucing jinak yang sedang di omeli oleh Tuannya padahal jika diluar Rumah, Saga akan terlihat seperti Harimau mengerikan.


"sayang? aku bekerja menghasilkan uang memang untuk memanjakan mereka." cicit Saga.


Alena memijit pelipisnya, "Sagaa?? bagi anak-anakku bukan mainan yang paling berharga tapi waktu bermain dengan Keluarga yang paling mereka senangi." desis Alena dengan mata melotot.


"ikut aku..!" Alena menarik lengan Saga pergi menuju Kamar.


Saga pasrah di omeli berjam-jam oleh Alena karna Ia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak terlalu memanjakan anak-anaknya.


.


"Saga paham tidakk?" kesal Alena.


"iya sayang iya." jawab Saga seperti patuh sekali pada Alena.


Alena mendengus, "selalu saja seperti ini Saga, kamu iya-iya aja tapi masih juga dibuat." omel Alena lagi.


"sayang?? aku sangat menyayangi mereka." rengek Saga.


"jadi aku tidak menyayangi mereka gitu?" sambar Alena dengan mata melotot namun Saga dengan cepat menggeleng-geleng kepalanya.


"sekarang bagaimana dengan mainan mereka yang udah 2 Gudang itu? ada yang belum tersentuh sama sekali dan ada yang baru pakai sekali-dua kali saja, mau dikemanain mainan ituu?" bentak Alena.


"sayang galak banget sih." Saga berusaha memegang tangan Alena.

__ADS_1


Alena menarik nafas dalam-dalam, Kini ia paham betul bagaimana marahnya dulu Xabara kalau anaknya dibelikan banyak mainan oleh Rovert, saat menjadi seorang Ibu kini Alena sudah tau alasannya itu.


"maaf ya? nanti aku bujuk anak-anak mau diapakan mainannya." cicit Saga mengguncang pelan tangan Alena seperti anak kecil mencari perhatian ibunya.


"jangan marah dong sayang?" bujuk Saga.


Alena menepis tangan Saga, "aku butuh tempat itu Saga..! Gudang mainan mereka itu bisa dijadikan tempat Yoga dan Olahragaku nanti."


"mau aku buatkan gedung Olahraga sayang?" tanya Saga sumringah.


bugh...!


"aduuh..!" Saga mengelus lengannya yang di pukul Alena cukup kuat juga bagi ukuran wanita.


"aku tidak butuh Gedung Olahraga tapi aku mau Ruangan berisi mainan Sikembar kosong..!" jawab Alena dengan galak.


"iya sayang..! aku segera temui anak-anak ya?" Saga tentu menuruti apa saja yang di minta Alena.


Saga menemui sikembar dan menanyakan Ruang untuk letak mainan sikembar, awalnya Nathan dan Natasha menolak namun ketika Alena tiba di belakang Saga seolah mereka bisa merasakan kemarahan Alena pun terpaksa mengiyakan permintaan Saga.


seluruh mainan Nathan dan Natasha di bagi untuk diberikan pada Orang lain juga disimpan di Gudang belakang kamar Nathan dan Natasha, karna mainan mereka sudah banyak berkurang tentu muat dalam Gudang itu sebelumnya tidak muat saking banyaknya.


.


Alena memijit pelipisnya melihat 1 Mobil Truk besar membawa banyak mainan Nathan dan Natasha, Alena tidak menyangka ternyata mainan sikembar lebih banyak dari segala perkiraannya.


Saga membelikan alat perlengkapan Olahraga wanita di Ruangan sebelumnya juga alat perlengkapanan Yoga untuk sang kekasih hati yang sedang diam-diamnya saja (ngambek).


"sayang udah dong, jangan marah lagi ya?" bujuk Saga memelas.


"Saga kamu benar-benar keterlaluan ya? berapa banyak mainan yang kamu beli tanpa sepengetahuanku? kenapa bisa 1 truk?" geram Alena yang masih kesal.


Saga tampak berpikir, "tidak banyak sayang, Papa juga sering membelikan mereka mainan." bela Saga bisa-bisanya menyalahkan Agam yang bahkan tidak tau bahwa Ia disalahkan.


Alena memilih diam meninggalkan Saga sambil sibuk memperhatikan Alat-alat Olahraga yang Saga belikan begitu mahal, Alena tau benda-benda itu punya kualitas yang sangat bagus.


Alena bukannya tidak suka Saga membelikan Anak-anaknya mainan tapi jika sebanyak Itu wanita mana yang akan senang? walaupun Alena bukan berasal dari Keluarga miskin namun Alena ingin Anak-anaknya hidup sederhana dari kecil untuk tidak memegang barang-barang mahal.


jika sudah terlahir dari sendok emas jelas tidak akan bisa dirubah menjadi sendok perak atau sendok berkarat, Nathan dan Natasha tetap saja tidak bisa dibatasi sebab Mereka selalu saja bisa memegang barang-barang mahal walau Alena sudah menjaga mereka sekalipun.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2