
.
.
.
sejak saat itu Ana dan Sean semakin dekat lagi tapi Ana hanya menganggap Sean teman yang bisa diandalkan sedangkan Sean selalu menggoda Ana untuk menjadi Istrinya.
kini Ana tengah berada di Taman LoveXabara bersama Sean.
"kalau kamu tidak menemukan Pria yang kamu Cintai bagaimana?" tanya Sean penasaran.
Ana meneguk minumannya dengan tenang, "kenapa aku memikirkan hal itu? aku ini sangat cantik mudah bagiku menemukan Pria manapun yang ingin aku nikahi." jawab Ana.
"iya..! tapi tidak semua Pria mau berdekatan dengan Putri Penguasa sepertimu terlebih lagi Kedua Orangtuamu, mereka pasti tidak mau dijadikan samsak tinju." kata Sean dengan senyuman.
Ana menatap datar Sean seolah sudah tau arah pembicaraan mereka saat ini, "jadi kau yang mau dijadikan samsak tinju keluargaku?"
Sean mengangguk-ngangguk, "aku mau dipukul oleh mereka asalkan kamu bersedia menjadi Ratuku."
Ana memutar kedua bola matanya dengan malas, "aku bosan mendengarnya."
Sean terkekeh, "tapi aku suka melihat wajah jengahmu itu."
Ana menggeleng kepala saja kembali meneguk minumannya, jika Perempuan lain digoda oleh Sean jelas situasinya akan berbeda tapi yang Sean suka hanyalah si mahal Ana.
"jadi ini Taman Cinta yang dibuat Papamu untuk Mommymu?" tanya Sean dan dibalas anggukan sekali oleh Ana.
Sean berdecak kagum, "aku bisa merasakan betapa besarnya Cinta Papamu ke Mommymu." gumam Sean dengan serius.
Ana melirik Sean sekilas, "memangnya kamu punya insting seperti itu?"
"aku ini sebenarnya memang cuek Ana tapi aku tau masalah hati tulus seseorang..! sekali melihat saja aku tau kalau Papamu membangun Taman ini dengan penuh Cinta dan aku yakin butuh waktu lama membangun Taman ini." kata Sean.
Ana mengangguk, "memang iya..! mommy ku tipe wanita yang sulit jatuh Cinta tapi bisa luluh dengan Cinta Papaku, terkadang aku senang menjadi bagian dari mereka disaat teman 1 kampusku dulu sibuk mencari perhatian Kedua Orangtuanya, ada yang sudah bercerai, punya Ayah tiri, Ibu Tiri dan sebagainya."
Sean mengangguk, "Cinta yang tulus akan mengikis hati yang sudah membatu dengan kesabaran dan penuh Cinta dari Orang yang menCintai itu sendiri."
Ana diam saja.
"kenapa diam?" tanya Sean ke Ana yang tidak menyahut perkataannya lagi.
"memangnya aku mau bilang apa? kau berkata seolah-olah kau pernah mencintai seseorang tapi terlambat menyadarinya." ejek Ana.
__ADS_1
"memang iya..! Ibunda kandungku." jawab Sean sambil tersenyum.
Ana seketika tersentak, "aah..! maaf, aku lupa kalau kau bilang punya Ibu Tiri ya? apa kau tersinggung dengan kata-kataku?"
Sean menggeleng kepalanya pelan, "jika aku berada di posisimu pasti akan mengatakan hal yang sama, semua yang kamu katakan itu memang real, sangat jarang ada pasangan suami-istri yang mampu bertahan sampai kakek-nenek."
Ana mengangguk pelan membenarkan hal itu.
"lebih baik kita main wahana saja." ajak Ana menarik lengan Sean tiba-tiba.
Sean menggeleng kepala tapi tubuhnya sudah terlanjur di tarik-tarik oleh Ana untuk mendesaknya ikut bermain seperti tidak terima penolakan Sean.
.
Sean sampai berteriak beberapa kali ketika naik Wahana yang menguji jantung malah Ana yang tertawa terbahak-bahak, Ia memaksa Sean membuka mata.
"buka matamu Sean...!" teriak Ana dibalas geleng-geleng kuat oleh Sean.
Ana memukul kepala Sean yang membuka matanya sekatika, Sean berteriak melihat ketinggian dibawahnya lalu memeluk Ana disampingnya dengan sebisanya saja, Ana bergidik geli di peluk Sean ingin menolak tapi tubuh Sean gemetar.
"dasar anak Raja yang manja, permainan seperti ini saja takut..? akhh..? iya juga kan kalau ada lampu rusak di atas kamarmu pasti menyuruh Prajuritmu kan?" ejek Ana.
Sean melepaskan pelukannya dari Ana, "ti--tidak juga..? buktinya aku bisa mengurus kuda." jawab Sean.
.
permainan naik Mobil-mobilan,
Ana dan Sean malah saling kebut-kebutan lalu Sean menabrak buntut Mobil Ana, Ana memutar setir nya dan mendorong Mobil Sean.
"berani sekali kau berbuat curang Sean..!" pekik Ana.
Sean tertawa lepas sambil tancap gas melarikan diri dari Ana, mereka kejar-kejaran seperti itu malah ditatap gemas oleh Pasangan yang memaksa pasangannya untuk bertingkah seperti Sean, Sean sangat tampan saat tertawa.
Ana tidak menyangka Sean sangat jago naik Kendaraan walau hanya Mobil-Mobilan tapi Ana yang cerdas tau kelebihan seseorang hanya sekali melihat contoh kecil.
Ana dan Sean sedang duduk-duduk di pembatas permainan Mobil-Mobilan sambil menatap ke arah anak-anak yang memainkan Mobil-mobilan.
"dari semua permainan yang aku coba jujur saja aku suka naik Mobil-mobilan itu." ujar Sean dengan senyuman menatap ke arah Ana.
Ana mengangguk, "apa kau hobi balapan?" tanya Ana tanpa menoleh.
Sean tertegun, "bagaimana kamu bisa tau?"
__ADS_1
Ana tersenyum miring, "dari caramu yang lihai memutar setir Mobilan itu sudah menunjukkan semuanya."
Sean tersenyum lebar, "kamu sangat hebat Ana..! jika kamu menikah dengan Pria lain akan aku cekik dia sampai mati biar kamu jadi Janda terus aku bisa menikahimu."
Ana menghela nafas panjang, "dasar tidak kreatif sama sekali."
Sean tertawa lebar melihat wajah datar Ana membuatnya mencubit pipi Ana yang ditepis oleh Ana tapi Sean tidak sakit hati malah kembali mengusap kepala Ana sampai Ana kesal memukuli punggung Sean yang malah tertawa lepas.
Ana menghentikan pukulannya dan melihat ke Saku celananya yang bergetar, Ia pun melepaskan tangannya dari punggung Sean dan mengeluarkan ponselnya.
"haloo?" sapa Ana.
"Kakak masih main sama Abang Sean ya? Papa sama Mommy, Kakak Ipar dan Abang sudah tiba di Bandara, buruan kemari sebelum di Introgasi." suara Alena terdengar serius.
Ana berdiri dari duduknya, "iya..! kakak akan pulang." jawab Ana lalu menoleh ke Sean yang tampak bingung juga ikut berdiri memandangnya.
"kamu bisa bawa Mobil kan? ini bawa Mobilku..! aku mau naik Ojek sampai ke Mansion." Ana mengeluarkan kunci Mobilnya dan memberikannya ke Sean lalu berlari meninggalkan Sean yang termangu sendiri.
Sean melihat Mobilnya Ana, "urusan apa ya?" gumam Sean yang tidak sempat bertanya pada Ana.
.
Ana tiba di Mansion Maldev lalu memberi sejumlah Uang tunai ke Ojeknya yang diberi izin memasuki Mansion karna Ana malas berlari sampai ke Pintu Mansion jadi diantarkan oleh Ojeknya.
"terimakasih Pak..!" ucap Ana lalu berlari memasuki Mansionnya.
"sama-sama Nona..? terimakasih banyak juga bayarannya." teriak Ojek nya Ana.
si Ojek pun menyimpan uangnya pemberian Ana lalu pergi dari Mansion Maldev yang menjadi tempat terlangka bagi kalangan rendah bisa memasuki tempat itu.
Ana berlari ke Alena yang mondar-mandir segera berlari ke arah Pintu merasakan kakaknya sudah pulang.
"aduuh..! kenapa kakak lama banget sih? memangnya seasik itu ya main sama abang Sean?" gerutu Alena.
"dimana Mommy?" tanya Ana.
"lagi dijalan..! ganti aja pakaian Kakak..!" pinta Alena dan Ana mengangguk lalu berlari menuju Kamarnya.
Ana tidak mau masalahnya menjadi rumit padahal Ia tidak pernah punya hubungan khusus dengan Sean, mengingat masalah An karna sebuah gelang Carrina tentu membuat Ana sedikit berhati-hati.
.
.
__ADS_1
.