Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
ingin mengantongi


__ADS_3

.


.


.


"sa--sayang?" Sean yang penuh keringat mendekati Ana dan bisa melihat langsung betapa cantiknya Ana merubah rambutnya menjadi Silver.


"kenapa diam?" tanya Ana dengan datar.


Sean tersenyum tipis lalu merangkul pinggang Ana yang malah membuang muka.


"Sean badanmu berkeringat." ujar Ana.


"lalu apa maumu sayang? keringat hal biasa kan? kalau kita bercint* bagaimana?" tanya Sean.


"ckk...! kamu bicara seperti itu seolah-olah tau bagaimana cara melakukannya, memang kamu berpengalaman?!" ledek Ana.


Sean terkekeh memainkan rambut Ana, "aku memang tidak berpengalaman tapi insting lelaki dalam diriku sudah lama tertidur."


Ana menjauhkan dirinya dari Sean karna pembicaraannya itu tidak menguntungkan dirinya malah membuatnya malu saja, sebelum ketahuan oleh Sean lebih baik Ana cepat melarikan diri.


Ana mendengus, "aku mau mandi." kata Ana sambil berbalik.


"mau mandi denganku?" tanya Sean membuat langkah Ana terhenti lalu kembali melangkah tanpa menoleh ke Sean.


Sean mengulum senyum, "cantik sekali Ana." gumam Sean memuji kecantikan Ana dengan rambut silvernya itu.


dimalam hari,


Ana di rias oleh Sophia dibantu oleh Pelayan lainnya, sepertinya Ana sudah mulai bisa beradaptasi dengan dengan situasinya yang harus memakai gaun dan mahkota.


"kali ini mahkotanya lebih besar yang mulia." senyum lebar Sophia.


Ana mengangguk lalu di letakkan mahkota berlian dikepala Ana, rambut Ana dibiarkan tergerai bebas tapi dihias bagian depannya sehingga tidak menghalangi pandangan Ana nanti.


"Ana sayang?" panggil Sean masuk ke kamarnya.


Para Pelayan segera memberi jalan untuk Sean sehingga Sean bisa melihat Ana yang sangat cantik dengan gaun biru langit senada dengan pakaiannya, belum lagi mahkota berlian dan rambut silvernya itu.


Sean mendekati Ana yang kembali bercermin merapikan rambutnya yang panjang, Sean memegang dagu lancip Ana lalu menghadap ke arah Sean dan tanpa pemandu Sean mengecup bibir Ana yang melotot seketika.

__ADS_1


"kamu cantik sekali Ratu-ku." puji Sean dengan bahasa Negaranya.


Ana melihat Para Pelayan malu-malu memandang mereka, "Se--Seann? ke-kenapa kamu melakukannya didepan mereka? apa kamu tidak punya rasa malu? mode apa lagi ini?" omel Ana sempat tergagap.


"mode jatuh cinta padamu." jawab Sean.


Ana menepis tangan Sean yang memegang dagu lancipnya.


"ayo kita berangkat!" tangan Sean yang ditepis oleh Ana malah memegang tangan Ana dan menggenggamnya mesra lalu menarik nya sehingga Ana mau tidak mau harus berdiri mengangkat gaunnya.


"Sean?" kesal Ana.


"Ratu-Ku sangat cantik, aku malah ingin mengantongimu sayang tidak mau kamu dilihat oleh Pria lain." gerutu Sean dengan bahasa Negaranya.


Ana mendelik sebal, Ia sudah biasa dipuji cantik tapi tidak pernah ada Pria yang ingin mengantonginya malah mengurungnya disangkar emas itu baru masuk akal.


"emangnya aku apaan? kamu pikir aku bisa dikantongi.?" dumel Ana.


Sean tersenyum sesekali menoleh ke Ana yang sibuk mengangkat gaunnya hingga Sean berbalik dan menggendong Ana yang kaget di perlakukan seperti itu.


"aku menggendongmu Ratu-Ku." kata Sean dengan lembut mengecup puncak hidung Ana yang mengerjab-ngerjab.


mereka sangat menyukai Raja-Ratu mereka yang sekarang karna membuat Istana begitu ramai, bahkan mereka tidak sabar mendengar suara anak kecil di Istana itu supaya semakin ramai, mereka ingin memberitau publik bahwa Ana-Sean memang bahagia seperti yang diimpikan banyak Orang.


Para Bodyguard Sean membukakan pintu untuk Sean yang menggendong Ana lalu mendudukkan Ana dengan perlahan di kursinya sambil membenahi gaun Ana yang panjang.


(jenis Mobilnya punya kursi sendiri-sendiri juga lengkap, bisa dijadikan tempat tidur, ada meja, sangat lengkap seperti rumah mini).


"geser sayang!" pinta Sean.


Ana mendengus tapi berpindah tempat juga ke kursi lain dan Sean duduk di tempat Ana tadi.


Sean memandang Ana yang sibuk dengan gaunnya lalu dengan santainya Sean menahan sebelah tangan Ana dan menggenggamnya dengan mesra, Ana hanya melihat sekilas tangan mereka yang berpautan terpaksa tangannya yang lain memperbaiki gaunnya.


Sean bersandar namun matanya masih menelisik wajah serius Ana yang memperbaiki Gaunnya itu, "biarkan saja.!"


Ana seketika menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Sean, "tau apa kamu? kalau kamu merasa aku merepotkan kenapa membiarkanku memakai gaun ini? menyebalkan sekali, apa tidak bisa mengenakan celana pendek saja."


Sean tergelak, "mana ada datang ke acara Pesta mengenakan celana pendek sayang yang ada gaun pendek."


"bodo amat." kata Ana masih memperbaiki gaunnya.

__ADS_1


Sean terus memandang Ana saja, "aku beruntung bertemu denganmu Ana, terimakasih telah memperbaiki masalah serta keluhan mereka semua."


Ana menghela nafas lalu duduk bersandar juga menatap Sean, "aku tidak tahan mereka yang menangis masalah kebun dan hama sampai tidak dapat penghasilan."


mereka yang dimaksud adalah Rakyat.


"Para Perdana Menteri yang sempat meragukanmu kini memujamu karna mereka punya banyak waktu berkumpul dengan Keluarga mereka." gemas Sean mengecup punggung tangan Ana.


Ana mengangguk saja, "wajar saja mereka tidak akan bisa menemukan akar permasalahannya kalau hanya berdiam diri di Istana menyuruh Orang sementara kita tidak tau kondisinya, hanya membuang waktu dan uang saja."


Sean mengangguk kembali menciumi telapak tangan Ana yang diam saja dengan perlakuan Sean itu, sebenarnya Sean sangat lembut pada Ana tanpa topengnya itu namun juga sangat menyebalkan jika memakai topeng kekanakan pada Ana, diam-diam Ana tersenyum tipis saja membayangkan kehidupan Ana yang sekarang jauh dari angan-angannya dulu yang ingin sederhana tapi takdir yang ia tanggung adalah menyenangkan hati rakyat serta memakmurkan ekonomi mereka semua.


di Istana Negara Lain,


kedatangan Ana dan Sean disambut terompet khusus serta teriakan penjaga pada Orang di dalam sambil membuka Pintu Istana.


Sean merangkul pinggang Ana yang mengangkat gaunnya dengan kedua tangannya supaya tidak menghalangi jalannya.


"wwooww..!"


Ana yang mengenakan gaun biru langit, mahkota berlian dan rambut silvernya itu menjadi sorotan membuat para Putri Tetangga ingin mewarnai rambut juga.


"ckkk!?" Sean berdecak cemburu permaisurinya dipandang lelaki.


Ana menoleh ke Sean, "kenapa lagi?"


"aku ingin membungkusmu lalu membawamu pulang." jawaban Sean membuat Ana menahan tawa sekuat tenaga tapi Ana tidak sadar ekspresinya itu malah semakin menawan ketika menahan tawa.


Sean membawa Ana kemana-mana tanpa memberi celah pada Pria lain sekedar menyapa Ana, beberapa kali Ana di tutupi dengan tubuh kekar Sean supaya tidak diajak kenalan oleh Pangeran tetangga padahal mereka juga tidak akan berani merebut Ana dari Sean karna ada aturan Negara mereka masing-masing yang jika dilakukan bisa berbahaya posisi mereka sebagai penerus tahta.


"ayo kita kesana!" ajak Sean.


"kenapa tidak mengucapkan selamat pada pemilik acara?" tanya Ana menoleh ke Sean yang merangkul pinggangnya menuntun Ana berjalan ke Kursi yang telah disediakan khusus untuk Sean-Ana.


"pemilik acara seorang Pangeran pemecah rekor memacari banyak Tuan Putri Negara Tetangga, dia suka dengan perempuan cantik, aku takut terjadi perang karna aku bisa saja mencongkel matanya yang memandangmu nanti." jawab Sean.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2