
.
.
.
"tidak sayang..! tubuhmu terlalu indah, aku ketagihan." jawab Sean.
Ana mendengus sebal, "aku mau tidur pulas..! bawakan aku sarapan dan jangan ganggu aku sampai jam tidurku cukup."
"siap yang mulia." jawab Sean memberi hormat.
Ana mengangguk lalu melangkah pelan menuju Ranjangnya, sialnya kaki Ana gemetar karna Sean menempur Ana tanpa memberi waktu untuk istirahat.
Sean ingin Ana cepat-cepat hamil dan memberinya anak laki-laki atau perempuan yang pasti lahir dari rahim Ana, saat ini keinginan Sean hanya ingin membuat Istana nya ramai dengan suara anak-anak.
Sean yang tau betapa indahnya berkeluarga pun kini mengerti mengapa setiap pasangan suami-istri yang saling mencintai ingin keturunan karna memikirkan buah cinta mereka yang tumbuh di rahim wanita yang dicintai Pria nya.
Sean bersenandung keluar Kamar serta memberitau Keluarga barunya kalau Ana dan Sean akan sarapan di Kamar sehingga Sean membawa 2 nampan sarapan untuknya dan Ana di Kamar.
Alena tersenyum penuh misteri seperti sedang menebak-nebak yang terjadi begitu juga yang lainnya tapi mereka mengizinkan Sean pergi membawa sarapan dan makan dikamar.
Rovert dan An juga tidak peduli apa yang mereka lakukan toh mereka juga sudah suami-istri tidak ada yang perlu dipikirkan kalau Ana hamil berarti pelakunya adalah Sean (suami Ana sendiri), mereka sudah berkeluarga jadi sangat paham hubungan seperti itu hanya Alena saja yang belum menikah.
Xabara tidak memaksa Alena menikah dengan Pria Kaya maupun miskin karna yang paling utama adalah masalah hati Alena itu sendiri.
"Sean permisi Mom, Nek, Pa, An? Alena?"
Alena heran mengapa Sean begitu aneh hari ini, "apa mereka baru pertama kali enak-enakan?"
"huushh...!" Ratu menggeleng kepalanya ke Alena.
Alena nyengir kuda ketika Keluarganya memandangnya dengan tatapan datar seolah mengerti Alena meminta maaf.
__ADS_1
"iya.. iya..! Alena masih anak kecil tidak boleh tau urusan 21+ keatas." ucap Alena lalu semua Keluarganya pun fokus dengan urusan masing-masing yaitu makan.
Alena mengerucutkan bibirnya karna keluarganya masih menganggap Alena anak kecil yang belum boleh menikah sebab Alena masih terlalu muda, walau diluar sana umur 21 tahun sudah pantas menikah tapi Alena belum diizinkan berkeluarga oleh Keluarganya kecuali saat Alena berumur 24-25 tahun lagi.
.
Sean dan Ana semakin akur setelah melakukan hubungan suami-istri itu, Sean semakin manja pada Ana dan bertingkah seperti bayi ketika lapar, manja disiang hari namun jika berada di ranjang maka Sean akan berubah menjadi binatang buas.
Ana tidak mempermasalahkan itu sebab Ia juga bukan wanita munafik yang tidak mau melakukan hubungan itu ternyata sangat bikin ketagihan bagi mereka namun Ana masih bisa menutupi hal itu dari Sean karna harga dirinya, berbeda dengan Sean yang tidak punya harga diri jika sudah bersama Ana.
tidak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga detik-detik menunggu hari kelahiran Carrina telah tiba.
di Ruang Tamu,
"berapa hari lagi Bang?" tanya Alena dengan berbinar mengelus perut Carrina.
"10 hari lagi." jawab An tersenyum tampan melirik perut Carrina seolah Ia juga tidak sabar menanti kehadiran Putra Kecilnya.
Carrina tersenyum manis melihat Keluarganya begitu antusias menunggu kelahiran sang bayinya, Carrina merasa anaknya akan tumbuh dengan ceria serta memiliki kepribadian baik seperti An.
Sean diam saja sambil tersenyum ke arah Ana sesekali namun Ana cuek saja karna tau isi pikiran Sean yang ingin Ana juga hamil anaknya, Ana seorang Ratu dan tiang penyanggah calon penerus tahta bukan hanya tuntutan tapi kewajiban yang harus dijalankan.
status Ana nanti bisa dalam bahaya jika tidak bisa memberi keturunan sebab Sean nanti harus menikah dengan Istri lain yang bisa memberi Sean keturunan padahal Sean juga tidak akan menuruti aturan itu namun tetap saja Ana adalah Ratu yang dicintai rakyat jelaslah posisinya nya sebagai Ratu akan terus dicintai dan dijaga Rakyat walau ada wanita lain yang bisa melahirkan keturunan untuk Sean.
Ana yang tidak suka diatur hanya memilih menikmati hidup nya saja, jika Sean harus menikahi wanita lain maka Ana tinggal pergi tidak peduli rakyat yang tidak akan rela dengan kepergiannya itu.
Ana tidak ingin kekuasaan tapi Cinta dan kebahagiaannya yang paling utama, untuk apa Ana mempertahankan Pria yang tidak bisa menjaga komitmen hidupnya mau diatur oleh Orang lain, jujur saja Ana tidak akan rugi berpisah dengan Sean malah Sean yang sudah tergila-gila pada Ana dan dipastikan Sean tidak akan mau melepaskan Ana.
"kakak jangan sedih ya? pasti bakalan hamil juga kok." kata Alena ke Ana berlagak polos sementara Xabara menggeleng kepalanya dengan drama Anaknya itu.
Ana terkekeh saja, "baiklah..!"
Sean tersenyum lebar, "sayang nanti kamu mau anak lelaki apa perempuan?" tanya Sean ke Ana.
__ADS_1
Uhuk.. uhuk..!!
Ana terbatuk-batuk seketika dan melihat Keluarganya malah terlihat santai-santai saja seolah hal itu bukan masalah yang patut dipermalukan.
wajah Ana memerah, "Seaaan." desis Ana dengan mata melotot penuh ancaman.
"kenapa sayang?" tanya Sean dengan polosnya seperti anak-anak yang tidak tau hal memalukan.
Ana menggeram lalu bangkit dari duduknya menarik Sean pergi ke suatu tempat, Keluarga Ana malah tidak terlalu ingin tau masalah mereka berdua karna sejak Ana memilih mau menikah dengan Sean itu sudah membuktikan kalau Ana juga menyukai Sean walau perasaannya sekecil biji jagung tetap saja mereka semua menghargai pilihan Ana.
di kamar,
"Seaann? kenapa bicara seperti itu pada Keluargaku hah?" marah Ana sambil berkacak pinggang.
Sean tersenyum, "tadi aku melihat mereka santai-santai aja sayang, lagian apa yang kamu takutkan ha? aku dan kamu itu suami-istri kan? kamu takut aku ngapain? kita mengharapkan Anak hal biasa kan?"
Ana tersenyum lebar lalu kakinya menendang tulang kering Sean yang memejamkan matanya seketika sambil terjingkat-jingkat kesakitan.
"kamu tidak punya rasa malu tapi urat maluku masih menyatu dengan harga diriku Sean..? dan aku minta kamu jangan bahas anak ketika kita berada di tempat ramai." ancaman Ana.
Sean pun mengangguk setuju, "sakit." rengek Sean ke Ana.
Ana menatap datar Sean yang dengan cepat Pria tinggi itu memeluk Ana menciumi kening Ana karna kakinya memang terasa berdenyut nyeri.
dengan sangat terpaksa Ana mengobati kaki Sean sedangkan Sean tertawa melihat wajah masam Ana yang antara ikhlas dan tidak ikhlas mengobatinya.
"kenapa kamu sangat menggemaskan ratuku? aku jadi ingin memakanmu setiap saat." kekeh Sean.
Ana diam saja membuat Sean semakin tertawa dengan bahu bergetar-getar.
.
.
__ADS_1
.