
.
.
.
setelah menyuapi Alena, Saga menyelimuti Alena dan mengecup lama kening Alena sambil tersenyum.
"Selamat malam sayang." bisik Saga dengan bahasa Belanda.
Saga pun menegakkan badannya, Ia sama sekali tidak lelah berdua-an dengan Alena kemana-mana malah bahagia, mungkin karna Saga tidak memakai heels maka nya tidak lelah.
ke esokan paginya,
Alena menggeliat di tempat tidur, "uuhh..! kenapa badanku rasanya begitu enakan ya?" gumam Alena setengah meracau.
"sudah bangun?" suara Saga tiba-tiba mengagetkan Alena sontak saja Alena menyilang tubuhnya karna refleks.
Saga terkekeh lalu mengetuk pelan kening Alena, "apa saja isi otak kecilmu ini hm?"
Alena memejamkan matanya sambil mengelus pelan keningnya yang tidak sakit sama sekali.
"bagaimana keadaanmu sayang? tadi malam Kak Ana memberi ramuan katanya bagus untukmu." Saga.
"pantas saja tubuhku makin enakan." gumam Alena mengangguk-ngangguk sembari mengelus lengan dan kakinya yang terasa lebih baik.
Saga tersenyum lebar, "syukurlah ramuan itu memang mujarab seperti yang kakakmu katakan."
"apapun yang kakakku buat tentu saja akan Mujarab, dia itu seorang Pakar Racun dan Penawar." kata Alena dengan santai.
"Pakar Racun dan Penawar?" beo Saga.
Alena mengangguk, "Dewi Beracun."
uhuukkk....!!
Saga terbatuk-batuk seketika, "ap--apa??"
Alena pun terkejut melihat Saga terbatuk dan bertanya dengan raut wajah tidak percaya.
"apa aku tidak pernah bilang? Kakakku seorang Dewi Beracun, Abangku itu Master dari segala Master, Papaku itu Serigala dari Kanada dan Mommyku itu juga Ratu Higanbana dimasanya." tanya Alena balik dengan raut wajah polos seakan-akan Identitas Keluarganya itu hanya biasa saja.
Saga menjatuhkan rahangnya menandakan Ia tidak pernah diberitau Alena sebelumnya, "ap--apa??"
__ADS_1
Alena mendengus, "minggir...? aku mau mandi..! keluar dari kamarku." usir Alena mendorong tubuh Saga sampai keluar kamarnya.
Alena mengunci kamarnya dan bersenandung riang berlari menuju Kamar mandi, Saga di Luar Kamar Alena hanya mematung selama 20 menit seolah mencoba mencerna kata-kata Alena yang terlalu santai itu.
"selama ini aku merasa seorang Hacker ternama yang misterius sepertiku pasti akan sangat membanggakan bagi Alena nanti tapi ternyata Identitas tersembunyi Keluarganya jauh lebih menyeramkan." gumam Saga sampai cegukan.
Saga memijit pangkal hidungnya, "pantas saja aku merasa dingin dan gemetar ketika pertama kali bertemu dengan Keluarga itu, selama ini aku tidak pernah Gugup berhadapan dengan ribuan Orang tapi menghadapi Keluarga Alena saja aku gemetar."
Saga akhirnya menemukan jawaban yang selama ini bersarang dalam pikirannya, Ia benar-benar tidak tau Identitas Keluarga Alena padahal Saga seorang Hacker ternama yang bisa membobol data siapa saja.
Saga hari ini percaya kalau diatas langit memang masih ada langit lagi, Keluarga Maldev yang punya Identitas mengerikan itu saja sangat rendah hati bagaimana dengan Saga yang hanya seorang Pengusaha dibidang Pertanian dan Pertambangan?
"sepertinya aku harus belajar lebih rendah hati lagi." gumam Saga belajar untuk berubah.
.
Mansion Maldev,
Alena melirik Saga yang anehnya keringatan duduk diantara semua Keluarganya.
"kenapa sih?" tanya Alena yang tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya.
"ke--kenapa Alena?" tanya Saga tersenyum kikuk.
Sean, Rovert dan An serentak menaikkan sebelah alis mereka memandang Saga yang tidak senyaman sebelumnya.
"hah? memangnya Alena bilang apa?" tanya Alena balik dengan wajah polosnya itu.
"ingat-ingat lagi sayang." pinta Rovert juga penasaran mengapa Saga kelihatan kikuk.
"ti--tidak apa-apa kok Pa..!" tawa canggung Saga.
Alena menoleh ke arah Saga, "apa karna Identitas Keluargaku? kamu takut? lalu selama ini kemana nyalimu yang berani menemui Keluargaku?"
"bu--bukan begitu sayang..? aku tidak mengira selama ini aku merasa otakku jenius dan bisa menemukan apapun jenis rahasia di dunia ini tapi aku benar-benar tidak tau Identitas kalian semua padahal aku seorang Peretas handal." kata Saga.
An menyunggingkan senyum tipisnya, Sean menahan senyum sekuat tenaga sebab Ia juga pernah berada di posisi Saga sedangkan Rovert menatap datar saja ke arah Saga.
"itu karna perhatianmu hanya ada Alena saja Reyza." kata Xabara tiba-tiba muncul membuat semua Orang menoleh ke Xabara.
Saga pun mendengarkan perkataan Xabara, Rovert, An dan Sean sehingga Ia jauh lebih tenang serta Rileks dari semua masalah beban hidupnya.
"tapi ingat..! jika Alena-Ku terluka maka habis kau ditanganku." ancam Rovert begitu serius dan Saga mengangguk-ngangguk dengan senyuman.
__ADS_1
"sudah--sudah..! kalian Istirahatlah..! besok kan hari pernikahan kalian." pinta Xabara.
alhasil Saga Alena dan Keluarga Alena Istirahat di Kamar masing-masing.
.
pagi-pagi, di Hotel.
"dimana Papa sayang? kamu lihat Papa?" tanya Saga celingukan melihat Keluarga Alena sudah datang tapi Saga belum melihat kehadiran Papanya.
"Papa disana...! memangnya kamu tidak melihat Papa dari tadi?" tanya Alena dengan heran ke Saga sambil menunjuk seseorang yang cukup jauh sedang membelakangi mereka berdua.
Saga melihat arah tunjuk Alena, "Bukan Papa Rovert sayang tapi Papa Agam." rengek Saga bak anak kecil.
Alena mengerutkan keningnya, "itu Papa Rovert..! itu Papa Agam yang aku tunjuk Saga, kamu ini kenapa sih? kok jadi blank?" omel Alena sambil menunjuk Rovert dan punggung Agam.
Saga melebarkan matanya melihat Rovert lalu punggung Pria yang kata Alena adalah Agam, "Loh?? kok Papa bisa berdiri?" gumam Saga mengucek-ngucek matanya.
Alena akhirnya paham mengapa Saga ragu Orang yang ditunjuknya tadi adalah Agam ternyata belum tau kalau Agam sudah bisa berjalan.
"Papa belum memberitaumu ya? Ahaha..! Papa Agam sudah sembuh sejak kemarin." ejek Alena tertawa terbahak-bahak melihat wajah bodoh Saga yang malah terlihat lucu.
Saga mengerjabkan matanya, "dasar Papa ..! kenapa dia menyembunyikan kesembuhannya dariku? apa masalahnya? apa dia pikir aku butuh kejutannya? dia pikir aku akan terkejut?" celoteh Saga sambil menatap gemas wajah Alena yang tertawa lepas.
"buktinya kamu terkejut..!" ejek Alena lagi.
Saga mencubit kedua pipi Alena yang berubah datar seketika, giliran Saga yang tertawa saat ini melihat wajah menggemaskan Alena.
"bagaimana Papa bisa sembuh sayang?" tanya Saga dengan lembut masih menangkup pipi Alena.
Alena melirik ke arah Agam, "Papa sembuh karna Mommy..!" jawab Alena.
Saga terdiam sesaat seolah sedang berpikir hingga Ia menatap Alena dengan takjub, "aku lupa kalau Ratu Higanbana juga bisa mengobati Orang dengan jarum akupunturnya kan?"
Alena mengangguk, "juga bisa meracik ramuan hebat, lebih baik kamu temui Papa..!" Alena mendorong Saga pergi ke arah Agam.
Saga pun menuruti perintah Alena yang terkikik pelan melihat kepatuhan Saga, Alena berdecak sambil menggeleng kepalanya.
"kok bisa badan sebesar itu seperti kucing jinak ya? patuh banget sih, jadi gemes." gumam-gumam Alena lalu melihat sekitar dengan perasaan was-was seolah takut ada yang mendengar ucapannya.
Alena mana mau mengakui kalau Ia sudah terjerat dengan pesona tidak tau malu Saga itu.
.
__ADS_1
.
.