
.
.
.
"A--Apa?" gagap Saga.
Alena melihat ke Perut datarnya, Ia tidak pernah membayangkan akan mengandung secepat ini tapi hatinya juga tidak marah dengan kehadiran calon anaknya itu.
Saga mengguncang kedua bahu Dokter itu dengan mata penuh harap seolah pendengarannya tidaklah salah.
"be--benar Tuan..! Nona Alena memang sedang mengandung, saya tidak tau umur kandungan Nona dan saya harap anda pergi ke Rumah Sakit saja untuk memastikan lagi." kata si Dokter yang merasa pusing diguncang-guncang oleh Saga.
Saga beralih ke Alena lalu bersimpuh didepan Alena serta menciumi wajah Alena.
"terimakasih sayang..! terimakasih..!" Saga terus saja mengucapkan Terimakasih pada Alena yang kini tengah mengandung benihnya.
Alena yang malu di cium seperti itu didepan para Karyawannya tapi juga tidak tega mendorong Saga yang memang terlihat bahagia sekali dengan kehamilannya.
"begini rasanya berumah tangga ya? pasti Kak Ana, Kak Carrina juga merasakan hal yang sama ketika pertama kali mengandung Wales dan Kenan." batin Alena.
apa yang dikatakan Xabara sejak Remaja memang benar, belum lagi keposesifan An terhadap Alena yang tidak mengizinkan Alena mengikuti teman kampusnya yang telah masuk dalam pergaulan bebas, dulu Alena tidak suka dikekang tapi mendengar alasan mereka tentu saja Alena setuju.
"jadi perempuan itu harus mahal..! perempuan mahal akan mendapatkan Pria yang mahal juga, kenikmatan sesaat itu tidak ada harganya dibanding harga kebahagiaanmu kelak akan selamanya." begitulah kata-kata yang selalu terlontar dari Bibir An.
An saja tidak suka perempuan murah*n, itu sebabnya An sangat menjaga kembaran juga adik bungsunya demi kebahagiaan dimasa depan mereka nanti.
Ana telah bahagia bersama Sean dan Alena juga telah bahagia memiliki Saga di hidupnya yang selalu mengutamakan Alena diatas apa saja yang Saga miliki.
"selamat Nona..? selamat Tuan." ucap Vinny tersenyum lebar.
"apa nya Nona? sekarang kita harus belajar panggil Nyonya." bantah karyawan lainnya.
Saga berteriak gembira hingga Alena terkejut lalu dengan lantang Ia mengatakan akan menggaji mereka semua diawal, Para Pekerja Alena tentu bahagia padahal baru 1 minggu yang lalu mereka gajian.
Alena mengerjab melihat kehebohan Saga, "dia bahagia sekali." batin Alena lalu tersenyum mengelus perutnya.
Alena tidak butuh apapun selain kelak anaknya akan punya Papa yang sangat mencintai anaknya bukan hanya sibuk dengan pekerjaan saja, dilihat kehebohan Saga itu membuat Alena langsung paham kalau Saga pasti akan menjadi Papa yang hebat dan selalu ada untuk anaknya nanti.
Saga mengabari semua Keluarganya, Agam yang mendengar kabar itu langsung pontang-panting menuju Perusahaan Alena karna saking tidak sabarnya ingin menanyakan secara langsung.
.
sejak kabar kehamilan Alena itu, Agam dan Saga selalu berebut melayani Alena.
Alena memijit keningnya yang berdenyut saat ini mendengar pertengkaran Ayah-anak itu.
"kenapa aku merasa punya 2 suami?" gumam Alena sungguh merasa pusing dengan Agam dan Saga.
__ADS_1
"Kenapa Papa melayani Istriku? Alena Istriku, dia sedang mengandung anakku." marah-marah Saga.
"Alena menantu kesayangan Papa..! dia sedang mengandung Cucu Papa, sekarang kamu kerja saja sana..!" usir Agam.
"Papaaaa??" geram Saga.
"sudah cukup...?" kata Alena tiba-tiba Agam dan Saga terdiam melihat ke arah Alena.
"bisa tidak kalian akur?" tanya Alena seperti seorang Ibu yang mendisiplinkan anak-anaknya yang sedang bertengkar.
"kepalaku pusing...!" kata Alena lagi.
"ini karna Papa." Saga menyenggol lengan Agam.
"salahmu lah." Agam tak mau kalah juga menyenggol Lengan Saga.
Alena melihat mereka mulai berdebat lagi menghela nafas, "lebih baik aku pergi saja."
"Jangaaannnn!!" Agam dan Saga pun serentak bersuara.
Alena berkacak pinggang, "ya udah..! jangan berdebat didepanku, aku mual mendengarnya."
"iya sayang." jawab Saga patuh.
"iya menantu." sahut Agam juga.
"Papa ngapain kesini sih?" protes Saga.
"jangan macam-macam pada menantuku ya? janinnya masih terlalu muda." ancam Agam.
Alena tidak tau harus bahagia atau sedih dengan situasinya kini, Agam adalah Ayah Mertua yang posesif menjaga calon bayi Alena sedangkan Saga juga selalu ada untuk Alena sampai harus bekerja di Rumah demi menemani Alena yang sedang hamil anak pertama Saga.
Saga yang stres selama beberapa minggu dengan kelakuan Agam itu, Agam seperti CCTV berjalan yang mengawasi Saga dengan Alena.
.
"ingat Saga..! usia kandungan cucuku masih belum boleh dilihat..! nanti pendarah*n..?" peringatan Agam.
"lalu bagaimana denganku Pa?" geram Saga.
"tahan dulu sampai usia kandungan Alena masuk Trisemester akhir." jawab Agam tanpa beban.
"Papa??" bentak Saga.
"tidak akan Papa beri celah untukmu membuat Cucuku terluka..? apa kamu lupa berapa Lama Papa menunggu Cucu hah? jangan karna nafs*mu itu cucuku gagal berkembang." omel Agam seperti ibu-ibu.
Alena dibalik Pintu hanya bisa tersenyum, sebenarnya Alena pernah mengadu pada Xabara tentang rasa posesif Agam itu dan jawaban Xabara hanya singkat yaitu Agam itu sangat menyesal tidak bersama Istrinya yang sedang mengandung anak kedua mereka saat itu, Agam melampiaskan kasih sayang tertundanya itu ke Alena.
.
__ADS_1
malam-malam,
"Papa??" panggil Alena.
"iya menantu." jawab Agam seperti seorang Pelayan saja siap melayani Alena 24 jam.
"aku pengen makan jagung bakar." rengek Alena.
"Papa belikan." jawab Agam mengelus kepala Alena lalu berlari tergesa-gesa mengambil kunci Mobil dan Keluar.
"jangan ngebut Pa..!" teriak Alena.
Alena menggeleng kepalanya lalu mengelus perutnya, "sayang?? sepertinya kamu akan punya 2 Papa nanti." bisik Alena lalu tergelak sendiri berbicara pada calon bayinya yang entah masih sebesar apa kini.
Alena sebenarnya kasihan pada Agam jadi Ia hanya membantu Agam merasakan jadi seorang Ayah yang selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya, tak berapa lama Saga datang membawa banyak makanan yang dipesan Alena.
Alena makan dengan lahap lalu Agam datang dengan lesu karna terlambat dari Saga.
"sini Pa..!" pinta Alena dengan senang.
Agam sumringah memberikan jagung bakar yang dibelinya, Alena melahapnya didepan Agam yang sumringah dan Saga yang menganga dengan besarnya muatan perut Alena sejak tadi makan sebanyak itu masih sanggup makan lagi.
"bagaimana menantu?" tanya Agam.
"enak Pa..! terimakasih." ucap Alena tersenyum lebar.
Agam tersenyum bangga lalu mengatakan Ia sudah banyak mencoba Jagung bakar disemua tempat dan tempat yang Ia beli ini memiliki rasa yang terbaik.
.
Agam sudah tidur di Sofa kamar Alena dan Saga.
"sayang? kenapa Papa seperti itu sih? apa Papa Rovert juga begitu padamu?" tanya Saga memegang tangan Alena sambil mencium punggung tangan Alena.
"sama sepertimu yang tidak mau hidup penuh penyesalan seperti Papa maka Papa juga melakukan hal yang sama padaku, Papa punya kasih sayang pada Istri serta calon bayinya saat itu dan dia terlambat." kata Alena.
Saga mematung seketika, "benarkah?"
Alena tersenyum, "terkadang Papa tidak sekuat yang kamu bayangkan Saga..? aku pernah mendengar Papa menangis di Kamar memeluk Foto Mamamu."
Saga diam tidak bicara.
"jangan terlalu melawan Papa ya? kamu harus mengalah." kata Alena mengelus rahang Saga.
.
.
.
__ADS_1