
.
.
.
"sudah Jimmy..! aku akan mengundangmu bulan depan." keluh Alena.
Jimmy yang mendengarnya sumringah seketika dan menanyakan hadiah yang Alena inginkan, Alena tertawa lepas karna Jimmy ingin memberi kado tapi malah bertanya padanya.
"kenapa malah bertanya padaku ha?" ledek Alena.
"kalau aku beli nanti kamu nggak suka bagaimana? lebih baik aku beli apa yang kamu suka." jawab Jimmy dengan bibir mengerucut di sebrang sana.
Alena tampak berpikir, "aku mau tas rajutan dari buatan tanganmu sendiri."
"hah?? aku mana bisa merajut bebek..!" omel Jimmy malah tidak terima permintaan Alena padahal tidak mengeluarkan biaya yang besar cuma menggunakan otak cara membuatnya.
(Jimmy mengejek Alena Bebek karna kesal permintaan Alena tidak masuk akal).
Alena tertawa lepas, "terserahmu saja mau buatkan apa untukku..! sapu tangan dengan namaku juga boleh tapi harus karya tanganmu ya? aku tidak suka kalau kamu beli-beli hadiah karna aku sanggup membelinya kok."
"iya--iya..? nanti aku belajar buat Bikini Rajut deh sama Lingerie dari hasil rajutan tanganku ini." balas Jimmy.
Alena melototkan matanya, "aku tidak akan pakai."
Jimmy tertawa terbahak-bahak malah semakin bersemangat membuat Bikini seksi untuk Alena bawa ke kamar mandi dengan suami Alena nanti, wajah Alena sangat merah di goda oleh Jimmy.
"sudah ya? selamat Sore menjelang Malam." ucap Alena ketus lalu mematikan panggilannya secara sepihak.
Jimmy pasti tertawa keras disebrang sana karna Alena memang sangat polos masalah mencari perhatian lelaki supaya semakin terpikat dengan Alena jadi Jimmy senang sekali menggoda Alena.
Alena menangkup kedua pipinya yang terasa panas, "dasar anak itu...! apa perlu aku pukul bokongnya itu?" kesal Alena.
Alena menggeleng-geleng kepalanya lalu melangkah ke arah Balkon sambil membawa nampan buah segar pemberian Para Pelayan Saga untuknya, Alena melihat pemandangan didepannya hanya Sawit dan Sawit saja, tapi mau bagaimana lagi karna Saga memang seorang Bos Perkebunan Sawit jadi wajarlah punya Rumah ditengah luas Sawitnya itu.
Alena tidak bertanya apa yang Saga lakukan detik-detik mau kembali ke Ibukota diluar sana.
.
.
malam-malam,
Alena mengerutkan keningnya merasakan hembusan angin yang dingin mengenai tubuhnya.
__ADS_1
"kok dingin?" gumam Alena turun dari Ranjangnya dan melangkah ke arah Balkon.
Alena lupa menutup pintu Balkon jadi anginnya terasa oleh Alena padahal jarak Ranjang ke Pintu Balkon lumayan jauh.
"uuhh...? dinginnya." gumam Alena memeluk tubuhnya sendiri ketika hendak menutup Pintu Balkon terdengar keributan.
Alena berlari ke arah tepi balkon dan melihat kebawah dimana terlihat oleh Alena para Pekerja Saga menarik 5 Pria yang menjadi dalang penghianat di Perkebunan Sawit Saga.
"sudah ditemukan." gumam Alena pelan.
Saga memainkan pistol di jemari tangannya dan Alena tentu bisa melihat Saga yang memainkan senjata api, Alena memiringkan pandangannya.
"apa yang mau dia lakukan?" gumam Alena.
dorr...!!
Alena membelalakkan matanya cukup terkejut lalu Ia memilih masuk ke Kamarnya, Alena tidak takut tapi cukup syok karna tidak menyangka Saga akan langsung menembak mati penghianat tanpa berurusan ke Kantor Polisi.
"apa dia Mafia?" gumam Alena penasaran.
Alena menggeleng kepalanya, "penghianat memang harus dibasmi kan? siapa yang senang dikhianati." gumam Alena mengabaikan kekejaman Saga yang menurut Alena sangat pantas.
An saja main bunuh saja pada Penghianat karna abangnya Alena memang anggota Mafia malah Bos Mafia dan Ana seorang Dewi Beracun yang kalau tersinggung main racun mati saja Pelakunya, Alena juga main singkirkan saja kalau kesenangannya di usik berbeda dengan Saga main eksekusi dengan senjata api langsung.
.
Alena menggeliat pelan di Ranjangnya dan tangannya mengenai sesuatu tentu Alena membuka matanya untuk melihat benda yang mengganggunya itu.
"Saga?" Alena kaget melihat Saga tengah memandangnya dengan senyuman.
"dasar nakal..! tadi malam kamu melihatnya kan?" kata Saga mengusap puncak hidung Alena.
Alena mendengus lalu duduk menghadap Saga, "lalu??"
"apa kamu tidak takut?" gemas Saga dan Alena menggeleng kepalanya.
"memang mereka pelakunya?" tanya Alena serius.
Saga mengangguk, "dari awal aku sudah mencurigai mereka karna malam tikus-tikus mencuri buah sawitku hanya mereka yang bertugas menjaga Pos."
"alasan mereka apa?" tanya Alena.
"mereka bilang aku terlalu Kaya jadi mereka tebak aku pasti tidak akan memikirkan 2 ton sawit yang mereka jual malam itu." jawab Saga.
Alena berdecak tidak percaya, "apa mereka pikir uang itu penting bagi Orang Kaya? huhh..! mereka bahkan berkhianat demi uang segelintir itu."
__ADS_1
Saga mengulum senyum, "asalkan kamu mengerti itu sudah cukup bagiku sayang."
Saga pun meminta Alena untuk bersiap-siap karna Saga akan membawa Alena ke tempat yang paling indah dan dipastikan Alena tidak akan bisa melupakan tempat itu.
"alam?" tanya Alena dibalas anggukan oleh Saga.
Alena segera turun dari ranjangnya dan menarik Saga keluar dari Kamarnya serta meminta Saga menunggu diluar membuat Saga tertawa lebar sebab Saga punya kunci cadangan namun Saga tidak akan merusak kepercayaan Alena jadi memilih menurut saja.
Alena tidak merasa kesepian lagi semenjak berteman dengan Saga yang selalu ada untuknya sementara Jimmy? Jimmy seperti Saudara perempuan bagi Alena bukan Teman.
.
"ada apa Alena? kenapa kamu kelihatan sedih hmm?" tanya Saga ketika mereka dalam perjalanan pulang.
"tidak ada..? aku kasihan pada Lee dan Lea saja." jawab Alena pada sepasang lumba-lumba Saga.
Saga terkekeh, "2 hewan itu akan baik-baik saja karna aku sudah bayar Orang untuk menjaga pola makan hewan itu, lagian kedua hewan buntel itu punya banyak teman."
"buntel?" beo Alena menahan tawa.
"iya.! semenjak kamu datang kedua hewan itu jadi Buntel, kamu terlalu memanjakan hewan tidak berbulu itu." kekeh Saga.
.
di Mansion Maldev,
Alena berlari riang memasuki Mansion Maldev sementara Saga telah pergi ke Perusahaan karna ada hal mendadak yang harus diselesaikannya serta berjanji akan datang dimalam hari ke Mansion Maldev.
"ada apa sayang?" tanya Xabara tertawa melihat keceriaan Alena yang seolah kembali ke umur remaja.
"sudah pulang sayang? mana Reyza?" tanya Ratu celingukan.
Rovert pun tiba sambil mengedarkan pandangannya tidak melihat Saga lalu mendengar perkataan Alena bahwa Saga ada urusan mendadak dan berjanji akan datang nanti malam.
"apa yang membuatmu sesenang ini sayang?" tanya Xabara mengusap wajah Alena.
Alena menceritakan semuanya dengan senang seperti seorang pembaca buku dongeng, Rovert diam-diam merasa senang karna Alena kembali ceria setelah berlibur dengan Saga.
"kamu lihat Rovert? Reyza membawa anak kita bersenang-senang melihat alam." kata Xabara ke Rovert yang cengengesan saja.
"ciee yang sedang Falling in Love." goda Carrina tiba-tiba datang membawa Ketty sedangkan anak-anaknya yang lain pergi bersama An mencari makanan enak.
"hai Kakak Ipar? siapa yang jatuh Cinta sih? aku senang saja berbaur dengan alam kak." celoteh Alena sembari mendekat dan mengambil alih Ketty dari Carrina serta menciumi wajah menggemaskan Putri kecil Carrina itu yang tertawa cekikikan antara geli dan senang.
.
__ADS_1
.
.