
.
.
.
"aku tidak melakukan apapun bukan berarti aku bodoh sayang, aku diam bukan karna tidak tau, bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu? statusku memaksaku memiliki banyak kepribadian yang kamu maksud." kata Sean menatap lekat Ana dan jemari tangannya menyentuh wajah Ana.
Ana seketika merasa merinding dengan sentuhan Sean, akhirnya Ia paham kalau Rumor hanyalah Rumor dan dipastikan itu hanya topeng Sean saja supaya tidak ada wanita yang mau bersama Sean.
"mau tanya apa?" tanya Sean.
Ana menelan salivanya bersusah payah mengapa Ia bisa tertekan ketika Sean membuka topeng aslinya, Ana belum pernah melihat sisi lain Sean yang seperti ini karna selama ini yang Ana lihat hanyalah Sean yang kekanakan dan menyebalkan.
"Se--Seann?!" Ana menjauhkan tangan Sean yang menyentuh bibirnya.
Sean tersenyum tampan, "bukankah ini yang kamu inginkan? aku tidak mau terburu-buru tapi aku sendiri yang tidak sanggup berpura-pura padamu sayang." ujar Sean dengan lembut.
Ana beringsut mundur teratur tapi Sean malah maju dan merapatkan tubuhnya ke Ana, Ana dengan kikuk beringsut lagi namun lagi-lagi Sean terus mendekat ke Ana hingga Ana nyaris jatuh dan ditarik oleh Sean hingga masuk ke pelukan Sean.
"a--apa perasaanmu pura-pura selama ini?" tanya Ana terbata-bata.
Sean menggeleng, "perasaanku tulus padamu."
Ana mengangguk, "lalu kenapa rumor buruk tentangmu di biarkan merajalela?" tanya Ana dengan jarak yang dekat dengan Sean dan kedua tangan Ana memegang bahu Sean.
"aku tidak peduli penilaian mereka sayang yang aku takutkan kamu termakan kata-kata mereka, tanyakan padaku apapun itu." pinta Sean memegang dagu lancip Ana.
"apa kamu impoten?" tanya Ana mengerjab.
Sean mengulum senyum, "mau coba?"
Ana melebarkan matanya lalu mendorong tubuh Sean tapi Sean malah menarik pinggang Ana sehingga Ana ikut terjatuh menimpa Sean yang malah menikmati tindihan Ana.
Ana mengumpat kesal lalu menatap Sean dengan tajam, "mau aku racun?"
Sean terkekeh, "apa kamu tidak merasakannya? aku sangat normal."
Ana membelalak akhirnya ia merasakan sesuatu membuat wajahnya sangat memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
"Seannnnnnn!!?" pekik Ana membuat Sean tertawa lepas dengan mata terpejam.
Ana bangkit dan berbalik badan melihat sesuatu yang merusak mata sucinya, Sean masih asik tertawa diranjangnya lalu duduk dengan meletakkan siku tangan kanan di lutut kanannya yang ditekuk tapi kaki lainnya masih lurus menatap gemas Ana.
"aku tidak akan macam-macam sayang! kemarilah..!! aku sangat ingin memelukmu." pinta Sean melebarkan tangannya.
Ana berdehem pelan dan diam beberapa detik, mengapa Ana bisa terpana melihat wajah asli Sean yang cool dan tidak memakai topeng kekanak-kanakan seperti ketika lapar.
Ana pun perlahan melangkah lagi ke Ranjang lalu berbaring di Ranjang Sean dengan gemas Sean menarik selimut dan memasukkan tangannya dileher dan melingkarkan tangan lainnya di pinggang Ana menarik mundur tubuh Ana yang berada disudut ranjang hingga masuk ke pelukan Sean tapi Ana membelakangi Sean lalu dengan lembut Sean menyelimuti tubuh Ana.
"kenapa aku bisa tertipu dengan topengnya? seharusnya aku sadar dari awal, ternyata dia juga seorang aktor yang juga bisa berakting punya kepribadian ganda." batin Ana menahan senyum.
Sean tidur dengan nyenyak sambil memeluk Ana, Sean memang sudah terbiasa punya banyak kepribadian sejak kecil karna dipaksa bersikap dewasa sebelum waktunya dan berbagai pengalamannya tinggal di Istana yang kejam penuh intrik kekuasaan belum lagi musuh dibalik selimut membuat Sean terbiasa dengan hal itu tapi hati Sean memang tulus pada Ana.
.
pagi-pagi,
Ana menggeliat di pelukan Sean lalu perlahan membuka matanya dan matanya yang mengantuk membelalak seketika melihat Sean tengah tersenyum tampan memandangnya.
"sejak kapan?" tanya Ana menetralkan ekspresi terkejutnya.
Ana berdehem pelan, "aku belum terbiasa dengan wajah aslimu Sean."
Sean tergelak lalu mengelus pipi Ana, "aku tau sayang..! aku tidak akan memaksamu menerimaku dengan instan."
"terimakasih." ucap Ana yang jujur merasa tersentuh dengan kata-kata Sean tapi tidak ditunjukkan lewat ekspresi Ana yang malah datar.
"sayang aku lapar." Sean seketika merengek seperti anak kecil membuat Ana menjatuhkan rahangnya selebar-lebarnya.
Sean menindih Ana lalu mengecup pipi Ana dengan mesra, "aku akan mandi di Kamar lain, bersihkan tubuhmu Ratuku." bisik Sean lalu mengecup lagi daun telinga Ana lalu melompat pergi keluar dari kamarnya.
Ana duduk dengan linglung, Ia seorang Ratu Drama bagaimana bisa kalah dengan si topeng kepribadian ganda itu?
Ana menggeleng-geleng kepalanya lalu menepuk wajahnya supaya sadar dan segera membersihkan dirinya.
.
Sophia tengah senyam-senyum menata rambut Ana yang baru saja keramas membuat pikiran anehnya melayang-layang bahwa Ana baru saja malam pertama dengan Sean.
__ADS_1
Ana memutar kepalanya ke arah Sophia, "kenapa kamu senyam-senyum Sophia?" tanya Ana dengan heran.
"tidak ada yang mulia." jawab Sophia malu-malu.
Ana menaikkan sebelah alisnya lalu mengangkat bahunya acuh dengan tingkah Sophia itu, Ana mengenakan gaun sepanjang selutut dengan mahkota Ratu di kepalanya tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil.
"tiba-tiba aku ingin mewarnai rambutku dengan warna silver." gumam Ana seketika tersenyum lebar.
Sophia yang tidak paham kata-kata Ana hanya diam sambil berpikir tapi tidak bertanya pada Ana yang sepertinya ingin berbicara sendiri saja.
.
Ana memasak untuk Sean yang makan dengan sangat lahap, bahkan sejak ada Ana membuat sang Lord itu tidak pernah makan buatan koki Istana lagi tapi para Koki masih memasak untuk para Pelayan dan Bodyguard Istana berkat aturan baru Ana yang tidak memandang rendah pekerjanya malah memanjakan mereka sehingga semakin semangat saja mereka bekerja di Istana.
"aku mau ke Salon!" seru Ana dengan senyuman.
Sean tersenyum lebar, "pergilah Ratu-ku..! gunakan kartu Diamond-ku maka kamu akan dimanja dimanapun kamu berada."
"Diamond? bukan BlackCard?" tanya Ana.
Sean tersenyum lalu menjelaskan kalau Kartu Diamond hanya dimiliki oleh Orang-orang yang sangat penting di Negaranya karna Negara Sean dengan Negara Ana berbeda pemimpin Negara yaitu seorang Raja dan Presiden.
.
Sean sedang ber-olahraga di Ruangan khususnya sejak Ana turun tangan masalah Rakyatnya membuat Sean punya banyak waktu bersantai begitu juga perdana menteri, awalnya banyak Pro-Kontra saat Ana menjadi Ratu tapi kesuksesan Ana kini membuat semua Perdana Menteri sangat menyukai Ana sebagai Ratu sehingga mereka banyak waktu berkumpul dengan Keluarga masing-masing.
"Sean?" panggil Ana.
"kenapa kamu lama sekali sayang?" sahut Sean menghentikan aktifitasnya dan memutar tubuhnya menghadap Ana.
Sean terkejut melihat perubahan Ana yang kini rambutnya berubah warna Silver seperti Ratu dari Negeri Dongeng.
"bagaimana? nanti malam acaranya kan?" tanya Ana tersenyum tipis.
.
.
.
__ADS_1