
.
.
.
"aku tidak peduli berapa usiamu, aku tidak akan mau memanggilmu kak atau bang." bantah Alena dengan mata melotot tidak peduli pujian Reyza terhadapnya.
"tidak masalah..? asalkan kamu memanggil nama tengahku." jawab Reyza.
"awalnya aku ingin menunggu diwaktu yang tepat tapi kamu sudah menemukanku, tidak ada alasan bagiku untuk bersembunyi lagi..! kenalkan namaku Reyza Sagam Pratama..!" Reyza mengulurkan tangannya ke Alena.
Alena menatap datar tangan itu, "aku tidak mau berkenalan denganmu." kata Alena sambil mendengus mengangkat dagunya dengan tinggi dengan gaya sok angkuhnya itu.
Reyza tersenyum tipis, "aku harus kembali ke acara tadi.! aku berjanji akan menemuimu dengan cara lebih resmi saat urusanku sudah selesai." kata Reyza mengambil tangan Alena dan mengecup punggung tangan Alena lalu berlari meninggalkan Alena entah kemana tujuannya.
Alena menganga lebar, "da--dasar tukang cari kesempatan." pekik Alena.
Alena beralih tajam ke 3 Pengawal yang menjaganya segera menciut nyali mereka, tubuh mereka 2 kali lipat dari Alena tapi nyali mereka sangat kecil tidak berani ditatap sengit seperti itu oleh Alena.
"guna kalian apa hah? kenapa membiarkan Pria Gila itu menyentuhku?" omel Alena sambil berkacak pinggang.
"ampun Nona Putri..! ka--kami juga tidak tau apa yang ada dalam diri Tuan tadi sehingga kaki kami gemetar melihat sorot matanya." jawab salah satu dari mefeka dengan kepala tertunduk dalam.
"aku tidak mengerti apa maksud kalian tapi tugas kalian memang menjagaku, mau dia harimau jadi-jadian pun harus kalian lawan..! seorang Prajurit itu harus berani..!" sambar Alena lagi.
lalu Pengawal itu mengatakan kalau aturan Negara mereka tidak boleh melukai WNA dari Negara mereka yang artinya kalau bukan Warga Negara Sean maka mereka sebagai Pengawal Istana tidak ada kuasa penuh untuk menyerang WNA itu.
Alena memijit pangkal hidungnya sambil menggeleng kepalanya pelan, "ini alasan Kak Ana suka melawan aturan Kerajaan, ternyata memang lebih menyebalkan dihadapi langsung daripada diceritakan oleh Kak Ana." gerutu Alena dengan menggunakan bahasa Indonesia sehingga ketiga Pengawal itu tidak berbicara apapun karna tidak mengerti.
tengah malam,
Alena terlelap di Kasurnya dalam keadaan letih bahkan belum sempat Ia melepas sepatu apalagi sepatunya.
__ADS_1
Xabara dan Rovert memasuki kamar Alena dan menghela nafas lega Alena baik-baik saja sebab 3 Pengawal tadi melaporkan segalanya yang mereka hadapi tanpa ada yang terlewat, awalnya Rovert tidak terima tapi mengingat perjuangan Sosok itu pun tentu Rovert berpikir lagi untuk menyerang Pria itu.
"kenapa sayang?" tanya Rovert ke Xabara.
"Alena masih muda Rovert..! apa dia bisa kita lepas menikah?" tanya Xabara sambil melepaskan sepatu Alena, anting, kalung, gelang dan tas disingkirkan dari Ranjang Alena.
Xabara tidak tau kalau sepatu yang Alena pakai kini pemberian Orang lain karna Alena juga punya Sepatu seperti itu dalam Kopernya, Xabara tidak memeriksa Koper Alena masih ada Sepatu yang sama, jika tau pasti dia akan mencecar Alena siapa pemilik sepatu itu.
Rovert menggeleng kepalanya, "aku akan memenggal kepala Pria itu jika berani menemuiku untuk menikah muda dengan Anakku..! aku tidak akan izinkan."
Xabara mengangguk lalu duduk ditepi ranjang menyelimuti tubuh Alena dengan lembut, Xabara mengelus kepala Alena.
"rasanya baru kemarin aku melihatnya berlari dengan kaki kecilnya, mencuri kue kesukaan Kakaknya, sekarang anakku sudah besar..! kita sudah tua Rovert." gumam Xabara.
Rovert mengangguk lalu menggeleng kepalanya tidak terima, "kita tidak Tua sayang..! kita belum Tua."
Xabara tersenyum saja pada Rovert yang tidak terima disebut sudah Tua karna anak-anak mereka perlahan sudah punya kehidupan masing-masing sebab sudah jalan takdirnya begitu digariskan oleh sang maha kuasa.
"ayo kembali sayang..! asalkan anak kita baik-baik saja dan bahagia dengan kehidupannya tidak ada salahnya kan?" Rovert.
.
pagi-pagi,
Alena terbangun memutar kepalanya mendengar suara Ponsel, Ia heran mengapa Ponselnya bisa mengeluarkan suara? jelas-jelas tadi malam Alena membuatnya mode getar.
"aku pasti bermimpi." gumam Alena kembali memejamkan matanya.
"Alenaa? aku menunggumu didepan." suara itu membuat Alena terduduk seketika sambil melingkarkan selimut ke tubuhnya juga celingak-celinguk panik melihat sekelilingnya.
"Sagaa? berani sekali kau memasuki Kamarku..?" teriak Alena dengan waspada.
Suara itu sekali lagi muncul hingga Alena mulai menyadari asal suara itu dari Ponselnya, Alena melihat Ponselnya dan menganga lebar dengan penemuan hal baru itu.
__ADS_1
selama Alena memiliki ponsel canggih belum pernah Ia temui ada Pesan masuk yang bisa mengeluarkan pesan suara padahal Ponsel Alena dalam mode getar.
"aah...? iya..? aku baru sadar kalau Stalkerku ini seorang Hacker, pasti mudah baginya mendapatkan nomor ponselku tanpa menyerang data Inti Perusahaan X Company Group." gumam Alena dengan kesal.
Alena bangkit lalu berjalan sempoyongan ke arah balkon dan menguap lebar tanpa peduli imagenya Alena melambai sekali ke arah sosok Saga (panggil Saga aja ya? wkwk) lalu kembali putar badan memasuki kamarnya.
Saga tertawa dibalik Maskernya, "aku akan memberitaumu kalau aku akan kembali ke Indonesia, aku menunggumu di Indonesia Alena." gumam Saga tersenyum tipis lalu pergi memasuki Mobilnya setelah melihat Alena.
Alena hendak masuk ke kamar mandi dan sekali lagi Ponselnya bersuara.
"Alena aku harus kembali ke Indonesia, sampai jumpa lagi Bunga Mawar Putihku di Indonesia..!" pesan Saga.
Alena menghela nafas, "peduli amat." ketus Alena yang tidak menyukai Saga malah menganggap Saga adalah Psiko yang tergila-gila dengan balas budi padanya padahal Alena juga tidak mengharapkan apapun.
Alena mengabaikan pesan itu lalu memilih langsung mandi berganti pakaian dan pergi ke Meja makan meninggalkan Ponselnya di Kamar, Alena tau kalau si Stalker IT itu pasti bisa menghack Ponselnya bahkan Nomor Ponselnya saja ditemukan oleh Saga padahal di lindungi oleh X Company Group.
.
"halo Sayangg?" Alena menyapa Baby Kenan yang malu segera menyembunyikan wajah imutnya di belahan leher An.
An tertawa kecil sedang yang lainnya terbahak, Ana terkikik melihat ekspresi malu Kenan.
"lihat Carrin..! anakmu sangat mirip denganmu yang pemalu..!" ledek Ana.
Carrina tersenyum manis ke arah Putranya lalu mengelus kepala Baby Kenan dan An mengecup sayang puncak kepala Baby Kenan walau punya anak lelaki tapi An tetap menyayangi Putranya tanpa malu menciumnya, mungkin An akan terus melakukannya sampai Baby Kenan malu dicium oleh Papanya. hal itu membuat mereka semua yang ada dimeja makan tertawa lebar.
"lebih baik kita makan.!" ajak Sean sambil terkekeh pelan.
.
Keluarga mereka benar-benar bahagia di Istana itu menikmati hari-hari disana selama 2 bulan saja, setelah itu mereka kembali ke Indonesia ketika sudah melihat Bayi Mungil Sean dan Ana keluar dari tabung kaca nya.
.
__ADS_1
.
.