
.
.
.
"memang ular tidak bisa di ubah menjadi kupu-kupu." decak An.
"memang Ular tidak akan pernah bisa menjadi Kupu-Kupu An, apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Carrina penasaran.
"aku memberinya pelajaran hidup supaya dia berubah tapi sepertinya dia memang pantas tidak diberi kesempatan." ujar An.
Carrina mengangguk lalu memeluk An dengan manja sebisanya, "aku berterimakasih padamu An..! kamu selalu menjagaku, aku tidak punya siapapun, karnamu aku bisa mendapatkan Rumah kedua Orangtuaku lagi."
"Rumahmu sudah siap Sayang." bisik An.
Carrina tersenyum lebar, "bukan Rumah-Ku tapi Rumah Kita Suamiku." ralat Carrina.
An terkekeh, "baiklah..! Rumah Kita."
Carrina menangkup rahang An lalu mengecupnya lama dan An hanya tertegun sejenak setelah itu Ia malah mengulum senyum bersitatap dekat dengan Carrina.
"aku masih belum percaya dengan kehidupanku sekarang An, entah kebaikan apa yang aku lakukan sehingga Tuhan memberiku dirimu." kata Carrina dengan lembut mengelus rahang An.
An menggeleng kepalanya, "sepertinya aku yang beruntung memilikimu."
Carrina menggeleng juga tidak terima, "awalnya aku setuju kita sama-sama beruntung An tapi kalau aku pikir-pikir akulah yang paling beruntung."
An tidak berbicara hanya mengelus pipi Carrina yang terus berbicara mengeluarkan segala pemikirannya, Carrina tidak pernah berpikir bahwa An beruntung memiliki Carrina tapi Ia sangat tau bahwa An memang baik dan tidak memandang rendah Carrina yang berasal dari kalangan bawah bahkan mengangkat derajat Carrina sebagai Istri Tuan Muda An yang sangat di hormati dan disegani, jadi Carrina merasa bahwa Carrina lah yang beruntung.
"sudah mengocehnya Nyonya?" tanya An dengan gemas.
Carrina mengerucutkan bibirnya di sebut mengoceh oleh suaminya, "aku tidak mengoceh An." bantahnya dengan kedua alis ditekuk.
An tersenyum, "lalu tadi apa? curhat? kamu bicara hampir 90 menit-an apa tenggorokanmu tidak kering?"
Carrina semakin manyun saja mendengar ledekan sang suami tercintanya itu sedangkan An tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi masam istrinya itu.
alangkah senangnya An bisa menggoda Istrinya itu, mereka berdua tidak pernah bertengkar karna An memiliki Istri yang sangat pengertian walau Ia sibuk bekerja tapi Carrina tidak pernah memaksa An untuk tetap bersamanya 24 jam.
__ADS_1
An tidak salah bisa jatuh Cinta pada seorang Wanita yang sangat pengertian dan mengerti keadaannya, akhir-akhir ini An sering terlambat pulang malah disambut dengan ceria oleh Istrinya bukannya di omeli atau dicecar berbagai pertanyaan. An juga dilayani dengan sangat baik, palingan Carrina akan mengomel jika An tidak makan siang.
biasanya sepasang suami-istri bisa bertengkar karna masalah jam kerja tapi karna An mencintai seorang Wanita Pengertian maka hidup An aman dari namanya pertengkaran Rumah Tangga terlebih lagi Carrina sangat mencintai An namun tidak minta dirinya harus di Prioritaskan sehingga An semakin menyayangi Istrinya dan berpikir Ia beruntung memiliki Carrina.
"sudah Suamiku..? ayo kita tidur." rengek Carrina yang tidak pernah memarahi An yang selalu menggodanya malah semakin manja saja kalau Carrina tidak terima paling membantah tapi tidak membentak.
"baiklah sayang..! kita tidur." ajak An membantu Carrina berbaring di ranjang.
Carrina menghadap ke kanan dan An seperti biasa memeluk Carrina dari belakang, Carrina mengapit tangan An dan memeluknya seperti bantal sehingga telapak tangan An berada di perut Carrina.
An mengelus perut Carrina dan ikut memejamkan matanya dengan Carrina.
.
ke esokan harinya,
di tempat lain,
Ana tengah bersantai di sebuah cafe bersama Alena lalu Ia mendengar sorak-sorakan Orang di luar Cafe tapi Ia maupun Alena tidak memperdulikan kehebohan itu karna mengira Artis mana yang sedang berakting di daerah ini begitulah pemikiran Ana maupun Alena.
"kenapa kak?" tanya Alena.
Alena mengangguk, "sepertinya ada Artis yang sedang akting disini."
"bisa jadi." jawab Ana.
mereka pun tertawa kecil bersama lalu tiba-tiba mata Alena melihat sepasang sepatu pria yang ada berliannya lalu matanya terangkat sampai melihat wajah pemilik sepatu itu.
"Abang Sean?" pekik Alena.
Ana mengerutkan keningnya, "apa maksudmu Alena..? kenapa dia bisa ada dis...?"
Ana berbicara sambil memutar kepalanya melihat ke arah tatapan Alena betapa terkejutnya Ana melihat Sean ada di Indonesia.
"Sean?" gumam Ana.
Sean menggunakan baju kerajaannya dan Ana langsung bisa menebak kalau Sean telah resmi menjadi seorang Raja di Negara itu tapi pertanyaan Ana mengapa seorang Raja bisa pergi meninggalkan tahtanya jauh-jauh ke Indonesia?
Ana berdiri, "kenapa kamu kesini?"
__ADS_1
Sean menarik pinggang Ana lalu memeluk tubuh Ana dengan erat, semua Orang yang melihatnya terpekik seketika dan Alena melebarkan matanya lalu terkikik gemas.
Ana mengerjabkan matanya, beberapa bulan yang lalu Sean memang izin harus kembali ke Negaranya dan Sean berjanji pada Ana bahwa Ia akan kembali pada Ana setelah urusannya selesai.
jujur saja Ana memang selalu kesal di ikuti oleh Sean tapi ketika Sean tidak ada disisinya entah mengapa Ana merasa ada yang kosong tapi Ia tidak pernah bicara apa-apa pada Alena tentang kekosongan yang ia rasakan itu.
"Ana akhirnya aku bisa menemuimu, aku sangat merindukanmu permaisuriku." bisik Sean dengan nada bergetar.
Ana melirik kearah tengkuk Sean yang tengah memeluknya lalu tangannya terangkat mengusap bahu Sean, diam-diam hati Ana merasa senang akhirnya Sean menepati janjinya.
"menikahlah denganku Ana..! aku tidak bisa hidup tanpamu." pinta Sean dengan memelas melepaskan pelukannya menatap Ana begitu lembut.
Ana mengerjab-ngerjabkan matanya, "aku bukan Putri Bangsawan, bagaimana dengan perdana menteri kalian nanti?"
"rakyatku sangat menginginkanmu menjadi pendampingku sayang." jawab Sean.
Ana tidak menyangka Sean begitu serius terhadapnya padahal hati Ana memang menaruh hati pada Sean walau hanya secuil tapi jika Sean melupakannya setelah menjadi Raja pun maka Ana tidak akan patah hati juga.
"aku tidak mau menikah dengan Raja yang banyak Ratu." jawaban tegas Ana seolah menolak lamaran Sean jika Sean punya Ratu lain.
"aku bersumpah atas nama tahtaku ini..! aku tidak akan menikahi wanita manapun selain kamu saja Ana, kamu satu-satunya Ratuku." sumpah Sean yang terlihat serius dan begitu tulus.
Ana tersenyum dan Sean menganggap senyuman Ana adalah pertanda setuju dari Ana sehingga Ia senang langsung mengangkat tubuh Ana dan memutarnya, Ana memukul bahu Sean.
"Sean?? bajumu menyakitiku." pekik Ana.
Sean tertegun lalu menurunkan Ana lalu memperhatikan tubuh Ana, "mana yang sakit?"
Ana mendumel kesal dengan pakaian Sean, mengapa Sean memakai baju penuh berlian datang ke Indonesia.
"maafkan aku Ratuku..! Raja ini terlalu bahagia." ucap Sean menarik telinganya sendiri dan mengangkat sebelah kakinya seolah Ia tengah menghukum dirinya sendiri.
Ana tertawa seketika lalu mengusap kedua bahu Sean, "baiklah aku maafkan."
Sean kembali memeluk Ana dengan penuh kerinduan, 4 bulan tidak melihat Ana hatinya benar-benar terbakar karna terlalu merindukan Ana bahkan Sean menganggap tidak ada Orang lain disekitarnya.
.
.
__ADS_1
.