Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
kebalikannya


__ADS_3

.


.


.


"benarkah? dimana dia tinggal? dia bisa mengalahkan Guruku yang sehebat itu." tanya Sean.


"apa pentingnya untukmu? apa kamu mau balas dendam padanya atas nama gurumu? jika memang iya kau lawan saja aku." tantang Ana dengan datar.


"aku tidak mau bermusuhan dengan Orang sehebat itu, aku penasaran dia belajar dari mana?" jawab Sean.


"Ratu Higanbana dan Serigala dari Kanada yang melegenda sampai sekarang." jawab Ana.


Sean terbelalak, "hah?? aku pernah dengar sosok mereka semasa kecil Ayahku sering menceritakan mereka sampai aku semangat ingin belajar beladiri karna mengagumi mereka."


Ana manggut-manggut, "apa Master dari segala Master itu sangat terkenal di Negaramu?" tanya Ana.


"sangat terkenal bahkan kamu juga terkenal dan satu lagi pemain Anggar ternama dari Indonesia juga terkenal disana, dia mengalahkan sepupu jauhku." jawab Sean.


Ana terkekeh pelan lagi membuat Sean bertanya dengan heran.


"jangan bilang kamu dekat dengan pemain Anggar itu?" tanya Sean.


"kamu sudah melihatnya ketika berada di Kandang Kuda, apa kamu tidak pernah melihat Foto nya?" ejek Ana.


"bertemu di Kandang Kuda?" beo Sean mencoba mengingat-ngingat.


tiba-tiba mata Sean melebar ketika teringat Alena mengenalkan diri padanya sama dengan nama pemain Anggar yang terkenal itu.


"Alena? ja--jangan bilang Alena itu?" tanya Sean tidak percaya.


"dan Master dari segala Master itu adalah Saudara kembarku, mereka Saudaraku." jawab Ana entah mengapa ia senang sekali melihat wajah bodoh Sean itu padahal Sean seorang penerus tahta.


"ap--apa??" Sean membelalak.


"huhh...! apa tidak jelas juga? sosok Ratu Higanbana dan Serigala dari Kanada itu kedua Orangtuaku, sekarang bagaimana? kau masih mau menemui Keluargaku?" ejek Ana seketika pikiran jahatnya muncul.


glek...!


"Ke--Kedua Orangtuamu?" Sean membatu beberapa saat.


Ana tertawa tanpa suara melihat tampang Sean yang benar-benar menjatuhkan martabat Sean sebagai seorang Calon Raja yang katanya Jenius dalam ilmu politik serta sangat menyayangi rakyatnya suka membantu Rakyat kecil dengan segala jenis Dana bantuan yang Ia ciptakan menggunakan uang sakunya sendiri, maka nya Sean sangat di harapkan oleh Ayahnya Sean menjadi seorang Pemimpin yang bijak.


Sean tidak bisa berkata-kata sampai tiba di Penginapan kandang Kudanya.


.

__ADS_1


"dasar aneh..! lumayan bisa mengguncang mentalnya.. hahaha...!" Ana tertawa terbahak-bahak seketika melihat punggung Sean sampai hampir terjatuh-jatuh saking banyak beban pikirannya tidak bisa fokus lagi dengan jalannya.


Ana kembali ke Mansion dan melihat Alena tengah menari balet di Kamar Alena sendiri.


"Dek?" panggil Ana.


"Kak? jangan panggil adek..! Alena." pinta Alena dengan nada kesal.


"iya.. ! bagaimana Abangmu? apa mereka baik-baik saja di Dubai?" tanya Ana.


Alena mengangguk sambil berputar-putar tarian balet, "sepertinya Kakak Ipar sangat bahagia."


Ana tersenyum lebar, "bahkan An pun juga sudah kehabisan Obat sering senyam-senyum sendiri kalau datang kesini."


Alena tertawa, "mau cerita apa Kak?" tanya Alena sembari mengambil handuk kecil mengelap keringat di lehernya.


Ana tersenyum manis sebab Alena memang seperti sahabat baik baginya namun terkadang Alena bisa menjadi adik kecil yang menggemaskan dimata Keluarga Maldev.


Ana menceritakan semua yang Ia katakan pada Sean membuat Alena tersenyum saja.


"kenapa kamu kelihatan tidak tenang Alena?" tanya Ana.


"Alena hanya takut dia tidak bisa tidur terus demam tinggi Kak." jawab Alena santai.


"kenapa bisa demam?" tanya Ana tidak mengerti.


"apa hubungannya dengan kata-kata kakak?" tanya Ana malah tidak paham.


Alena menghela nafas panjang, "artinya dia keracunan kan? bukankah Kakak pernah memberitauku gejala seperti itu ketika aku tanding Anggar di Thailand? kakak menyembuhkan anak kecil itu kan?"


Ana terhenyak, "ja-jadi menurutmu dia mengalami gejala yang sama?"


"kenapa aku tidak tau?" tanya Ana malah heran.


Alena tersenyum lebar, "itu karna Kakak tidak memperhatikan Abang Sean, sepertinya dia tipe Pria yang suka memikirkan masalah sampai punya masalah dengan jam istirahatnya itu, belum lagi efek racun yang pernah Kakak bilang masih tipis dalam darah Abang Sean."


"menurutmu dia diracun secara bertahap?" tanya Ana yang merasa kecolongan tidak tau penyakit Sean.


Alena menganggukkan kepalanya, "benar sekali..! coba lebih Kakak perhatikan saja lagi."


.


Ana kembali ke Penginapan Kandang Kuda nya ternyata tebakan Alena memang benar.


"Sean..?" Ana menepuk-nepuk pipi Sean yang suhu tubuhnya sangat panas.


Ana berdecak beruntung Ia membawa banyak perlengkapan Obatnya karna perkataan Alena jujur saja memang mengganggunya, Ana tidak pernah memperhatikan Sean begitu intens jadi tidak tau tentang apa yang Sean rasakan juga tidak pernah mengeluh apa-apa pada Ana.

__ADS_1


"dasar cung*k...!! siapa yang main-main dengan racun? apa dia tidak takut aku akan mengalahkannya? punya kelebihan sedikit bukannya digunakan dengan baik malah merugikan mereka yang sehat demi mendapatkan apa yang diinginkan." oceh Ana sambil sibuk mengeluarkan segala jarum akupunturnya.


Ana mengangkat baju Sean.


clep....!!


Ana menancapkan jarumnya ke perut Sean yang terbangun seketika melihat Ana dengan wajah pucat.


"apa yang ka--kamu lakukan Ana?" tanya Sean.


"apa kau punya masalah pencernaan? pemikiran? susah tidur? kurang fokus?" cecar Ana dengan wajah datarnya.


Sean mengangguk-ngangguk dan memperhatikan aksi tangan ajaib Ana, Ana mencabut Jarumnya yang langsung berubah warna biru kehitaman.


"wahh..! ternyata benar." gumam Ana tidak menyangka benar-benar ada racun dalam tubuh Sean padahal selama ini Sean terlihat bugar-bugar saja.


"a--apa itu Ana? kenapa jarumnya bisa berubah warna?" tanya Sean penasaran.


"sepertinya pihak Istana mu yang melakukannya, racun ini disebut dengan Racun Semangka karna sangat kecil seperti biji Semangka namun akan punya efek beberapa minggu setelah mengkonsumsi racun itu secara bertahap."


Sean mendengarkan serta menurut saja dengan Ana sesekali Ia menatap Ana yang biasa saja memandang tubuh Kekarnya.


"buka bajumu..!" titah Ana.


Sean melihat pakaiannya, "apa perlu?" tanya Sean yang malah malu.


Ana menghela nafas panjang, "sepertinya paru-parumu juga terkena."


Sean terbelalak lalu bertanya bagaimana Ana bisa tau dengan santainya Ana menjawab karna darah biru kehitaman yang Ana ambil dari tubuh Sean menguji kebenaran penilaian Alena.


Sean segera melepas kausnya lalu Ana mengenakan Maskernya dengan lihainya tangan Ana sedot racun dengan jarum suntik nya, tak lupa Ana menyuntikkan antibiotik yang Ia racik sendiri bukan dari pihak Apotik maupun dari Rumah Sakit.


"aku akan buatkan ramuan khusus untuk membuat pemikiranmu jauh lebih tenang." ujar Ana berbalik pergi.


"jangan kenakan bajumu terlebih dahulu..!" titah Ana membuat Sean tidak jadi menyentuh bajunya.


bisa-bisanya Sean yang seorang Pria malu memperlihatkan tubuh kekarnya pada Ana yang justru kebalikannya.


.


.


.


jodoh Ana OTW nih...!! 😁


.

__ADS_1


__ADS_2