
.
.
.
"lalu bagaimana dia menerima Kontrakmu?" tanya Alena penasaran.
"entahlah..! aku menemuinya saat itu bersama Rayden, bocah itu sok akrab padaku." gerutu Jimmy.
Alena tersenyum lebar, "sepertinya aku menemukan calon suamimu." kekeh Alena.
Jimmy menggeleng kepalanya, "jangan bilang dia?"
"memang iya, siapa lagi?" ejek Alena.
Jimmy mendengus, "mana mungkin dia mau bersamaku, dia itu sudah tau kalau aku suka tidur dengan setiap pacarku."
"tapi dia yang pertama mendapatkan peraw*nmu kan? dia juga menerima perpanjangan kontrak kita kan?" sambar Alena.
Jimmy terdiam lalu meminta Alena untuk tidak membahas Pria itu karna menurutnya Kontrak dengan Keluarga Maldev jelas sebuah hadiah besar yang tidak boleh disia-siakan, kalau pihak Perusahaan Alena yang membahas perpanjangan Kontrak pasti akan diteruskan karna hanya Orang bodoh saja yang memutus kerja sama dengan Alena (Keluarga Maldev).
Alena pun tidak bicara apa-apa lagi seolah membiarkan takdir yang menyatukan Jimmy dengan Viken apalagi ada Rayden yang bisa Alena tebak kalau Bocah itu menginginkan Jimmy menjadi Ibu sambungnya.
Kabar Viken pernah menikah dengan Artis diketahui Publik tapi Siapa Artis itu tidak ada yang tau sebab identitasnya memang sengaja di tutupi.
.
"sayang?" Saga berlari menyambut Alena yang baru saja pulang.
Alena menautkan kedua alisnya, "kamu sudah pulang Saga? katanya Keluar Kota?" tanya Alen heran.
Saga memegang tangan Alena, "hari ini udah 2 bulan pernikahan kita, masa iya aku tidak datang sih."
Alena menghela nafas panjang, "tidak ada yang spesial Saga..! kenapa kamu merayakannya setiap bulan? seharusnya dirayakan di tanggal dan bulan yang sama kan?"
Saga terdiam lalu tersenyum tampan, "kalau begitu aku akan dengarkan permintaanmu sayang." jawab Saga sumringah.
Saga tiba-tiba menangkup pipi Alena, "kenapa makin pucat? kamu tidak minum vitamin sayang?" tanya Saga serius.
Alena memutar bola matanya kekiri dan kekanan, "ak--aku terlalu sibuk."
Saga menghela nafas panjang lalu menggendong Alena membawa Istrinya ke Meja makan, "kamu harus makan terus minum Vitamin ya? kan aku sudah bilang harus diminum." omel Saga.
Alena diam saja diperlakukan seperti itu oleh Saga, terkadang Saga sangat menyebalkan tapi sebenarnya juga begitu perhatian.
"aku masak enak sayang..! aku singkirkan Toge yang tidak kamu suka." kata Saga melayani Alena dengan senyuman.
__ADS_1
Alena memperhatikan Saga yang sangat menjaganya, semua Orang mengatakan kalau Saga mencintai Alena tapi kenapa sampai detik ini Saga tidak menyentuh Alena? bahkan mencium Alena saja belum pernah.
.
"kenapa sayang? apa ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Saga dengan lembut.
Alena tersadar lalu berdehem dengan wajah merona karna ketahuan memandang Saga.
"Saga aku penasaran, kamu memang mencintaiku?" tanya Alena.
Saga mengulum senyum, "kenapa sayang? kamu meragukanku?" tanya Saga.
Alena mengangguk, "aku merasa kebaikanmu ini hanya hutang budimu saja padaku."
Saga terkekeh lalu menjelaskan kalau hutang budi dan Cinta itu berbeda, kalau hutang budi balasannya sama bukan melayani seperti sekarang.
"jadi kamu memang mencintaiku?" tanya Alena.
"tentu saja." jawab Saga serius.
"lalu kenapa kamu tidak menciumku?" tanya Alena melebarkan matanya segera membekap mulutnya sendiri yang keceplosan.
Saga mengulum senyum, "oh jadi Istriku menanyakan hal itu ya? aku selama ini menahannya." jawab Saga tersenyum lebar.
Alena yang malu segera berdiri dan hendak lari namun tangannya ditahan oleh Saga.
Alena menggeleng-geleng, "ak--aku hanya bertanya saja." jawab Alena namun matanya hanya tertuju pada bibir Saga seolah sorot matanya itu mengatakan bagaimana rasa bibir Saga itu?.
Saga mendengar perkataan Alena yang tidak sesuai dengan cara Alena memandang bibirnya pun gemas, Saga mengecup bibir Alena yang mengerjab sesaat lalu Saga menjauhkan sedikit wajahnya sehingga mereka saling bersitatap satu sama lain.
sorot mata Alena yang terlihat menggemaskan itu membuat Saga tidak menahan dirinya lagi, Saga mencium lembut bibir Alena, *******, mengec*p bibir Alena seolah Saga benar-benar mahir dalam permainan mulutnya itu.
"manisnya." bisik Saga.
wajah Alena sangat merah lalu Saga mengecup pipi Alena dan memeluknya dengan erat.
"maafkan aku karna membuatmu meragukan Perasaanku sayang." bisik Saga dengan lembut.
Alena diam di bahu Saga sambil menahan senyum, Ia akhirnya melakukan cium*n pertama dan sudah tau bagaimana rasanya karna selama ini Alena penasaran.
Saga bukan tidak mau mencium Alena tapi memang Ia tidak mau terburu-buru memiliki Alena, Saga tidak mau Alena merasa tidak nyaman dengan pikiran mesumnya selama ini pada Alena.
.
ke esokan paginya,
Alena beberapa kali harus terkejut dengan tingkah Saga yang ketagihan menciumnya, membangunkan Alena tidur, habis mandi, sarapan bahkan mau berangkat kerja pun harus ciuman.
__ADS_1
setiap Alena bertanya jawaban Saga hanya simple yaitu bukti Cintanya pada Alena karna Alena meragukan Perasaannya jadi Saga tidak akan menahan diri mencium, memeluk atau menyatakan Cinta pada Alena.
mereka menikmati hari-hari layaknya pasangan muda yang baru berpacaran, tidak melakukan hubungan intim apapun padahal mereka sudah resmi suami-istri.
suatu malam,
"kenapa aku harus datang?" tanya Alena dengan malas.
"sayang? mereka ingin melihatmu? kenapa tidak mau ikut denganku?" tanya Saga memelas.
Alena menghela nafas pasrah, "baiklah." jawab Alena.
Saga sumringah lalu merangkul pinggang Alena membawa pujaan hatinya ke Kamar untuk berganti pakaian.
"aku tunggu di Ranjang ya sayang??!" Pinta Saga.
"yalah..!" jawab Alena menutup pintu Ruang gantinya dengan cukup keras membuat Saga terkekeh.
Saga dengan setia menunggu Alena yang berada di Kamar ganti sampai pintu terbuka dan Saga melihat ke sana pun ternganga, Saga menepuk pipinya untuk tetap sadar.
"Reyza sadarlah..! Alena memang sangat cantik kenapa kamu terus terpana padanya hmm? kamu melihatnya setiap hari kan?" dumel Saga mengomeli dirinya sendiri.
"ada apa?" tanya Alena heran melihat Saga seperti orang tidak waras saja dimata Alena.
Saga sumringah langsung bangkit mendekati Alena, "aku jatuh Cinta lagi padamu sayang."
Alena diam saja sambil berdehem lalu berkata, "ayo berangkat..!"
Saga mengikuti Alena sambil memandangi Istrinya itu dalam perjalanan, kini yang membawa Mobil adalah Alena karna Saga terus merengek akan terjadi kecelakaan jika Saga yang menyetir sebab selalu memandang Alena.
"ckk...!" decak Saga tiba-tiba sehingga Alena melihat Saga sesekali.
"kenapa?" tanya Alena heran.
"kamu terlalu cantik sayang, nanti pasti jadi pusat perhatian Laki-laki disana." kata Saga dengan nada tak senang karna cemburu.
Alena menahan senyumnya saja lalu cepat menetralkan ekspresinya, "aku memang perempuan mempesona."
"sangat." jawab Saga mengakui itu.
Alena pun tidak berbicara lagi walau Ia gugup dipandangi oleh Saga tapi Ia tidak boleh memperlihatkan pada Saga kalau Alena gugup, Alena mana mau perasaan gugupnya itu diketahui oleh Saga.
.
.
.
__ADS_1