Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
dibela


__ADS_3

.


.


.


Alena tersenyum lebar mengelus-ngelus lembut punggung Kenan.


"bisa bawanya?" tanya Alena dengan gemas.


Kenan berkata dengan Arogan bahwa Ia adalah anak yang cerdas pasti bisa mempelajarinya dengan mudah.


Kenan menaiki mobil barunya lalu berlagak memakai sabuk pengaman dengan tampang imutnya itu yang begitu serius membuat bibir Alena berkedut menahan tawa sekuat tenaga.


"bisa?" tanya Alena menahan tawa.


Kenan mengangguk-ngangguk pelan seolah tau cara mengendarai Mobil barunya itu.


"apa itu?" tanya An tiba-tiba datang sambil menggendong Sysy yang memang paling dekat dengan An.


"Papah?? Kenan dapat mobil baluu." jawab Kenan dengan senang.


An melirik Alena yang tersenyum tak berdosa kepada abangnya itu.


"Alena?" panggil An dengan wajah datar.


"memang kenapa bang? keponakan kecilku ini akan menjadi pembalap ternama." tawa lebar Alena dengan bangga.


An berdecak, "tidak boleh." bantah An.


Alena mendengus sebal lalu meledek An yang saat masih kecil memainkan Bom, bahkan Bom lebih menyeramkan dari balapan tapi Keluarga mereka memberi izin An belajar Bom.


An tak membantah malah membuang muka sedangkan Alena terkikik dengan kekalahan An itu.


"ini namanya setir Kenan.. ...??" Alena mengajari Kenan yang mengangguk-ngangguk mencerna ajaran Alena.


"Kenan coba ya?" izin Kenan ke Alena.


"hati-hati ya? nginjak gasnya harus pelan-pelan." jawab Alena.


Kenan sumringah ketika bisa mengendarai Mobil barunya walau awalnya tersendat-sendat namun beberapa saat kemudian sudah lancar saja.

__ADS_1


Sysy perlahan meminta diturunkan oleh An lalu berlari ke arah Abangnya, Kenan turun dari Mobil-mobilannya dan berlari ke pintu samping Mobilnya lalu membukanya sehingga Sysy bisa masuk dengan gembira.


Alena tertawa keras sementara An menatap datar Putra Kecilnya yang tengah mengejeknya, karna An selalu seperti itu jika Carrina masuk ke Mobilnya.


"Kenan memang anakmu bang, dia duplikatmu." ejek Alena lalu tertawa terpikal-pikal.


"dadah papa??" lambai tangan Sysy lalu senyum An terbit melambai ke Putrinya yang paling dekat dengannya.


Alena menghabiskan waktu dengan keponakan-keponakan kecilnya sampai malam hari lalu kembali ke Mansion Maldev karna Perintah Xabara dan Ratu yang tidak mau Alena pulang terlalu malam.


.


di Mansion Maldev,


"kenapa lama banget sayang?" tanya Xabara menangkup pipi Alena.


Alena tersenyum lebar, "kenapa Mommy? Alena baik-baik saja di Rumah Kakak Ipar dan abang kok."


"kamu ini..! kami sangat rindu dengan tarian baletmu nak, sudah berapa lama kami tidak melihatmu menari." sahut Ratu tiba-tiba.


Alena terkekeh lalu melangkah mundur dan memberi hormat layaknya seorang balerina, Alena menari didepan Keluarganya karna permintaan.


.


beberapa hari kemudian,


Alena menghadiri acara penting dimalam hari seperti pesta kecil-kecilan tapi maksud kecil-kecilan disini bagi orang kaya-raya namun menurut kalangan biasa sudah terbilang sangat mewah karna tamunya bukan Orang sembarangan.


"Alena?" sapa seseorang lalu Alena memutar kepalanya kearah asal suara.


"bang Barnes?" Alena tersenyum lebar mendekati Barnes lalu memeluk Barnes seperti abangnya sendiri.


"Ehhh?" Alena kaget melihat Istrinya Barnes tengah tersenyum ke arahnya.


"hehe..? maaf ya Kak Nagita, jangan cemburu ya?" ledek Alena membuat Wanita yang telah berstatus Istri Barnes itu tertawa lebar.


"tidak apa Alena..? Barnes bilang kamu itu sangat mirip dengan adiknya, sama-sama manja." jawab Nagita.


"mana anak kakak?" tanya Alena celingukan.


Barnes menjawab kalau Putri kecilnya sedang bersama Aya dan Barrest, sebagai cucu pertama jelas Aya dan Barrest sangat menyayangi anak mereka bahkan anak Nagita terbilang sangat dekat dengan nenek dan kakeknya itu.

__ADS_1


Alena banyak bertemu dengan kerabatnya lalu bersalaman bersama Klientnya.


"mau berdansa denganku?" tanya seorang Pria mengedipkan matanya menggoda Alena.


Alena memutar kedua bola matanya dengan malas, "tidak..!"


"kenapa kamu selalu seperti ini Alena? sejak dulu kamu ini sangat cupu dengan masalah kekinian tapi pakaian serta penampilanmu dulu sampai sekarang masih sangat modis, kenapa kamu bisa seperti ini? zaman sekarang mana ada sistem perjodohan lagi."


Alena menatap dingin Pria itu yang memang sejak Kuliah selalu nyinyir padanya (tidak suka), sebenarnya Pria itu dulu adalah penggemar Alena tapi ketika memberanikan diri menyatakan perasaan ke Alena malah di tolak jadi sekarang malah benci.


"siapa bilang aku akan dijodohkan?" tanya Alena dengan nada sarkas.


"oh.. ayolah Alena..! kalau kamu jual mahal terus maka tidak akan ada Pria yang mau denganmu, sekarang budaya timur sudah tenggelam sayang..! kita menganut budaya barat, haha.. kita sudah maju Alena..! kapan kamu majunya?" ejek Pria itu.


"Ardittt...!" bentak Alena dengan nada tajam.


Pria yang dipanggil Ardit itu tersenyum lebar, "apa kamu punya pacar Alena? sejak dulu kamu selalu menolak Pria yang datang padamu, kamu pikir ada orang yang tulus itu? kalau bukan karna kecantikanmu, hartamu itu mungkin sekarang kamu tidak akan laku.!" bisik Ardit dengan percaya dirinya.


Alena yang mulai geram mengambil garam dari sampingnya (meja makan) lalu melemparnya ke Pria itu yang menjerit seketika, Ardit berteriak sementara Alena sudah langsung pergi tanpa peduli Ardit ditatap aneh oleh Orang disekitarnya.


Alena duduk dengan kasar di tempat duduk yang paling tersudut, "dasar buruk rupa..! sudah bagus aku menolakmu dengan cara baik-baik tapi kau malah menaruh dendam padaku..! sial*n anak itu, aku akan bunuh dia nanti." batin Alena penuh dendam.


Alena sungguh tidak terima penghinaan itu padahal Ia tidak pernah menghina Ardit yang menyukai nya.


Alena melihat sekitar dan melihat Ardit berlari kearahnya membawa sebuah minuman, sepertinya Ardit ingin menyiramnya.


"memangnya siapa kau hah? hanya karna punya status lebih tinggi kau begitu sombong, aku benci dengan wajahmu yang suka merayu kami kaum pria ini." teriak Ardit dengan marah sementara Alena masih tenang saja tiba-tiba saja tangan Ardit dicekal oleh seorang Pria lalu memutar tangannya dengan santainya Pria itu menendang bok*ng Ardit sampai tersungkur kedepan.


"berani kau melukai pujaan hatiku." kata Pria itu yang tak lain adalah Saga.


Ardit menoleh kebelakang dan kaget pelakunya adalah Saga, "Tu--Tuan Reyza?" gumam Ardit tidak percaya.


Asistennya Saga memberitau kalau Ardit adalah seorang manager kecil di Perusahaan Saga, Saga dengan santainya meminta Ardit meminta maaf pada Alena kalau tidak akan pindahkan ke cabang Perusahaan kecil paling pelosok yang jauh dari teknologi sebab disana penuh ladang sawit yang isinya hanya sawit dan sawit saja.


Alena melirik Saga, "begini rasanya punya Kesatria nyata." batin Alena menahan tawa.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2