
.
.
.
An membukakan pintu Mobilnya untuk Carrina lalu memaksa Carrina masuk ke Mobilnya dan menutup pintu Mobil.
An pun tersenyum begitu tampan berlari mengitari Mobilnya dan masuk ke Mobilnya, diam-diam Carrina melirik An sesekali lalu menatap lurus ke depan karna jantungnya kembali berdetak tidak normal.
"kita jalan!" kata An dan Carrina mengangguk-ngangguk.
An melajukan kendaraannya belum sempat keluar dari Gerbang Perusahaan An malah menghentikan Mobilnya, Carrina menoleh ke An dengan bingung.
"kenapa tidak memakai Seatbeltnya?" tanya An membuka Seatbeltnya lalu tubuhnya mendekati Carrina yang melebarkan mata dan menahan nafas ketika wajahnya begitu dekat dengan An.
"kenapa bisa susah ya?" gumam An menarik seatbelt yang seharusnya di pakaikan ke tubuh Carrina.
"coba maju sedikit!" pinta An.
Carrina pun menoleh ke arah An, "ma-maju kemana?" tanya Carrina.
An pun beralih menatap mata Carrina sehingga mereka bertatapan lama, tangan An pun merangkul punggung Carrina lalu menariknya ke arah tubuhnya dan mereka seperti hampir berpelukan.
"tetap seperti ini!" pinta An dengan serius mencoba menarik sabuk pengaman untuk Carrina yang memang cukup sulit.
Carrina belum bisa bernafas dengan normal ketika tubuhnya begitu dekat dengan An, mungkin jarak mereka hanya berkisar 5 Cm saja.
"lebih maju lagi Carrina? kenapa kamu tidak bilang sabuk pengamannya sulit?" pinta An.
Carrina pun mendekatkan tubuhnya lagi ke An dengan ragu-ragu sehingga dagunya berada di bahu An, sungguh hati Carrina ingin sekali berteriak dan tangannya ingin sekali memeluk tubuh An.
"haissh..! kenapa begini ya?" gumam An menarik paksa Seatbelt untuk Carrina dan akhirnya bisa juga.
"sudah?" senyum tipis An sedikit menjauh dari Carrina lalu memasangkan seatbelt di tubuh Carrina.
An pun kembali duduk dengan benar memasang pengamannya dan melajukan kendaraannya tanpa Ia sadari Carrina begitu jantungan disisi An, Carrina melihat ke arah jalanan sambil mengatur nafasnya baik-baik.
"Carrinaaa?? kenapa kamu tidak bisa menyembunyikan Perasaanmu dengan baik ha??" batin Carrina dengan kesal mengumpati perasaannya sendiri.
__ADS_1
An melihat ke Carrina sesekali sambil mengulum senyum tipis lalu kembali fokus dengan kendaraannya.
An membawa Carrina luar kota lewat jalan tol sehingga lebih cepat sementara Carrina mulai serius memperhatikan jalan sebab Ia mulai tau perjalanannya cukup jauh.
"Tuan?" panggil Carrina.
"akhirnya kau bersuara juga, aku pikir suaramu habis." ledek An.
Carrina terdiam sambil membenarkan rambutnya sendiri.
"apa kau belum berani melepas maskermu itu? aku rasa kamu sudah sembuh kan? 2 bulan sudah berlalu." tanya An.
Carrina memegang masker wajahnya, "su-sudah sembuh ta-tapi sa-saya belum berani memperlihatkan wajah ini."
"cobalah dibuka! aku akan menjagamu." kata An serius.
Carrina mematung mendengar perkataan An lalu menoleh ke arah An yang mengangguk dan tangan An menekan-nekan kepala Carrina mengelusnya lembut sehingga jantung Carrina semakin tidak terkendali saja.
"lepaskan saja..! belajarlah melatih keberanianmu." pinta An.
dengan tangan gemetar Carrina melepaskan masker yang menutupi sebagian wajah cantiknya itu dan menatap An lalu melihat arah lain seperti tidak berani bertatapan mata dengan An secara sadar padahal ketika An sakit Carrina tidak ada takut-takutnya bertatapan dengan An.
"kita sudah sampai..!" kata An memasuki sebuah Restaurant yang terlihat kecil tapi sebenarnya punya pelayanan terbaik terhadap pelanggannya.
"heiii??" An mengetuk hidung Carrina yang melamun menatap bibirnya yang tersenyum.
Carrina tersadar, "ah? tidak Tuan sa-saya belum terbiasa melihat Tuan tersenyum." cicit Carrina.
"mulai sekarang biasakan lah!" kata An kembali tersenyum lebar tanpa memperlihatkan giginya saja sudah begitu tampan dan Carrina mengerjab-ngerjab linglung.
.
Carrina turun dari Mobil An sambil melihat sekeliling ternyata banyak juga pelanggannya Mobil ini.
"ayo cepat..!" ajak An.
Carrina berlari ke arah An lalu menarik ujung baju An seperti minta perlindungan dari tatapan Pria nantinya.
An diam saja sambil mengulum senyum tipis lalu mendaftar di meja kasir yang begitu ramah juga malu-malu menyapa An.
__ADS_1
"kenapa?" tanya An menoleh ke Carrina.
Carrina menatap An lalu tubuhnya semakin maju ke An dan memegang lengan An dengan kedua tangannya, An melihat situasi akhirnya paham banyak pelanggan yang melihat An juga Carrina, mereka seperti bertanya-tanya siapakah Carrina yang sangat cantik itu. Carrina bagai berlian didalam cangkang yang tidak pernah terlihat oleh publik.
An menatap tajam mereka semua yang segera menunduk serta membuang muka lalu An kembali melihat Carrina, "sudah...! kita kesini mau makan kan? bukankah kamu lapar? pikirkan saja dirimu sendiri jangan memikirkan apa yang dipikirkan orang lain."
perkataan An itu seperti menembus jantung Carrina, "pikirkan diri sendiri?" gumam Carrina sangat pelan.
An mendengarnya pun mengangguk, "kita akan makan di Ruangan Privat." kata An tersenyum tipis lalu kembali berbincang dengan kasir pemesanan.
Carrina melihat tangan An yang Ia pegang dengan kedua tangannya, "pikirkan diri sendiri?" batin Carrina.
Carrina ingin An bahagia tapi pikiran Carrina tentu ingin An menjadi miliknya, mencintainya dan hanya memikirkan Carrina saja, Carrina ingin hanya dirinya saja yang bisa membuat An bahagia.
"ayo..!" An pun melangkahkan kakinya sementara Carrina masih memegang lengan An dan sesekali Ia melihat An sehingga Ia tidak memikirkan Orang lain yang kagum dengan kecantikan naturalnya itu.
An tidak pernah jalan dengan perempuan lain selain kerabatnya tentu saja siapapun yang melihat mereka berdua jauh-jauh dari Kota lain membawa Carrina yang katanya lapar itu memiliki hubungan khusus.
salah satu Pelayan menuntun An ke Ruangan Pribadi yang tidak ada Orang lain di dalam sana selain Carrina dan An saja, Carrina duduk di hadapan An sedangkan An memesan makanan yang Ia mau dan untuk Carrina.
.
"kenapa diam? bukankah kamu lapar? makanlah!!" pinta An.
Carrina mengangguk lalu melihat An makan dengan tangan pun meniru An mencuci tangannya terlebih dahulu dan mencicipi makanannya dengan serius, matanya seketika mengerjab lalu berbinar ternyata memang sangat enak.
An menahan tawanya melihat Carrina makan begitu lahap seperti anak kecil yang boleh makan banyak dan Ia fokus dengan makanannya juga, An tidak ingin Carrina kehilangan nafsu makannya jika melihat dirinya tengah memandang Carrina.
"Tuan ini sangat enak..!" racau Carrina.
"mau nambah?" tanya An.
"apa boleh?" tanya Carrina balik.
An terkekeh dan mengangguk lalu menekan bel di meja nya sehingga salah satu pelayan masuk ke Ruangan mereka, An memesan satu porsi lagi untuk Carrina yang tersenyum dengan mata berbinar.
Carrina pertama kali makan enak dan dibawa jauh oleh An, Ia tidak menyesal sama sekali tidak dibawa oleh Orang BlackMalv sebab An membawanya ke tempat lain dan yang lebih utama Carrina bisa dekat dengan An.
.
__ADS_1
.
.