
HAPPY READING...
***
Sesuai dengan perintah Arjun pagi tadi, tepat pukul 2 siang Galih meninggalkan Gedung Pradipta Group untuk menjemput Akira pulang kuliah.
Jalanan Ibukota siang ini benar-benar panas dan juga sesak oleh kendaraan lain.
Galih menduga kalau ada kecelakaan di depan sana yang membuat jalan terlihat macet.
Tapi karena Mobil yang dikendarainya berada di ruas tengah, Galih tidak bisa memutar arah sedikitpun.
"Agghh... br*ngsek!" umpatnya beberapa kali.
Apalagi siang tadi, Galih sama sekali belum memakan apapun dan sekarang perutnya benar-benar kelaparan. Nasib memang, tapi bisa apa dia di saat seperti ini.
Cukup lama Galih menunggu, hingga jalanan di depannya mulai berangsur-angsur terurai dari kemacetan.
Dan tentu saja Galih tak menyia-nyiakan waktu untuk mempercepat laju kendaraannya.
Tak terasa mobil yang Galih kendarai telah tiba di depan Kampus Akira.
Tidak banyak mahasiswi yang berada disana hingga membuat Galih sedikit kebingungan.
"Apa gue terlambat?"
Padahal biasanya Akira berada di di depan sana menunggu jemputan.
Galih turun dari mobil, berjalan masuk gerbang sambil sesekali mengedarkan pandangannya.
"Apa gue telpon Arjun saja?" gumam Galih seorang diri.
Apalagi saat melihat jam di pergelangan tangannya masih ada waktu sebelum rapat umum di laksanakan.
"Halo Jun," ucap Galih saat teleponnya tersambung.
"Lo sudah sampai?"
"Hm, tapi Akira tidak ada di gerbang kampus...".
"Iya... barusan Akira mengirim pesan padaku kalau dia ada kelas tambahan, sekitar 30-40 menit lagi..."
"Oh," Galih pun mengangguk paham.
pantas saja tidak ada Akira di luar...
"Tunggu saja... gak lama kok," pinta Arjun sedikit memohon.
"Oke-oke..." jawab Galih mengiyakan. Toh tidak ada ruginya kalau Galih menunggu di sini sedikit lebih lama.
"Thank's ya...".
Setelah itu, sambungan telepon Arjun pun terputus.
Berbicara dengan Arjun barusan sampai membuat Galih tak menyadari kalau langkah kakinya semakin membawanya masuk ke dalam gedung tersebut.
__ADS_1
Senyum pria itu langsung melengkung sempurna di bibir Galih.
Apa dia sudah pulang? batin Galih bertanya-tanya.
Di Universitas ini juga adik perempuan Galih belajar.
Karena punya banyak waktu, Galih memutuskan untuk berkeliling mencari Fakultas Bisnis dan Management dimana Adiknya belajar.
Langkah demi langkah semakin membawa Galih jauh masuk ke sana. Semua ini tak luput dari kebaikan hati Arjun dan Tuan Johan. Karena mereka lah Galih bisa menyekolahkan adiknya di kampus bergengsi seperti ini.
Dan Galih sangat berharap adiknya mampu dan bisa mendapatkan pekerjaan di Pradipta Group juga.
Tapi mungkin kali ini bukan saatnya Galih bisa bertemu dengan adiknya, karena di depan sana tak sengaja melihat seseorang yang di ia kenali.
What? dia kan?
Inilah definisi keberuntungan. Karena tanpa Galih sengaja di dapat bertemu dengan wanita yang beberapa hari terakhir membuat pikirannya campur aduk. Siapa lagi kalau bukan Lea, gadis yang ia temui di Club malam beberapa kali.
Sedang apa dia disini? eh... itu kan... Galih semakin terkejut karena bukan hanya melihat Lea saja. Gadis itu terlihat berbicara dengan seorang pria. Galih ingat dengan wajah pria itu, tapi ia tak begitu ingat namanya...
Aduh.. itu kan... siapa sih namanya, gue lupa... Yang jelas, dia yang di pukuli Arjun waktu itu...
Selingkuhan Akira lebih tepatnya.
Mereka saling mengenal? batin Galih bertanya-tanya.
Karena penasaran, Galih mengendap-endap untuk mendekati mereka. Dan di sinilah Galih berdiri. Tepat di sudut ruangan untuk mendengar pembicaraan apa yang mereka bahas.
"Ngapain Lo kesini?" tanya Dean kepada Lea.
"Gue sudah bilang kan, tunggu 2-3 hari lagi... gak perlu Lo kayak gini," ucap Dean ketus. Toh pada kenyataannya Dean bukanlah pion bagi Lea untuk melancarkan aksinya. Sejak awal Dean sudah memaksa untuk bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri. Ia tak mau di atur oleh siapapun termasuk Lea.
"Lo itu kelamaan... tinggal kasih lihat kepadanya apa susahnya sih..." omel Lea.
Kesal sekali gadis itu telah mempercayai Dean untuk rencananya.
"Gue juga perlu memperbaiki hubungan kami dulu bukan... mana percaya dia kalau tiba-tiba gue nyerahin itu semua?" begitu Dean berucap.
Galih masih berdiri sambil menajamkan telinga.Rencana apa? dan untuk siapa? begitu hatinya bertanya-tanya.
"Pokoknya gue gak mau tau... Lo bilang 2 hari kan? pokoknya sampai 2 hari kalau Lo tidak bertindak, gue akan bertindak sendiri..." ancam Lea.
"Oke-oke... jangan khawatir..." jawab Dean.
Galih mengintip sedikit untuk melihat apa yang tengah terjadi. Melihat Lea bersiap meninggalkan Dean, membuat Galih menyembunyikan diri dan memunggungi ke arah salah satu ruangan sambil menempelkan ponsel seolah-olah sedang menelpon seseorang.
Hingga suara high heels milik Lea terdengar semakin menjauh.
"Gue benar-benar tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan..." gumam Galih pelan.
***
Galih berada di dalam mobil saat Akira mulai berjalan keluar seorang diri.
Hal itu tentu saja di lihat oleh Galih dengan saksama. Apalagi semakin mengejutkannya adalah ketika seorang pria yang mengendarai motor terlihat menghentikan langkah Akira.
__ADS_1
Galih tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi ada senyum Akira yang menandakan bahwa mereka berhubungan baik.
Apa-apaan ini ... Akira kembali akrab dengan pria itu? Apa Arjun tau hal ini? Gawat! apa Lea dan pria itu berusaha untuk mengadu-domba Akira dan Arjun? mereka sekongkol?
Batin Galih dengan prasangka buruk yang kemungkinan terjadi pada sahabatnya.
"Aku duluan ya Yan..." ucap Akira sambil melihat ke arah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari dirinya berdiri saat ini.
Gawat! itu mobil Galih... batin Akira khawatir.
"Oke," ucap Dean dan Akira langsung berjalan sedikit cepat menuju ke arah mobil tersebut.
Aduh... kenapa aku tidak melihatnya tadi... bagaimana kalau Galih mengadu pada Arjun... Arjun akan salah paham nanti... tentu saja Akira mengkhawatirkan semuanya. Padahal yang sebenarnya Dean lah yang menyapanya duluan tadi.
Sambil memeluk beberapa buku di dadanya, Akira mendekati mobil. Bahkan tangannya yang dingin menandakan bahwa Akira terlihat cemas.
Eh, dia tidur? batin Akira terkejut saat sudah di samping pintu depan mobil itu. Dilihatnya Galih sedang menundukkan kepalanya dengan mata terpejam seperti seseorang yang sedang tertidur.
Dengan sangat pelan, Akira mengetuk kaca di depannya untuk membangunkan Galih.
"Eh..." Galih berpura-pura terkejut dan membuka mata,
"Lo ketiduran?" tanya Akira dengan nada bergetar.
Gue pura-pura tidur Akira... padahal gue melihat semuanya... batin Galih.
"Mau bagaimana lagi... Kamu sangat lama keluar..." jawab Galih.
"Hehehe..." Akira hanya membalas dengan senyuman. Toh dalam hatinya ia merasa sangat lega karena Galih tidak melihat kejadian tadi.
Setidaknya gue harus diam sampai benar-benar mendapat bukti... batin Galih saat melihat Akira mulai duduk di bangku tengah mobil tersebut.
Gue harus menyelidiki rencana apa yang Lea dan pria itu buat... apakah untuk merusak hubungan Arjun dan Akira atau masalah lain.
Dan Gue juga ingin tau, apakah Lea benar-benar Alya yang ku kenal dulu...
Mobil mulai melaju meninggalkan Kampus. Membelah jalanan dan beradu dengan kendaraan lain.
"Arjun bilang ada rapat tadi..." ucap Akira berusaha untuk memulai percakapan dengan Galih.
"Iya, rapat dengan pemegang saham Perusahaan..." jawab Galih.
Jangan menunjukkan ekspresi seperti itu Akira... Arjun akan tau kalau Lo mencemaskan sesuatu...
Semoga Galih benar-benar tidak melihatnya tadi... Walaupun aku tidak lagi memiliki perasaan pada Dean, tapi tetap saja... Arjun tidak akan mudah mempercayai hal itu... Aku tak mau dia salah paham... batin Akira.
Di lain tempat, Lea sedang mengemudikan mobilnya sambil sesekali menganggukkan kepala meresapi musik yang di mainkan.
Senyum yang jelas mengukir bibirnya mengadakan kalau Lea sedang bahagia.
Sabar untuk sebentar lagi Lea... Lo akan mendapatkan apa yang Lo inginkan...
Menjadi kekasih dari anak pemilik Pradipta Group... Lo benar-benar akan hidup terjamin...
***
__ADS_1
Jeng jeng jeng... benar kan kalau Dean emang bersekongkol dengan Lea...