Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
122. Tempat Makan Romantis.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira menatap ke arah samping kolam renang dari balik pintu kaca. Sangat jelas terlihat kalau tatapan itu penuh dengan rasa kekecewaan dan kesedihan yang tidak dapat di ungkapkan betapa besarnya.


Disana ada 2 buah bangku berseberangan dengan meja yang bundar yang di atasnya telah terpajang lilin menyala berwarna merah, 2 buah gelas lengkap dengan minuman dan piring sebagai tempat makanan mereka.


Disana lah Akira ingin menikmati makan malam romantis dengan Arjun.


Tapi semuanya terlihat sia-sia karena sampai jam menunjuk ke angka 8 malam, Arjun tak kunjung datang.


Akira memutuskan untuk duduk di salah satu kursi itu seorang diri. Menatap nanar dekorasi tempat yang sudah ia rancang sebelumnya.


Nyatanya hanya Akira lah yang menikmati hal itu seorang diri.


Seharusnya dia tidak usah berjanji untuk pulang lebih awal bukan?


itulah satu-satunya kata yang mampu terucap dari bibirnya.


Masih saja termenung, seorang pelayan sedang berbisik dengan rekannya di balik pintu kaca.


"Bagaimana ini? Nona Akira terlihat sedih...",


Semua orang juga akan mampu melihat kesedihan itu termasuk para pelayan.


"Apa aku perlu kesana? apa Nona tidak akan merasa tersinggung nanti?"


"Tawari Nona sesuatu, mungkin saja bisa membuat mood nya kembali...",


Salah satu pelayan mulai berjalan mendekati Akira. Sangat oelan bahkan sampai beberapa kali menengok ke arah rekannya apakah harus lanjut atau kembali lagi,


"Nona... Nona membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan itu dengan gugup.


"Tidak," jawab Akira singkat dengan nada lemah.


Apa lagi yang ia perlukan saat ini selain kedatangan Arjun, tapi nyatanya pria itu tak juga cepat pulang ke rumah.


Jika asa Mami Livia, mungkin Akira akan merasa lebih baik. Tapi malam ini Papi dan Mami sedang pergi menghadiri acara teman mereka.


Dan tinggal Akira yang berada di rumah ini, sendirian.


"Baiklah, kalau Nona butuh sesuatu panggil saya..." pelayan itu menundukkan kepalanya dan langsung undir diri.


Aggghh... Akira menghela nafasnya yang terasa sesak dan mbuat dadanya seperti tertekan.


Udara malam kian terasa. Akira menatap ke arah langit di atas sana.


Kolam renang ini memang tidak ada atap. Jadi pemandangan di atas sana langsung terpampang nyata.


Langit malam dengan Bulan dan taburan bintang di atas sana yang terlihat beberapa lalu, Tiba-tiba sirna sudah. Digantikan oleh awan hitam yang amat gelap.


Mungkin seperti inilah perasaan Akira, gelap segelap langit yang di penuhi oleh awan pembawa hujan yang sebentar lagi akan menjatuhkan air dan membasahi bumi.


Akira masih termenung sendirian saat butiran air hujan mulai jauh. Tentu saja semua itu mampu di lihat oleh 2 pelayan yang sedari tadi mengawasi Akira.


Kedua pelayan itu langsung berlari menghampiri Akira saat dirasa air hujan mulai bertambah deras.


"Nona... sebaiknya Nona segeramasuk..." ucap pelayan itu dengan sopan.


Bila-bila Akira akan sakit jika terus menunggu disana dalam keadaan kehujanan.


Akira menatap nanar pemandangan di depannya yang bahkan belum ia dan Arjun nikmati sama sekali. Tapi mau bagaimana lagi, hujan lebih dulu datang tanpa permisi.

__ADS_1


Dengan di temani oleh pelayan, Akira mulai meninggalkan kolam renang sambil tangannya membawa kotak kecil hadiah yang akan di berikan kepada Arjun. Sedangkan salah satu pelayan itu membawa kue ulang tahun kembali ke dalam rumah.


Akira sejenak menengok ke arah kolam, lilin yang tadinya menerangi tempat itu mulai padam karena air hujan. Begitu juga dengan kursi dan meja disana, basah.


Seharusnya ia tidak usah berjanji kalau tidak mampu menepati nya... masih saja seperti itu yang terucap dalam bibir Akira.


Hanya kata seandainya yang berputar dalam kepala membuat hatinya terasa sesak dan sakit.


Seandainya Arjun bilang kalau ia tidak bisa pulang lebih awal, Akira tak akan terluka seperti ini. Ia tidak akan terlalu berharap bahwa akan ada makan malam romantis dengan pria itu.


Cukup memberikan kado kepada Arjun tanpa menyiapkan apapun.


Ya... harusnya seperti itu.


Akira masuk ke dalam kamar. Naik menuju ke ranjang dan bersiap tidur.


"Nona... kue ulang tahunnya mau di taruh mana?" tanya pelayan itu sedikit takut dan juga kasihan.


Nona Akira telah membuat kue ini dengan begitu banyak cinta...


"Buang saja," perintah Akira.


Tapi beda lagi dengan pelayan, kue yang di buat oleh orang spesial tentu saja sangat penting bagi Tuan mudanya nanti. Sehingga pelayan itu hanya berkata iya tapi menaruh kue tersebut di atas meja, mungkin saja Tuan Muda akan melihatnya saat pulang nanti.


"Tutup pintunya, aku mau tidur..." perintah Akira.


"Baik Nona... selamat malam," pelayan itu segera undur diri menutup pintu kamar Akira dengan sangat pelan.


Di lain tempat, Arjun dan Galih baru saja keluar dari Gedung Perusahaan.


Mereka dalam perjalanan pulang di temani oleh hujan yang amat deras, bahkan mengharuskan Galih untuk sedikit mengurangi kecepatan mobilnya.


Tau kan bagaimana jalanan di negara ini?


"Pasti Akira akan marah nanti," duga Arjun. Karena ia sudah sangat terlambat dari janji yang sudah ia ucapkan kepada istrinya tadi pagi.


Nyatanya jam 9,Arjun baru bisa menyelesaikan pekerjaannya.


"Tinggal bilang lembur kan bisa... lagian Lo lembur begini juga karena untuk bulan madu kalian..." sela Galih.


Para wanita akan senang jika di berikan surprise seperti itu, secara Arjun dan Akira memang belum pernah liburan sama sekali.


"Iya, nanti gue akan bilang apa adanya...",


Tak terasa 30 menit berlalu, Mobil berwarna hitam itu mulai memasuki pelataran rumah Pradipta dan berhenti tepat di depan teras.


Salah satu penjaga pintu langsung menghampiri mobil itu, membuka pintu untuk Arjun.


"Selamat datang Tuan muda," ucapnya dengan hormat.


Sedangkan Arjun hanya mengangguk.


"Aku langsung pulang ya..." pamit Galih.


"Oke, Hati-hati...",


Setelah itu mobil Galih kembali pergi.


Arjun masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi. Walaupun tidak sedang hujan, rumah itu memang selalu terlihat sepi.


Karena yang membuat rumah menjadi hidup adalah tawa, teriakan dari seorang anak kecil.


Sedangkan di rumah ini, hanya ada orang dewasa saja.

__ADS_1


Jadi seperti inilah suasana yang tercipta.


"Dimana Akira?" tanya Arjun kepada pelayan sambil menyerahkan tas kerja kepadanya.


"Nona Akira berada di kamar Tuan muda,"


Arjun hanya mengangguk dan terus berjalan. Hingga tiba di dadar anak tangga, pandangannya tertuju pada pintu kaca di ujung sana. Apa itu?


Kaki Arjun sejenak terhenti, dan kini mulai teralihkan untuk melihat ke kolam renang.


Tentu saja pelayan di belakang Arjun mengikutinya tanpa di perintah.


"Nona Akira yang mendekorasi nya Tuan Muda," lapor pelayan itu. Walaupun sudah sangat berantakan, tapi Arjun masih melihat bekas lilin berwarna merah lengkap dengan peralatan makan romantis yang basah oleh hujan.


Maafkan aku Akira... Arjun tidak pernah menyangka kalau Akira akan melakukan hal semanis ini di hari ulang tahunnya.


Jika tau hal ini, mungkin Arjun tidak akan pulang terlambat.


Tapi semuanya telah terjadi.


"Nona Akira juga telah mempersiapkan kue untuk Tuan Muda sejak pagi tadi. Membuatnya sendiri di dapur...",


Hati Arjun terasa teriris dengan ucapan pelayan itu. Betapa ia sangat kejam kepada istrinya.


Tanpa berpikir panjang, Arjun berlari meniti anak tangga untuk menuju ke kamar menemui istrinya.


Mendorong pintu kamar dengan sangat pelan dan masuk ke dalam. Hal pertama yang Arjun lihat adalah sosok istrinya yang tidur diranjang dengan posisi miring ke kanan.


Arjun memerintah pelayan agar menaruh tasnya di sofa dan segera pergi.


Dan benar saja, di meja ada sebuah kotak besar yang diduga adalah kue ulang tahun Arjun. Pria itu segera mendekatinya, melihat kue berbentuk bulat dengan tulisan Happy Birthday Sayang dari cokelat.


Serta lilin dengan angka 28 sesuai umurnya saat ini.


Arjun membawa kue itu mendekati ranjang dan menaruhnya di nakas. Hal pertama yang ia lakukan adalah meminta maaf kepada istrinya.


"Sayang..." panggil Arjun pelan. Tangannya terulur untuk menyentuh anak rambut Akira yang menutupi sebagian wajahnya.


Arjun benar-benar tak menyangka kalau malam ini Akira benar-benar berdandan di hari spesial Arjun. Gaun yang istrinya kenakan juga indah dan membuat kecantikan Akira semakin terpancar.


"Sayang..." panggil Arjun lagi. Ia tau kalau saat ini Akira hanya pura-pura tertidur saja. Karena biasanya saat gadis itu tidur dan Arjun menggodanya, Akira refleks menggunakan tangannya untuk mengusir Arjun tapi kali ini beda. Akira hanya diam saja tanpa mau membuka matanya.


"Aku tau kamu pura-pura tidur... bangunlah..." perintah Arjun. Tapi Akira masih tak bergeming sedikitpun.


"Sayang, kamu mau menguji kesabaranku?" tanya Arjun dengan nada menggertak.


Dan benar saja, Akira langsung bangun dan memukulnya.


"Jahat!" itulah kata pertama yang terucap dari bibir Akira.


Tangannya terus memukul dada Arjun hingga membuat matanya mulai berair.


Akira benar-benar kecewa karena Arjun tidak bisa menepati janjinya.


Padahal Akira telah berdandan dan menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik, bahkan ia juga berkutat seharian di dapur untuk membuat kue spesial.


"Jahat, kamu sangat jahat!" ucap Akira dengan berderai air mata.


Tentu saja hal itu di gunakan Arjun untuk merengkuh tubuh istrinya. Menenggelamkan nya dalam dada bidang miliknya. "Maafkan aku sayang... maaf, aku benar-benar minta maaf...".


"Seharusnya tidak perlu berjanji untuk pulang lebih awal kalau tidak bisa menepati nya..." ucap Akira di sertai isak tangis yang masih terdengar menyedihkan.


"Maafkan Aku...",

__ADS_1


...***...


__ADS_2