
HAPPY READING...
***
Gadis baru sadar bahwa putranya jauh dari pengawasan ketika ia sibuk bicara dengan kakak iparnya.
ia mulai panik ketika Cello tak lagi ada di taman samping gedung Pradipta Group.
"Dimana putraku?" tanya Gadis kebingungan. sesekali ia menanyakan pada karyawan yang lewat, tapi mereka sama sekali tidak melihat Cello. membuat Gadis semakin panik dan khawatir bahkan hampir menangis.
Gadis berlari menuju ke ruangan dimana Arjun dan Suaminya tengah berbicara. dengan wajah puas dan tubuh yang bergetar, "Cello tidak ada Yon... Cello tidak ada..." adu Gadis.
hingga air matanya lolos begitu saja tanpa bisa dicegah.
"Ha?" Arjun dan Dion langsung terperanjat kaget.
"Cello tidak ada dimana-mana... bagaimana ini?" Gadis masih meracau seperti tadi. bahkan isak tangis seorang ibu sungguh membuat hati siapa saja ikut tersentuh.
"Jangan panik, jangan panik... coba ceritakan dulu.. bagaimana Cello bisa lepas dari pengawasan mu sayang..." ucap Dion masih terlihat tenang. karena sebuah masalah jika di hadapi dengan keadaan panik justru tak ketemu jalan keluarnya.
"Duduklah dulu sayang..." pinta Dion, membawa sang istri duduk di sofa yang ada di sudut ruangan Arjun. sedangkan Arjun juga mengikuti langkah keduanya. mendengar penjelasan Gadis lebih dulu baru bertindak.
"Coba ceritakan...".
Gadis mulai bercerita bagaimana awal kejadian itu. dimana ia bertemu dengan Rega, kakaknya Dion secara tak sengaja di samping gedung Pradipta Group. mereka terlibat percakapan cukup lama hingga Gadis tak menyadari kalau Cello tak lagi berada di dekatnya. entah kemana bocah itu pergi, Gadis telah mencarinya ke depan gedung, di dalam juga di manapun. tapi Cello benar-benar tidak ada. padahal Cello tak pernah sekalipun seperti ini. pergi tanpa memberi tau Papa dan Mamanya. apalagi Ibukota adalah kota asing bayi bocah berusia 4 tahun itu.
Gadis hanya takut, takut kalau Cello hilang atau mungkin tersesat atau bahkan di culik seperti kejadian-kejadian yang sering Gadis lihat di berita.
"Gue takut Yon... bagaimana ini? ayo kita cari Cello..." rengek Gadis semakin membuat suasana menjadi tegang.
"Rega tak mungkin berniat buruk bukan?" tuduh Arjun. bagaimanapun semua orang tau bagaimana perilaku Rega di masa lalu. dan bahkan pernah menculik adiknya sendiri dan juga Gadis.
Pertanyaan Arjun seketika membuat Gadis menatap nya. sedikit terkejut memang kalau Rega sampai melakukan hal itu. walaupun ada sedikit ketidakpercayaan juga. Gadis sedikit tak yakin kalau Rega sampai sejahat itu.
"Tidak..." tolak Dion yakin. "Mas Rega tak mungkin melakukan hal itu..." entah kenapa Dion yakin kalau Rega tak seperti yang Arjun tuduhkan tadi.
Bersamaan dengan itu, Galih masuk ke dalam ruangan dengan membawa tumpukan berkas perusahaan. pandangannya teralihkan dengan semua orang yang terlihat aneh apalagi dengan Gadis yang menangis.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya Galih kebingungan.
Meletakkan berkas di meja kerja Arjun dan langsung mendekat ke arah mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Cello hilang..." lapor Arjun.
"Ha? bagaimana mungkin?" Galih juga tak percaya kalau ada yang hilang di tempat ini.
"Ayo Yon... kita cari Cello... ayo..." rengek Gadis sambil menarik tangan suaminya agar segera bertindak.
"Ayo kita cari dia..." jawab Dion serentak. juga dengan Arjun yang ikut mencari keberadaan bocah berumur 4 tahun itu.
Dion, Gadis, Arjun dan juga Galih segera meninggalkan ruangan Presdir. "Gue dan Gadis akan mencarinya di taman samping gedung..." ucap Dion pada sahabatnya. sedangkan Arjun langsung memberi perintah pada beberapa anak buahnya agar ikut mencari keberadaan Cello.
"Lo mau kemana?" tanya Arjun pada Galih.
__ADS_1
"Ruang CCTV," jawab Galih. melelahkan sekali jika harus berkeliling di Pradipta Group kalau hanya mengawasi dari CCTV saja, mungkin mampu menjawab segala kebingungan mereka.
Dion dan Gadis panik, menggunakan Lift khusus Petinggi Perusahaan mereka menuju ke lantai dasar gerung Pradipta. karena di sanalah semuanya berasal.
Beberapa anak buah Arjun juga terlihat menyisir setiap lantai tempat itu, mencari keberadaan Cello.
"Tadi kami disini..." tunjuk Gadis pada bangku taman samping gedung. di sanalah ia duduk dengan Cello hingga pada akhirnya tak sengaja bertemu dengan Rega.
Tak berapa lama, sebuah panggilan masuk dalam ponsel Dion. Siapa lagi sih...? batinnya sedikit terganggu.
Dion merogoh saku kemejanya untuk mengambil ponsel itu. mengamati siapa yang menelponnya saat genting seperti ini.
Bersamaan dengan itu Galih terlihat sibuk mengamati gambar-gambar dari beberapa sudut yang ada di Pradipta Group. hingga fokusnya teralihkan pada bagian belakang. terlihat jelas ada Cello yang tengah asyik berbicara dengan seorang pria paruh baya.
"Benar kan dugaanku..." gumamnya pada diri sendiri.
Karena sebelum masuk ke ruangan Arjun tadi, Galih memang bertemu dengan Rega dan Papanya. dan Galih menduga kalau anaknya Dion memang bertemu dengan salah satu darinya.
Saatnya mereka bertemu...
"Halo Gal... ada apa sih?" tanya Dion sewot.
"Pergilah ke belakang gedung Pradipta.. Cello ada disana..." jawab Galih memberi informasi.
"Ha? belakang? ngapain dia di sana?" tanya Dion penasaran tapi yang ditanya malah tidak menjawab sama sekali. menyebalkan nya lagi, Galih memutuskan panggilan teleponnya membuat Dion sedikit mengumpat karena kesal.
"Apa yang dikatakan Galih?" tanya Gadis ikut penasaran.
"Cello ada di belakang gedung..." jawab Dion.
"Ayo kita kesana..." ajak Gadis tak bisa di cegah.
Selama Gadis dan Dion menuju ke belakang gedung, terlihat sekali Cello tertawa bersama pria paruh baya di sampingnya.
"Hahaha... kamu sangat pintar nak..." puji Aya Guna. mengelus pucuk kepala Cello seperti yang selalu di lakukan orang tua terhadap anak kecil.
"Jadi kakek mau ikut dengan ku?" tanya Cello. Mereka masih membahas tentang rumah Cello di desa. dimana sangat asri dan sejuk karena berada di balik sebuah bukit.
"Kamu belum menjawab pertanyaan kakek... siapa nama Papamu..." sela Arya Guna.
"Nama Papa adalah... -,"
"Cello..." teriak Dion panik. berlari mendahului istrinya mendekati Cello. dengan serentak Dion mengangkat tubuh Cello, menggendongnya dan menjauhkannya dari pria tua itu.
"Papa..." panggil Cello.
Sejenak Arya Guna syok melihat pemandangan di depan sana. Tiba-tiba ia bangkit dengan tatapan tak lepas mengamati siapa yang dipanggil Cello dengan Papa.
"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Gadis. menggenggam tangan Cello dan mengamati mulai dari wajahnya, tangannya bahkan kaki Cello. mungkin saja ada luka disana.
Dia anaknya Dion? batin Arya Guna tak percaya. ternyata sejak tadi ia berbicara dengan cucunya sendiri. wajahnya pias karena tak menyadari hal itu. putra yang telah ia usir tiba-tiba berada di depan matanya bersama dengan istri dan juga anak mereka.
"Papa sudah bilang kan, jangan merepotkan Mama..." ucap Dion terdengar serius.
__ADS_1
"Cello hanya bicara dengan kakek..." tunjuk bocah itu pada sosok di belakangnya. membuat Dion dan Gadis sejenak kembali menatap Papa.
"Apa dia anakmu? Di-on?" tanya Papa dengan nada bergetar. setelah sekian lama, Papa benar-benar melihat Dion. melihat anak yang pernah di usir dan keluarga dari rumah gara-gara ucapannya. anak yang selalu membantah perintahnya dan juga anak yang tak sengaja terkena timah panas di lengannya.
Dion tak menjawab pertanyaan dari Papa nya. "Cello... lain kali jangan bicara dengan orang asing lagi... karena... belum tentu orang asing itu baik..." ucap Dion pada putranya.
Membuat Cello mengangguk walaupun sebenarnya kakek yang diajaknya bicara bukanlah orang jahat. sedangkan Gadis, menatap lekat suaminya seperti ingin protes.
sebenci apapun Dion, tidak sebaiknya ia menyamakan Papanya seperti orang asing.
"A-sing?" tanya Papa tak percaya.
"Ayo kita pergi," ajak Dion sambil menggendong Cello, pria itu juga menggenggam tangan Gadis. ia tak mau mereka berlama-lama di tempat itu. setidaknya menghindari seperti kebiasaan-kebiasaan yang Dion lalukan di masa lalu. menghindar kala menghadapi masalah.
"Yon..." tolak Gadis. entah kenapa melihat ekspresi Papa saat ini benar-benar aneh. ada sebuah kesedihan di mata pria paruh baya itu ketika Dion hendak pergi.
"Gadis..." panggil Dion memohon. Jangan sekarang... begitu sorot matanya bicara.
karena Dion belum siap. melihat sang Papa, seperti membuka luka lama Dion. hatinya sakit mengingat semua ketidakadilan yang pernah ia dapat. bahkan luka di lengannya seperti kembali berdenyut mengingatkan Dion kalau pria itulah yang memberinya luka.
Masih bersetetu dengan pikirannya, Papa berucap "Apa sebenci itu kalian pada Papa?". membuat langkah Dion benar-benar terhenti. tapi tak berani memutar tubuhnya menatap Papa.
"Apa Papa sangatlah buruk hingga tak pantas mendapatkan maaf darimu Dion...?" tanya Papa lirih. membuat Dion semakin lemah. bahkan saat menatap istrinya, Gadis malah menitikkan air mata.
"Apa hukuman yang Papa terima selama ini belumlah cukup? hingga kamu pergi dan memperkenalkan pada anakmu bahwa aku adalah orang asing..." ucap Papa dengan nada bergetar. sungguh ucapan Dion tadi benar-benar menyakitkan baginya. mengatakan bahwa Papa adalah orang asing bagi mereka.
Dion masih tak bergeming sedangkan Gadis telah menitikkan air matanya dan semakin deras. "Mama..." rengek Cello dalam gendongan Dion. bingung melihat ibunya yang menangis tapi diusianya yang masih kecil, Cello tak tau apa penyebabnya.
"Lalu Anda ingin diperkenalkan dengan sebutan apa Tuan Arya guna?" tanya Dion menantang.
"Jaga bicaramu Dion!" teriak Rega yang entah darimana datangnya tiba-tiba berada di sana. membuat Cello kecil semakin takut, karena ada orang lain yang membentak Papanya.
"Papa..." rengek Cello lagi.
"Lihatlah,... lihatlah ini... kalian semua menakuti putraku... bahkan kakeknya tak pernah sekali pun bicara dengan nada tinggi..." sela Dion. dalam ucapannya seperti tengah memberitahu kepada Papa dan Rega kalau keluarga mereka berperangai buruk. membandingkan dengan orang tua Gadis tentang bagaimana cara bicara mereka.
Padahal Ayahnya Gadis adalah orang yang sangat disegani oleh warga desa, berkepribadian tegas tapi di depan Cello, Ayah tak pernah sekali pun meninggikan suaranya. itulah sebabnya Cello sangat dekat dengan beliau.
"Dion!".
"Cukup Rega..." tolak Papa. ucapan Dion memang benar adanya. keluarga Arya Guna bukanlah keluarga yang diimpikan oleh semua orang. bahkan karena sikapnya lah istri dan juga Dion pergi darinya.
"Biarkan adikmu bicara...".
"Maafkan Dion Pa..." ucap Gadis tiba-tiba. membuat Dion spontan menatap ke arah istrinya karena terkejut dengan permintaan maaf terlontar.
Papa? kenapa kamu begitu pemaaf, menantu ku? batin Papa. semakin merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan di masa lalu.
"Cello, kemarilah..." ucap Gadis pada putranya. mengambil Cello dari gendongan Dion walaupun sebenarnya Dion tak ingin tapi melihat tatapan yakin istrinya, Dion menyerahkan Cello juga.
Masih dengan Dion yang berdiri membelakangi sang Papa beserta Rega, Gadis berjalan mendekati mereka sambil membawa Cello dalam gendongannya.
***
__ADS_1
***