
HAPPY READING...
***
Akira masih sibuk di depan cermin. Mengamati pelayan yang dengan profesionalnya mengoleskan step by step make up di wajahnya. Sesekali Akira menurut untuk memejamkan mata untuk menghindari matanya terkena bedak atau apapun itu, Akira tak paham. Ya... ia tidak pernah menggunakan itu semua setiap hatinya.
Terkadang Akira juga merasa sangat mengantuk karena terlalu lama memejamkan mata, "Nona Akira, jangan bergerak..." pinta pelayan itu dengan sangat karena jika Akira tak sengaja menggerakkan wajahnya otomatis akan merusak hasil karya pelayan tersebut.
Bisa-bisa saat mengaplikasikan Eyeliner di dekat bulu mata, akan tercoret kemana-mana nanti.
"Hooaammm..." Akira menguap beberapa kali. Sebenarnya semua ini adalah ulah si Arjun yang meminta untuk merias wajah istrinya.
Padahal mereka hanya akan menghadiri pesta kelahiran anak dari sepupunya, tapi sepertinya Arjun berlebihan untuk melakukan itu. Lihatlah sekarang... Akira sudah seperti seorang pengantin yang akan menikah sebentar lagi.
Ya... selama inilah riasan untuk digunakan Akira, sama seperti saat menikah dulu.
"Masih lama lagi? bisa-bisa aku tertidur nanti..." protesnya lagi.
Aku mau jadi tamu, bukan sang pemilik acara...
"Sebentar Nona... Tuan muda juga bilang agar istrinya tampil cantik malam ini..." jawab pelayan.
Mereka tidak bisa asal menempelkan bedak di wajah Nona muda keluarga ini.
Semuanya benar-benar harus sempurna jika tidak ingin di pecat dari pekerjaan mereka.
Kedua pelayan ini juga yang selalu menata Mami Livia saat ada acara yang mengharuskan kedatangan dari pemilik Pradipta Group tersebut. Mereka benar-benar sudah ahli di bidangnya, dan sekarang Akira lah yang berkesempatan untuk itu.
Belum selesai dengan riasan nya, salah satu pelayan beralih pada rambut Akira.
Dulu rambut Akira mempunyai panjang sebatas bahu, tapi sekarang sudah memanjang mungkin sekitar 10-15 cm dari pundak.
"Rambut Nona sangat sehat," puji pelayan itu.
"Benarkah?" Akira berusaha untuk mengobrol dengan mereka untuk menghilangkan rasa kantuk yang bergelayut di pelupuk matanya sejak tadi.
"Iya Nona, rambut Nona hitam dan lebat...".
"Aku berencana untuk mewarnainya nanti..." ucap Akira penuh semangat. Selama sekolah, Akira belum pernah mewarnai rambutnya sama sekali, mungkin itulah sebabnya rambutnya benar-benar sehat dengan helaiannya yang tebal.
"Jangan aneh-aneh...", ucap Arjun yang entah dari mana tiba-tiba telah berada di dalam kamar mereka. Bahkan membuat pelayan itu langsung terdiam dan membungkukkan kepalanya sesaat.
"Kenapa?" tanya Akira pada bayangan Arjun dari cermin di depannya.
"Mau jadi apa dengan mewarnai rambut? jangan menyalahi ciptaan Tuhan... biarkan tetap hitam sesuai dengan warna aslinya," omel Arjun.
Ck... kenapa bawa-bawa Tuhan sih... sejak kapan dia jadi seperti itu?
"Dengar tidak?" tanya Arjun memastikan.
"Iya-iya," jawab Akira mengalah. Padahal ia hanya berencana, belum benar-benar mengecat rambutnya seperti yang Akira inginkan.
"Dia itu kenapa sih? lagi PMS ya?" bisik Akira kepada pelayan.
Sedangkan pelayan itu tidak menjawab sama sekali karena Arjun masih berada di dalam kamar tersebut.
"Akira... Aku masih mampu mendengarnya..." ucap Arjun seolah memperingati istrinya kalau tidak baik membicarakan orang lain tepat di depannya.
Oh, tajam sekali telinganya... Akira hanya bisa tersenyum di buat-buat.
Akhirnya setelah duduk di depan meja rias hampir 2 jam, akhirnya Akira telah menyelesaikan riasannya. Saat ini yang dilakukannya adalah berdiri sambil mengamati gaun biru yang melekat di tubuhnya dari cermin.
Sesekali memutar tubuhnya untuk mengamati bagaimana penampilannya dari sisi belakang.
"Mau berapa lama lagi ngaca seperti itu?" tanya Arjun. Walaupun yang terlihat Arjun sedang sibuk dengan ponselnya, tapi pria itu tau apa yang sedang dilakukan oleh istrinya tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana penampilanku?" tanya Akira memastikan. Cermin kejujuran terbaik adalah mata orang lain. Saat kita tak mampu melihat kekurangan diri sendiri, orang lain bahkan bisa melihatnya dengan detail.
"Cantik," puji Arjun tanpa melihat Akira dengan yakin.
"Benarkah? kamu bahkan tidak melihatku sama sekali..." Akira cemberut. Merasa kalau Arjun hanya berbicara tanpa mengamati bagaimana penampilan istrinya.
Mendengar Akira yang sedih, Arjun seketika mengangkat pandangannya untuk benar-benar memperhatikan sang istri.
"Cantik kok," pujinya lagi.
Tapi semua itu tidak membuat Akira merasa puas.
"Bohong," begitulah ribetnya perempuan. Saat ada yang memujinya, merek akan bilang kalau semua ucapan itu hanya kebohongan saja. Sedangkan saat di kritik tentang penampilannya, kaum perempuan juga akan lebih ngamuk bukan? hehehe... siapa yang sama? Angkat tangan!
Nih bocah maunya apa sih! kesal sendiri Arjun.
"Katakan yang jujur, Aku cantik tidak?" tanya Akira nyolot.
"Cantik sayang... kamu benar terlihat cantik malam ini... bahkan saking cantiknya, aku ingin menelanj*ngimu saat ini juga..." ucap Arjun.
Tentu saja apa yang dikatakan Arjun langsung membuat Akira menyipitkan mata, "Itu kebenaran atau sebuah pelecehan untukku?" tanyanya dengan nada dingin.
Ya Salam... salah kan gue! batin Arjun.
Hei makhluk bernama perempuan, kalian bisa tidak sih bersikap lumrah... jangan menciptakan masalah dan melimpahkan semuanya kepada kami seolah kami yang memulainya...
"Jadi aku jelek?" tanya Akira.
Arjun langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak... kamu cantik... benar-benar cantik...".
Arjun berusaha untuk menggenggam tangan istrinya, sudah tidak ada waktu lagi untuk mereka berdebat karena 1 jam lagi acara sudah di mulai bahkan jika mereka tidak segera berangkat saat ini, mereka benar-benar akan terjebak kemacetan.
"Sayang, kamu itu sangat cantik..." ucap Arjun dengan yakin.
"Benarkah?"
"Baiklah, ayo berangkat..." ucap Akira penuh semangat.
40 menit kemudian, Mobil Arjun mulai memasuki sebuah hotel yang memang digunakan untuk tempat acara malam ini. Parkiran sangat sesak oleh kendaraan tamu, tapi karena Arjun adalah keluarga inti ia langsung menuju ke Parkiran khusus tamu VIP.
Tak di sangka, saat turun dari mobil ada seseorang yang menepuk pelan bahunya.
"Woy!"
Arjun langsung mencari siapa yang berani memukul bahunya seperti itu, "Lo jangan kurang ajar Nyet..." umpat Arjun kepada pria yang ternyata adalah Dion.
Dion hanya tertawa, tapi pandangannya teralih pada sosok perempuan yang bersama Arjun, "Hai Akira..." sapanya pada istri Arjun.
"Hai," jawab Akira.
"Gue tadi sempat tidak menyadari kalau wanita cantik yang bersama Arjun adalah istrinya..." ucap Dion basa-basi.
"Hehe... Terima kasih..." Akira tersenyum manis dengan pujian Dion.
Tapi beda lagi untuk Arjun, pria itu langsung menampakkan wajah tak sukanya dengan apa yang dilakukan Dion pada istrinya.
Ck... apa-apaan dia itu!
Kesal? tentu saja... Arjun tidak suka Dion memuji istrinya seperti itu. Gue nyesel telah meminta pelayan untuk merias Akira seperti sekarang...
"Kalian mau masuk atau bicara disini?" tanya Arjun ketus.
Akira langsung merangkul tangan suaminya, sedangkan Dion tersenyum penuh arti.
Hahaha... ketahuan sekali kalau si monyet cemburu...
__ADS_1
Ketiga orang itu segera masuk ke dalam tempat pesta berlangsung.
"Galih tidak datang?" tanya Dion.
"Katanya sih datang," jawab Arjun sesuai dengan apa yang dikatakan Galih tadi pagi.
Mereka hanya janjian untuk bertemu di tempat acara. Tapi setelah Arjun dan Akira tiba, Galih belum terlihat batang hidungnya.
"Duduk disini..." perintah Arjun kepada Akira. Setidaknya Arjun harus waspada pada pria yang duduk di sisi kiri darinya, Akira tidak boleh duduk bersebelahan dengan Dion. Bagaimanapun Dion adalah buaya, yang mungkin saja tertarik pada istri sahabatnya sendiri. Apalagi penampilan Akira malam ini sangat cantik, Arjun tidak bisa mengabaikan hal itu.
Ck... kenapa gue tidak berpikir jauh sih, kalau begini kecantikan istri gue jadi konsumsi publik bukan? Agghh... nyesel gue!
Masih saja Arjun kesal dengan kebodohannya sendiri. Lihatlah para tamu yang sengaja menatap Akira, padahal Arjun ada di samping gadis itu. Sungguh hal itu membuat Arjun kesal.
"Akira, bagaimana perjalananmu tadi? apakah macet?" tanya Dion bahkan menjulurkan kepalanya demi untuk menatap Akira yang tertutup oleh bahu Arjun.
"Ya, lumayan lah..." jawab Akira sungkan. Ia bahkan tidak terlalu akrab dengan Dion.
Walaupun Akira sering di jemput oleh Galih, tapi mereka juga tidak akrab karena Galih tidak banyak bicara kepadanya. Sedangkan Dion, menurut Akira Dion sedikit lebih ramah dan menyenangkan dijadikan teman bicara.
"Gue tadi sempat terjebak kemacetan beberapa kali," ucap Dion.
"Gue nggak nanya Nyet!" Arjun berusaha untuk menutupi istrinya dari mata jahat Dion.
"Apaan sih Lo!" protes Dion. Padahal ia sedang mengobrol dengan Akira, tapi Arjun mengganggunya.
"Lo yang apaan, dia istri gue!" jawab Arjun memproklamirkan diri di depan Dion langsung.
Terus?
"Jangan macam-macam!" bisik Arjun tapi terdengar menakutkan.
"Hahaha... memang apa yang gue lalukan?" goda Dion. Ia hanya sedikit mengganggu ketenangan Arjun yang selalu bilang kalau tidak suka dengan istrinya.
Ck... munafik sekali...
Belum selesai berdebat, datang lagi satu orang yang lumayan merepotkan. Ya... dia adalah Galih.
"Sorry gais, gue telat..." ucap pria itu dan langsung duduk di samping Akira.
Di meja bundar itu, memang ada 6 kursi yang melingkari keja. Akira duduk di sebelah kanan Arjun, sedangkan Dion duduk di sisi kiri Arjun.
Di samping kanan Akira masih ada 3 kursi yang kosong dimana salah satunya di tempati oleh Galih.
"Apa yang salah sama gue?" tanya Galih kebingungan di tatap Arjun seperti sekarang.
Bagaimana Arjun tidak marah, masih ada 2 kursi kosong di dekat Dion tapi Galih malah duduk tepat di samping istrinya.
Arjun cemburu lebih tepatnya.
"Duduk Lo nyet!" timpa Dion.
Galih mengamati tempat duduknya dan masih belum paham, Apa sih?
"Sini, jangan deketin istri Arjun..." tambah Dion.
"Yaelah... yang punya istri, posesif banget..." ucap Galih dan langsung memindah tubuhnya menjauh 2 kursi dari Akira, dan sekarang duduk tepat di samping Dion.
"Lo mau gue pecat?" ancam Arjun masih sama seperti sebelum-sebelumnya.
Hingga membuat Galih tak lagi bersuara.
Sedangkan Akira dan Dion tertawa geli dengan kelakuan Arjun yang seperti anak kecil.
***
Hahaha... Ngebucin gais...
__ADS_1