
HAPPY READING...
***
Udara pagi langsung menyapa penduduk bumi. Sinar matahari siap untuk menghangatkan suhu udara yang semalam sempat dingin.
Menyinari sosok pria yang tengah berdiri di depan bodi mobil BMW tepat di pinggir jalanan.
Di bawah pria itu terlihat banyak sekali puntung rokok yang tersebar menandakan bahwa pria itu bergadang sejak semalam.
Dia adalah Dion.
Bahkan hingga pukul 9 pagi, pria itu masih setia menunggu seseorang di perbatasan Ibu kota sambil pikirannya menerawang jauh tanpa ujung.
Tak berapa lama, sebuah mobil juga ikut menepi di belakang mobil Dion. Turun seorang pria berjas dengan membawa koper di tangan kirinya dan berjalan mendekati Dion.
"Pagi Tuan muda," sapa pria itu mencairkan suasana yang begitu canggung dan tidak nyaman.
Sesekali tatapan pria berjas itu mengamati wajah Bos mudanya. Garis matanya terlihat jelas menandakan ada kerisauan dalam diri dan mungkin saja sebagai bentuk akibat karena begadang semalaman.
"Saya sudah mencairkan nya semua..." ucap anak buah Dion dan membuka koper hitam yang ternyata isi di dalamnya adalah uang dengan jumlah fantastis.
Setidaknya hanya itu yang di miliki Dion saat ini dan berniat akan membawa pergi semuanya sebelum di bekukan oleh Papanya.
"Dan untuk saham...-" ucap pria itu sedikit ragu.
Selain uang, memang ada harta Dion dalam bentuk saham di perusahaan lain.
"Aku akan bicara dengan nya nanti..." sela Dion.
Urusan saham, akan Dion bicarakan dengan pemilik perusahaan tersebut.
"Kamu membawanya kan?" tanya Dion memastikan.
"Iya Tuan," jawab pria itu dengan yakin dan langsung g menyerahkan map berwarna hijau ke tangan Dion.
Setelah menerimanya, Dion langsung membuka map itu untuk memeriksa. "Nyonya meyakinkan kalau tidak ada yang tau semua ini...".
"Terima kasih," jawab Dion sedikit terharu.
Entah sejak kapan Mamanya punya niat seperti itu.
Membeli rumah di luar kota untuk Dion tanpa sepengetahuan siapapun.
Setelah mengatakan hal itu, Dion bertanya-tanya karena anak buahnya masih berdiri tanpa bergeming sedikitpun. Padahal sudah tidak ada yang perlu di bicarakannya lagi.
"Tuan muda," ucap anak buah itu penuh keraguan.
"Katakan... apa Papa mengutus mu untuk mengikuti ku?" tuduh Dion.
Karena saat ini tidak ada siapapun yang akan bekerja untuknya, semua anak buah yang selama ini patuh terhadap perintah Dion mulai berpaling dan mematuhi segala perintah Papanya.
"Tidak Tuan Muda, saya sungguh tidak menerima perintah apapun dari Tuan besar..." jawab anak buahnya dengan wajah pias. Mencoba untuk meyakinkan Dion kalau ucapannya adalah benar.
"Lalu?"
"Em... boleh? bolehkan saya ikut dengan Tuan muda?" tanya anak buah itu tanpa terduga sama sekali. Bahkan mampu membuat Dion membulatkan mata tak percaya.
"Saya akan ikut pergi bersama Anda... kemana pun," tambahnya.
Karena Anda lah yang meminta saya bekerja waktu itu... anggap saja sebagai bentuk kesetiaan saya kepada Tuan Dion...
"Aku...-,"
__ADS_1
"Jangan pikirkan apapun Tuan... saya tidak meminta gaji yang sama seperti sebelum-sebelumnya... bayar saya semau Anda..." ucap pria itu penuh keyakinan.
Setidaknya ikut bersama Dion lebih aman di bandingkan harus kembali dan mungkin saja menjadi sasaran Tuan besar.
Hal itu tidak menjamin keselamatannya nanti.
"Lalu mobil itu?" tanya Dion penasaran.
"Nanti ada anak buah Tuan besar yang membawanya..." ucapnya jujur.
"Baiklah," jawab Dion pasrah.
Dan akhirnya kedua pria itu mulai masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Ibu kota.
***
Di Perusahaan Pradipta Group.
Galih berlari tergesa-gesa menuju ke ruangan Arjun. Membuka pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Jun... Jun..." ucapnya dengan nada berantakan.
Membuat yang di panggil terkejut sekaligus penasaran apa yang tengah terjadi.
"Apaan sih Lo!".
Galih duduk di kursi depan meja kerja Arjun, " Ada berita buruk..." ucapnya melaporkan.
"Apa?" tanya Arjun semakin penasaran. Awas saja kalau dia hanya mengerjai ku! batin Arjun.
"Dion pergi dari rumah... dia meninggalkan rumah karena di usir oleh bokapnya..." lapor Galih dan langsung membuat Arjun membulatkan mata.
"Apa? di usir? kenapa?" tanya Arjun dengan begitu banyak pertanyaan.
Padahal kemarin mereka masih bertemu di ruangan ini sambil tertawa bersama.
"Gue gak tau, tapi kabar itu mulai di bicarakan Om Johan di ruangannya..." ucap Galih.
Tadi saat Galih menyerahkan laporan ke ruangan Papi Johan, ia tak sengaja mendengar pembicaraan tentang Dion yang keluar dari rumahnya semalam.
Galih tidak bisa menanyakan kenapa alasannya, karena sungkan. Toh bukan dirinya yang di ajak bicara oleh Papi Johan.
"Gue akan menghubungi nya..." ucap Arjun dan langsung meraih ponsel miliknya.
Cukup lama, tapi teleponnya masih tak tersambung. Membuat pria itu risau dan khawatir. "Ponselnya mati..." gumam Arjun pada akhirnya.
"Nanti coba gue yang menelponnya..." saran Galih. Karena sampai saat ini pekerjaan Arjun belum selesai. Dan akan menyusahkan Galih lagi kalau harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
***
Mobil Dion telah sampai di sebuah rumah berlantai 2 yang berada jauh dari Ibukota.
Tiba disana, langit benar-benar telah berubah gelap dengan suara-suara hewan apa yang mendominasi suasana. Sedikit menakutkan memang, tapi sangat damai jauh dengan pemandangan Ibu kota yang selalu Dion nikmati.
Anak buah Dion turun dan membuka pintu, mempersilahkan Tuan mudanya turun dari mobil. "Silahkan Tuan muda," ucap anak buah itu.
Dion sudah bersiap turun. Inilah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat ini.
Sebuah tempat yang berada di batas kota, dengan pemandangan gunung dimana suhu udara sedikit dingin menusuk tulang.
Di depan rumah itu, sudah ada seorang wanita tua berdiri menyambut kedatangan Dion.
"Selamat datang Tuan..." sapanya dengan ramah.
__ADS_1
Sedangkan Dion mulai kebingungan, siapa wanita tua itu.
"Saya yang di utus Nyonya untuk merawat rumah ini,"
"Oh..." terjawab sudah hal yang membuat Dion penasaran.
Dengan di temani wanita tua itu, Dion masuk ke dalam rumah. Benar sesuai ucapan wanita itu, rumah yang di lihatnya benar-benar terawat walaupun tidak ada siapapun yang menempati.
Dari lantainya, perabotan nya benar-benar bersih tanpa ada setitik debu sama sekali.
"Nenek, dimana kamar untuk Tuan muda?" tanya anak buah Dion dengan sopan. Kerena tubuhnya benar-benar lelah seharian menyetir mobil. Setidaknya dia ingin sebentar saja memejamkan mata dan meluruskan punggung.
"Ada di lantai dua," jawab wanita tua itu. Dion pun mengangguk dan menuju ke kamar yang akan di tempati.
Membuka salah satu pintu di lantai atas dan mengedarkan pandangannya sesaat.
Kamar itu juga cukup nyaman untuknya. Sudah ada ranjang lengkap dengan perabotan lain seperti lemari, kamar mandi dalam serta meja dan sofa di sudut kamar.
"Letakkan koperku di sana..." tunjuk Dion dan langsung membanting tubuh nya di atas ranjang.
"Kalau Tuan Muda butuh sesuatu, saya ada di bawah..."
"Tidak, beristirahatlah..." jawab Dion. Karena ia juga tau bagaimana lelah mereka berdua.
Dan sekarang waktu baginya untuk mengistirahatkan diri malam ini.
"Selamat malam..." ucap anak buah Dion dan menutup pintu itu dengan sangat pelan.
Setelah kamar itu tertutup, Dion menghela nafasnya keras. Bersamaan dengan helaan nafas, ada begitu banyak beban yang ikut menguar ke udara. Rasa sesak dadanya kembali terasa saat sendirian seperti ini.
Membuat sudut mata Dion mulai menggenang menahan tangis.
Memalukan memang kalau sampai dia menangis saat ini. Dion bukan lagi seorang anak laki-laki kecil yang menangis ketika kalah saat bermain kelereng.
Tapi teringat dengan tamparan keras dari Papanya malam itu, mengingatkan Dion bagaimana watak Papanya.
Hal yang paling menyesakkan bagi Dion bukanlah mendapat perlakuan seperti itu dari Papa, maupun di usir dari rumah. Dion sama sekali tidak memperdulikan hal itu, hanya satu yang membuat hatinya sakit.
Saat dimana tangis Mama menjadi satu-satunya suara yang mampu Dion dengar dan mengantarkannya pergi.
Mama... gumam Dion dan membuat air mata di pelupuk matanya lolos begitu saja tanpa bisa di cegah. Karena hanya beliau lah yang mendukung semua keputusan Dion. Hanya sang Mama lah yang membuat Dion percaya bahwa ia masih anggota keluarga itu.
Dan sekarang, Dion benar-benar berada jauh dari malaikat pelindung nya.
Di tempat lain, Mama sedang berlutut di bawah kaki suaminya. Memohon agar mau membujuk Dion untuk kembali ke kota ini.
"Mama mohon Pa... maafkan Dion, maafkan putra kita..." ucapnya sambil merendahkan harga dirinya serendah mungkin.
Tapi beda dengan Papa yang tak bergeming sama sekali dengan permohonan istrinya, pria itu sangat kecewa dengan Dion.
Bahkan Dion benar-benar telah menguras habis uangnya tadi pagi. Dan itu menandakan bahwa Dion tak lagi peduli pada keluarganya.
"Dion masih muda... maafkan Dion Pa," pinta Mama lebih sedih dari sebelumnya.
"Biarkan dia... lihatlah sampai kapan dia bisa hidup tanpa orangtuanya..." jawab Papa telak.
Beliau yakin kalau Dion akan kembali padanya setelah semua uangnya habis.
Karena pria itu tidak lagi punya pekerjaan saat ini. Jadi sebanyak apapun uang yang dibawa, akan habis pada waktunya.
Dion benar-benar keras kepala... batin pria muda yang berdiri di dekat ibunya. Dia adalah kakak laki-laki Dion.
__ADS_1
***