Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
66. Membayar Dengan Harga Mahal.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira masih menatap Arjun dengan syok. Semua yang di ucapkan pria itu sungguh tidak bisa di terima dalam kepalanya.


Bagaimana seseorang meminta bayaran atas sesuatu yang telah diberikan.


"Maksudnya gimana?" tanya Akira dengan nada bergetar. Memang apa yang bisa ia lakukan untuk membayar kalung pemberian Arjun tadi.


"Kamu masih belum paham?" selidik Arjun. Padahal ia berbicara sangat jelas tadi.


"Jika kamu tidak punya uang, gunakan tubuhmu untuk membayarnya..." Arjun kembali mengulang perkataan tadi.


"Baiklah, Aku bayar dengan kartu pemberianmu dulu... kamu bilang itu sebagai bentuk nafkah bukan? jadi uang itu adalah hak ku sebagai istrimu..." Hahaha... untung saja Aku di beri nafkah yang besar, kalau di itung-itung cukup kok buat membayar harga kalung itu... apalagi ini sudah bulan ke 4 aku menjadi istrinya...


"Hahaha... kamu licik sekali ternyata," ingin rasanya Arjun tertawa lebih keras dari sebelumnya. Sungguh ucapan istrinya itu seperti sebuah lelucon.


"Memang benar itu sebagai bentuk nafkah, tapi apakah kamu sudah memberikan sesuatu yang sudah menjadi hak suamimu?" tanya Arjun.


Akira... mungkin kamu lupa kalau aku lebih licik darimu... hehehe,


Awalnya Akira tidak paham dengan maksud Arjun yang membahas hak itu, tapi di detik kemudian ia sadar. Gawat! apa yang dia maksud itu? Aaaaa....


"Jadi masih belum paham? perlu aku jelaskan lagi?" pancing Arjun masih dengan ekspresi wajah yang sangat aneh.


"Begini, apa sih yang kamu tau tentang pernikahan?" tanya Arjun yang masih duduk di tepi ranjang dengan setengah telanjang.


"Pernikahan? menurutku pernikahan adalah ikatan untuk menyatukan 2 keluarga..." jawab Akira.


"Kurang tepat!".


"Lalu?" tanya Akira protes karena jawaban yang di berikan nya di salahkan oleh Arjun. Memang apa arti pernikahan? batinnya bertanya-tanya.


"Sini!" perintah Arjun.


"Tidak, aku masih bisa mendengar dari sini..." jawab Akira tegas. Ia tidak bisa berdekatan dengan pria setengah b*gil tersebut.


Bisa membahayakan jantungnya bukan? Di tatap Arjun dalam waktu yang lama saja sudah membuat Akira salah tingkah, bagaimana kalau mereka benar-benar berdekatan seperti ini?


Karena Akira tidak mau mendekat, tentu saja Arjun yang berinisiatif untuk mendekati istrinya.


Ck... kenapa malah dia yang mendekat, sama juga bohong kan? Protes Akira dalam hati.


"Begini... kamu pasti belum terlalu paham apa arti pernikahan karena usia mu yang masih bocah -"


"Aku bukan bo-" belum sempat meneruskan kalimatnya, tangan Arjun sudah menutup mulut istrinya.


"Diam!" perintah Arjun.


Baiklah, aku diam... walaupun sebenarnya Akira tidak terima di bilang masih bocah. Sebentar lagi ia sudah berusia 18 tahun, tentu saja sudah memasuki usia yang cukup bukan?


"Begini, pernikahan adalah suatu cara yang dilakukan oleh seorang pria matang dan wanita matang untuk melanjutkan penerusnya, lebih tepatnya berkembang biak...".


Sejenak Arjun sudah seperti seorang Dosen yang menjelaskan kepada muridnya tapi dengan gaya bahasa yang sedikit aneh dan entahlah... Akira bingung menjelaskannya, "Jadi, tentu saja di dalam sebuah pernikahan ada sesuatu yang di sebut Nge-,"


"Arjun, stop! jangan di teruskan..." tolak Akira dengan semangat. Ia tidak bisa mendengar apa yang akan dikatakan oleh Arjun lebih lanjut. Sungguh gaya bahasa pria itu sangat jorok.


Walaupun Akira masih sangat muda, tapi ia tau kata yang akan di ucapkan oleh suaminya.


Astaga... ini adalah sebuah polusi suara... Otakku benar-benar tercemar gara-gara si Brengs*k ini...


"Kenapa di stop? aku bahkan belum selesai menjelaskan..." tentu saja Arjun protes. Padahal di kepalanya sudah terangkai kata demi kata untuk mudah di pahami Akira. Tentu saja dengan sedikit kalimat vulg*r bukan? hehehe...

__ADS_1


Licik sekali memang pria itu.


"Jangan di teruskan... gue sudah tau kata selanjutnya yang akan lo katakan..." tolak Akira tegas.


"Baiklah, jadi apa kamu sudah menjalankan tugasmu sebagai istri untukku?" tanya Arjun to the point.


Jangankan menjalankan tugas seperti istri, yang Akira lakukan selama 4 bulan ini hanyalah mengajak Arjun menjadi lawan debatnya. Ya hanya itu yang mereka lakukan. Bicara dengan normal saja baru mereka lakukan akhir-akhir ini.


"Kamu bahkan tidak pernah menganggap ku sebagai suami. Hak ku sebagai suami juga belum di beri...".


"Arjun... kita kan..." ucap Akira ngambang.


"Karena pernikahan kira pura-pura?" sela Arjun.


Sejenak Akira mengangguk. Ya itu adalah salah satu alasannya. Kerena pernikahan mereka hanya sebuah sandiwara saja.


Lagian ia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. Akira benar-benar masih suci. Tentu saja ia akan memberikan kesuciannya kepada sang pujaan hati nanti.


"Ck... padahal gue sudah menahannya 4 bulan terakhir... dan itu sangat menyiksa..." keluh Arjun.


Ya sejak menikah dengan Akira, Arjun sama sekali tidak pernah melakukan hubungan intim dengan siapa saja.


Seingatnya terakhir kali Arjun mencapai pelepasan itu saat di kamar mandi, itupun dengan solo karir karena tak sengaja melihat dad* Akira.


Selain itu tidak pernah, Arjun bahkan sampai pulang hanya untuk melihat istrinya. Padahal saat itu ia sudah berada di dalam kamar hotel bersama seorang wanita.


"Arjun kita kan sudah sepakat untuk..." Akira ragu untuk meneruskan kalimatnya.


Ia ragu untuk mengatakan kalau mereka tidak bisa melakukan sesuatu tidak atas dasar cinta.


Apalagi tentang ****, hanya Akira yang akan menyesal nantinya. Karena setelah semua terjadi, yang berubah hanya tubuh Akira sedangkan tubuh pria tidak akan ada bedanya.


"Kamu tau, nolak suami itu dosa..." ucap Arjun.


Akira kesal dengan ucapan Arjun barusan.


"Tapi Jun, Aku benar-benar belum siap..." jujur Akira.


Di dalam hatinya tentu saja ada sebuah keraguan yang begitu besar. Akira takut menyesal.


"Aku belum bisa melakukan hal itu bersamamu," tambah Akira. Setidaknya ia tak mau berbohong lagi kedepannya. Akira ingin berkata jujur walaupun kejujurannya sedikit menyakitkan.


"Aku juga tidak mau memaksamu..." semprot Arjun. Tapi ia hanya memberi tau Akira tentang hak-hak suami istri. Arjun juga tidak memaksa Akira untuk melakukan hubungan intim untuk saat-saat ini.


"Lalu?"


Kenapa dia membingungkan sama sekali sih... apa maunya sih... Akira kebingungan dengan jalan pikiran Arjun yang selalu berubah-ubah.


"Bayar dengan ciuman," Setelah mengatakan hal itu, Arjun segera bangkit.


Ha, ciuman? ciuman bibir maksudnya? Tentu saja Akira syok dengan apa yang dikatakan Arjun.


"Kenapa wajahmu panik begitu? kamu tidak dengar ucapan ku tadi, Ci-u-man..." Arjun mengeja katanya agar Akira paham.


"Dulu, aku sudah menjelaskan bedanya kecupan dengan ciuman bukan? sekarang saatnya mempraktekkannya... oke? bersihkan dirimu, aku akan ganti baju dulu..." perintah Arjun benar-benar sangat jelas.


Setelah kepergian Arjun ke ruang ganti, kali ini Akira yang terlihat bodoh dan sangat Syok.


Huuaa... kenapa dia tega kepadaku? kenapa harga kalung sial*n ini begitu mahal? Aaa.... bagaimana denganku nanti?


Frustasi? tentu saja. Apalagi Akira juga belum pernah melakukan hal itu sama sekali. Saat menjalin hubungan dengan Dean pun, Akira tidak pernah berciuman. Walaupun kadang Dean beberapa kali mencium kening ataupun pipinya.


Apa yang aku lakukan? apa aku pura-pura pingsan saja? tau begini, seharusnya aku tidak bangun tadi...

__ADS_1


Lagian kenapa aku menerima hadiah darinya sih kalau harga yang ku bayar begitu mahal?


Agghh... sial!


Akira benar-benar ingin mengumpat. Ia merasa di kerjain habis-habisan oleh Arjun.


"AKIRA! cepat bersihkan dirimu..." teriak Arjun dari dalam ruang ganti pakaian.


Itulah yang membuat Akira semakin sebal. Dengan menghentakkan kakinya, Akira masuk ke kamar mandi. Tentu saja dengan umpatan yang keluar dari mulutnya.


---


Mungkin inilah takdir buruk yang pernah Akira jalani dalam hidupnya. Walaupun sudah melakukan banyak cara termasuk membuat kesepakatan dengan Arjun, tapi tak membuat pria itu mengubah keinginannya.


Akira juga sempat terdiam lama di dalam kamar mandi, berharap Arjun tertidur lebih dulu. Tapi usahanya sia-sia. Pria itu dengan gigihnya menggedor pintu kamar mandi agar Akira cepat keluar dari sana.


Akira telah mengganti pakaiannya dengan piyama berwarna senada dengan yang dikenakan Arjun, yang gadis itu lakukan saat ini adalah duduk di depan cermin rias sambil mengoleskan skincare rutinnya. Tentu saja sambil mengamati sosok di belakangnya yang sudah bersiap di ranjang dengan senyum yang... MENJENGKELKAN...


Ya, Arjun tersenyum tanpa henti mengamati punggung Akira dari jarak yang cukup jauh.


Entah apa yang ada di dalam kepala pria itu, Akira juga tidak paham. Tapi yang jelas, pria itu telah merencanakan sesuatu yang mungkin saja tidak menguntungkan bagi Akira.


Lihatlah wajahnya itu, senyum yang mengukir bibirnya kenapa sangat menakutkan?


"Sini sayang..." Arjun menepuk sisi ranjang dengan suara lembut mendayu. Tentu saja yang dilakukan pria itu membuat bulu kuduk Akira berdiri.


Brengs*k! umpat Akira dalam hati.


Andai bisa lari, Akira juga akan lari dari kamar ini. Ia benar-benar belum siap memberikan ciuman pertamanya untuk pria itu.


Huuaa... aku ingin kabur...


Beda lagi dengan Arjun. Karena tidak mendapatkan jawaban dari istrinya, Arjun segera bangkit dari ranjang dan langsung mendekati Akira.


"Mau apa?" tanya Akira panik.


Apalagi Arjun langsung menarik tangannya untuk segera menuju ke ranjang.


"Ngapain lagi, meminta bayaran atas apa yang telah ku berikan dong..." kesal sekali Arjun karena istrinya masih beralasan.


"Tapi-".


"Sudah jangan tapi-tapian..." Tentu saja Arjun semakin tak sabar. Mau meminta cium saja banyak sekali drama yang di buat.


Tinggal nurut dan buka mulut apa susahnya sih... heran gue!


Arjun dan Akira telah duduk di ranjang. Memposisikan tubuhnya berhadap-hadapan. Tapi Akira yang masih malu tak mampu menatap Arjun, gadis itu lebih mengalihkan


pandangannya ke arah lain.


"Hadap sini..." perintah Arjun sambil memutar kepala istrinya agar pandangan gadis itu hanya tertuju padanya.


Arjun mulai memposisikan kedua tangannya di pipi Akira. Dengan perlahan, wajahnya semakin mendekati wajah Akira. Gugup? tentu saja. Bahkan tangan Akira sampai berkeringat dan terasa dingin.


"TUNGGU!" ucap Akira saat bibir Arjun benar-benar tinggal beberapa jengkal dari wajahnya.


***


Eiittss... kepotong gais... Hahahaha...


Kita lanjutin besok ya... See U...


Selamat bermalam minggu...

__ADS_1


__ADS_2