Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
212. Pengakuan.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


"Sejak awal memang seperti itu bukan? gue hanya alat balas dendam buat lo!" ucap Tiara terdengar memilukan.


"Sebenarnya lo masih mencintai Alya kan? hanya lo terlalu egois... lo berpura-pura membencinya padahal dia masih jadi wanita yang punya tempat di hati lo!".


Dada Tiara bergemuruh, mengingat apa yang telah ia lalui selama ini. dari yang mendengar ucapan Galih yang selalu dingin di awal mereka kenal, dari tindakan Galih yang kadang seenaknya sendiri terhadapnya, Tiara ingat semua itu.


bahkan ia merasa sangat murahan karena tak mampu menolak dengan apa yang Galih lakukan.


Sedikit gila memang, Tiara justru menikmati saat-saat bersama dengan Galih. perlakuan pria itu terhadapnya, benar-benar membuat Tiara lupa daratan.


Aplagai saat kedua bibir mereka menyatu, Tiara dengan bodohnya menikmati bahkan membalas sama lembutnya. mengira kalau takdirnya memang bersama Galih.


Tapi di waktu yang bersamaan, Tiara kembali ingat. ingat bahwa dia hanya dipermainkan oleh pria itu. semua wanita pasti berpikiran sama, ingin sebuah pengakuan untuk membuat dirinya merasa dibutuhkan.


Pengakuan kalau Galih memang membutuhkan Tiara. tapi... nihil. sampai sekarang tak sekalipun Galih mengatakannya, membuat kesabaran Tiara habis dengan selalu berharap pada sebuah kenyataan yang mustahil terjadi.


Toh pada kenyataannya, Galih bukan pria tegas. pria bodoh yang masih dibayang-bayangi kenangan bersama mantan pacarnya.


Dan Tiara yakin kalau hal ini masih berlanjut, hanya dirinya lah yang menderita pada akhirnya.


Itulah sebabnya ia ingin pergi. menjauh dari Galih untuk menjaga dirinya tetap normal. karena percuma bertahan hanya karena sebuah harapan.


"Setelah ini, gue akan pergi dari Apartemen lo... hiduplah bebas tanpa rasa sungkan..." ucap Tiara.


Sekarang, yang ia lakukan adalah kembali mengemasi barang-barangnya.


tadinya sesuai rencana, mereka akan menginap semalam lagi dan akan kembali esok hari. tapi seperti nya rencana itu gagal. Tiara akan kembali ke Ibukota hari ini juga.


"Tiara..." panggil Galih. mengamati punggung gadis di depan sana tanpa berkedip sekalipun.


Ucapan Tiara masih memenuhi kepalanya. sedikit bersalah memang karena perlakuannya terhadap Tiara selama ini.


Galih kira dengan mengikat Tiara, bisa membuat hubungan mereka sangat dekat. tapi nyatanya justru malah membuat Tiara menderita.


Galih pernah terluka karena wanita di masa lalu. sebab itulah ia tak mau mengaku kalau sebenernya, ia juga suka dengan Tiara.


karena menurutnya sebuah tindakan lebih penting daripada sebuah pengakuan saja bukan?


bukankah Galih sudah memperlihatkan bagaimana cara ia menyukai Tiara, memperlakukan gadis itu? bahkan ia memperlihatkan rasa cemburunya dengan jelas.


Apa semua wanita butuh pengakuan? apa itu keinginan mereka? batin Galih.


"Gue akan pulang sendiri..." ucap Tiara setelah mengemasi semuanya.


Setelah ini, gue akan pergi dari hidup lo...

__ADS_1


"Tiara..." panggil Galih tapi tetap tak menbuat Tiara mendengarkannya.


"Berhenti!" perintah Galih saat langkah kaki gadis itu telah sampai di ambang pintu.


Tanpa banyak pertimbangan, Galih segera meraih tangan Tiara hingga membuat gadis itu terhuyung ke arahnya.


"Lepas Gal!" teriak Tiara. bahkan dengan tak tau malunya Galih masih menahan kepergiannya. membuat Tiara kesal karena sikap Galih yang selalu berubah-ubah dalam waktu yang bersamaan.


"Mau pergi kemana lo?" tanya Galih masih dengan nada tertahan. padahal dadanya hampir meledak karena marah melihat kelakuan Tiara.


tapi sungguh, Galih tak bisa mengucapkan apa yang ada dalam hatinya. sulit baginya untuk bilang kalau ia juga mencintai Tiara.


"Sejauh mungkin asal tidak melihat Lo!" cerca Tiara. Kalaupun harus pun pindah negara, gue siap!


Tiara kembali menangis, "Karena...-" ditatapnya manik mata berwarna cokelat milik Galih. "Berada di dekat lo, membuat gue terluka Gal..." akunya.


Di rengkuhnya tubuh gadis itu dalam pelukan Galih. "Sorry..." sesal Galih. sedangkan Tiara mencoba untuk berontak, tapi jelas kalah tenaga. bahkan berdiri seperti ini saja, tinggi badannya hanya sebatas dada Galih.


"Sorry untuk semuanya Tiara..." ulang Galih.


karena sudah tepat baginya untuk meminta maaf kepada gadis itu.


"Lepasin gue Gal..." rengek Tiara walaupun sebenarnya ia nyaman berada dalam pelukan Galih. tapi tentu saja egonya lebih mendominasi saat marah bukan?


"Tidak... gue tidak akan membiarkan lo pergi... tetaplah disini..." pinta Galih sambil mempererat pelukannya.


Tiara kembali menangis. mengutuk dirinya yang begitu bodoh. karena hanya mendengar ucapan Galih yang begitu saja mampu membuat hatinya luluh. gila memang, tapi inilah yang terjadi pada Tiara.


Lo bodoh Tiara! benar-benar bodoh! mwngutuk dirinya sendiri dalam hati.


"Hiks...".


Dengan sangat yakin, Galih menggandeng tangan Tiara. membawa gadis itu kembali duduk di tepian ranjang. tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Tiara.


"Tetaplah disini Tiara...".


Cukup lama mereka terdiam hingga Tiara terlihat lebih tenang dari sebelumnya. tak ada lagi air mata yang menetes membasahi wajahnya. dan saat inilah saat yang tepat bagi Galih untuk sedikit menjelaskan apapun yang sekiranya bisa membuat Tiara bertahan dalam situasi aneh yang ia ciptakan sendiri.


"Tiara..." panggil Galih dan kembali menahan wajah Tiara dengan kedua tangannya agar tetap melihat kedua matanya.


"Jangan pergi... jangan tinggalin gue...".


Untuk pertama kalinya Tiara mampu melihat binar mata Galih yang aneh. jelas sekali terlihat kalau pria itu begitu jujur mengucapkan perkataannya. mata itu begitu teduh dan penuh harap.


"Gue memang tidak bisa menjelaskan semuanya, gue bodoh untuk mengakui semuanya... tapi tetaplah berada di dekatku... adanya Lo disisi gue, gue sedikit berani menatap masa depan..." ucap Galih lirih.


Tiara seperti magnet baginya. sejak ada gadis itu, entah kenapa sudut pandang Galih seringkali berubah. yang tadinya ia tak mempercayai lagi tentang cinta, Galih kembali merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. apalagi saat berdekatan dengan Tiara.


Merasakan sakit di dadanya ketika Tiara tersenyum kepada pria lain.

__ADS_1


tapi untuk saat ini Galih masih ragu, apakah rasa yang ia rasakan saat ini benar-benar cinta atau hanya perasaan nyaman saja.


"Tapi Gal-,".


"Ssttt..." tolak Galih sambil menutup mulut Tiara dengan jari telunjuknya. berharap Tiara tak mengatakan apapun yang membuat mereka kembali berseteru.


"Tetaplah tinggal bersamaku..." pinta Galih.


---


Pesta telah usai, Agus mengendarai mobil bosnya dan mengantarkan Arjun dan Akira kembali ke Vila.


Sepanjang perjalanan hanya Akira lah yang tak sabar. ia ingin menanyakannya langsung kepada Tiara tentang hal yang semua orang sembunyikan darinya.


Apa hubungan Tiara dan Galih? bagaimana bisa mereka tinggal serumah tanpa ikatan apapun? apa keluarga Galih tau akan hal itu?


Akira ingin menanyakannya langsung kepada sahabatnya.


Kenapa hanya gue yang tidak tau apapun...? hatinya bicara. kesal juga sih melihat kenyataan kalau Akira menjadi orang terakhir yang tau rahasia itu.


padahal secara kenyataan, Ia adalah orang pertama yang selalu menjadi tempat curhat bagi Tiara.


Tiba di Vila, Akira langsung membuka pintu sendiri tanpa menunggu Agus lebih dulu. membuat Arjun juga melongo tak percaya dengan tingkah istrinya itu. Ya... walaupun sejak awal pernikahan, Arjun tau bagaimana sifat Akira. wanita yang tak sabaran juga sedikit aneh kalau tengah marah.


"Ra!" teriak Akira saat langakh kakinya baru saja di ambang pintu.


Dan secara bersamaan dari ujung lantai dasar Vila, Galih terlihat berjalan menghampiri Akira.


Ada apa ini? batin Galih.


Andai mereka tau, kalau kepulangan Arjun dan Akira dari tempat pesta yang tiba-tiba mampu membuat jantung Galih berdetak tak karuan. bahkan ia juga sempat terjatuh dari ranjang Tiara tadi.


Beda dengan tatapan Galih yang kebingungan, Akira justru sebaliknya.


Wanita itu tak lepas mengamati penampilan Galih yang terlihat sedikit berantakan. dalam artian dasi yang mengendor juga dengan kemeja yang kusut dan telah keluar dari celana.


Apa yang mereka lakukan?


"Dimana Tiara?" tanya Akira datar.


"Sayang..." ucap Arjun yang baru saja tiba. berdiri di belakang Akira dan menatap Galih seprti tengah meminta maaf. hal itu justru membuat Galih semakin penasaran. kalau dari tatapan sepasang sumi istri itu, Galih yakin sudah terjadi sesuatu.


Apalagi ia sangat mengenal bagaimana raut wajahnya Arjun jika membuat masalah. Ya.. sepertinyang terlihat saat ini.


Kerena tak mendapat jawaban dari Galih, Akira memutuskan untuk mencari sendiri keberadaan sahabatnya.


berjalan sambil menghentakkan kakinya akesal tepat ketika melewati Galih.


Issstt... Kenapa dia?

__ADS_1


"Lo dalam masalah nyet..." bisik Arjun kepada Galih dan kembali mengikuti kemana langkah kaki Akira membawa tubuhnya.


***


__ADS_2