
HAPPY READING...
***
Inilah pertama kalinya Galih mengendarai mobil dengan kesetanan. Membunyikan klakson beberapa kali sebagai tanda untuk kendaraan di depannya sedikit memberi jalan untuk mobilnya lewat.
Umpatan demi umpatan beberapa kali lolos dari mulutnya sebagai bentuk kekesalan akibat jalan yang sangat padat.
Bagaimana tidak padat coba, saat ini adalah jam pulang bekerja. Otomatis kendaraan roda dua ataupun empat tumpah ruah di jalanan.
Pikiran Galih hanya di penuhi oleh kecemasan. Suara-suara Bella di telepon tadi terngiang kembali. Membuat Galih ingin sekali menghilang dan segera sampai di rumah orangtuanya. Melihat sosok yang sangat di cintai dengan mata dan kepalanya sendiri.
Terlebih adalah Ayah.
Walaupun hubungan Galih dan Ayah masih diam di tempat, tapi di dalam hatinya Galih tidak bisa melihat sesuatu hal buruk terjadi pada Ayah.
Galih tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika ia benar-benar kehilangan sosok panutannya tersebut.
Hingga kurang lebih 1 jam lamanya, mobil Galih tiba di depan rumah Orang tuanya.
Tanpa berpikir panjang, Galih keluar dari mobil dan berlari menuju ke pintu rumah yang terbuka lebar.
"Ibu, Ayah, Bella!" teriak Galih saat langkah kakinya tepat di ambang pintu.
Sedangkan di ruang tamu dimana ada Bella dan kedua orang tuanya langsung terperanjat kaget melihat Galih yang baru saja datang.
Bahkan Ayah sampai berdiri menyambut kedatangan putra pertamanya.
"Galih... kamu sudah datang nak..." ucap Ibu setelah beberapa saat.
Galih semakin melangkah mendekat. Mengamati seluruh keluarganya yang terlihat tersenyum. Mulai dari Ayah, Bella dan juga Ibunya.
"Ibu... Ibu baik-baik saja?" tanya Galih pias.
Karena sesuatu penglihatannya, semua orang terlihat baik-baik saja. Bukan... malahan sangat baik karena ada senyum di bibir mereka.
"Ibu Baik sayang... Ayah sudah sehat..." jawab Ibu menjelaskan.
Hal itu membuat mata Galih menggenang. Padahal dalam perjalanan tadi, Galih sudah berpikiran yang aneh-aneh.
Membayangkan hal buruk yang terjadi pada anggota keluarganya.
Tapi setelah ia tiba, tidak ada sesuatu hal yang perlu di cemaskan.
Ayah, Ibu dan Bella semuanya terlihat baik.
"Galih..." panggil Ibu dan langsung mendekati putranya. Memeluk tubuh Galih tanpa ragu.
"Hiks..." tangis Galih pecah juga.
"Galih kira ada sesuatu yang buruk terjadi pada kalian..." adunya dengan suara yang tercekat.
"Tidak nak... kami baik-baik saja..." jawab Ibu. Membelai punggung Galih sambil menepuknya pelan.
Walaupun Galih telah tumbuh dewasa, di mata Ibu dia masih tetap anak kecil yang selalu menangis dalam pangkuannya. Anak laki-laki yang sedikit keras kepala tapi amat penyayang.
Galih yang selalu membela keluarganya jika ada yang mengganggu.
Kakak yang begitu melindungi Bella dari siapapun yang berniat jahat.
Seperti itulah Galih, pria yang saat ini tengah memperlihatkan kelembutan hatinya di depan anggota keluarga.
"Bella tadi menelpon ku dengan suara panik..." tambah Galih membuat Ibu langsung menengok ke arah sumber masalah.
Bella! apa yang kamu lakukan! begitu sorot mata Ibu bicara pada putrinya.
Membuat yang di tatap hanya nyengir sambil menggaruk kepala yang bahkan tidak gatal sama sekali.
"Entah apa yang Bella katakan tadi, tapi kami baik-baik saja sayang..." ucap Ibu.
Galih langsung melepaskan pelukannya dan berganti menatap Bella, "BELLA!" bentaknya tanpa ragu sama sekali.
__ADS_1
"Ayah..." sedangkan Bella langsung bersembunyi di belakang tubuh Ayahnya.
"Kakak... bukan seperti itu maksud Bella..." ucap gadis itu mencoba menjelaskan. Walaupun rasanya percuma karena api dalam dada Galih benar-benar telah berkobar.
"Sini Lo!" perintah Galih dengan nada marah.
"Tidak!" tolak Bella, "Ayah... tolong..." sambil meremas kuat pakaian Ayah dan sembunyi di punggungnya.
Karena Bella tau, Galih tidak akan berani menarik paksa dirinya dari sang ayah.
Saat Galih masih marah, tak sengaja matanya menangkap sosok aneh yang ikut berdiri tak jauh dari Ayahnya.
Dia?
Membuat matanya membulat dengan tubuh yang membeku bakal patung.
Kenapa dia di sini? dan sejak kapan? batin Galih bertanya-tanya.
Entah kemana matanya tadi sampai tidak menyadari ada orang lain selain anggota keluarganya. Melihat bagaimana Galih menitikkan air mata barusan.
Sedangkan yang di tatap barusan hanya menyunggingkan senyum sungkan. Dia adalah Tiara.
Br*ngsek! umpat Galih dalam hati dan langsung menghapus sisa air mata di pipinya. Memalukan sekali ada orang lain yang melihat kekurangannya saat ini. Membuat Galih semakin malu adalah dia sempat menangis.
"Ibu, aku mau kopi!" pinta Galih dan langsung melarikan diri masuk ke ruangan dalam. Tentu saja sambil mengumpat tindakan bodohnya tadi.
"Oh, iya..." jawab Ibu dan ikut masuk mengikuti langkah kaki Galih.
Karena di rasa situasi sudah aman, Bella mulai keluar dari balik punggung Ayah. Menampakkan senyum lega karena tidak di apa-apain kakaknya.
"Bella, jangan bercanda seperti itu..." omel Ayah.
"Iya Ayah..." sesal Bella.
Beda lagi dengan Tiara. Gadis itu tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
Pria kulkas itu bisa menangis juga ya... hatiku sedikit tersentuh tadi melihatnya khawatir tentang keadaan orang tuanya...
"Hehehe... gak apa-apa Om..." jawab Tiara.
Di ruang makan, Galih benar-benar mengutuk dirinya sendiri. Membuat Ibu yang sedang mendidihkan air tersenyum lucu sambil menggelengkan kepala.
Bodoh bodoh bodoh! kenapa kamu menangis sih Galih! lihatlah bagaimana tatapannya tadi, seolah mengejek dirimu! batinnya.
Tatapan mata Tiara terhadapnya kembali memenuhi kepala Galih dan membuatnya nyeri.
Ingin sekali Galih menyublim saat ini juga. Iya.. Galih ingin berubah menjadi gas dan hilang seketika. Memalukan sekali mengingat kejadian tadi.
"Jangan syok seperti itu..." ucap Ibu mendekati Galih sambil membawa secangkir kopi panas.
"Ha?" tanya Galih dengan bodohnya.
"Sikap mu tadi tidak memalukan. Ibu bersyukur karena kamu mengkhawatirkan kondisi Ibu dan Ayah... Ibu bangga padamu Galih..." puji Ibu. Karena tidak banyak anak yang seperti Galih. Rela pulang karena khawatir tentang orangtuanya.
Walaupun belum berbicara dengan Ayah, tapi Galih sangat peduli.
"Tapi Bu...Aghh... lupakan," ucap Galih frustasi.
Yang membuatnya malu saat ini adalah adanya orang lain yang melihatnya menangis. Hal itu sangat memalukan baginya.
"Hahaha... Kenapa? kamu mengenal gadis itu bukan? Tiara..." ucap Ibu dan langsung mengalihkan perhatian Galih.
"Bella bilang kalau kamu kenal dengan Tiara... dia gadis yang baik," puji Ibu.
Tiara bukan seperti gadis kota yang lain. Sosoknya yang santun, ramah dan perhatian pada orang tua benar-benar bisa mengambil hati Ibu.
Itulah alasan Ibu tidak keberatan saat Bella mengajak Tiara ke rumahnya.
Nah kan benar... Ibu sampai memujinya! batin Galih tau kemana arah pembicaraan Ibu.
"Bu..." belum sempat meneruskan kalimatnya, Bella tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Membuat Galih yang tadinya duduk langsung berdiri.
__ADS_1
Ini dia biang masalahnya! Merangkul leher adik perempuannya dengan lengannya.
"Aakk.. kakak... Aakk... Bella bisa mati!" teriak Bella. Bagaimana tidak, lengan kekar Galih benar-benar mencekik tenggorokannya dan membuat Bella kesulitan bernafas.
"Kenapa Lo berbohong?" tanya Galih dengan gigi bergetar.
Kapan lagi ia bisa memberi pelajaran pada adik nakalnya itu kalau bukan sekarang.
"Aakkk... Ibu... tolong," pinta Bella sambil terus memukul lengan Galih. Berharap pria itu mau memaafkannya.
"Galih..." ucap Ibu melerai.
Tapi tidak membuat Galih berubah pikiran.
"Kakak.. aakk... maafkan Bella... akkk....kakak, lepaskan Bella dulu..." pinta Bella.
"Lepaskan dulu...".
Galih sedikit mengendorkan lengannya, tapi tetap tak membuat Bella bisa terlepas dari cengkeramannya.
"Maaf kak... Bella hanya ingin kakak datang..." sesal Bella.
"Kenapa? agar bisa melihat teman Lo?" tanya Galih tak percaya kalau adiknya sampai melakukan hal seperti itu.
"Bukan..." jawab Bella. lebih dari itu maksudnya... hehehe...
Nyatanya Bella masih bisa mengelabui kakaknya.
"Lalu?" tanya Galih penasaran.
"Antar Tiara pulang kak..." jawab Bella.
Setidaknya mereka akan lebih akrab bukan...? hehehe...
"APA?" teriak Galih semakin tak percaya dengan jalan pikiran Bella.
Mengantarkannya pulang? memang dia siapa?
"Lo yang membawanya kesini, kenapa gue yang harus mengantarkannya pulang?" tanya Galih sewot.
Lagian Galih bukan siapa-siapa bagi Tiara. Jadi tidak ada tanggung jawabnya untuk mengantar gadis itu pulang ke rumahnya.
"Kakak..." panggil Bella frustasi. Lalu melihat ke arah Ibunya berharap Ibunya membantu bicara dengan Galih.
"Galih, ini sudah malam... tidak baik gadis seperti Tiara pulang menggunakan kendaraan umum... bahaya," ucap Ibu menjelaskan.
Sudah tau bahaya, kenapa tidak melarangnya datang kesini? batin Galih kesal.
Karena pada akhirnya dia juga yang kesusahan.
Inilah definisi merepotkan diri!
"Kakak.. kali ini saja... please..." ucap Bella sambil menangkupkan kedua tangannya memohon.
"Baiklah..." jawab Galih pasrah. Toh memang seharusnya dia mengantarkan Tiara karena ada maksud terselubung yang harus Galuh lakukan.
"Makasih kakak..." jawab Bella manja.
Tapi seringai muncul di sudut bibir Galih. Membalikkan tubuh Bella menghadapnya dan jari Galih langsung bersiap.
Ceetttakkk...
Menyentil kening Bella dengan jari telunjuknya lumayan keras.
"Aawww..." hingga membuat Bella mengaduh bahkan matanya ikut menggenang karena merasakan sakit di keningnya.
"Ibu... hiks," adu Bella.
"Itu hukuman karena telah mengerjaiku!" ucap Galih memperingati.
***
__ADS_1
Hahaha... Kenapa Bella licik sekali ya... malah bukan kayak Galih tapi lebih mirip Arjun...