Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
237. Menyelesaikan Masalah.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Mencintai itu berat, karena membutuhkan hati yang selalu siap untuk terluka...


 


Tiara masih tak lepas mengamati wajah kekasihnya. menatap binar mata kecoklatan itu untuk mencari sebuah kejujuran di dalam sana.


"Baiklah... kalau lo mau menemui Alya, antarkan gue pulang dulu..." hingga itulah kata yang keluar dari mulut Tiara. pasrah karena hanya itu yang bisa ia lakukan. karena Tiara sudah tau, bersaimg dengan Alya tidak lah mudah.


Galih tak bersuara. tak juga menghidupkan mesin mobilnya untuk meninggalkan tempat itu.


"Kenapa tidak segera jalan?" tanya Tiara lagi.


Terlihat Galih mencengkeram stir kemudi, "Apa sebegitu tidak percayanya lo terhadap ku Tiara?".


padahal Galih sudah mengatakan hal itu berulang kali. ia selalu mengatakan bahwa Tiara adalah wanita satu-satunya yang ada di hidup Galih saat ini.


"Alya bukan apa-apa lagi bagiku..." perjelas Galih. "Gue sudah bilang kan kalau hanya lo yang penting... hanya lo Tiara...".


"Tapi buktinya...?" tanya Tiara bahkan tak menyadari kalau pelupuk matanya mulai menggenang. Butiran air mata itu jatuh, mengiringi hatinya yang mulai tersayat.


"Bukti Alya masih menghubungiku? apa itu yang lo tanyakan?" tanya Galih. segera Galih kembali mengamati ponselnya. mengeluarkan SIM card dari benda pipih itu tanpa ragu sedikitpun.


"Patahkan kalau lo tak percaya..." ucap Galih penuh keyakinan.


Galih tidak memperdulikan nomor ponselnya yang mungkin akan terganti setelah ini, yang penting Tiara percaya.


Hanya terdengar isak tangis Tiara. memilukan dan membuat Galih juga merasakan sesak di dada. sungguh, melihat Tiara selalu menangis, Galih juga merasakan hal yang sama.


Hingga Galih bertindak lebih cepat. mematahkan SIM card yang selama ini ia pakai dan membuangnya begitu saja keluar jendela. membuat Tiara terkejut karena bukan itu yang ia mau.


"Kita temui dia," ucap Galih dan langsung menjalankan kendaraannya. tak memperdulikan langit Ibukota yang benar-benar telah gelap. Galih memutuskan untuk membawa Tiara menemui Alya. tak peduli apapun yang akan terjadi nanti, yang penting Galih sudah berusaha membuktikan kalau Tiara lah wanita yang ia pilih untuk menemani sisa umurnya.


"Gal-", ucap Tiara. hendak menolak karena bukan itu yang Tiara inginkan.


tapi Galih tak memperdulikannya. pria itu sibuk mengemudi membelah jalanan dan menuju ke RS dimana Alya dirawat.


30 menit berlalu. Galih turun dari mobil dan langsung menggandeng Tiara. menyusuri koridor Rumah Sakit dan mencari kamar Alya.


Susana terlihat sangat sepi saat Galih dan Tiara sama-sama berdiri di depan sebuah pintu kamar. menyentuh gagang pintu itu dan mendorongnya perlahan.


hingga suasana kamar khas RS terasa sangat jelas.


"Galih..." panggil lirih wanita yang tengah terbaring di atas ranjang pasien di dalam sana.

__ADS_1


Lampu kamar memang dibiarkan redup karena Alya tidak terbiasa tidur dengan cahaya yang sangat terang. hingga ia tak menyadari kalau Galih bukan hanya datang seorang diri.


"Kamu datang...?" tanya Alya, karena sadar bahwa ada bayangan lain yang berada di belakang tubuh Galih.


"Ya... gue datang bersama kekasihku..." jawab Galih. hingga membuat senyum yang sempat mengembang sempurna di bibir Alya seketika lenyap. menyisakan sebuah kesedihan di dalam sana.


"Oh...", Alya menekan remot untuk menghidupkan cahaya di kamar itu. dan seketika jelas terlihat siapa wanita yang bersama dengan Galih saat ini.


Sedikit tak menyangka memang kalau yang bersama Galih adalah wanita yang sama yang pernah bertemu dengan Alya dulu.


Tiara...


Melihat Tiara, Alya seperti sadar bahwa sosok wanita itu amat penting dalam kehidupan Galih. nyatanya, mereka masih bersama hingga saat ini.


Alya tak henti mengamati jemari tangan Galih yang terpaut erat dengan jemari tangan Tiara. seperti memberitahu semua orang kalau mereka adalah pasangan dan tak akan bisa di pisahkan lagi.


"Siapa yang membawa lo kesini?" tanya Galih membawa Tiara ikut mendekati ranjang itu.


"Teman..." jawab Alya. karena siang tadi, ia meminta tolong penghuni kamar sebelah tempat kostnya dan membawanya ke RS ini.


"Sepertinya Tiara lelah..." ucap Alya mengalihkan topik pembicaraan. membuat Tiara yang tadinya hanya menunduk seketika mengangkat pandangannya menatap Alya. menggelengkan kepalanya menolak perkataan wanita itu.


"Tidak... gue baik-baik saja kok..." jawab Tiara. ia tidak lelah, hanya gugup dan merasa tidak nyaman saja.


"Pulang lah Gal..." perintah Alya.


"Gue tidak apa-apa kok..." sela Tiara.


"Lihatlah, gue baik-baik saja..." menunjukkan senyum palsunya agar Galih percaya bahwa Alya memang baik-baik saja.


"Alya..." panggil Galih.


membuat Alya bahkan juga Tiara terfokus pada pria yang tengah duduk tenang di depan sana.


"Jangan mengganggu ku lagi...".


Sebuah ucapan yang mampu membuat Tiara terkejut. membulatkan matanya karena tak menyangka kalau Galih akan mengatakan hal itu.


"Sekarang situasinya sudah berbeda... gue punya hati yang harus dijaga... dan ketika lo selalu menelepon ataupun mengirim pesan, itu sungguh membuat gue merasa tidak enak... gue tidak nyaman dan hal itu juga akan membuat kekasihku merasa sedih..." jujur Galih.


"Jadi berhentilah menghubungiku lagi..." ucap Galih dan segera bangkit dari duduknya. kembali meraih tangan Tiara dan hendak segera pergi dari sana.


"Galih..." panggil Alya saat Galih dan Tiara benar-benar sudah membelakangi ranjang tempat tidur Alya.


Alya ingin mengatakan sesuatu sebelum Galih pergi.


"Maaf..." ucap Alya sambil menitikkan air mata.

__ADS_1


"Maaf karena telah mengganggu hidupmu...".


Karena Alya sadar, sekeras apapun ia berusaha dekat kembali dengan Galih, Tuhan tidak pernah mengizinkan hal itu.


rasa cinta Galih terhadap Alya benar-benar sudah hilang sepenuhnya.


"Maaf karena aku begitu sombong dan pernah mempermainkanmu... maaf...".


Tiara merasakan genggaman tangan Galih yang terasa dingin dan berkeringat. ia tau kalau Galih sedang memikirkan sesuatu saat ini.


"Selamat... selamat akhirnya kamu bisa menemukan kebahagiaanmu lagi... selamat karena kamu telah menemukan wanita sebaik Tiara... aku ikut bahagia untukmu Gal..." ucap Alya dengan nada semakin bergetar.


"Walaupun sedikit awal, tapi selamat atas hubungan kalian... dan pernikahan kalian nanti," tambah Alya.


Mendengar hal itu, entah kenapa Tiara merasakan sesuatu yang sangat aneh. seperti sebuah salam perpisahan dari Alya kepada dirinya.


"Jangan beri selamat sekarang Ya... datanglah saat hari pernikhaanku suatu hari nanti..." ucap Galih masih berdiri membelakangi Alya.


"Tidak..." tolak Alya yakin. "Karena... mungkin aku akan kembali berambisi untuk mencuri perhatian mu lagi nanti...".


"Baiklah, gue terima ucapan selamat darimu..." uaco Galih dan langsung pergi meninggalkan kamar Alya dirawat.


Setelah kepergian Galih, Alya menangis sejadi-jadinya. hatinya benar-benar hancur melihat kenyataan kalau ia telah ditinggalkan banyak orang. Alya benar-benar kehilangan sesuatu yang dulu pernah ia banggakan.


dan sekarang... Alya hanyalah sampah yang tidak berguna.


Bersamaan dengan itu, kenangan-kwnangan yang pernah ia simpan dalam kepalanya kembali berputar. saat dimana orang tuanya masih hidup, saat dimana Alya menikmati masa-masa mudanya dan ada Galih disana. Sungguh itu semua adalah kenangan paling membahagiakan yang pernah Alya rasakan.


Beda lagi dengan Galih dan Tiara. saat mobil yang mereka kendarai kembali dijalanan, tak ada satupun yang bersuara.


Galih dan Tiara sama-sama terdiam. Tiara sibuk dengan pemikirannya, apa gue terlalu egois? batinnya.


Tapi di sisi lain, apa yang Tiara lakukan tidak bisa di salahkan. bukankah sudah haknya untuk menjaga apapun yang Tiara miliki? menjaga hubungannya dengan Galih agar tetap baik-baik saja?


"Galih..." hingga Tiara memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan kekasihnya.


"Jangan merasa kalau yang lo lakukan salah Tiara... lo tidak salah sama sekali..." sela Galih. mungkin saja Tiara akan merasa bersalah atas kejadian yang baru saja terjadi.


"Gue suka sama lo, gue yang ingin berkomitmen dengan lo... jadi tak masalah berkata jujur pada Alya, agar dia juga tau..." ucap Galih.


"Setelah ini... jangan ada kesalahpahaman lagi, jangan pernah berpikir kalau gue akan meninggalkan lo...".


"Terima kasih..." hanya itu yang bisa Tiara katakan. Terima kasih karena Galih begitu mencintainya.


"Boleh gue memeluk lo sebentar?" tanya Tiara tidak tau malunya.


Galih otomatis mengangguk senang, karena sangat jarang Tiara berinisiatif seperti itu.

__ADS_1


"Lama juga boleh...", Galih menepikan mobilnya dan bersiap menerima pelukan dari Tiara.


***


__ADS_2