
HAPPY READING...
***
Dia...
Yang memiliki hati selembut salju.
Yang selalu marah tapi begitu penuh kasih..
Yang selalu menjadi orang pertama yang menangis kala aku terjatuh dan terluka...
Dia yang di ciptakan Tuhan dengan tutur kata penuh makna dan doa...
Dari mulutnya selalu keluar kata indah dan penuh harapan...
Dari tangannya, selalu membuatku kenyang dengan apapun pemberiannya...
Dari bagian tubuhnya, Aku hidup...
Dia yang selalu ku sebut dalam setiap langkahku... Menjadi penerang kala dunia menertawakan ku... Tersenyum bangga walaupun aku gagal...
Dia malaikat yang turun ke Bumi tanpa sayap...
Dia yang ku panggil dengan IBU...
Langit Ibukota masih sedikit gelap di tutupi oleh awan hitam pembawa hujan. Seharusnya sudah saatnya matahari terbit, tapi karena awan itu pula yang membuat sinar surya tak bisa menembus dan menerangi Bumi.
Di depan pagar besi tinggi sebuah rumah megah bak istana bergaya Eropa, seorang pria berdiri. Wajahnya di tutupi dengan masker dan topi. Sambil menyembunyikan kedua jemari tangannya di saku Hoodie berwarna hitam pandangannya tertuju pada sesuatu.
Sudah satu jam lamanya pria itu mengamati rumah di seberang jalan. Melihat ke arah jendela kamar yang terdapat di lantai 2. Mengharapkan sesuatu terlihat untuk melegakan hatinya.
Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Sudah 5 bulan dirinya jauh dari keluarga. Pergi, bersembunyi dan mencoba untuk mengasingkan diri dari gemerlap Ibukota.
Dan disini lah pria itu kembali untuk pertama kalinya. Berdiri di depan rumahnya tanpa berkeinginan untuk masuk dan menyapa keluarganya.
Setelah berpikir cukup lama, menimbang banyak pilihan, Akhirnya Dion datang ke Ibukota. Bukan untuk kembali, hanya untuk sedikit mengobati rindunya terhadap sang malaikat yang selalu membuat Dion merasa kuat.
Mama... sebuah kata yang terukir jelas dalam hatinya. Bahkan mempunyai tempat istimewa dan tak tergantikan oleh siapapun. Termasuk dengan perempuan yang akan menemaninya kelak.
Bagi Dion, Mama adalah segalanya. Sosok Ibu yang selalu menguatkan, melindungi dan tempat Dion untuk kembali.
Tapi sekarang, jangankan untuk memeluk Mamanya. Dion bahkan tak mampu untuk masuk menemuinya. Yang bisa ia lakukan hanya melihat Mamanya dari jauh dan berdoa demi kesehatan beliau.
Hingga samar-samar Jendela kamar di atas sana terbuka. Angin mampu menggoyangkan tirai berwana abu-abu berkibar hingga balkon.
Dion membulatkan mata, dadanya bergemuruh melihat sosok yang amat di rindukannya terbalut piyama panjang berwarna hitam berdiri disana.
"Mama..." hingga tanpa sadar lidahnya terucap sebuah kata.
Matanya memerah menahan kesedihan.
Walaupun hanya dapat melihat dari jauh, Dion sudah bahagia.
Hal yang membuatnya risau hilang sudah. Mamanya dalam keadaan sehat.
Belum puas melihat sang Mama, terdengar pintu gerbang di buka. Membuat Dion panik dan langsung menghidupkan motornya dan pergi.
Ia tidak bisa berlama-lama disana dan sangat bahaya jika penjaga rumah menyadari keberadaannya.
__ADS_1
***
POV Mama.
Mama sedang tidur di ranjang bersebelahan dengan suaminya. Keningnya tiba-tiba di penuhi oleh peluh. Terlihat jelas sekali kalau beliau sedang bermimpi buruk.
"Aakk... Dion..." ucapnya sambil terbangun dengan nafas ngos-ngosan.
Sudah menjadi mimpi buruk nya sehari-hari. Mimpi itu muncul ketika Dion pergi dari rumah dan hingga 5 bulan lamanya, Mama selalu bermimpi sama.
Membuatnya selalu menitikkan mata ketika terbangun.
Dengan menghapus air matanya, wanita paruh baya itu bangkit dari ranjang tanpa mengganggu suaminya. Turun dengan sangat pelan dan menuju ke jendela. Membuka satu sisinya di barengi dengan angin kencang yang bertiup.
Hujan akan turun... batinnya bicara. Karena langit juga terlihat gelap.
Entah kenapa langkah kaki membawa wanita itu menuju ke balkon kamar. Berdiri memandang ke arah langit yang di penuhi dengan awan hitam.
Mama...
Seketika Mama mengedarkan pandangannya. "Yang tadi itu apa?" jelas sekali kalau pandangan wanita itu sedang mencari sesuatu entah apa.
Karena barusan Mama jelas mendengar seseorang memanggilnya.
Tapi anehnya hanya terdengar sekilas di telinganya. Membuat Mama celingak-celinguk mencari sumber suara.
Yang terlintas di kepala nya saat ini hanya satu. Putra keduanya yang jauh darinya.
Walaupun Mama tau dimana keberadaan Dion, tapi ia sama sekali tidak bisa menemui putra kesayangannya itu.
Karena ada sesuatu hal yang membuat Mama terpaku di rumah ini bersama suami dan juga anak pertamanya. Sesuatu yang seperti mengikat kakinya tanpa bisa pergi.
Karena sudah berumur, mempengaruhi juga jarak pandangnya.
Kabur... yang terlihat hanya sosok berjaket hitam saja tanpa tau bagaimana wajahnya.
Mungkin perasaan seorang Ibu tidak bisa di bandingkan apapun. Itulah yang terjadi pada Mama. Walaupun tak mampu melihat sosok di bawah sana dengan jelas tapi dalam hati beliau sangat yakin kalau di bawah sana adalah putra kesayangannya.
"Dioonnn..." ucapnya dan langsung berlari. Meninggalkan kamar dan turun menuju ke lantai dasar rumah mewah itu.
Bahkan Mama sama sekali tidak memperhatikan langkah kakinya saat menuruni anak tangga. Wanita itu terus berlari tergesa-gesa tanpa mendengar pelayan yang khawatir.
"Dioonnn..." teriak beliau begitu memilukan.
Hingga menantu pertama keluarga itu yang sedang menggendong anak perempuannya ikut terkejut melihat Mama.
"Mama..." panggilnya dan ikut berlari walaupun kalah jauh.
"Dioonnn..." hanya satu yang terucap dari bibir Mama sepanjang langkah kakinya.
Wanita itu terus berlari keluar rumah tanpa memakai alas kaki.
"Suamiku... lihatlah Mama..." teriak menantu keluarga itu memanggil suaminya yang memang berada di samping mobil hendak keluar gerbang.
"Suamiku...".
Semua penghuni rumah benar-benar kebingungan. Sebagian dari pelayan itu mengejar Nyonya besar yang berlari.
"Dioonnn..." hampir sampai gerbang, Putra pertamanya menghentikan langkah Mamanya.
"Mama, ada apa?" tanya nya penuh khawatir.
__ADS_1
"Dion... dion datang... Dion datang Ga... Adikmu datang..." ucap Mama histeris.
Pria bernama Rega itu pun mengedarkan pandangannya. Mencari sosok yang disebutkan Ibunya telah datang.
"Mama... Dion tidak disini..." ucap Rega menjelaskan. Karena tidak ada siapapun di depan sana. Bukan hanya dirinya, semua penjaga juga pasti tidak melihatnya karena saat ini gerbang rumah terbuka lebar.
"Dion datang... Mama yakin..." teriak wanita itu. Mencoba melepaskan diri dari Rega.
Mama hanya ingin melihat keluar gerbang. Mungkin saja Dion telah berdiri di sana menunggu di jemput Mama.
"Ma... tidak ada siapapun di depan..." ucap Rega meyakinkan Mamanya. Hingga beberapa pelayan serta Istri Rega juga berdiri di dekat mereka.
"Mama melihatnya Ga... adikmu berdiri di ujung sana melihat Mama... dia telah kembali Ga... Dion kembali..." teriak Mama lebih histeris karena Rega masih menghalanginya untuk melihat keluar gerbang.
Tappa sadar, keributan yang di ciptakan Mama membuat seorang pria yang juga ber piyama hitam berjalan mendekati mereka.
"Ada keributan apa ini?" tanyanya dengan murka.
Entah apa yang di pikirkan Mama saat ini. melihat suaminya datang justru membuatnya mendekati Papa.
"Dion kembali Pa... dia datang kesini tadi," adunya.
Papa yang terkejut langsung menatap Rega dan para penjaga gerbang. Apa benar? begitu sorot matanya bicara.
Membuat Rega dan para penjaga menggelengkan kepala, karena mereka memang tidak melihat siapapun seperti yang dikatakan Mama.
"Dion kembali Pa..."
Tapi tanpa diduga sama sekali,
Plaakkk... sebuah tamparan keras mengenai pipi kiri Mama. Membuat wanita itu langsung terdiam sedangkan Rega dan semua orang di sana terdiam penuh ketakutan.
"Berhenti Berhalusinasi! Dion tidak ada disini... anak itu tidak lagi menjadi bagian dari keluarga ini... lupakan dia!" ucap Papa memperingati dan langsung berjalan pergi kembali ke rumah.
Tinggal Rega, istrinya dan Mama.
"Hiks..." tangis dari sang Mama benar-benar membuat istrinya Rega ikut sedih.
Setelah menyerahkan bayi perempuannya kepada pelayan, wanita itu mendekati Mama. Mengelus pundak mertuanya untuk sedikit mengurangi kesedihannya.
"Dion tadi disini nak... dia disini...".
"Iya Ma... saya percaya dengan ucapan Mama..." hibur wanita itu.
Sabar ya Ma... aku yakin Mama kuat... batin istrinya Rega.
Karena selama menjadi menantu keluarga ini, dia tau bagaimana perlakuan Papa terhadap Mama.
Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menghibur Mama.
Sedangkan Rega, pria itu terlihat lebih patuh pada Papa dibandingkan dengan Mamanya.
***
Huaaa... napa sedih yak?
**Harusnya Part ini muncul saat hari Ibu, 22 Des kemarin, tapi ternyata kelewat...
Ya udah Gpp ya, walaupun telat...
"Selamat hari Ibu untuk Ibu-Ibu kuat, tangguh di luaran saja**..."
__ADS_1