Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
90. Histeris.


__ADS_3

HAPPY READING.


***


Tubuh Galih menegang dengan tatapan yang tak lepas mengamati pergerakan Akira.


Baru melihat jarum saja sudah membuat bulu kuduk nya berdiri.


Apa mereka gila? bermain-main dengan jarum suntik...


Galih benar-benar belum bisa mencerna perkataan Arjun barusan. Kepalanya di penuhi dengan tanda tanya yang begitu banyak.


Dan salah satu pertanyaan yang terdapat di kepalanya adalah kenapa harus dirinya yang menjadi bahan percobaan?


Ah, rasanya Galih benar-benar ingin pingsan saat ini juga.


"Tidak akan sakit kok," ucap Arjun menjadi satu-satunya suara yang tercipta diantara kepanikan saat ini.


"Tidak sakit kepala Lo! ini jarum nyet, jarum suntik!" teriak Galih.


Apa jatuh cinta memang bisa membuat orang menjadi buta hingga tidak bisa membedakan jarum suntik dengan lidi? begitu hati Galih bicara.


"Iya gue tau, tapi tidak sakit kok... gue udah nyoba,"


"What?"


Apa dia bilang? dia sudah pernah nyoba? maksudnya di suntik Akira sebelum menyuntik ku begitu?


Galih menggelengkan kepalanya. Semua yang ada di depan matanya benar-benar seperti sebuah mimpi.


Mimpi buruk lebih tepatnya.


Gue ingin mati saat ini juga! batin Galih frustasi.


Entah mimpi apa Galih semalam hingga sepagi ini kedatangan tamu yang di luar nalar manusia.


Tamu yang seenaknya sendiri datang dengan membawa jarum suntik dan lebih parahnya hendak menyuntik si pemilik rumah dengan paksa.


Ini termasuk pemaksaan bukan? karena Galih tak berkeinginan untuk di suntik.


Galih bangkit dari duduknya saat Akira tersenyum sambil membawa jarum suntik.


"Jangan mendekat!" teriaknya.


Antara panik dan gugup, perut Galih juga tiba-tiba terasa mulas sekali.


"Tidak akan sakit nyet!" ucap Arjun mencoba untuk meyakinkan sahabatnya.


Gak sakit kepala Lo! itu jarum suntik nyet! Arjun benar-benar sudah kehilangan akal...


Galih masih mengambil ancang-ancang untuk kabur dari Arjun, berdiri di belakang sofa agar sulit untuk di tangkap. Tentu saja pemandangan kali ini terlihat seperti seorang pencuri yang menghindar dari kejaran polisi, tapi bedanya Galih bukan pencuri melainkan calon korban percobaan Akira.


"Sayang, kamu kesana..." perintah Arjun dan langsung di iyakan oleh istrinya.


Sedangkan Arjun berdiri di sisi lain menghalangi Galih. "Kalian benar-benar keterlaluan... Gue bisa mukul Lo ya!" ancam Galih.


Tentu saja hal itu tak membuat Arjun takut ataupun gentar. Pria itu terus mendekati Galih yang semakin ketakutan bahkan berancang-ancang untuk memukul Arjun saat mendekat.


"Mundur gak?" perintah Galih. Sungguh rasanya ia benar-benar ingin menonjok Arjun dan pergi dari Apartemen nya sendiri.


Ini pasangan benar-benar serasi.. serasi sebagai komplotan kejahatan... batin Galih.


Dan sekarang Galih telah terpojok. "Ayolah bro, bantuin Akira..." pinta Arjun bahkan terdengar mengiba.


Hanya Galih yang dapat membantunya saat ini karena tangan Arjun masih terdapat bekas keunguan akibat percobaan Akira beberapa hari yang lalu.


"Bantuin bantuin... kalau masalah lain gue setuju nyet!" umpat Galih. Karena saat Galih sakit, ia hanya meminum obat tanpa mau di suntik sama sekali.


"Lagian jarumnya kecil kok... Lo dengan seenaknya sendiri menyuntik gadis-gadis di luaran sana, tanpa peduli mereka kesakitan atau tidak..."


Ucapan itu langsung membuat Galih menatap ke arah siapa yang berbicara.


Eh, Apa dia bilang? Ck... pasti dia belajar dari Arjun sampai bisa berkata seperti itu... batin Galih sambil menatap istri sahabatnya.

__ADS_1


"Iya tuh..." tambah Arjun mengkompori.


Saat Galih sedang lengah tiba-tiba Arjun mendekat dan langsung memegangi kedua lengan Galih dari belakang. Tentu saja hal itu membuat Galih semakin berteriak histeris.


"Hoy, lepas... lepas nyet!" teriaknya memekakan telinga.


Sungguh nafas mereka terdengar ngos-ngosan.


Arjun sampai kewalahan sendiri memegangi sahabatnya tersebut. Apalagi mereka sama-sama sering berkelahi di masa dulu.


"Lepasin gak?" ancam Galih.


"Tolong bantu istri gue, sekali saja..." mohon Arjun.


Inilah pertama kalinya Arjun memohon kepada orang lain demi Akira. Padahal Arjun tergolong pria yang selalu meninggikan harga dirinya di atas segalanya.


"Gue takut nyet!"


"Gapapa... sungguh tidak terlalu sakit kok..." Arjun masih menjelaskan.


"Gini-gini... bantuin Akira, nanti gue transfer uang sesuai yang Lo minta," ucap Arjun memberi opsi pilihan lain.


Tentu saja Galih tidak memperdulikan uang untuk saat ini. Lagian ia sudah cukup kaya dan tidak akan menjadi gembel hingga menikah dan mempunyai anak. Ketakutannya hanya satu, Galih benar-benar takut jarum suntik.


"Please tolong gue..." ucap Arjun mengiba.


"Gue gak bisa nyet! cari orang lain saja..." Galih masih ngeyel.


"20 juta,"


Galih masih menggelengkan kepalanya yakin.


"Ya udah, naik 30 juta..." ucap Arjun seperti sedang berada di acara lelang.


"Tidak... gue tidak bisa..."


"Ini yang terakhir, 50 juta! atau mulai besok Lo gue pecat!" ucap Arjun telak.


Gleekk... Galih menelan salivanya dengan susah payah.


"50 juta sekali suntik kan?" tanya Galih dengan nada bergetar.


Iming-iming Arjun benar-benar membuat hatinya sedikit goyah. 50 juta setara dengan gajinya beberapa bulan, dan kali ini ia mendapatkan hanya beberapa menit saja. Menggiurkan bukan?


Arjun mengangguk setuju sedangkan Akira menampakkan wajah tak percayanya. Baginya, 50 juta adalah uang yang sangat banyak.


Hah? apa ini kekuatan orang kaya yang sebenarnya?


"Tapi... -"


"Tidak ada tapi-tapian," sela Arjun.


Setelah mengamati Galih yang pasrah, Arjun tersenyum penuh kemenangan. Walaupun kehilangan banyak uang, setidaknya Arjun lega karena tak harus dia yang merasakan suntikan dari istrinya lagi.


Dengan sangat yakin, Arjun membawa Galih untuk kembali duduk di sofa. Memegangi leher Galih seperti seorang polisi yang menangkap pencuri.


"Gue bisa mati nyet!" gerutu Galih dan tentu saja Arjun langsung melepaskannya.


"Sayang, Galih sudah siap..." ucap Arjun memberi aba-aba pada istrinya.


"Oke," jawab Akira semangat.


Sekarang gadis itu berjalan mendekati Galih dan duduk tepat di samping pria itu.


"Jangan dekat-dekat!" ancam Arjun. Cemburu sekali dia melihat Akira yang duduk di samping Galih.


Ck, dia benar-benar sinting! umpat Galih dalam hati.


"Aku tidak bisa menyuntik nanti..." Mana bisa Akira menyuntik di jarak yang begitu jauh.


Hal itu tentu saja membuat Arjun mengerucutkan bibir sebal.


Akira mulai mengoleskan kapas yang telah di basahi dengan alkohol di lengan Galih. Mengikat Tourniquet di atas lengan yang akan di suntik.

__ADS_1


Dengan seksama Akira mulai meraba dan mencari pembuluh Vena milik Galih. Hal itu tentu saja membuat Arjun kembali melayangkan protes.


"Sayang, kamu hanya ingin menyentuh lengan pria lain?" semprot Arjun tiba-tiba. Padahal ia sudah sangat kesal karena istrinya itu menyentuh Galih.


"Jangan bicara omong kosong, aku sedang mencari Venanya..." jawab Akira kesal.


Akira masih berusaha berkonsentrasi oleh pekerjaannya selagi Galih berulang kali ngoceh tak jelas.


"Aduh, perut gue mulas..." sela Galih. Kepanikan seperti ini memang bisa membuat perutnya seperti di aduk-aduk.


"Diam lah!" ucap Arjun sambil menutup mulut sahabatnya.


"Oke, ketemu..." Akira telah menemukan pembuluh Vena milik Galih dan bersiap untuk menyuntikkan jarum.


"Tunggu!..." cegah Galih saat jarum kecil itu hampir mengenai permukaan kulitnya.


Membuat Akira mendongak untuk mendengar apa yang akan di katakan oleh Galih.


"Ini tidak akan beresiko kan?" tanya Galih cemas. Bisa saja kan akan terjadi resiko di kemudian hari pada tubuhnya.


"Tidak ada, ayo sayang... cepat suntik!" perintah Arjun tak sabar.


Akira kembali berkonsentrasi menusukkan jarum di dalam lengan Galih. Tangannya benar-benar bergetar karena gugup di tambah tangan Galih yang mulai terasa dingin.


"Aaawww..." teriak Galih memekakan telinga hingga membuat Akira memejamkan mata karena terkejut. Padahal jarum itu belum masuk sama sekali.


Ck, padahal belum masuk... kenapa sudah berteriak? batin Arjun kesal.


Segera ia memutar kepala Galih untuk tenggelam dalam dadanya seperti yang sering Arjun lakukan kepada Akira saat gadis itu menangis.


Akira merasa geli melihat kelakuan 2 pria tersebut, tapi ia hanya tersenyum dan langsung menusukkan jarumnya ke lengan Galih.


Pandangannya tajam mengamati jarumn yang mulai terlihat merah karena darah.


Eh, kenapa tak lagi keluar? batin Akira bertanya-tanya.


Padahal Akira sudah yakin kalau uji cobanya kali ini bakal berhasil.


"Tidak berhasil?" tanya Arjun saat Akira mengeluarkan jarum suntik nya. Tangannya langsung mendorong kepala Galih untuk menjauhi dirinya.


Wajah Akira seketika berubah pias. Kecewa lebih tepatnya.


Ia sudah berusaha penuh tapi usahanya tak berhasil.


Bahkan Akira tidak memperdulikan rengekan Galih yang menjadi satu-satunya sumber suara di dalam Apartemen tersebut.


Akira mengemasi semua peralatannya tanpa banyak bicara. Kecewa sedih dan rasa bersalah benar-benar memenuhi hatinya.


"Sayang!" teriak arjun ketika istrinya mulai berjalan ke arah pintu dan keluar.


Segera Arjun ikut berlari mengejar istrinya meninggalkan korban mereka sendirian.


 


Sepanjang lorong Apartemen, Akira hanya menangis dan menundukkan kepalanya.


"Hiks..."


Ia benar-benar merasa tidak berguna sama sekali.


Kenapa aku sangat bodoh dalam berbagai hal? kenapa aku tidak memiliki sedikit saja kepintaran... Padahal menyuntik adalah dasar yang harus dimiliki seorang perawat. kenapa aku tidak bisa?


Sedangkan Arjun berlari mengejar istrinya. Kakinya pendek kenapa jalannya lumayan cepat sih... keluhnya dalam hati.


Tapi semua itu bisa diatasi oleh Arjun ketika ia telah mendekati istrinya.


Arjun menarik tangan istrinya. "Sayang!" dipeluk nya tubuh Akira dengan lembut.


Hal itu semakin membuat Akira kehilangan kontrol untuk berhenti menangis. Tangisnya pecah di dalam pelukan Arjun.


"Jangan menangis sayang..." pinta Arjun.


***

__ADS_1


Pertama-tama ngakak gara-gara kelakuan mereka, tapi di akhir jadi kasihan melihat Akira yang sedih... huhuhu...


Komen banyak-banyak, oke?????


__ADS_2