Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
159. Pembantu.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sejak pukul 5 pagi, Tiara sudah bangun. Sebenarnya tidak bisa di katakan bangun tidur karena semalam dirinya sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Hanya berguling-guling seperti buah semangka di atas ranjang tanpa berkeinginan untuk memejamkan mata.


Tiara sudah memutuskan masa depannya.


Dia tidak boleh gegabah untuk menentukan sesuatu tanpa memikirkannya secara matang. Dan pagi ini Tiara sudah sepakat akan membahasnya dengan Galih sambil sarapan.


Itulah sebabnya Tiara bangun pagi. Membersihkan Apartemen Galih mulai dari menyapu, mengepel hingga mencuci pakaian kotor pria itu.


Dan sekarang dirinya sedang sibuk memasak sarapan sebelum Galih bangun.


Karena akan lebih irit jika Tiara memasak dibandingkan harus membeli makanan di luar.


Menu sarapan yang Tiara buat adalah ikan bakar lengkap dengan sambal. Hingga tak sengaja membuat Galih yang masih nyenyak di atas ranjang beberapa kali bersin.


"Hakkjiingg... bau apa ini?" gumam Galih masih dengan mata yang terpejam.


Bau yang entah berasal dari mana itu mampu menusuk hidungnya.


"Apa-apaan ini?" gerutunya hingga terpaksa membuka paksa matanya.


Sejenak Galih melirik jam digital di atas nakas. Jam 6...


Sehingga yang di lakukan Galih adalah bangkit dari ranjang mencari sumber bau yang mengganggu tidurnya barusan.


Ternyata bau menyengat nan pedas itu berasal dari dapur. Dan pelakunya tentu saja gadis yang tinggal bersamanya sejak kemarin.


"Eh, sudah bangun?" ucap Tiara terkejut melihat Galih yang tiba-tiba duduk di kursi makan dengan rambut yang berantakan.


"Ini pertama kalinya ada yang mengganggu tidur gue..." keluh Galuh bahkan membuat dirinya bersin beberapa kali.


"Sorry... gue lagi memasak," sesal Tiara.


Membuat sambal ketika yang lain masih tidur memang sebuah kesalahan.


Untung Galih tidak mengatakan apapun yang menyakiti hati Tiara. Secara pria itu kan selalu berkata pedas setiap saat.


"Buatin kopi..." ucap Galih sambil menyentuh kepalanya yang berdenyut nyeri akibat minuman semalam.


"Semalam lo mabuk, bagaimana kalau di ganti susu hangat?" saran Tiara.


"Em... boleh,".


Setelah mendapat persetujuan dari Galih, akhirnya Tiara menghangatkan segelas susu dan membawanya ke arah Galih.


"Nih..." sodornya dan ikut duduk di kursi seberang Galih.


Aduh... bagaimana gue memulainya ya? tiba-tiba Tiara merasa bingung untuk memulai pembicaraan dengan Galih.


Sial! gue gugup berada disini bersamanya... gerutu Galih dalam hati.


"Gue..."


"Gue..." ucap Galih bersamaan dengan Tiara. Hingga keduanya salah tingkah.


"Lo duluan..." pinta Tiara.


Galih berdehem sebelum mengatakan sesuatu, "Ehemm... sorry,"


Sebuah permintaan maaf yang terdengar aneh bagi Tiara.


"Sorry soal ciuman semalam..." tambah Galih. Sebenarnya ia hanya ingin membuat Alya tidak lagi mengganggu kehidupannya. Itulah sebabnya Galih menyeret Tiara ke dalam masalahnya.

__ADS_1


Tapi karena semalam dirinya mabuk, Galih sedikit meracau dengan mengatakan hal yang tidak-tidak.


Jadi benar kan? dia tidak serius memintaku untuk menikah? semua itu gara-gara dia mabuk kan? batin Tiara.


"Apa yang ingin lo katakan?" tanya Galih penasaran. Karena tadi mereka memang sama-sama ingin mengatakan sesuatu.


"Ee... itu..." Tiara menjadi semakin gugup.


"Apa? soal menikah?" ucap Galih menduga.


Hal itu membuat Tiara hanya mengangguk.


"Apa lo mau?" tanya Galih malah terkejut sendiri dengan dugaannya. Karena Galih benar-benar tidak memprediksi kalau Tiara mau.


"Bukan seperti itu... maksud gue... em... gue tidak mau menikah dengan lo..." ralat Tiara.


Bagaimanapun Tiara tidak mau bertindak tanpa berpikir lebih dulu.


"Lalu?" tanya Galih. Apa sih maunya? gue jadi deg-degan...


"Em... bagaimana kalau di ganti saja, maksud gue... bagaimana kalau gue jadi pembantu Lo saja dibandingkan jadi istri?" ucap Tiara menyarankan.


Tentu saja hal itu membuat Galih melongo tak percaya. Pembantu? memperkerjakan nya begitu?


"Gue memang butuh biaya untuk kuliah... bagaimana kalau gue jadi pembantu di rumah ini... gue bisa kok membersihkan rumah, mencuci dan memasak...".


Ha? Galih masih terkejut dengan perkataan Tiara.


"Bagaimana?" ucap Tiara bahkan menunjukkan binar mata penuh harap. Berharap kalau Galih benar-benar mau menerima Tiara sebagai pembantu.


"Lo yakin?" tanya Galih.


Seorang gadis muda menjadi pembantu di rumahnya? sangat aneh.


Apalagi Galih adalah pria normal, apa Tiara tidak akan takut?


Toh sebelumnya juga Tiara kerapkali membantu ibunya. Jadi pekerjaan rumah bukanlah hal yang sulit baginya.


"Baiklah," jawab Galih mengalah.


Kedua anak manusia itu akhirnya menikmati sarapan bersama.


Terkadang Tiara juga membantu Galih untuk menyingkirkan duri di ikan.


***


Di Perusahaan Pradipta Group.


"Nyet... perut lo lapar tidak?" tanya Arjun tiba-tiba.


Sekarang nafsu makan pria itu telah kembali. Jadi saat seperti ini, Arjun kerap kali merasa lapar.


"Tidak," jawab Galih.


"Keluar cari makan yuk..." ajak Arjun memohon.


Galih melirik ke arah jam tangannya. Masih terlalu lama untuk makan siang...


"Gak ah... nanti di marahin bokap lo..." jawab Galih. Karena akan jadi masalah kalau mereka menyelinap keluar sebelum jam makan siang.


"Ya udah, beliin sesuatu kek di kantin..." rajuk Arjun. Hal itu membuat Galih terpaksa bangkit dan keluar dari ruangan Arjun.


Baru melangkah beberapa saat, Galih teringat dengan sesuatu yang di bawanya pagi tadi.


Sebenarnya bukan di bawa sih, lebih tepatnya Galih terpaksa membawanya karena desakan seseorang.

__ADS_1


"Kenapa gue harus membawanya?" tanya Galih kebingungan setelah Tiara menyodorkan Paperbag.


"Karena di dalam ada makan siang untuk mu..." jawab gadis itu tanpa bersalah sama sekali.


"Tidak!" tolak Galih. Lagian kenapa ia harus repot-repot bawa bekal makan siang sedangkan di Kantin Perusahaan juga banyak makanan enak.


"Pokoknya bawa... gue sudah bersusah payah membuatnya..." desak Tiara dengan mimik wajah yang sedih hendak menangis.


Sebenarnya Galih tidak ingin, tapi di sisi lain ia juga tidak tega membuat Tiara menangis. Karena sesuai janjinya kepada ibunya Tiara, Galih harus membahagiakan gadis itu. Dan inilah salah satunya membuta Tiara senang.


Tanpa pikir panjang, Galih langsung menuju ke tempat parkir. Membuka mobilnya untuk mengambil Paperbag besar berisi kotak makan dan membawanya masuk ke dalam Gedung Perusahaan. Menemui Arjun lagi di ruangannya.


"Lo mau ini?" tanya Galih. Mungkin saja Arjun tidak mau memakan makanan yang dibawa.


"Apa itu?" tanya Arjun penasaran dan langsung mengambil Paperbag dari tangan Galih.


"Waw..." membukanya dengan sangat antusias.


Di dalam kotak makan ada nasi yang berbentuk kartun Snoopy dengan mata dan hidung dari rumput laut, telur gulung seperti di makanan Jepang serta tumis sayuran dan beberapa sosis.


Sedikit lucu memang karena bekal itu malah terlihat seperti bekal anak SD.


Tapi beda dengan Arjun, pria itu langsung tersenyum meledek, "Ck... buatan cewek lo?" selidik Arjun.


"Bu-bukan..." jawab Galih tergagap.


"Lalu?"


Gue harus bilang apa? aduh... kenapa tidak gue pikir dulu sih sebelum memberikannya pada Arjun... sesal Galih.


"Jadi Lo mulai membawa bekal makan siang lucu mulai hari ini?" goda Arjun.


Membuat Galih semakin bingung untuk menjawab seperti apa.


"Tidak, tadi cuma tidak sengaja membawanya..." elak Galih.


"Enak juga," tanpa di duga Galih, Arjun telah memakan sesuap bekal makan siang itu.


Merasai masakan yang menurutnya enak.


"Masak sih?" Galih ikut penasaran dan mengambil sesuap juga. Memakannya sama seperti yang dilakukan Arjun tadi.


"Iya enak..." gumam Galih tanpa sadar.


Dan kedua pria itu mulai menikmati makan siang yang terlalu cepat dari jam yang di tentukan.


Hingga tepat pukul 11 siang, Galih yang duduk di sofa mulai sibuk dengan ponselnya. Mengetik sesuatu hendak mengirim pesan dan kembali menghapusnya. Bahkan hingga beberapa kali,


Agghh... sulit sekali mengatakannya...


Hingga sebuah pesan muncul di ponselnya tiba-tiba, membuat Galih terkejut dan langsung membaca pesan itu.


TIARA : [ Bagaimana? sudah memakannya?]


Membuat Galih tersenyum.


Hingga tanpa sadar, ia membalas pesan itu.


[Sudah, Terima kasih makan siangnya...]


Pesan balasan Galih di akhiri dengan tanda jempol.


Dan pria itu kembali tersenyum, menampakkan gigi gingsungnya dan menambah kesan manis.


***

__ADS_1


1 Part aja hari ini..


semoga Syuka...


__ADS_2