
HAPPY READING...
***
Tiara berjalan menuju ke kantin. Setidaknya sebuah minuman dingin mampu menghilangkan dahaganya di siang hari yang sangat panas seperti sekarang.
Dengan langkah yang cepat, Tiara langsung tersenyum senang mendekati lemari pendingin.
Sedikit menunduk untuk mencari minuman yang di sukai.
Pilihan Tiara jatuh pada minuman bersoda dan langsung membayarnya sebelum akhirnya duduk di salah satu bangku tempat tersebut.
Tidak banyak orang yang duduk di sana. Untuk itu cocok bagi Tiara untuk sedikit menyelesaikan tugasnya di tempat tersebut.
Dengan menghidupkan Laptop, Tiara benar-benar tenggelam di dalamnya.
Waktu terus berputar hingga seorang pria juga masuk ke dalam kantin. Hal pertama yang dilihatnya adalah Tiara yang tengah sibuk dengan Laptop.
Entah apa yang sedang di pikirkan nya hingga pria itu ingin sekali mendekati Tiara untuk sekedar berbincang-bincang. Sudah sangat lama sekali ia tidak ngobrol dengan gadis itu padahal di masa lalu Tiara adalah salah satu jembatan baginya untuk sukses mendekati gadis lain.
"Hai," sapanya hingga membuat Tiara mendongakkan kepala. Mencari tahu siapa orang yang sedang menyapanya barusan.
"De-an?" ucap Tiara terkejut. Bagaimana ia tak terkejut dengan sosok di depannya saat ini.
"Kenapa terkejut seperti itu?" tanya Dean dengan senyum ramah.
Siapa coba yang tidak terkejut dengan kedatangan Dean yang tiba-tiba seperti sekarang. Tiara dan Dean tidak lagi sering mengobrol beberapa bulan terakhir. Lebih tepatnya setelah Dean putus dengan Akira.
Walaupun sebenarnya Tiara tidak ada sangkut paut dengan semuanya, tapi dari cara Dean menghindar membuat Tiara sadar bahwa tidak ada alasan lagi baginya untuk akrab dengan pria itu.
"Tidak," elak Tiara. Ia tidak tau harus beralasan apa.
"Boleh ikut duduk?" tanya Dean.
Tiara hanya mengangguk kaku tanpa mengatakan apapun.
Dean meletakkan botol minumannya di meja dan langsung duduk. "Kenapa sendirian?" tanyanya. Tapi yang jelas Tiara paham kalau Dean pasti mencari seseorang yang selalu bersama dengan Tiara. Siapa lagi kalau bukan Akira.
"Iya... aku ingin menyelesaikan tugasku..." jawab Taira tanpa mau membawa nama Akira dalam perbincangannya.
Bagaimanapun Tiara tau kalau sejak saat itu baik Akira maupun Dean sama sekali tidak pernah bicara lagi.
"Kelas mu sudah selesai?" tanya Tiara sekedar basa-basi.
"Sudah... mau pulang tapi cuacanya sangat panas...".
Tiara pun mengangguk setuju dengan apa yang Dean ucapkan. Karena cuaca saat ini juga Tiara sampai di tempat ini untuk mencari minum.
Tapi siapa sangka kalau di kantin ini ia malah bertemu dengan Dean.
Canggung kembali mengambil alih suasana. Entah kenapa rasanya sangat beda dengan yang dulu saat Dean masih menjalin hubungan dengan Akira.
Tiara tidak gugup seperti sekarang.
Agghh... gue benar-benar tidak punya topik pembicaraan... batin Tiara.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Dean dengan perlahan.
Tiara langsung menghentikan aktifitasnya. Kosa kata yang Dean pakai barusan terdengar ambigu. Maksudnya kabar siapa? Akira? begitu hati Tiara bicara.
"Siapa?" tanya Tiara mencoba untuk tidak mengerti.
"Siapa lagi kalau bukan dia?"
"Akira?"
"Hm,"
__ADS_1
Oh jadi Dean menanyakan Akira... bagaimana aku menjawabnya? bingung sendiri untuk menjawab apa. Karena yang Tiara tau, Akira saat ini jauh terlihat bahagia daripada dulu.
"Akira baik-baik saja..." jawab Tiara singkat.
"Bagaimana dengan prakteknya?" tanya Dean lagi. Yang ia tau, Jurusan Kesehatan yang Akira masuki sedang praktek menyuntik. Dan Dean juga mendengar kalau banyak mahasiswi yang kesulitan dalam praktek tersebut.
"Oh itu... em," Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Besok ujiannya di mulai... Aku rasa Akira akan bisa melaluinya dengan mudah..." jawab Tiara.
"Benarkah?" tentu saja Dean tidak yakin. Karena yang ia tau, Akira sama sekali belum pernah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan jarum suntik.
"Tentu saja, Akira memiliki keluarga yang mendukungnya...dan juga... suaminya,". Tiara menekankan ucapannya ketika bilang suami sambil mengamati wajah Dean. Kali aja ada sesuatu yang berbeda dari wajah pria itu saat Tiara menyebut pria lain.
Eh, apa itu ekspresi kekecewaan? batin Tiara sedikit terkejut.
"Akira memiliki suami yang hebat, bahkan Akira belajar menyuntik dengan Arjun," tambah Tiara padahal Dean sama sekali tidak bertanya demikian.
"Maksudnya?" tentu saja Dean terpancing. Apa yang bisa Arjun lakukan dengan praktek Akira.
Apa dia menjadi bahan percobaan Akira, begitu?
"Akira belajar menyuntik menggunakan tangan Arjun... dan pria itu juga yang mengajari Akira. Arjun kan dulu pernah kuliah di kedokteran, jadi paham dengan semuanya...".
Dean seketika terkejut, ia bahkan tidak tau kalau Arjun pernah kuliah di kedokteran sama seperti yang ia pelajari saat ini.
Bukan hanya Dean, semua orang juga tidak akan mengira kalau Arjun pernah kuliah di bidang lain dan akhirnya terjun ke perusahaan milik keluarganya.
"Arjun adalah tipe ideal semua wanita... pintar, tampan, mapan... beruntung sekali Akira..." pujian di lontarkan Tiara untuk sedikit membuat Dean sadar kalau dia tidak bisa lagi memiliki Akira.
"Kamu tau kalau Akira dan suaminya hanya..." ucap Dean mengambang. Ia sengaja tidak meneruskan kalimatnya untuk membuat Taira sedikit bereaksi.
"Ya, dulu memang seperti itu... aku juga sedikit terlambat mengetahui semuanya..." jawab Tiara.
"Dulu? maksudnya sekarang tidak lagi?" tanya Dean lebih kearah ingin tau tentang semuanya.
Kenapa gue memiliki firasat yang buruk ya?
Banyak sekali kejanggalan dalam ucapan Dean barusan.
Tiara hanya takut kalau Dean bertindak bodoh dengan mengganggu Akira.
"Akira dan Arjun benar-benar serasi...Akira yang mengatakan kalau dia menyukai suaminya..." tambah Tiara.
Bagaimanapun Akira adalah sahabatnya. Tiara tidak mau ada seseorang yang bertindak jahat terhadap Akira apalagi dengan merusak pernikahan itu.
"Lo tidak tidak begitu tau semuanya..." sela Dean. Dari ucapannya, Tiara tau kalau Dean tidak percaya dengan perasaan Akira kepada Arjun.
"Maksud Lo?" tanya Tiara.Ia butuh penjelasan terhadap apa yang di katakan Dean.
Dan apa yang membuat Dean yakin kalau Akira tidak mencintai Arjun.
"Kenapa? Arjun hanya ingin mengikat Akira... pria itu hanya ingin mempermainkan perasaan Akira saja..." ucap Dean begitu yakin.
"Tidak mungkin," tolak Tiara dengan senyum tak percaya.
Ia sudah melihat dengan mata dan kepalanya sendiri kalau Akira mencintai Arjun dan sebaliknya.
Bahkan Akhir-akhir ini, selalu terselip nama Arjun ketika Akira dan Tiara sedang bicara lewat telepon.
"Lo bisa bilang begitu karena belum melihat tingkahnya secara langsung..." ucap Dean.
Dan tentu saja ucapannya itu mampu membuat Tiara sedikit terganggu.
Apa maksudnya?
"Baiklah, gue duluan ya..." pamit Dean dan segera berdiri dan pergi meninggalkan Tiara seorang diri.
__ADS_1
Setelah kepergian Dean, Tiara hanya menatap layar laptopnya tanpa melakukan apapun. Idenya benar-benar buntu tapi ada satu yang mengganggunya saat ini. Ucapan Dean tadi.
Ya... Tiara sedikit terpengaruh dengan ucapan pria itu.
Apa Arjun hanya membohongi Akira selama ini? Bagaimana dengan Akira? dia telah memberikan semuanya pada Arjun? Apa ini yang dia dapat nantinya?
"Aaggghh..." ucap Tiara kesal.
---
Di parkiran, Dean sudah siap di motornya. Tapi yang sedang dilakukan pria itu adalah mengamati sebuah gambar yang ada di ponselnya.
Gambar yang di ambil cukup lama tapi masih tersimpan rapi di dalam ponselnya.
Akira... apapun yang sudah ditakdirkan untukku tidak mungkin bisa di rebut orang lain... termasuk dia!
Setelahnya Dean mulai melakukan motornya meninggalkan kampus.
***
Sore hari di Kediaman Pradipta.
Akira yang baru saja selesai mandi mendapatkan sebuah panggilan telepon dari seseorang.
"Sayang... ponselmu berbunyi!" teriak Arjun yang tengah duduk di ranjang. Karena tidak mendapat jawaban dari istrinya, Arjun mengambil ponsel Akira untuk melihat siapa yang menelpon.
Tiara?
Ternyata yang menelpon adalah sahabat istrinya yang bernama Tiara. Tantu saja Arjun tidak segan-segan untuk menjawab, "Halo...".
"Eh, Arjun..." gugup sendiri Tiara karena yang menjawab teleponnya bukanlah Akira sendiri.
"Ada... apa Akira ada?"
"Akira baru selesai mandi dan sekarang ganti baju... ada apa?" tanya Arjun.
Belum mendapat jawaban dari Tiara, Tiba-tiba Akira telah keluar dari ruang ganti pakaian.
"Siapa yang menelpon sayang?" tanya gadis itu penasaran.
"Oh, ini dari Tiara..." jawab Arjun sambil menyodorkan ponsel milik Akira dan di Terima Akira ketika sampai di dekat Arjun.
"Halo Tiara..." sapa Akira.
"Akira... kamu baik-baik saja?,"
Tentu saja Akira kebingungan dengan pertanyaan Tiara, bahkan ia sampai melihat suaminya karena tidak paham dengan apa yang Tiara katakan.
"Tentu saja... kenapa bertanya seperti itu?" tanya Akira.
Padahal tidak biasanya Tiara menelepon hanya untuk bertanya demikian.
"Ah, tidak apa-apa..." elak Tiara. Ia tidak bisa berkata kalau Tiara penasaran gara-gara ucapan Dean tadi bukan?
"Aneh sekali sih kamu ini..." jawab Akira dan mulai berjalan menuju ke balkon untuk melihat pemandangan sesaat sebelum matahari terbenam.
"Akira... besok kamu berangkat kuliah kan?"
Ini adalah pertanyaan aneh dari Tiara. Kenapa Tiara menanyakan hal itu lagi?
"Iya dong... kamu lupa kalau besok aku ada ujian menyuntik?" padahal Akira sudah memberitahu sahabatnya beberapa kali. Tapi entah kenapa Tiara lupa akan hal itu.
"Baiklah, besok setelah kelas mu selesai kita bertemu di taman..."
"Siap..." jawab Akira penuh semangat.
***
__ADS_1
Duh...