
HAPPY READING...
***
Sepulang dari kelas sorenya, Tiara berjalan dengan kedua teman sekelasnya.
Dengan mereka lah Tiara sering berinteraksi walaupun tidak seakrab dengan Akira. Ya... hanya Akira lah satu-satunya teman yang nyaman untuk Tiara berkeluh kesah.
"Jadi dimana akan mengadakan pesta?" tanya Tiara sambil berjalan bersama melewati koridor.
"Ada deh... nanti Lo akan tau..." ucap salah satu teman Tiara.
Dengan mengendarai mobil, mereka berangkat ke tempat tujuan.
Di dalam mobil, Tiara mengamati satu temannya yang memperbaiki riasan wajahnya. Dialah yang hari ini sedang berulang tahun.
Memakai bedak dan lipstik dengan warna cukup berani.
Berlebihan bukan sih? batin Tiara mengomentari. Tapi Tiara tidak berani mengkritiknya secara langsung, takut temannya itu tersinggung.
Dan akhirnya setelah terlepas dari kemacetan Ibukota, mobil berwarna putih itu sampai di parkiran sebuah tempat hiburan.
Tiara yang masih tidak tau apa-apa yang terdiam sambil memikirkan sesuatu dalam hatinya.
"Ayo Ra..." ajak si pemilik acara memaksa Tiara untuk masuk ke dalam sana.
Tiara langsung menutup telinga karena musik di dalam tempat itu benar-benar keras, seperti hendak memecahkan gendang telinganya.
Dengan kedua teman itu, Tiara menuju ke sebuah meja yang berada di ujung sana.
"Tunggu gue pesan minuman dulu..." pamit satunya. Sedangkan Tiara dengan satu temannya menunggu sambil menikmati musik yang terdengar seperti meminta mereka ikut menari bersama dengan orang-orang di tengah ruangan.
Jadi sepeti ini suasana di dalam Klub? batin Tiara keheranan. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat hiburan malam seperti ini.
"Bagaimana? lo menikmatinya kan?" tanya si pemilik acara.
Tangan gadis itu mulai terangkat mengikuti musik yang berputar. Sedangkan Tiara hanya mengangguk padahal ia tidak mendengar apa yang di ucapkan temannya karena musik yang amat keras baginya.
"Kenapa disini? kenapa harus mengadakan pesta di Klub malam?" tanya Tiara.
Ia kira mereka akan mengadakan pesta ulang tahun du rumah ataupun tempat makan.
Tapi nyatanya, temannya membawa Tiara masuk ke dalam Klub malam.
"Maafin gue Tiara... gue udah bohong... kalau gak gini, Lo pasti menolak ajakan kita kan?" jawab temannya.
Sedikit kesal memang mendengar ucapan gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi, Tiara sudah terlanjur sampai disini dan ia juga tidak mengenal siapapun selain mereka.
Seorang wanita berpakaian seperti pria mendekat ke arah meja Tiara. Meletakkan 2 botol berbentuk kotak dan beberapa gelas kosong. Tiara menduga kalau minuman itu adalah salah satu jenis minuman keras.
Karena saat tutup botol itu dibuka, tercium bau yang keras menusuk indra penciuman nya.
Si pemilik acara menuang minuman itu di ketiga gelas, tapi pandangannya tertuju pada seseorang yang baru saja masuk dari pintu masuk.
"Hei... disini!" teriaknya memanggil 3 pria itu.
Dan senyum langsung melengkung sempurna dari bibirnya.
Total ada 6 orang termasuk dengan Tiara. Duduk di bangku sambil menikmati suasana.
"Kenalin, ini temen gue... Tiara..." ucap gadis itu memperkenalkan.
"Tiara...", Tiara menjabat tangan ketiga pria di depannya.
Yang membuat Tiara tidak nyaman adalah tatapan pria itu yang seperti menel*njanginya.
__ADS_1
Risih memang di tatap seperti itu.
Tiara berharap bisa segera pulang dan tidak melanjutkan pesta seperti ini.
"Nih..." ucap teman Tiara menyodorkan segelas minuman ke padanya.
"Gue tidak minum..." jawab Tiara.
Lagian ini adalah pertama bagi Tiara sampai di tempat ini dan sungguh gadis itu belum pernah sama sekali mencoba berbagai minuman keras jenis apapun.
"Ayolah Tiara... kali ini saja... please" pinta si pemilik acara.
"Ini demi gue... anggap saja sebagai hadiah ulang tahunku..." pintanya lagi.
Sebenarnya Tiara masing enggan untuk menuruti keinginan teman-temannya, tapi semua orang di sekitarnya mendesaknya.
Hingga dengan terpaksa Tiara mengambil gelas berisi minuman bening tersebut.
Tangannya terlihat gemetar. Yang Tiara dengar hanya sorak teman-teman yang menyemangatinya.
Tiara memberanikan diri menenggak minuman itu, hingga "Aakkk..." rasa pahit dan menyengat dari minuman itu mampu Tiara rasakan dan menciptakan sebuah sensasi terbakar dalam tenggorokannya.
"Horee..." Teman-teman Tiara bertepuk tangan.
"Lagi-lagi..." pinta pria yang duduk di samping Tiara.
Kembali mengisi gelas Tiara dengan minuman keras untuk kedua kalinya.
"Sudah,..." tolak Tiara.
Tapi lagi-lagi ia mampu diperdaya oleh lainnya.
Hingga untuk kedua kali, Tiara benar-benar kembali menenggak minuman itu.
Kepala Tiara terasa berat dan keseimbangannya terlihat hilang.
"Aduh..." keluh Tiara merasai kepalanya yang pusing.
"Lagi Tiara... ini baru 2 gelas loh...",
"Sudah cukup... gue pusing..." tolak Tiara. Bahkan sampai mendorong pria yang duduk di setelahnya tanpa ragu.
Tanpa di sadari Tiara, pria yang duduk membelakangi di bangku lain tak jauh darinya mulai bereaksi. Tangan pria itu terlihat mengepal kuat menahan kemarahan. Dia adalah Galih.
Mendengar suara Tiara yang begitu menyedihkan, membuat Galih bangkit dari duduknya.
Mendekati bangku Tiara segera merampas gelas dari tangan pria muda dan melemparkannya ke dinding. Membuat semua orang yang duduk di sekitar Tiara mulai kebingungan.
Galih sejenak melihat Tiara yang duduk sambil meletakkan kepalanya di meja. Mata Gadis itu sedikit terpejam tapi masih mampu melihat semuanya.
Galih?
Galih tau apa yang di rasakan Tiara saat ini. Saat dimana kalian di paksa untuk minum
padahal kalian tidak menginginkan hal itu.
Yang ada kepala terasa pusing dan mabuk.
"Siapa Lo? berani sekali mengganggu kita?" tanya pria yang tadinya duduk di samping Tiara mulai bangkit.
Bukannya menjawab, Galih justru mendekati Tiara. "Ayo Tiara..." pintanya sambil membantu Tiara untuk bangkit dan meninggalkan tempat itu.
"Emmm..." hanya itu yang terdengar dari mulut Tiara.
Belum berhasil membawa Tiara, seorang pria menarik pakaian Galih hingga membuat pria itu marah.
__ADS_1
"Lo punya telinga gak sih!" bentaknya karena Galih tidak menjawab pertanyaannya tadi.
Padahal mereka tidak kenal sama sekali, tapi dengan lancangnya Galih melempar gelas yang akan di berikan pada Tiara.
"Lepas atau gue bisa hilang kendali!" ucap Galih memperingati.
Untuk saat ini ia bisa sabar, tapi tidak untuk nanti. Saat dimana kemarahannya sudah di ubun-ubun.
Gertakan dari Galih sama sekali tidak membuat pria muda itu takut. Justru ia semakin erat menarik pakaian Galih dari belakang.
Dengan sekuat tenaga, Galih mengayunkan kepalan tangannya mengenai wajah pria yang ada di belakang tersebut. Membuatnya seketika tersungkur karena tidak memperkirakan hal itu.
Kedua teman prianya juga ikut bangkit, membantu temannya. "Lo tidak apa-apa?" tanya mereka.
"Gue sudah memperingati Lo kan?" tanya Galih terdengar menakutkan.
"Dan untuk kalian berdua..." tunjuk Galih pada teman wanita Tiara. Yang juga memaksa Tiara untuk datang ke tempat seperti ini. "Gue ingat-ingat wajah Lo... sampai lo berani berbuat seperti ini pada Tiara, gue pastikan hanya akan nama Lo di masa yang akan datang!".
Glekk... ancaman dari Galih benar-benar membuat mental kedua gadis itu jatuh. Mereka saling berpegangan tangan dan melihat wajah Galih. Seperti hendak mengingat wajah malaikat pencabut nyawa mereka.
"Lo... si-apanya...Tiara?" tanya Si gadis yang sedang berulang tahun malam ini dengan bibir bergetar.
Dengan sedikit sempoyongan, Tiara bangkit dari duduknya. Jangankan untuk berjalan, berdiri tegak saja ia merasa kesulitan.
Untung saja Galih langsung cekatan. Meraih tubuh Tiara agar tidak jatuh.
"Dia Wanitaku!" ucap Galih dan langsung membawa Tiara pergi dari tempat tersebut.
Antara sadar dan tidak, Tiara masih mendengar kata yang terlontar dari mulut Galih barusan. Membuat gadis itu tersenyum aneh.
Wanitaku? ck...
Galih memapah Tiara sampai di mobil. Duduk di bangku samping kemudi dan juga memasangkan Seatbelt dan akhirnya ikut masuk ke dalam mobil itu.
Dalam perjalanan pulang, tiada ada yang bersuara sama sekali. Galih terlihat fokus mengemudi dan pikirannya kembali terbayang permintaan dari Ibu Tiara waktu itu.
Galih sudah menjaganya Tante... batinnya.
---
Tiba di depan Apartemen, Galih telah membuka seatbelt pada tubuhnya. Ia mendekati Tiara untuk membuka seatbelt yang melingkar pada tubuh Tiara. "Tadi apa yang Lo bilang?" tiba-tiba Tiara mencegah Galih.
"Katakan, apa yang lo bilang tadi!" desak Tiara. Entah kenapa ucapan Galih tadi di Klub malam terdengar indah di telinga Tiara.
"Wanitaku... coba ulangi lagi..." pinta Tiara.
"Lo mabuk..." jawab Galih.
Ia sengaja mengatakan kata itu sebagian gertakan saja.
Toh mau bilang apa lagi selain kata itu?
Tiara mencengkeram kerah kemeja Galih. Membuat jarak diantara mereka begitu dekat. "Terima kasih.." ucap Tiara bahkan hembusan nafasnya mampu menerpa wajah Galih.
Tanpa terduga, Tiara melingkarkan kedua tangannya bergelayut pada leher Galih.
Mendekatkan wajah dan mencium pria itu lebih dulu.
Oke... kalau itu maunya, gue hanya perlu mengimbangi saja... batin Galih penuh kemenangan. Dan dalam gelap nya malam, Tiara dan Galih benar-benar berciuman.
***
Ini sih gara-gara mabuk...
Apa yang akan terjadi besok ya? bagaimana reaksi Tiara? hahahah... selamat berpenasaran...
__ADS_1