
HAPPY READING...
***
Akira duduk di kursi makan seorang diri. Baru beberapa saat kemudian Arjun ikut duduk tapi yang buat pria itu terlihat berbeda adalah Arjun tidak memakai seragam kerja. Pria itu juga turun dari kamar tidak membawa tas kerjanya.
Dimana Papi dan Mami? batin Akira bertanya-tanya. Ruang makan ini sangat jauh berbeda dari hari-hari biasanya.
"Apa Papi sudah pergi?" tanya Arjun kepada Pelayan.
"Iya Tuan Muda. Tuan besar dan Nyonya sudah pergi pagi sekali..." jawab pelayan itu.
Setelahnya tidak ada yang berbicara lagi. Hanya Akira lah satu-satunya orang yang kebingungan dengan semuanya. Gadis itu tak tau apa yang telah terjadi saat ini. Padahal hari ini adalah hari kerja, tapi tidak terlihat sama sekali kalau Arjun akan berangkat hari ini.
Setelah sarapan usai, Akira berjalan mengikuti kemana Arjun pergi.
Mereka menaiki anak tangga menuju ke lantai 3. Ya... di sinilah Akira tidak pernah menginjakkan kakinya.
Ini adalah pertama kali bagi Akira.
Ternyata di lantai ini, sama seperti ruangan biasanya. Ada ruangan dengan banyak sekali alat-alat Gym, 2 ruangan yang kemungkinan adalah kamar, ruangan keluarga dan sebuah ruangan untuk beribadah.
Arjun memutar kepalanya sejenak untuk mengamati Akira yang sejak tadi ternyata mengikutinya. Masuk ke ruangan ibadah tanpa mengatakan apapun.
Ruangan itu terlihat sangat terang dengan lampu dan juga beberapa lilin yang menyala.
Tapi yang membuat Akira penasaran adalah sebuah foto yang terpajang di depan sana.
Sebuah foto gadis kecil berponi yang tersenyum sangat indah.
Siapa dia? batin Akira penasaran.
Sekarang Arjun dan Akira berdiri bersebelahan menatap foto itu. Arjun yang biasanya terlihat sangat konyol dan jenaka kimi berubah diam. Sorot matanya penuh kesedihan dan itu mampu Akira lihat.
"Jun," panggil Akira. Tentu saja Akira sangat penasaran dengan semuanya. Apa yang terjadi? siapa gadis kecil itu? apa hubungannya dengan keluarga ini? semua pertanyaan Akira memang membutuhkan sebuah jawaban.
"Dia lah gadis kecil itu," jawab Arjun.
Ingatan Akira kembali pada sore saat dirinya berdua dengan Arjun di kamar.
Aku ingin menjadi Dokter untuk menyelamatkan nyawa seseorang...
Ucapan Arjun saat itu kembali terngiang di kepala Akira.
Ia ingat betul saat Arjun mengatakan ingin menyelamatkan nyawa seseorang.
Apa gadis inilah yang membuat Arjun bercita-cita menjadi seorang Dokter? tanya Akira dalam hati.
Kembali mereka menatap foto di depan sana. Gadis kecil dengan mata bulat dan berbinar.
Dia memiliki mata seperti Mami... senyumnya sama seperti Arjun... apa? Apa dia? Akira terkejut dengan pikirannya sendiri.
"Jun, apa dia-?" tanya Akira ngambang.
__ADS_1
"Iya... dia adik perempuan ku...".
Jawaban Arjun langsung membuat Akira menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia tak menyangka kalau Arjun memiliki seorang saudara tapi sudah meninggal.
"Jessi, itu namanya..." ucap Arjun.
Bahkan mengatakan nama itu saja membuat dada Arjun kembali sesak. Ingin sekali Arjun menangis tapi masih mencoba untuk di tahannya.
"Umurnya 10 tahun saat itu, saat terakhir kali aku bisa melihatnya," Arjun mulai bercerita.
"Dia gadis yang manis..." puji Akira.
FLASHBACK ON...
"Kakak..." teriak gadis yang selalu menunggu di depan pintu pada jam pulang sekolah.
Gadis kecil itu adalah putri kedua dari Keluarga Pradipta.
Jessi, itulah nama gadis berambut panjang dengan poni yang menutupi keningnya.
"Kakak... apa kakak membawa pesanan ku?" tanyanya ketika Arjun baru saja pulang sekolah.
Beda dengan sang kakak yang bisa mengenyam pendidikan formal sama seperti anak lain di luaran sana, Jessi tidak seberuntung itu.
Gadis itu hanya bisa belajar di rumah saja dengan guru privat yang selalu datang setiap harinya.
Jessi tidak bisa bermain dengan yang lainnya karena sejak berumur 5 tahun, gadis itu telah mengidap penyakit yang setiap harinya semakin membuat tubuhnya lemah.
Apa keluarganya tidak berusaha untuk membuat Jessi sembuh? tentu saja tidak seperti itu. Keluarga Pradipta bahkan telah berusaha dengan sangat keras.
"Tentu saja kakak membawanya... tidak mungkin kakak lupa..." jawab Arjun kepada Adik perempuan yang amat disayangi itu.
"Ini..." Arjun menyerahkan plastik bening berisi ikan hias yang selalu di jual di pinggir jalan. Lebih tepatnya di depan pintu gerbang Sekolah Menengah Pertama di mana Arjun sekolah.
"Terima kasih kakak..." Jessi memeluk kakaknya dengan penuh rasa bahagia.
Walaupun dirinya tidak bisa keluar rumah seperti gadis lain, Jessi masih bahagia karena memiliki kakak yang begitu menyayangi nya.
"Aku akan merawatnya..." ucap Jessi dengan sangat yakin.
"Kakak... di sekolah kakak, hal apa lagi yang menarik?" Jessi juga ingin tau hal-hal menarik yang tak mampu ia lihat di dalam lingkup rumah Pradipta.
Mungkin bisa dikatakan kalau Arjun adalah jendela dunia bagi adiknya. Karena Arjun lah Jessi mampu mendengar banyak cerita ataupun hal yang menarik di luar rumah.
"Hal menarik? apa ya?" tentu saja Arjun bingung. Sudah banyak sekali yang ia ceritakan pada Jessi selama ini.
"Jess, kalau kamu sembuh... kakak akan membawamu melihat semuanya..." ucap Arjun menyemangati Jessi.
"Benarkah? kakak janji?"
Bukan hanya Arjun saja, semua orang juga akan sedih mendengar perkataan Jessi itu. Betapa bahagianya gadis itu jika mampu melihat dunia luar yang belum pernah ia lihat saat ini.
"Tentu saja... cepatlah sembuh,"
__ADS_1
"Tapi kak, apa aku akan sembuh suatu hari nanti? Tapi..." Jessi tak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa?" tanya Arjun penasaran.
"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Papi dengan Dokter. Katanya.. penyakit ku sangat langka dan belum ada obat untuk menyembuhkan nya..." adu Jessi pada kakaknya.
Padahal Jessi berniat menyembunyikan semua yang tak sengaja ia dengar. Jessi tidak mau memberitahu siapa saja, tapi kali ini ia tak bisa.
Sehingga Jessi memberi tahu Arjun.
"Kalau begitu, kakak yang akan menjadi Dokter dan menyembuhkan mu suatu hari nanti..." jawab Arjun dengan yakin.
"Benarkah? kakak ingin menjadi Dokter?" tanya Jessi dengan mata berbinar.
"Ya..."
FLASHBACK OFF...
Akira ikut merasakan kesedihan dalam diri Arjun. Mengelus pelan tangan Arjun dan menggenggam nya seolah sedang membagi kesedihan itu bersama.
"Kau tau, dia adalah gadis yang periang... Jessi selalu tertawa di depan semua orang, Walaupun -..." entah kenapa sulit sekali untuk Arjun meneruskan kalimatnya. Dadanya benar-benar sakit mengingat kenangan paling buruk dalam hidupnya.
"Dari foto saja aku bisa melihatnya, kalau Jessi anak yang baik..." ucap Akira.
"Dia selalu tersenyum, tertawa seperti tidak terjadi apa-apa... tapi saat di dalam kamar sendirian, Jessi selalu menangis. Jessi selalu menangis ketika penyakit itu datang menggerogoti tubuhnya..." tambah Arjun. Kali ini matanya pria itu memerah menahan kesedihan.
Pandangannya kabur karena banyak sekali air mata yang memenuhi matanya dan sebentar lagi akan jatuh.
"Kenapa dia tidak menangis saja? bukankah akan lebih baik jika membaginya dengan Papi dan Mami?" tanya Akira.
Bahkan saat Akira terjatuh di masa kecilnya, gadis itu menangis tanpa henti untuk mendapat perhatian dari Ayah Adam dan juga Ibu Arum.
Walaupun luka yang di dapatnya tidak terlalu dalam, tapi Akira tetap menangis.
"Karena Papi selalu bilang... kalau Jessi menangis, Jessi akan kalah melawan penyakitnya," jawab Arjun.
Mengingat apa yang di katakan Papi Johan dulu, seringkali membuat Arjun marah.
Arjun marah dengan tindakan Papinya yang seolah tidak merasakan bagaimana sakitnya Jessi.
"Seharusnya Papi tidak bilang seperti itu, seharusnya Papi tidak melakukan hal kejam itu kepada Jessi. Dan lihatlah... sampai Jessi meninggal, gadis itu tak pernah sekali pun berkeluh kesah di depan orangtuanya... Jessi benar-benar menghadapinya sendirian..."
Arjun ambruk dan menangis setelah mengatakan hal itu. Ia merasa benar-benar tidak berguna karena tidak bisa menyelamatkan adiknya.
"Arjun..." Akira memeluk tubuh Arjun yang tak berdaya.
"Hiks..."
Ikut menangis di dalam ruang ibadah tersebut.
Seharusnya Papi memang tidak melakukan hal itu... batin Akira membenarkan.
***
__ADS_1
Ada 2 Bab yang memang mengandung bawang... jadi siap-siap yaa... hehehee....
Love Kalian..