Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
151. Gadis.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


"Buatlah dirimu seperti Lilin yang terus menerangi orang lain tanpa memperdulikan dirinya yang terbakar habis.


Jangan menjadi Pohon Pisang, yang hanya memiliki Jantung tapi tidak memiliki Hati..."


---


"mau kemana bos?" tanya Agus melihat Dion berjalan keluar rumah sambil mengenakan jaket.


"Cari udara...",


"Saya ikut..." pinta Agus. Sudah lewat magrib dan pria itu takut Dion akan kesasar nantinya.


"Tidak usah, aku hanya ingin merokok di ujung jalan sana..." tolak Dion.


Karena jika Agus ikut, Dion tidak bisa leluasa menikmati suasana malam hari.


"Baiklah Bos...".


Dion akhirnya keluar rumah sendirian. Berjalan sambil menutupi kepala dengan topi jaketnya.


Sepanjang jalan, hanya terdengar suara katak dan jangkrik yang mengalun bagaikan sebuah alunan musik.


Hingga tiba di persimpangan jalan, Dion duduk sendirian. Menyalakan rokok hingga tercipta asap putih mengepul ke udara.


Dion kembali mengingat percakapannya dengan Arjun siang tadi.


"Pulang lah... gue akan membantu Lo bicara dengan bokap Lo..."


"*Tidak Jun... gue tidak bisa..."


"Dengerin gue Dion, lo tidak bisa menghilang seperti ini terus! apa lo tau bagaimana keadaan Mama Lo? dia sakit*..."


Dion kembali tersentak mengingat apa yang di katakan Arjun siang tadi. Apa Mama benar sakit?


Tidak ada hal penting yang bisa mengubah pemikiran Dion selain Mama. Wanita yang telah melahirkannya.


Bagi Dion, dialah satu-satunya alasan untuknya tetap bertahan dari ketidakadilan.


Hanya karena Mama, Dion masih percaya bahwa ia mempunyai keluarga. Walaupun pada kenyataannya dia, Mama maupun kakaknya hanyalah boneka bagi sang Ayah.


Semua kehidupan keluarga itu di atur oleh Papanya Dion. Mau tak mau, suka tak suka mereka harus mematuhinya.


Dion juga heran kenapa Mamanya bisa menikah dengan pria seperti itu. Pria yang bahkan seperti sebuah Pohon Pisang. Dimana hanya memiliki jantung tapi tak memiliki hati.


Hidup tapi tak pernah memikirkan orang lain.


Sudah habis rokok yang Dion hisap tadi. Menyalakan yang baru untuk tetap membuat dirinya termenung disini lebih lama.


Hingga tanpa sadar, sudah 2 jam lamanya Dion terpaku di persimpangan jalan. Pria itu baru sadar ketika melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah malam ternyata...


Dion bangkit sambil membersihkan kedua pahanya.


Tapi sebuah suara dari belakang mengejutkannya.


"Ada rokok bang?"


Dion menyadari ada 3 orang dari kegelapan berjalan ke arahnya.


Dari caranya berjalan, Dion yakin kalau ketiga pria itu sedikit mabuk. Membuat dirinya lebih berwaspada.


"Tidak," jawab Dion. Toh tidak ada gunanya ia memberikan rokok kepada ketiga pria itu. Biasanya sudah menjadi kebiasaan orang yang mabuk pasti memalak orang lain di jalanan.


"Jangan bohong deh..." salah satu dari pria itu mendekati Dion. Menyentuh paksa tangan Dion dan melihat jam tangan yang cukup mahal.

__ADS_1


"Weh, jam tangan Lo mahal juga...",


"Jangan melewati batas!" ucap Dion memperingati sambil menghempaskan tangan pria tadi.


Karena tidak akan tau apa yang terjadi jika Dion benar-benar marah.


"Ck... brengs*k juga nih orang..." salah satu dari pria tadi mendekati Dion dan melayangkan pukulan.


Untung saja Dion cekatan hingga tangan pria itu bisa di hentikan nya.


Memutar tangan pria itu tanpa ragu hingga membuatnya berteriak kesakitan.


Melihat salah satu temannya menderita, dua pria lainnya mulai maju. Bersamaan menyerang Dion.


Tanpa takut sama sekali, Dion meladeni ketiganya bersamaan. Memukul menendang dengan sekuat tenaga.


"Gue sudah memperingati kalian tadi! jadi jangan salahkan gue kalau kalian sampai ke Akhirat saat ini juga..." ucap Dion di sela-sela pertarungannya.


Buukkk...


Sebuah keberuntungan ada ketiga pria itu datang dan mengajak Dion berduel. Karena saat ini emosinya memang sedang di puncak dan perlu pelampiasan.


Bahkan Dion ingin sekali memberi pelajaran ketiga pria itu dengan sedikit mematahkan kaki ataupun tangan mereka.


"Aaawww..." teriak satu diantara ketiga pria itu.


Dion benar-benar menggenggam pergelangan tangan lawannya tanpa ampun.


Hingga sedikit lengah, pria di belakang Dion mengambil batu dan memukul tepat di kepala Dion. Membuat pria itu refleks melepaskan lawannya dan menyentuh kepala bagian belakangnya yang benar-benar sakit.


Di saat seperti itu, kesempatan bagi lawan Dion untuk membalas.


Menendang perut Dion dengan sepenuh tenaga hingga membuat Dion jatuh tersungkur.


"Awww..." keluhnya.


Hingga dari kejauhan, Dion melihat sepasang kaki berlari mendekat dan berteriak.


Dion tidak mampu melihatnya dengan jelas karena pandangannya kian kabur.


Tapi satu hal yang di lihatnya sebelum matanya benar-benar tertutup, seorang gadis memukul salah satu dari ketiga lawannya hingga membuat mereka lari tunggang langgang.


"Lo tak apa?" tanya seorang gadis bersamaan dengan Dion yang pingsan.


***


Dion sadar dari pingsannya. Membuka mata perlahan untuk membiasakan dari cahaya di sebuah tempat yang di dominasi warna putih.


Dimana gue? batinnya kebingungan.


Dion mencoba untuk bangkit, tapi "Aawww..." sesuatu di kepalanya terasa amat sakit dan pusing.


Dion kembali berbaring.


"Ayah... dia sadar..." teriakan wanita menjadi satu-satunya suara yang mampu Dion dengar.


Hingga beberapa orang mulai menghampiri ruangan dimana Dion terbaring.


Mengelilingi nya seolah ingin tau bagaimana keadaan Dion saat ini.


Siapa orang-orang ini? batin Dion. Ia benar-benar tidak mengenali satupun orang yang melihatnya.


Tapi ada satu yang mampu Dion lihat, sosok wanita yang ia temui di Air Terjun.


Ya... gadis itu berdiri di samping Dion dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Berbaring lah dulu nak... kepala mu terluka tadi," ucap Pria paruh baya dengan kumis tebal menjelaskan.

__ADS_1


Tanpa ragu Dion meraba kepala bagian belakangnya dan memang benar ada perban luka disana yang kemungkinan untuk menutupi jahitan.


"Apa yang terjadi?" tanya Dion penasaran.


Yang dia ingat hanyalah ketika menghadapi berandalan di persimpangan jalan dan kalah.


"Kepala mu luka dan audah di jahit nak... untung putriku menyelamatkan mu dan segera membawanya ke Rumah sakit..." ucap pria itu menjelaskan.


Dion sama sekali tidak bisa menjawab apapun. Kepalanya benar-benar sakit dan ngilu.


"Istirahatlah... bapak adalah kepala desa disini. Dan sudah meminta orang untuk mengabari keluargamu..." tambahnya.


Dan benar saja, Tiba-tiba Agus datang dengan tergesa-gesa.


"Bos... apa yang terjadi? bagaimana Anda bisa seperti ini?" tanya anak buah Dion penuh kecemasan.


Bahkan selama perjalanan ke Rumah sakit, ia mengutuk dirinya sendiri tang tidak bisa menjaga Bos nya.


"Dia di kroyok pemabuk di jalan..." ucap seorang gadis menjelaskan.


"Jangan khawatir, pria itu sudah di bawa ke balai desa...". Membuat Agus dan Dion mengerti.


"Kalian bukan orang sini?" tanya Pria paruh baya yang menjabat sebagai kepala desa tersebut dan juga ayah dari gadis yang berdiri di sampingnya.


"Bukan, kami berasal dari Ibukota dan memang tinggal disini sejak 4 hari yang lalu dan sudah ijin..." ucap Agus menjawab. Karena dia lah yang datang ke balai desa membuat ijin tinggal di sini.


"Oh iya-iya... saya ingat," jawab Kepala Desa.


Jadi dia dari Ibukota? batin gadis itu baru tau kebenarannya.


"Istirahatlah bos, kami akan bicara di luar..." pamit Agus.


Setidaknya Dion harus menginap di Rumah Sakit untuk beberapa hari.


Agus, Kepala desa dan warga yang lain mulai berangsur-angsur keluar. Gadis itulah yang terakhir. Tapi dengan cekatan, Dion mencegahnya. Membuat Gadis berambut panjang itu kembali mematung.


"Terima kasih..." ucap Dion. Karena gadis itu telah menyelamatkan nyawanya tadi.


"Sama-sama... sudah sepantasnya, karena gue adalah anak kepala desa..." jawabnya dengan percaya diri. Dan tersenyum di akhir kalimatnya.


Gadis itu hendak pergi lagi, tapi lagi-lagi Dion menghentikannya.


"Apa?" tanyanya penasaran.


"Siapa namamu?"


Sungguh Dion ingin sekali mengenal sosok gadis di depannya. Gadis yang dengan berani memukul mundur 3 pria masuk semalam.


"Gadis..." jawabnya dan segera ikut keluar meninggalkan Dion.


Gadis... nama yang indah... gumam Dion.


***


**Cieee....


Kalian Tim mana?


A. Arjun dan Akira.


B. Galih dan Tiara


C. Dion dan Gadis.


Tinggalkan Like dan Komentar ya...


Love kalian banyak-banyak gais**...

__ADS_1


__ADS_2