
HAPPY READING...
***
Galih dan Tiara.
Menatap langit malam hari yang begitu cerah oleh taburan bintang, keduanya saling memeluk satu sama lain. sesekali Galih menciumi pucuk kepala Tiara, wanita kuat yang selalu berdiri di sampingnya selama ini.
Banyak sekali air mata yang telah mereka keluarkan tapi itu dulu. sekarang Galih harap hanya akan ada cinta dan kebahagiaan yang menyertai langkah seterusnya.
"Aku tak pernah menyangka akhirnya seperti ini..." ucap Tiara. bahkan mengingat semua hal di masa lalu, mustahil Tiara bisa menikmati kebahagiaan ini.
"Bukankah ini akhir yang bagus?" tanya Galih.
karena setiap kehidupan pasti ada pasang surut, air mata, kekecewaan selalu menjadikan hal yang lumrah. tapi ketika kita kuat menghadapinya, Tuhan akan memberikan begitu banyak kebahagiaan setelahnya. bahkan lebih banyak daripada yang kita harapkan.
menjadi pelipur lara hingga kita tak akan ingat bagaimana kesusahan yang telah kita lalui.
"Iya... sangat bagus..." jawab Tiara.
walaupun Tiara sempat kecewa, marah dengan Tuhan yang selalu mempermainkan takdirnya, tapi tak sekalipun Tiara ingin meninggalkannya. karena sebaik-baiknya adalah Tuhan yang selalu bersama dirinya kalau semua orang pergi meninggalkannya.
"Tuhan benar-benar baik padaku... memberi kepercayaan untuk merawat Arion dan Arina dalam hidupku, mendapatkan suami yang sepertimu..." ucap Tiara sambil menatap Galih.
Galih adalah suami yang baik. pengertian dan juga penuh kasih sayang. Tiara bersyukur memiliki pria itu dalam hidupnya, mengisi kekosongan tempat dalam dirinya selama ini.
"Aku memang yang terbaik," jawab Galih sambil membusungkan dada. "Bersyukurlah untuk hal itu... karena tak banyak pria bertanggung jawab seperti diriku...".
Ucapan Galih yang terdengar sombong, justru membuat Tiara tersenyum.
"Kenapa malah sama sombongnya dengan Arjun ya?" protes Tiara. karena semua orang tau bagaimana watak pria bernama Arjun, selalu memuji ketampanannya dan menganggap orang lain tak setampan dirinya.
"Hahaha..." keduanya tertawa. masih sempat-sempatnya mereka bergurau sambil menyeret nama orang lain.
"Aku mencintaimu Tiara... sangat mencintaimu..." ucap Galih terdengar begitu jujur.
"Aku juga... aku bahkan lebih mencintamu..." jawab Tiara. dan di bawah terangnya langit malam, keduanya berciuman.
***
Arjun dan Akira.
"Sayang?" panggil Arjun pada istrinya. menunggu di depan pintu kamar mandi karena Akira tak juga keluar dari sana.
"Tunggu sebentar..." teriak Akira.
Sungguh menunggu adalah hal paling menyebalkan bagi siapa saja. bahkan kali ini jantung Arjun juga ikut berdetak kencang menunggu apa yang akan terjadi setelah ini.
tangannya terasa dingin dan berkeringat hingga suara pintu kamar mandi terbuka membuatnya terkejut dan penasaran.
"Bagaimana?" tanya Arjun spontan. mengamati wajah istrinya yang malah terlihat murung.
"Tidak ya?" tanya Arjun lagi.
Akira menyerahkan benda pipih yang ia bawa dari kamar mandi, menunjukkannya kepada Arjun dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah.
"Selamat..." teriaknya penuh dengan kebahagiaan.
__ADS_1
menyodorkan testpack ke arah Arjun agar pria itu juga melihatnya.
"Po-si-tif?" tanya Arjun tak percaya sambil mengamati garis dua yang tertera disana.
membuat Akira otomatis mengangguk setuju.
"Selamat Papi... Starla akan memiliki adik sebentar lagi..." ucap Tiara.
"Benarkah? Aaa... kenapa rasanya sebahagia ini?" teriak Arjun dan langsung memeluk Akira karena bahagia.
"Kamu suka?" tanya Akira.
karena butuh waktu yang sangat lama untuk meyakinkan Arjun. pria itu takut Akira mengandung anak lagi. karena persalinan Akira waktu itu benar-benar membuat Arjun ketakutan.
Tapi nyatanya, Arjun mengiyakan permintaan Akira untuk memiliki anak kembali.
dan sekarang... Akira benar-benar hamil.
"Aku benar-benar bahagia... Terima kasih istriku... emmuachh... emmuachh..." menghujani Akira dengan begitu banyak ciuman.
"Ayo kita beritahu Mami dan Papi..." ajak Arjun dengan semangat. kabar baik harus di bagi-bagi pada anggota keluarga yang lain bukan?
"Sekarang? ini sudah sangat malam sayang..." tolak Akira. karena mungkin saja Mami Livia dan Papi Johan sudah tidur. dan Akira tak ingin mengganggu istirahat mereka.
"Besok pagi saja...".
"Baiklah.. aku akan memberitahu mereka besok pagi." jawab Arjun. "Jadi...?".
"Jadi apa?" tanya Akira tak paham.
"Boleh aku melihatnya?" tanya Arjun sambil menaik-turunkan alisnya dengan jenaka.
menuju ke ranjang dan berbaring meninggalkan Arjun.
"Akira..." rengek Arjun dengan manjanya.
"Aku lelah, yuk tidur saja..." goda Akira.
"Tidak!" tolak Arjun ikut berbaring sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Pokoknya aku mau melihatnya...".
"Hahaha..." ucapan Arjun benar-benar membuat Akira tergelak. "Melihat apa? jangan aneh-aneh ya...aku tak mau membahayakan adiknya Starla..." protes Akira. karena ia tau bagaimana sifat Arjun.
"Jangan khawatir, aku akan bergerak sangat pelan agar tidak menyakitinya..." jawab Arjun meyakinkan. bahkan menampakkan wajah penuh harap yang berhasil membuat Akira melunak hingga tak tega menolaknya.
"Ck, aku benci melihat wajahmu seperti itu..." jawab Akira kesal. walaupun pada akhirnya merentangkan tangan menyambut Arjun.
"Aku mencintaimu sayang..." ucap Arjun.
"Aku tau...".
"Kenapa begitu?" protes Arjun karena Akira tidak membalas perkataan cintanya. "Jawab dong...".
"Tidak!" tolak Akira memancing amarah Arjun karena sangatlah lucu jika pria itu merajuk.
"Ck... ayo balas, kalau tidak akau tak akan melepaskan mu malam ini..." ancam Arjun.
__ADS_1
"Tidak! kenapa kamu memaksa?" Akira masih ngeyel.
Dan Arjun benar-benar menggelitiki Akira, "Rasakan ini... rasakan hukuman ku..." ucap Arjun.
"Hahah... Aw... lepas Jun... hahaha..." Akira benar-benar meminta ampun. ia sangat geli di gelitiki seperti sekarang.
Dan saat malam telah datang, salah stau kamar di rumah Pradipta baru memulai aktifitas panasnya. suara des*h*n menggema memenuhi setiap sudut kamar tersebut.
"Aku mencintai mu Akira..." ucap Arjun dengan nafas berantakan.
***
Bella dan Dean.
"Selamat malam calon istriku..." ucap Dean dengan sebuket bunga dan berdiri di depan pintu Apartemen dimana Bella tinggal.
"Waw... apakah ini untukku?" tanya Bella pandangannya tertuju pada buket bunga yang dibawa Dean, bahkan tak memperdulikan sapaan Dean kepadanya.
"Tidak, aku memungutnya di jalan..." gurau Dean.
"Ck... Pak Dokter tidak mau rugi ya..." cerca Bella membuat keduanya tertawa bersamaan.
"Jadi, tidak menawariku masuk ke dalam?" tanya Dean. atau mungkin mereka hanya akan terdiam di depan sini.
"Ayo masuk..." jawab Bella, menggandeng tangan Dean dan masuk kedalam sana.
"Mau minum apa pak dokter?" tanya Bella.
"Apa saja..." jawab Dean. hingga Bella masuk ke dalam sedangkan Dean duduk di sofa ruang tamu mengamati suasana di Apartemen ini.
Ya... inilah pertama kalinya Dean diijinkan masuk ke dalam Apartemen oleh Bella. karena biasanya ia hanya mengantarkan Bella sampai di bawah saja.
"Silahkan Pak dokter..." ucap Bella menyerahkan minuman dingin untuk kekasihnya.
"Jangan memanggilku seperti itu..." protes Dean. karena mereka adalah pasangan kekasih tapi panggilan Bella sejak dulu tak pernah berubah. Ya... Gadis itu selalu memanggil Dean dengan sebutan Pak Dokter sesuai dengan pekerjaannya.
"Lalu? aku lebih suka memanggil Pak Dokter..." Bella masih ngeyel dengan panggilan kesukaannya.
"Bahkan sampai kita menikah?" pancing Dean.
"Iya... sampai kita menikah..." jawab Bella terdengar yakin.
Bella telah membawa Dean menemui orang tuanya. walaupun sempat terkejut karena ternyata kakak laki-laki Bella adalah orang yang tak asing, Dean tak gentar untuk meminta restu atas hubungannya. Dean benar-benar berusaha meyakinkan keluarga Bella bahwa Dean sangat mencintai Bella dan serius untuk menjalin hubungan dengannya.
Walaupun begitu, antara Galih dan Dean masih terlihat canggung. Ya... semuanya juga karena masa lalu mereka.
Inilah definisi sempitnya Dunia.
tak menyangka kalau benang takdir terikat satu sama lain.
Pada akhirnya Cinta akan tau dimana tempatnya kembali pulang. semuanya benar-benar bahagia dengan akhir dari perjalanan hidup penuh dengan rintangan dan cobaan.
Tak perlu mencari tau bagaimana akhir takdir kita, karena Takdir akan menuntun, membawa kita pada seseorang yang kita butuhkan.
END...
__ADS_1
***