
HAPPY READING...
***
Di ranjang kamar saat dirinya tengah bersiap untuk tidur, Tiba-tiba terlintas sesuatu dalam kepala yang membuatnya amat penasaran.
Apalagi kalau bukan hal yang menyangkut Galih akhir-akhir ini.
Lebih tepatnya seminggu belakangan, Galih selalu membawa bekal makan siang dari rumah. Sedangkan pria itu terlihat tak memiliki kekasih untuk saat ini. Lalu siapa yang membuat bekal itu?
Tadi sore setelah pulang bekerja, Arjun menelepon Bella. Berpura-pura menanyakan jatah bulanan gadis itu sudah terkirim atau belum. Padahal ada maksud lain yang ingin Arjun tanyakan pada Bella mengenai Galih.
Dan sesuai dugaannya, bukan Bella yang membawakan bekal makan siang itu.
Bahkan Galih selalu menolak ketika Bella hendak membawakan makanan seperti yang dilakukannya dulu.
Galih bilang tidak perlu karena Galih lebih sering makan di luar.
Dan kecurigaan Arjun semakin mendasar dengan ucapan Dion waktu itu.
Entah hanya gurauan atau benar, Arjun mulai percaya dengan perkataan Dion yang mengatakan bahwa Galih menyembunyikan seorang perempuan di Apartemennya.
Tapi siapa perempuan itu? Alya? atau perempuan lain? batin Arjun.
Hingga sibuk berpikir, Arjun sampai tak menyadari tatapan wanita di sampingnya yang terlihat curiga.
"Apa yang membuatmu serius seperti itu?" tanya Akira dan tentu saja membuat Arjun terkejut.
"Eh... kenapa bangun?" tanya Arjun.
Padahal Istrinya sudah tidur sejak tadi.
"Aku mau pipis..." keluh Akira. Inilah yang di rasakan ibu hamil.
Usia kandungan Akira yang semakin membesar membuat wanita itu sering sekali ke kamar mandi.
Bahkan seringkali mengganggu tidur malamnya karena Akira bisa terbangun untuk buang air kecil 2-3 kali.
Dengan bantuan Arjun, Akira bangkit dari ranjang. Berjalan bersamaan menuju ke kamar mandi.
"Hati-hati..." ucap Arjun mengkhawatirkan istrinya. Bagaimana tidak... karena hamil besar, Akira yang tadinya memiliki tinggi badan sedikit rendah terlihat seperti badut ketika berjalan karena perut besarnya.
Di usia kandungan yang sudah besar, Arjun benar-benar menjadi suami siaga.
Ia seringkali membantu Akira membersihkan diri, menemani senam hamil bahkan sering juga menemani makan di tengah malam.
Hal itu membuat perut Arjun ikut membuncit.
Entah sudah berapa kilo lemak yang bersemayam dalam perut Arjun. Karena hampir setiap malam Arjun selalu menemani Akira makan. Bukan nasi memang, tapi makanan berbahan tepung dimana tepung-tepungan juga penyumbang karbo terbesar dalam makanan.
Ya,makanan tengah malam Akira memang seperti kue, brownis dan kadang martabak manis.
itulah sebabnya wanita itu terlihat seperti donat, bulat dan menggemaskan.
"Sayang... aku lapar..." keluh Akira setelah keluar dari kamar mandi.
"Mau makan apa?" tanya Arjun. Sekarang sudah jam 1 dini hari tapi bukannya tidur, wanita itu malah mengeluh lapar.
"Ambilkan buah dong..." perintah Akira memohon. Malam ini ia hanya akan ngemil buah saja.
"Anggur? Apel? atau apa?" tanya Arjun.
__ADS_1
Lebih baik bertanya dulu daripada Arjun langsung berinisiatif mengambil buah tapi setelah sampai di kamar, Akira tak mau memakannya.
Memang pernah seperti itu? jangan ditanya lagi. Sering sekali.
Itulah sifat asli Akira yang keluar saat hamil.
Seringkali membuat Arjun kesal dengan permintaan-permintaan anehnya.
Pernah terakhir kali Akira meminta susu hamil.
Dengan semangat Arjun membuat susu dengan rasa vanila dan membawanya ke kamar. Tapi baru tiba, Akira menolak untuk meminum susu buatan Arjun karena yang Akira ingin adalah susu rasa cokelat.
Dan pada akhirnya, Arjun kembali ke dapur untuk membuat susu rasa cokelat sesuai permintaan istrinya.
"Apa saja..." jawab Akira penuh semangat.
Dan setelah tau apa yang diminta Akira, Arjun berjalan keluar kamar menuju ke dapur.
Mengupas beberapa buah dan menaruhnya di piring. Segera setelah itu membawanya ke kamar lagi.
"Sayang, besok kamu kan libur... bagaimana kalau kita pergi ke rumah Tiara?" tanya Akira.
Sejak Ibu Tiara meninggal, Akira hanya bisa ngobrol dengan Tiara lewat pesan ataupun telepon. Akira tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan sahabatnya itu secara langsung.
"Besok?" Arjun menimang perkataan Akira menyesuaikan dengan agendanya besok.
"Oke..." jawabnya final.
---
Pagi Hari.
Akira duduk sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Sedangkan Arjun menjadi pengguna kamar mandi setelah Akira.
Beberapa kota kue dan juga buah.
15 menit kemudian, Akira berjalan menuruni anak tangga di bantu dengan Arjun.
Di usia kandungannya yang sudah memasuki 7 bulan, tubuh Akira benar-benar terlihat sangat mengembang. Bahkan ia tak lagi bisa melihat benda apapun yang ada di depan kakinya gara-gara tertutup perut buncit nya.
"Awas... jaga langkahmu..." pinta Arjun.
Sebenarnya Arjun sedikit risau melihat keadaan Akira yang sudah hamil besar. Ia sudah berbicara dengan Mami, membicarakan bagaimana kalau Arjun dan Akira pindah kamar saja. Lebih tepatnya pindah di kamar yang ada di lantai dasar karena Arjun sangat khawatir istrinya naik turun tangga dan membahayakan bayi dalam kandungannya.
Tapi, Akira tidak mau. Ia lebih nyaman tidur di kamarnya sendiri daripada harus pindah kamar.
"Mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Mami Livia yang tiba-tiba datang mendekati Arjun dan Akira.
"Kami mau mengunjungi Tiara Mi..." jawab Akira.
"Sepagi ini?" tanya Mami sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Masih jam 8...
"Iya... Akira ingin pergi sarapan bareng dengan Tiara..." tambah Arjun.
Mami Livia jadi paham. Tiara memang butuh teman untuk menghibur saat-saat ini.
Karena kehilangan seseorang yang di sayangi memanglah berat. Mami Livia pernah berada di posisi Tiara dulu saat kehilangan Jessi.
Ia sangat frustasi dan kehilangan semangat hidupnya.
__ADS_1
Bahkan Mami Livia juga pernah mendapat perawatan Dokter hingga beberapa bulan lamanya.
"Baiklah... Hati-hati di jalan... Arjun, jangan ngebut..." pinta Mami. Karena Arjun sedang membawa Ibu hamil bersamanya.
"Iya Mi..." jawab pria itu dengan sangat yakin.
Selama perjalanan, Akira tak henti-hentinya ngemil buah anggur kesukaannya.
Anggap saja sebagai pengganjal perut sebelum sarapan.
Karena niatnya mereka anak mengajak Tiara mencari sarapan bersama.
Tapi rencana mereka gagal setelah mobil Arjun sampai di depan rumah yang berada di perumahan belakang Mall terkenal.
"Apa dia tidak di rumah?" tanya Arjun kebingungan.
Bagaimana tidak, suasana rumah itu terlihat seperti rumah kosong.
Arjun dan Akira sama-sama turun dari mobil. Berdiri tepat di pagar besi yang tertutup tapi tidak di kunci.
"Kenapa begini?" tanya Akira. Banyak sekali daun kering yang berserakan di rumah itu. Seperti tidak ada yang membersihkannya. Apalagi dengan tanaman-tanaman hias yang dulu menjadi mata pencaharian Ibunya Tiara.
Ya... Ibunya Tiara memang berjualan aneka tanaman hias di depan rumah.
Dan sekarang banyak sekali tanaman yang mulai layu dan mati.
"Apa dia pindah?" tanya Arjun.
"Tidak mungkin pindah... Tiara tidak punya keluarga lain selain ibunya..." sela Akira. Itulah yang ia tau dari latar belakang Tiara.
Tiara hanya hidup bersama ibunya saja.
"Lalu?"
"Sayang, bagaimana kalau Tiara di culik? jangan-jangan dia di sekap oleh penculik?" tanya Akira penuh kekhawatiran.
Tapi hal itu justru membuat Arjun tertawa, "Jangan aneh-aneh deh... makanya jangan nonton sinetron aneh bersama Mami..." protes Arjun.
Karena perut Akira yang semakin membesar, Akir tak lagi mengikuti kelas kuliahnya.
Ia mengambil cuti untuk beberapa bulan lamanya. Dan karena itu, Akira lebih sering berdua bersama Mami di rumah. Dan kadang-kadang menonton acara sinetron di televisi. Tau kan bagaimana alur sinetron di televisi saat ini? kalau tidak di culik perampok ya sakit-sakitan. Seperti itulah tontonan Akira bersama Mami sepanjang hari.
"Lagian kamu selalu berkirim pesan dengan Tiara bukan? jadi tidak mungkin ia di culik..." tambah Arjun.
"Lalu dia dimana?" tanya Akira penasaran.
"Coba telepon sekarang..." pinta Arjun.
Setidaknya mereka akan tau dimana Tiara tinggal saat ini.
Akira mulai menelpon sahabatnya. Cukup lama tapi tidak juga mendapat jawaban dari Tiara.
"Tidak di angkat sayang..." keluh Akira.
"Coba lagi,".
Tapi tetap saja. Sudah banyak panggilan Akira, tapi Tiara tetap tak mengangkatnya.
Arjun tenggelam dalam pemikirannya.
Jangan-jangan...? Tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Walaupun masih belum pasti, tapi hanya itu kemungkinannya.
__ADS_1
***
Jelas sekali Tiara tidak ada di rumah... dia kan pindah tempat tidur... hehehe...