Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
234. Kisah Cinta.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Mungkin hari ini adalah hari paling santai dalam sejarah Perusahaan. semua orang tidak terlihat sibuk dengan pekerjaan melainkan hanya menikmati waktu luang yang terjadi hanya sekali dalam perusahaan.


Sebagai hari berdirinya Pradipta Group, semua orang menyambutnya dengan penuh sukacita. bonus, dan hadiah untuk seluruh karyawan menjadi primadona hari ini. semua karyawan menantikannya dengan senyum sumringah mengukir bibir.


Perusahan tidak ada kegiatan, tapi mereka tetap masuk seperti hari biasa untuk merayakannya bersama dengan Presdir dan keluarganya.


Ya, hari ini Akira, Starla, Mami Livia bahkan Papi Johan juga datang ke Perusahaan. mereka akan merayakan hari berdirinya Pradipta Group bersama dengan para karyawan.


Di dalam ruangan Presdir, Arjun tengah menggendong putrinya sedangkan Akira mengobrol dengan Mami Livia entah membahas apa. tapi dari mimik wajah mereka, hanya ada kebahagiaan disana. Itulah yang Arjun yakini.


Sedangkan Papi sesekali mengajak bicara Arjun juga pria yang berdiri di belakangnya yang tak lain adalah Galih.


Tak menyangka memang, dengan ketekunan Galih, Arjun bisa mengepakkan sayap Pradipta Group hingga selebar sekarang. padahal Papi pernah ragu, putranya itu tidak bisa menjadi seorang pemimpin yang tegas tapi disayangi oleh semua karyawan.


"Apa Starla suka?" tanya Arjun mengajak putrinya bicara dan menjaga suasana hati Starla tetap baik. karena mungkin saja Starla akan menangis karena tak nyaman berada di lingkungan yang belum ia kenal sama sekali.


apalagi Akira memang tak pernah mengajak putrinya ke Perusahaan, takut akan mengganggu pekerjaan Arjun nantinya.


"Dia sudah mengerti dengan keadaan keluarganya..." sela Papi. bagaimanapun Starla harus tau bagaimana lingkungan keluarganya, toh pada masa depan Starla lah yang akan mengikuti jejak Arjun. memimpin perusahaan raksasa.


"Masih terlalu dini untuk Starla mengerti hal itu Pi..." tolak Arjun. Ada keraguan dalam hatinya kalau sampai Starla yang akan memikul tanggung jawab sebesar Pradipta Group, apalagi dia adalah seorang perempuan.


apakah Starla mampu? apa Starla siap dan mau? itulah pertanyaan yang menghantui Arjun saat ini.


Tiba-tiba Starla merengek seperti mencari sesuatu, membuat Arjun yang peka langsung bertanya "Ada apa putri Papi?".


Sedangkan Starla hanya terus menunjuk tanpa berkata-kata.


Hingga Arjun yang merasa kebingungan memanggil istrinya, "Sayang... kemarilah...". Tatapan Mami, Papi juga langsung terfokus pada Arjun.


"Ada apa sayang? kenapa menangis?" tanya Akira dan mengambil putrinya dari gendongan Arjun.


Starla masih menunjuk ke arah sana, membuat semua orang kebingungan karena tak mengatakan apapun.


Hingga Mami Livia sadar apa yang di mau cucu pertamanya itu, "Mungkin bonekanya Ra...".


Karena Mami Livia memperhatikan tidak ada boneka kesayangan Starla disini.


"Boneka? Ah... iya... di mana bonekanya Starla?" ucap Akira sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari boneka bear berwarna cokelat yang sering dibawa Starla kemana pun putri kecil itu berada.


Bahkan boneka Bear itu seringkali menemani Starla tidur.


"Papi sudah membawanya tadi..." ucap Papi Johan ikut bersuara.


"Atau ketinggalan di dalam mobil?" tambah Galih.


Karena sejak tiba di parkiran, Galih memang tidak melihat Starla membawa boneka bulu itu.

__ADS_1


"Iya mungkin..." sorak Mami setuju dengan ucapan Galih.


"Papi ambilkan ya... jangan nangis..." ucap Arjun menyentuh pipi Starla dan berniat untuk pergi mengambil boneka kesayangan putrinya.


"Biar aku saja..." sela Galih. lebih baik dirinya saja yang mengambil boneka itu.


"Baiklah...".


dan pada akhirnya Galih benar-benar keluar dari ruangan itu, mengambil boneka Starla sambil mencari keberadaan kekasihnya. Sesuai dengan pepatah, sambil menyelam minum air bukan?


Mungkin Galih bisa melihat sedang apa Tiara saat ini.


Di ruangan Staff, Tiara juga berkumpul dengan rekan-rekannya. membicarakan hal random hingga Joenatan tiba-tiba menghampiri.


"Hai..." sapanya dengan ramah seperti yang sudah-sudah. membuat semua orang tersenyum menyambut kedatangan pria itu.


"Di apelin tuh..." goda teman dan menyenggol lengan Tiara.


Ya... semua karyawan menganggap kalau Tiara dan Joenatan memang menjalin sebuah hubungan. terlihat sekali dari kedekatan mereka berdua yang kadang membuat iri yang lain. apalagi Joenatan memang tampan dan ramah kepada siapa saja.


"Gak ya..." tolak Tiara. dalam hati Tiara tidak menyetujui akan hal itu, karena perasaan yang ia miliki saat ini hanya untuk satu pria saja.


Joenatan mengambil bangku dan meletakkannya di samping Tiara dan segera duduk, bergabung dengan obrolan semua orang.


"Joe, kamu tadi lihat istri Presdir dan putri mereka kan?" tanya seseorang. Apalagi Joenatan memang berpapasan dengan mereka ketika di Lobi.


"Iya..." jawab Joe.


Aku bisa bisa memuji wanita lain selain Tiara bukan? dia akan sedih nanti... batinnya.


"Putrinya sangat cantik ya... apalagi dengan pipi yang memerah itu...ihh... jadi gemes, kalau aku menyentuhnya boleh tidak ya..." tambah lainnya.


Membuat Tiara hanya tersenyum. karena ia tau, Akira tidak akan keberatan jika putrinya di sentuh orang lain.


"Jangan, tanganmu kotor... Starla akan rewel nanti," cerca lainnya.


membuat semuanya heboh kembali.


Bersamaan dengan itu, Galih tak sengaja melewati gerombolan karyawan yang tengah asik. memperhatikan satu per satu mencari keberadaan Tiara. dan benar saja, wanitanya itu tengah berada bersama yang lain. Tapi tatapan mata Galih beralih pada pria yang amat menonjol itu. Joenatan yang duduk tepat di samping Tiara.


Ck... gue benci melihatnya... cerca Galih. tapi ia tak bisa berbuat apapun, karena sampai detik ini hubungannya dengan Tiara memang masih di rahasiakan. Galih tak bisa memperkenalkan Tiara di depan semua orang karena Pradipta Group jelas mempunyai peraturan akan hal itu.


Tidak memperbolehkan karyawannya terlibat hubungan asmara. hal itu juga berlaku pada Galih walaupun posisi dirinya juga penting.


Hingga sekilas Tiara juga melihat sekelebat bayangan Galih yang berjalan melewati tempatnya. membuat Tiara salah tingkah dan sedikit menggeser tempat duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Joenatan.


Bisa marah macannya kalau tau...


Hingga di ujung Lift saat Galih hendak turun ke lantai dasar, ia bertemu dengan satpam tempat itu.


"Pak, sini..." panggilnya.

__ADS_1


membuat pria berseragam itu langsung mendekat.


"Iya Pak, apa ada sesuatu?".


Galih menyerahkan kunci mobil yang ia bawa. "ambilkan boneka Beruang di mobil Tuan Besar..." perintahnya.


"Baik..." segera satpam itu mengiyakan permintaan Galih.


"Bawa ke ruang Presdir secepatnya..." tambah Galih. dan Satpam itu mengangguk dan segera pergi melaksanakan perintah.


Galih merogoh saku jasnya, mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu disana. hingga seutas senyum terukir di bibir dan Galih kembali melangkah menuju ke suatu tempat.


***


Di Lobi perusahaan, Bella tengah berbicara dengan seseorang lewat telepon. dadi suaranya terdengar jelas kalau yang Bella ajak bicara adalah seorang pria.


"Hahaha... lucu sekali, mana ada pasien yang begitu..." gerutu Bella ketika lawan bicaranya selesai menceritakan sesuatu yang lucu hingga membuat Bella tertawa.


"Jam berapa kamu pulang?" tanya pria itu mencari topik pembicaraan lain.


Bella melirik ham yang melingkar di pergelangan tangannya, "Emm... mungkin sedikit lebih awal...". Bella juga tidak tau kapan harus pulang, tapi melihat hari ini tidak ada pekerjaan sama sekali, mungkin ia akan pulang lebih awal dari biasanya.


"Mau aku jemput?".


"Aghh... tidak perlu, aku belum siap untuk mempertemukan mu dengan kakak..." tolak Bella. inilah yang Bella lakukan, berhubungan dengan seorang pria secara diam-diam. memang Bella punya nyawa berapa hingga berani menjalin hubungan dengan seorang pria dan diketahui oleh kakaknya? mungkin akan ada Perang Dunia lagi setelahnya.


bagaiman pun, Galih tetap tidak mengizinkan Bella pacaran dengan pria manapun sebelum usianya dewasa.


"Aku ingin sekali menemui kakakmu itu... bicara di depannya kalau aku benar-benar mencintai adiknya..." goda pria itu.


"Jangan bicara omong kosong Pak Dokter... anda punya nyawa berapa?" ucap Bella.


"Hahaha...".


keduanya pun tertawa.


"Aku serius mencintaimu Bel...".


Ucapan manis yang sering Bella dengar akhir-akhir ini. ucapan cinta dari cinta pertama bagi Bella.


"Tunggu aku lulus S2, setelah itu ayo kita sama-sama menemui kakakku..." ucap Bella terdengar seperti sebuah janji.


"Iya... aku akan menantikan hari itu... memintamu secara langsung di depan orang tua dan juga kakak laki-laki mu...".


Bella menutup mulutnya, Oh manis sekali sih... aku benar-benar jatuh cinta padamu Pak Dokter...


"Baiklah, udah dulu ya..." ucap Bella. karena ia juga ingin bersama teman-temannya. apalagi akan bahaya kalau sampai kakaknya tau Bella tengah mengobrol dengan seseorang.


"Yakin tidak mau kau jemput?" tanya pria itu lagi. memastikan apakah Bella akan berubah pikiran atau tidak.


"Tidak perlu... udah ya... bye-bye...".

__ADS_1


"Bye... love you Bel...".


***


__ADS_2